“Wow! Ini sih bukan apartemen, tapi APARTEMEN!” seru Bella setelah mencapai sebuah ruangan yang punya sofa dan TV.
Gavin tersenyum puas melihat respons Bella yang baru pertama kali masuk huniannya. “Terima kasih pujiannya,” ucap pria yang masih telaten memapah gadis itu untuk duduk di sofa.
“Bapak tinggal sendirian di sini?” tanya gadis itu begitu duduk di atas sofa.
“Iya, sendiri.” Senyum canggung pria itu mengiringi jawabannya.
“Oh.” Kini gantian Bella yang tidak tahu harus merespons bagaimana.
“Kamu bisa tunggu di sini dulu. Sementara aku mindahin barang-barangmu ke atas,” ujar Gavin memutus kecanggungan di ruangan itu.
“Terima kasih banyak bantuannya. Dan… maaf banget merepotkan, Bapak.”
Gavin menggeleng. “Nggak, ini nggak merepotkan sama sekali,” ucap pria itu lalu beranjak meninggalkan Bella sendirian di sana.
Bella mencoba mengingat detail tempat ini, berada di lantai 31, memiliki akses lift sendiri, dan punya banyak pintu. Sebagai orang yang didik tinggal di hunian napak tanah, Bella merasa kikuk dengan apartemen seluas ini.
Sepanjang ingatannya tadi waktu masuk, tempat ini termasuk sepi pernak-pernik dan hampir tanpa hiasan. Mirip tempat yang baru saja dapat penghuni, sangat minimalis. Mungkin begitulah tempat tinggal seorang Presdir seharusnya.
“Hmm, rebahan bentar nggak salah kan ya?” gumam Bella yang perlahan meletakkan kepala di atas sofa. “Ini sofa harga berapa ya? Empuk juga.”
Perlahan tapi pasti, Bella terlelap begitu saja. Mungkin karena lelah dan kombo dengan kenyang, ia tak mendengar kedatangan Gavin. Pria itu sudah mendapati Bella tidur meringkuk di atas sofa.
Gavin mencoba perlahan mengangkat kepala Bella perlahan dan menyisipkan bantal yang baru saja ia ambil dari kamar sewaan. Tak lupa menambahkan selimut agar lebih nyaman lagi.
Dalam hening sore itu, Gavin duduk berjongkok di depan Bella. Menyibak rambut yang menutupi wajah cantik gadis itu yang kini sisi kirinya penuh luka yang ia sebabkan.
Batin pria itu bergejolak hebat. Setelah sekian lama, ia merasakan sedih dan gelisah terhadap kondisi seseorang. “Bella,” gumam pria itu lirih.
Setelah puas mengamati Bella yang tertidur, Gavin kembali bangkit. Ia memilih menyelesaikan proses memindahkan barang ke dalam kamar sewaan, alih-alih hanya meratapi sedih dan rasa bersalahnya terhadap Bella.
****
Hidung Bella aktif membaui aroma manis dari nasi yang sedang ditanakkan. Pelan-pelan ia terbangun dari tidur. Hal pertama yang ia sadari adalah tubuhnya sudah memakai selimut dan dengan bantal yang nyaman.
“Ini di mana ya?” gumam gadis itu pada ruangan yang masih asing untuk ingatannya.
Dengan susah payah, Bella duduk di atas sofa. Tapi karena terlalu bersemangat mengejar aroma lezat saat perutnya terasa lapar. Ia lupa kalau kaki kirinya masih terluka dan menjejakkan lantai terlalu keras.
“Aaaak!” pekik Bella nyaring. Air matanya pun menyusul ikut keluar di pelupuk mata.
Di tengah-tengah kesibukan Bella menahan rasa sakit, Gavin muncul mendatangi dari arah dapur yang berada di belakang dinding tempat TV. Kemunculan pria itu membuatnya sadar, Gavin selalu menatapnya dengan air muka khawatir. Seperti sekarang ini.
“Saya teledor,” ucap Bella membela diri sebelum kena omel atau komen. “Saya lupa kakinya masih sakit dan tadi terlalu cepat napak lantai,” tambahnya buru-buru. Gadis itu lalu menggigit bibirnya demi menahan rasa sakit yang kali ini menjalar ke mana-mana.
