“Bella! Kamu nggak papa?!” pekik Gavin seraya berlari menghampiri tubuh Bella yang membujur di depan toilet.
Bella tiba-tiba mendongak, raut wajahnya sama terkejutnya dengan Gavin. Pria itu langsung mengangkat dengan hati-hati tubuh gadis itu lalu membantunya duduk. Mata Gavin yang keheranan bercampur panik meneliti baik-baik kondisi Bella.
“Apa yang kamu lakukan? Aku kira kamu pingsan.” tanya Gavin memastikan.
“Hehe, saya cuma berusaha ke toilet saja,” terang Bella yang kini menyandarkan tubuh di bahu Gavin. “Tapi, di tengah jalan mikir nggak jadi dan malas balik. Jadi pilih diam aja di lantai.”
Gavin menghela napas lega. Setidaknya gadis itu baik-baik saja. Tapi kali kedua melihat tubuh Bella di lantai benar-benar membuat jantungnya tertekan.
“Kamu kesulitan banget ke toilet?” ucap pria itu lebih lembut.
“Tadi siang bisa sendiri, kok. Ini tadi hilang niatan saja.” jelas Bella ragu.
“Sudah nggak kebelet maksudnya?” tanya Gavin berusaha memahami kalimat Bella.
“Bukan,” sahut gadis itu segera. “Hmm, tadi niatnya mau keramas. Rambut saya gatal karena belum dicuci dari kehujanan Jumat lalu,” terang Bella malu-malu. “Tapi, pas ke toilet baru inget, kayaknya nggak bakal bisa keramas… sendiri.”
“Ah, bisa sih cari salon, cuma tadi aja macet. Nggak yakin sampai cepat,” gumam Gavin. Dari posisinya, Gavin dapat melihat kondisi rambut gadis itu sedikit berminyak. Ia bisa membayangkan rasa tidak nyaman yang dialami Bella.
“Hmm, ya lain kali saja ke salonnya,” ucap Bella lirih.
Gavin melirik ke arah Bella. Ia baru menyadari kalau dirinya kini berada begitu dekat dengan gadis itu. Sensasinya beda dari cuma melihat di kejauhan atau duduk makan hadap-hadapan. Detak jantungnya masih memacu kencang, tapi kali ini memantik senyum di sudut bibirnya.
“Gimana kalau keramas di kamar mandi kamarku? Ada bathtub, jadi badanmu bisa bersandar,” tawar Gavin. “Kalau nggak keberatan sih aku bisa bantu keramasin.”
Kalimat oasis dari Gavin membuat mata Bella berbinar ketika menoleh ke arah pria itu. “Sungguh saya ingin menolak permintaan, Bapak,” ucap Bella dengan nada bicara lebih bersemangat. “Tapi rambut ini tidak mau kompromi. Jadi saya mohon bantuannya dan maaf merepotkan.”
Pria itu tersenyum puas dengan respons Bella. Tanpa menunggu lama, ia tuntun Bella masuk kamarnya yang luas. Mata gadis itu tak henti-hentinya terkagum dengan detail isi kamar pria itu yang memiliki walking closet berisi jajaran baju, hingga kamar mandi dengan bathtub besar.
“Ini saya baru pertama kali nyuci rambut cewek,” ucap Gavin saat menata hati-hati posisi tubuh Bella di samping bathtub. “Tolong diarahkan saja ya.”
Proses mencuci dan mengeringkan rambut panjang Bella tergolong cukup cepat. Walau sangat kikuk, tapi Gavin berhasil menyelesaikannya dengan baik.
Kini, gadis itu sudah duduk di dapur dan menyantap makan malam sederhana yang disiapkan Gavin. Pria itu sangat telaten, tak ada keluhan, semua dilakukan dengan rapi seolah sudah terjadwal.
“Ini obat yang harus kamu minum malam ini,” ucap Gavin sambil menyodorkan tiga butir pil ke Bella.
Selama Bella menelan obatnya, Gavin sudah sigap meletakkan kotak berisi peralatan untuk merawat lukanya.
