“Hah? Ini di mana lagi?” ucap Bella setelah pertama kali membuka mata dan tidak mengenali ruangan tempat ia berada.
Kepalanya berdenyut kuat, apalagi yang sebelah kiri, sangat membuatnya tidak nyaman. Erangan-erangan kecil menyertai protes Bella karena rasa sakit tersebut. Perlahan ia menyadari serangan rasa tidak nyaman itu tak hanya di kepala, tapi hampir seluruh sisi tubuh kirinya.
Perlahan ia menyadari kalau dirinya berada di rumah sakit. Dari selang oksigen yang menancap di lubang hidung, suara mesin pantau detak jantung, hingga tiang infus.
“Aduh, sial, sakit banget,” gerutu Bella yang tak kuat dengan nyeri. Tangan kanannya bergerak lincah mencari benda untuk memanggil suster atau apapun ke kamar ini.
Setelah berhasil membabi buta memencet alat itu, tak berapa lama datanglah dua perawat wanita. Mereka langsung sibuk memeriksa hal-hal yang berkaitan dengan dirinya, termasuk suhu tubuh.
“Syukurlah, sudah siuman juga akhirnya,” suara asing seorang pria menyapa kesibukan dua perawat.
Dari pakaiannya, Bella menduga pria itu adalah seorang dokter. Salah satu perawat menunjukkan tablet berisikan data Bella kepada pria itu. Baru kemudian gadis itu menyadari ada sosok pria lagi yang mengekor sang dokter. Terlihat familiar, tapi Bella ragu menebak.
“Bisa mendengar suara saya?” tanya sang dokter memastikan kondisi Bella.
Gadis itu mengangguk tipis, sekuat yang ia bisa. Tapi rasa pusing disertai dengung membuat Bella langsung kembali mengerang. Telapak tangan kanannya menutupi mata, berharap pusing yang dirasakan bisa hilang.
“Pelan-pelan ya, jangan banyak pikiran dulu,” kata dokter mencoba berkomunikasi dengan Bella.
“Ah, bagaimana caranya?” protes Bella di tengah usaha menepis rasa pusing itu.
“Maaf ya, walau kondisimu belum oke, tapi saya harus menyampaikan ini,” ucap dokter dengan suara tenang. “Saudari Bella, kemarin malam saudari datang ke rumah sakit karena mengalami kecelakaan. Untungnya segera dilarikan ke rumah sakit, walau saudari sempat tidak sadarkan diri. Mungkin sekarang masih terasa sakit di beberapa area, tapi kalau dari rekam medis, kondisi saudari bisa dibilang sangat baik.”
“Hah, dari kemarin? Wah, lama juga saya tidur,” sahut Bella.
“Untuk sekarang ini saudari Bella sebaiknya tidak terlalu banyak pikiran dulu, jangan juga mencoba terlalu jauh mengingat. Karena ada trauma di kepala jadi kemungkinan akan kesulitan untuk mengingat beberapa hal. Jangan banyak bergerak dulu karena lukanya masih basah,” ucap dokter dengan senyum ramah yang membuat Bella bergidik.
Bella tidak bisa cepat merespon. “Jadi kepala saya baik-baik saja?” Gadis itu bertanya lagi untuk kembali memastikan.
“Kalau dari hasil CT scan, semua terlihat baik. Namun, untuk berjaga-jaga kita observasi satu hari. Jika semua hasil esok hari baik, besok sudah bisa pulang. Untuk sementara nanti fokus ke penyembuhan di rumah dulu ya,” papar dokter segera setelah melihat dokumen di tangannya.
Para perawat kemudian mengambil alih untuk menyuntikkan obat agar rasa sakit Bella berkurang. Tak butuh berapa lama, satu persatu pamit keluar. Kini tersisa satu orang lagi yang tadi Bella sempat kira penampakan.
Baru saat pria itu mendekat, Bella mengenali sosok Gavin. Pria itu tampak sibuk di atas lemari kecil sebelah ranjang Bella.
“Handphonemu habis baterai,” ucap Gavin memecah keheningan tanpa diminta. “Saya bawakan kabel untuk mengisi daya karena tidak menemukan di tasmu.”
Manusia di atas ranjang itu hanya diam sambil menyipitkan mata. Penampilan Gavin hari ini tampak beda dan membuat Bella butuh waktu mengenalinya. Pria itu tampil lebih kasual dengan polo shirt, bukan kemeja seperti biasa ia lihat di kantor.
Dari jarak sedekat itu, Bella bisa mencium aroma parfum pedas dan hangat dari sosok yang berpengaruh dalam dunia bisnis. Tapi, keberadaan dia di kamar ini, benar-benar janggal di kepala Bella yang masih terus terasa sakit.
“Hmm, jadi,” pria itu menarik sebuah kursi mendekati ranjang Bella dan duduk di sana. Tatapannya sendu, “Saya minta maaf,” ucap Gavin dengan suara baritonnya.
“Untuk?” sahut Bella lirih.
“Karena saya, kamu jadi harus terbaring di sini.” Tangan Gavin sibuk mengepal karena gugup dan merasa bersalah.
