“Iya, Teh!” seru Itok, si penjaga kos yang suaranya membahana dari speaker ponsel Bella.
Mendengar itu saja, Bella sudah merasa kepalanya berdenyut. Itu berarti ia harus memutar otak untuk mendapatkan tempat berteduh secepatnya.
“Itok juga bingung. Kata bos Koko, dia dah nerima DP dan ini anak kostan lama yang mau balik lagi, Teh. Bos Koko juga bingung nih dari kemarin karena Teteh nggak bisa dihubungi,” terang Itok.
Bella tahu ini salah dia sendiri. Ia yang punya rencana pindah dan sudah menghubungi Bos Koko serta Itok kalau tidak akan memperpanjang. Tapi karena kecelakaan kemarin, rencananya buyar, bahkan ia tidak sempat membayar segera kamarnya.
“Itok, ada kamar lain ga?” tanya Bella cepat. Ia agak panik sekaligus pasrah.
“Penuh, Teh.”
“Oke, Tok,” ucap Bella sembari menghela napas. “Ini aku otewe ke kostan, sih. Kalau dah sampai, aku kontak lagi,” tambah Bella.
“Siap teh!” jawab Itok dengan semangat. Dan telepon berakhir.
Bella sempat melirik jam tangannya, masih jam 1 siang. Kalau lancar, sampai kostan masih siang dan dia bisa berkemas untuk cari tempat baru. Yang mana, Bella masih belum tahu harus ke mana.
“Itu tadi… kamu diusir dari kost?” Gavin akhirnya memberanikan diri bertanya.
“Begitulah,” jawab Bella lesu. Pertanyaan sederhana itu makin memperjelas kondisi merana yang sekarang ia hadapi. Bella melemparkan pandangan ke luar mobil sambil mengatur napas karena masih panik.
“Jumat lalu,” tutur Bella yang entah kenapa ingin sekali menjelaskan situasinya pada orang asing ini. “Seingat saya, harusnya saya pindah kostan. Tapi.. saya nggak ingat kenapa malah batal,” ucap Bella sambil memijit ringan keningnya.
“Dan harusnya, hari itu juga saya kontak penjaga atau bapak kost buat lanjutin sewa atau tidak. Itu pun saya tidak berhasil melakukannya,” lanjut Bella ditambah sebuah helaan napas sebelum menyandarkan kepala ke bangku.
Penuturan Bella barusan langsung membuat Gavin merasa bersalah. Karena dia yang membuat Bella tak sadarkan diri Jumat malam itu.
“Lalu setelah ini kamu mau ke mana? Tidak mungkin kan kamu tanpa tempat tinggal?” tanya Gavin sedikit khawatir.
“Hmm, entahlah,” gumam Bella tak bersemangat. “Paling cepat sih saya menginap di hotel sekitaran sana dulu. Baru habis itu pelan-pelan cari kost.” lanjut Bella yang juga ragu dengan rencananya sendiri.
“Hah? Hotel? Bukannya biayanya akan tinggi?”
“Pastinya,” sahut Bella. “Tapi itu solusi yang terpikirkan sekarang ini.” ucap gadis itu sambil memegangi kepalanya yang berat. “Dengan kondisi luka-luka sekarang ini, saya nggak mungkin menghubungi orang tua. Bisa panik mereka. Nggak juga terlalu lama stay di hotel, bisa ketahuan karena pasti bakal pakai kartu kredit mereka buat nutup biaya.”
Gavin hanya bisa diam mendengar penjelasan Bella. Ia salah satu faktor yang membuat gadis itu tak punya tempat tinggal. Diliriknya Bella sesekali, sembari otaknya terus menimbang cepat sesuatu yang bisa jadi solusi.
“Hmm… Gimana kalau kamu ngekost di tempatku?” kata Gavin memecah keheningan dalam mobil. Sebuah ide brilian yang baru saja tercetus di kepalanya.
“Bapak punya kostan?” tanya Bella penuh sopan santun.
Tapi tindakan Bella yang tiba-tiba menoleh dan memberikan tatapan menghakimi tidak mencerminkan hal serupa. Tidak ada dalam benaknya kalau pria yang punya tampuk bisnis besar di Wadley Abadi ini punya usaha kos-kosan.
Gavin tertawa lepas mendengar pertanyaan itu. “Nggak punya,” jawabnya cepat. “Aku punya satu ruangan kosong di apartemen dan itu bisa kamu pakai. Sejujurnya aku nggak tahu fasilitas kost itu apa saja. Tapi di kamar itu ada kasur, lemari, kamar mandi dalam, wifi, dan AC.”
Khayalan Bella tentang seorang Gavin memiliki gurita kos di Jakarta langsung buyar seketika. Ternyata karena Gavin punya sebuah ruang kosong saja. Tapi bahkan ruang gudang pun bagi Bella sudah lebih baik daripada harus mencari tempat sendiri.
“Oh ya, kamu juga bebas dapur beserta isinya, mesin cuci juga ada, mesin vakum otomatis ada di kamar,” tambah Gavin.