Gavin hanya bisa menghela napas lalu mendekati Bella. Ia berusaha keras tidak menyentuh gadis itu walau rasanya ingin. Pria itu memilih meraih selimut yang tadi menutupi tubuh Bella.
“Untungnya aku tidak perlu membangunkanmu. Ya, walau sekarang masih terlalu pagi,” ujar Gavin yang kini sibuk melipat selimut. “Kamu mau sarapan dengan telur goreng? Atau ada preferensi makanan lain? Ada beberapa obat pagi yang harus kamu minum,” ucap pria itu seraya meletakkan selimut di atas sofa.
“Boleh! Apa saja. Kebetulan saya lapar,” sahut Bella cepat. “Oh ya, maaf. Saya butuh ke toilet. Di mana ya toiletnya?”
Gavin lalu menunjuk pintu tengah di samping area keluarga. Rupanya salah satu dari empat pintu itu adalah toilet.
“Bisa berdiri?” tanya Gavin lembut.
“Bisa,” jawab Bella cepat. Ia tak mau merepotkan tuan rumah, tapi tubuhnya menolak. “Aackh!” pekik gadis itu saat merasakan sakit di kakinya.
Tanpa aba-aba, Gavin sudah langsung menahan sisi kanan tubuh Bella. Dan perlahan dipapahnya ke arah toilet.
“Maaf merepotkan. Ini saya hanya belum terbiasa saja,” ucap Bella yang sungguh sungkan dengan bantuan Gavin.
Untungnya sepanjang proses di toilet itu Bella tidak membutuhkan bantuan. Ketika gadis itu membuka pintu, Gavin yang dari tadi menunggu di depan tolet sudah siaga memapah Bella. Gadis itu dituntun ke kursi tinggi di kitchen island. Di hadapannya sudah tersaji sepiring nasi dengan dua telur goreng dan tumis sayur.
“Ada yang kamu butuhkan lainnya?” tanya Gavin.
“Handphone dan surat-surat dari rumah sakit. Sepertinya saya harus ijin dari kantor,” jawab Bella.
Tidak berapa lama semua barang itu sudah ada di tangan Bella. Akhirnya ia tahu jika sekarang masih jam enam pagi kurang.
“Ini hari Senin kan ya?” tanya Bella.
“Betul,” sahut Gavin yang kembali ke depan kompor.
Bella memutuskan untuk memberitahu Dewa. Meski ia ingat minggu lalu temannya itu masih marah besar perkara loker. Tapi hanya dia yang bisa diandalkan.
[ Dewa, aku minta tolong untuk urus izin tidak masuk kerja selama seminggu. Saat ini aku belum sanggup untuk menulis izin ke HRD atau ke Pak Firman. Berikut aku sertakan surat dari dokternya dan foto-foto kondisiku. ]
Pesan panjang yang memakan banyak waktu untuk menulis itu akhirnya ia kirimkan. Tak lupa foto surat dokter dan gambar dirinya saat dirawat di IGD yang ternyata kemarin dikirim oleh Gavin.
Dari tempatnya duduk, Bella bisa melihat Gavin berdiri di dapur menata makanan lain di piring. “Itu untuk siapa?” tanya Bella yang sesaat panik kalau kemungkinan ada orang lain datang pagi-pagi begini.
“Untuk kamu, ini akan disimpan di kulkas. Nanti siang bisa kamu bisa hangatkan di microwave,” terang Gavin. “Hari ini agak sulit untuk datang saat makan siang, tapi aku usahakan untuk datang lebih cepat pas makan malam. Kamu ada titipan mau makan malam apa, nanti saya pesankan?” tambah Gavin tanpa melihat ke arah Bella.
“Seperti sarapan ini saja cukup. Masih belum ada nafsu makan rasanya,” jawab Bella.
Suara dering handphone Bella tiba-tiba memecahkan suasana damai di dapur. Tepat seperti dugaan, Dewa langsung menghubunginya walau masih sangat pagi. Kali ini Dewa melakukan panggilan video yang membuatnya canggung.