“Oh, jadi karena Anda,” gumam Bella lemah. Perlahan sebenarnya ia mulai tidak fokus.
“Situasi malam itu di luar kendali saya.” Pria itu sedikit ragu menjelaskan. “Karena satu dan lain hal jadi mobil saya harus banting setir ke kiri secara tiba-tiba. Akibatnya malah menabrak kamu yang sedang ada di trotoar.”
Kalimat Gavin terdengar sangat lambat di kepala Bella. “Sejujurnya, saya juga tidak ingat.” ujar gadis itu lemas. Ia benar-benar tidak punya sisa ingatan soal waktu yang Gavin maksud. Semakin Bella berusaha mengingat, semakin terasa berat matanya. Atap eternit kamar jadi gambar terakhir yang Bella lihat sebelum akhirnya terlelap.
****
“Tunggu sebentar ya, nanti bapak akan datang untuk menjemput setelah menyelesaikan administrasi,” terang perawat yang membantu Bella berpakaian, sebelum akhirnya pamit.
Baju baru pemberian Gavin terlihat longgar sekali di badan Bella. Tapi ia tak bisa protes, karena dirinya sendiri tak bisa banyak bergerak dan duduk di atas kursi roda.
Bentuknya dengan luka berperban di kepala, ditambah wrist brace dan ankle brace pasti terlihat mengenaskan. Beruntung hasil observasinya bagus, jadi dia bisa pulang Minggu sore.
Tubuh Bella masih terasa banyak nyeri, membuatnya susah bergerak. Bahkan untuk menggapai ponsel di atas ranjang saja ia kesulitan.
Tangan Gavin datang membantu mendekatkan ponsel itu pada Bella. Pria itu begitu sigap mengemasi barang-barang Bella yang tertata di atas ranjang, lalu mendekat dan meraih pegangan kursi roda.
“Sebenarnya aku bisa jalan pelan-pelan,” kata Bella yang segan mendapat bantuan Gavin.
“Lobinya jauh kalau kita jalan kaki,” sahut Gavin singkat seraya mendorong tubuh Bella di atas kursi roda.
Bella memang tidak punya tenaga dan keleluasaan untuk bergerak. Di lobi rumah sakit, Bella ditinggal Gavin mengambil mobilnya. Gadis itu memanfaatkan waktu untuk mengaktifkan ponsel yang baru sempat dia pegang.
Kendaraan Gavin berhenti tepat di depan Bella. Sebuah mobil SUV yang mulus tak bercela.
“Sepertinya mobilnya tidak kenapa-kenapa,” celetuk Bella saat Gavin mendekat untuk mengalungkan tangan kiri ke bahu pria itu.
“Oh, ini beda mobil,” balas Gavin yang luwes meraih kedua kaki Bella dan membopong gadis itu. “Mobil kemarin sedang diurus Ryan sebagai barang bukti.”
Bella merasa kewaspadaannya dicuri saat tubuhnya dibopong tanpa banyak kesulitan berarti oleh Gavin. Tatapan Bella memburu liar ke arah Gavin, tapi entah angin apa yang masuk dan membuatnya terpaku. Bahkan mulut Bella membeku, padahal ia yakin ingin protes.
Dengan hati-hati, Gavin meletakkan Bella di kursi penumpang dan memasangkan sabuk pengaman. Sikap manis itu membuat Bella kaku dan sibuk mengerjapkan mata. Gadis itu tak sadar tangan kanannya mencengkeram kuat ponsel.
Gavin melihat semuanya begitu jelas dan dekat. Tapi, ia berusaha mengatur wajahnya sedatar mungkin. Ia baru bisa melepaskan senyumannya saat berjalan di luar mobil menuju kemudi.
“Saya antar kamu ke mana ya?” tanya Gavin yang hendak mengatur lokasi di head unit mobil.
“Ah ke arah Radio Dalam, Kostan Boskoko, kostku ada di sana,” jawab Bella. Tangannya ikut mengatur titik lokasi yang dimaksud di head unit.
“Hmm, jauh juga kost dengan tempat kerjamu,” komentar Gavin sesaat sebelum menginjak pedal gas.
“Iya, dapatnya di sana yang murah.”
Gadis itu terdiam karena ia merasa melupakan sesuatu hal yang penting. Bella membuka ponselnya, ada banyak notifikasi panggilan dari “Itok Penjaga Kostan”. Tanpa pikir panjang segera balas menghubungi orang itu karena tidak mungkin jika tidak penting.
“Haloooo, teh Bellaaaaaaaa, ya ampun akhirnya bisa menghubungi teteh,” sambut suara di seberang sana dari speaker ponsel Bella.
“Maaf bang, kemarin hapeku mati. Ada apa ya?”
“Gini teh, kemarin kan teteh bilang kalau mungkin ngga perpanjang kostan,” sebuah kalimat dari penjaga kostan langsung menghantam ingatan Bella. “Nah, Itok dikabari bos kalo kemarin udah ada yang DP kamar teteh dan mau masuk nanti malam. Jadi anu, Itok mau mastiin teteh udah ngosongin barang di kamar.”
“Hah? Tiba-tiba udah ada yang mau masuk?” seru Bella kaget.