Deretan fasilitas yang disebutkan Gavin praktis membuat Bella melongo. Karena semua itu melebihi fasilitas yang dimiliki kos sebelumnya.
Pria itu melirik sejenak dan menemukan gadis di sampingnya sedang menatap dirinya dengan takjub. Ekspresi wajah yang tak pernah ia lihat sebelumnya di ruang profesional.
“Serius, Pak?” tanya Bella mengakhiri kekagumannya pada penawaran emas tadi.
“Daripada kamu bingung cari kostan. Anggap saja ini permintaan maafku karena membuatmu terluka,” terang Gavin sembari tersenyum simpul. “Lagi pula, dengan kondisi kamu sekarang akan baik kalau ada tempat aman dan bisa menampung. Satu lantai, jadi tidak perlu repot naik turun tangga.”
“Maaf, tapi apa tidak mengganggu kehidupan personal kalau saya tinggal di sana?” tanya Bella yang sebenarnya sangat tidak ingin menolak. Bella samar-samar masih ingat, pria di sampingnya ini terkenal punya banyak wanita dan bahkan ada yang berkoar sebagai pacarnya.
Gavin menggelengkan kepala dan tertawa kecil. “Tidak akan pernah ada yang terganggu dengan kehadiran kamu di sana,” ujar pria itu dengan penekanan. “Oh, satu lagi. Tempatnya jauh lebih dekat ke kantor daripada kost kamu yang ini.”
“Tapi saya harus bayar, kan, ya?” tanya Bella yang tak mau melewatkan kesempatan. “Saya tidak mau tinggal gratis memakai fasilitas dari Bapak. Apalagi tadi Bapak sudah membayar biaya saya di rumah sakit. Sangat tidak sopan jika saya tidak bayar sewa,” tekan Bella.
“Biaya rumah sakit itu kan bentuk pertanggungjawaban saya yang sudah membuat kamu cidera,” balas Gavin santai.
Biaya sewa luput dari perhitungan Gavin, karena sebenarnya ia ingin menggratiskan saja. Tapi mengingat gadis ini tidak menerima perhitungan dia di restoran sushi, ia pikir gratis bukan opsi yang baik.
“Tentu saja bayar, tidak ada yang gratis kan,” ucap pria itu setelah diam sesaatnya. “Bayar saja sama seperti biaya kamu ngekos selama ini.”
“Dua juta? Yakin?!” tanya Bella ingin memastikan orang yang diajak ngobrol ini tidak sedang bodoh dalam berhitung.
Di Jakarta, apalagi dekat kantor jelas tidak ada kost yang harganya semurah tempat lamanya. Ini apartemen, jelas fasilitasnya lebih baik lagi.
Gavin kembali tertawa karena pertanyaan Bella terdengar lucu. “Yakin,” balasnya sambil menoleh ke sebelah. “Aku juga nggak tahu harga kos itu berapaan, tapi biar gampang samakan saja. Kamu masih punya nomor rekening saya kan?” ucap pria itu yang sekarang sibuk mengawasi peta di layar dashboard mobil.
Tawaran pria ini terlalu menggoda dan menguntungkan untuk ditolak. Daripada dia harus menggelandang di hotel yang punya resiko besar kena omel orang tua atau pamannya. Plus, ini bisa jadi kesempatan dirinya bebas!
“Baiklah,” ucap Bella yang menyerah untuk menerima tawaran Gavin. “Terima kasih banyak.” Bella lalu sibuk dengan ponselnya untuk mengirim uang kos kepada pria di sebelahnya.
Perjalanan menuju Kostan Boskoko tergolong lancar hanya butuh waktu satu jam saja. Kini Bella terdiam dan masih duduk di kursinya. Sementara Gavin dan Itok yang sibuk memindahkan barang-barang dari kamar ke mobil.
Sungguh kebetulan, Bella sudah mempersiapkan dengan baik semua barang masuk ke dalam kontainer dan koper. Bayangannya, hari Sabtu sudah pindah dari tempat ini.
Usaha pemindahan hanya perlu dua kali naik turun saja. Dari kaca spion, Bella bisa melihat Gavin memberi upah kepada Itok. Pria santun itu lalu bergegas menghampirinya.
“Teh, makasih banyak ya,” kata Itok. Bella menduga maksudnya upah tadi, yang bahkan dia tidak tahu berapa jumlahnya.
“Itok, nanti kalau ada yang nyari aku, bilang aja ga tahu udah pindah, ya,” ucap Bella seraya melongokkan kepala keluar jendela mobil. “Makasih banyak ya, Tok.”
“Teteh, ga papa itu?” tanya Itok sambil menunjuk kepalanya sendiri.
“Ga papa, dong. Oh, tambah, jangan bilang juga kondisiku ini sama siapa aja yang nanya, ya! Males aku ntar ditanya-tanyain,” terang Bella.
“Oke, Teh. Ati-ati di jalan, ya!” jawab Itok yang selalu ramah dan semangat.
Bella pun melambaikan tangan kepada Itok, salah satu orang yang selama ini sangat baik kepadanya selama tinggal di sana.