“Kamu kenapa?!” tanya Dewa setengah berteriak. Bella bisa melihat raut wajah temannya tampak khawatir dari video.
“Ya itu tadi aku dah share kan, kecelakaan Jumat kemarin,” jawab Bella sembari berusaha memegangi ponselnya. Ia fokus menyorot dirinya dan tidak ingin memberi celah informasi lokasinya saat ini.
“Hah? Kok nggak ngabarin?!” protes Dewa.
“Dari Jumat lho Dellaaaaaaa!” Tiba-tiba suara Dewi, istri Dewa ikut hadir.
“Karena aku nggak sadarkan diri,” sahut Bella sambil melirik ke arah Gavin. “Baru sadar Sabtu malam dan lumayan oke di Minggu. Tapi aku masih kebawa efek obat, jadi tidur terus.” Bella berusaha menjelaskan situasinya sesingkat mungkin.
Mereka berdua bisa melihat ada banyak luka dan semburat lebam menghiasi di sisi kiri wajah Bella. Bahkan terlihat jelas perban putih dengan banyak plester di dahinya.
“Sekarang kamu di mana?” tanya Dewi yang wajahnya muncul di samping Dewa. Ia tak menutupi kekhawatirannya melihat tampilan Bella.
“Udah nggak di rumah sakit, udah di kost.”
“Kita samperin ya, kamu nggak ada yang rawat!” kata Dewi.
“Aku pindah kost, Wi. Udah nggak di Radio Dalam. Ntar ajalah, aku aman kok ini,” jawab Bella datar seolah ini bukan berita penting. “Cuma harus banyak istirahat aja. Please.” Bella menambahkan sedikit penekanan jika dirinya sedang tak ingin diganggu.
“Yakin?” tanya Dewi lagi.
“Iya, aku nggak papa,” jawab Bella. “Oh ya, Dewa aku titip barang-barangku di kantor bentar ya. Sampai aku bisa ngantor lagi.”
“Kakak-kakakmu dah tahu?” tanya Dewa gantian.
Dengan jelas sekali mereka bisa melihat perubahan wajah Bella saat mendengar pertanyaan tadi. Keningnya berkerut seperti sedang menahan rasa sakit di kepala. Sesaat videonya kacau karena tangan Bella bergerak dari memegang ponsel jadi ke dahi.
“Bentar, pusing banget tiba-tiba,” kata Bella. “Hah? Tadi siapa kakak-kakak yang kamu maksud?”
“Kakakmu,” jawab Dewa.
“Oh, aku punya kakak, ya? Nggak inget,” racau Bella. “Hah. Mungkin ini yang dibilang dokter ingatan jangka pendeknya ada yang hilang,” tutur Bella yang menahan rasa sakit di kepala.
Gavin yang sedari tadi selesai mengemas makanan siang Bella kini berdiri was-was mengawasi gadis itu. Ia ragu apakah dirinya harus menunggu atau mendatangi Bella. Tapi dari gerak gerik dan kalimatnya tadi, Bella tak mau terbuka soal situasi di sini.
“Bell, siapa saja yang sudah kamu kabari?” tanya Dewi dengan suara yang lirih mencoba mencari informasi di tengah situasi menutup diri Bella.
“Baru Dewa,” jawab Bella lirih.
Hening menyelimuti panggilan video itu. Dewa dan Dewi tidak bisa tahu kondisi Bella karena kameranya menghadap ke bawah.
“Kamu dah aman di kost baru? Makanan aman?” tanya Dewi mengambil alih percakapan.
“Aman”
“Tempatnya oke?”
“He-em”
“Masih sakit, Bell?”
“Pusing banget kepalaku sekarang,” jawab Bella. “Tangan, bahu, pinggul, dan kaki juga. Masih belum bisa banyak gerak.”
“Oke, tapi janji kalo kamu akan berkabar kondisimu ya. Dewa akan bantu urusan kamu di kantor ya. Sekarang kamu fokus untuk penyembuhan dulu.”
“Oke. Makasih ya,” sahut Bella.