“Oh, saya bisa sendiri,” ucap Bella yang sungkan dengan perlakuan pria ini.
Gavin memberikan lirikan dan satu alisnya naik ke atas. “Yakin? Keramas saja belum bisa, lho kamu.” Ucapan menohok pria itu membuat Bella terdiam seketika.
“Ma-maaf,” ucap Bella penuh rasa tak enak yang membahana di d**a. “Maaf jadi merepotkan, Bapak.” Gadis itu lalu menunduk karena malu.
Suara helaan napas Gavin terdengar jelas di telinga Bella. “Aku ijin untuk merawat lukamu, ya,” ucap pria itu dan dijawab anggukan pasrah Bella.
Lengan baju Bella disingkap perlahan, lalu Gavin menarik plester yang menutupi luka jahitnya. Walau perlahan tapi Bella merasakan sakit yang membuatnya meringis.
“Sorry, tahan bentar ya,” ujar Gavin yang mengoleskan antiseptik pada luka-luka terbuka di lengan Bella hingga siku.
“Aw, aw.” Niatan Bella untuk santun dan menjaga mulut gagal sudah. Dia tak bisa menahan perih.
Pria itu lalu berjongkok di belakang Bella. “Permisi, ya,” ucapnya sebelum menyingkap baju gadis itu.
Bella sedikit gusar, karena pria itu leluasa melihat sisi belakang tubuhnya. Walau dengan maksud untuk mengoleskan antiseptik pada luka di punggung dekat pinggang. Tapi jantung Bella terasa ingin berpacu lebih kencang.
Setiap area yang akan diolesi antiseptik, Gavin selalu meminta izin terlebih dahulu. Masalahnya, luka Bella tertoreh dari bahu sampai kaki. Dan semua ini terasa sangat tidak biasa untuk gadis itu.
“Masih sampai besok lusa sebelum kontrol ke dokter, sebaiknya jangan banyak bergerak agar lebih cepat pulih,” terang Gavin sembari membereskan alat-alat untuk merawat luka.
“Baik,” jawab Bella datar.
***
Hari-hari Bella hanya seputaran sofa pengungsian di ruang TV, kamar mandi, dan dapur saja. Semua barang yang dibutuhkan sudah disiapkan oleh Gavin setiap pagi dan sore hari. Pria itu juga selalu sigap membantu memapahnya ke toilet atau dapur.
Bella memandang lekat-lekat pria yang dikenal sangat sibuk luar biasa di seantero gedung kantornya itu. Dia selalu lebih dulu bangun menyiapkan makanan dan datang sore hari bahkan sebelum jam kerja habis.
Kesibukannya hanya berkutat merawat Bella. Seperti sekarang, sedang berjongkok di depan sofa mengoleskan antiseptik di luka kakinya.
“Ada masalah?” tanya Gavin yang yakin dirinya sedang ditatap Bella.
“Hmm, nggak,” sahut Bella lirih. “Cuma heran saja, bukannya Anda sibuk ya? Tapi ini bisa bolak-balik untuk merawat luka saya.”
“Ya memang lagi sibuk,” sahut Gavin tanpa mengalihkan mata dari kaki Bella. “Tapi aku punya sekretaris yang bisa mengatur jadwal dan kerjaan bisa kukerjakan dari ruang kerja,” terang pria itu.
“Tapi, Pak,” sergah Bella. “Saya merasa nggak enak. Karena saya yakin kalau saya sudah mengganggu waktu berharga, Bapak.”
Waktu berharga? Ya ini waktu berharga yang nggak akan aku sia-siakan. Tapi, bisa nggak kamu nggak panggil aku ‘Bapak’? Batin Gavin yang menghentikan sejenak kegiatannya.
“Tapi aku yang membuatmu sampai terluka seperti ini, bukan?” tanya Gavin lembut. “Ada lagi?” ucapnya sambil melirik Bella.
Gadis itu masih menatap pria yang biasanya dia lihat dari jarak tertentu itu. “Hmm, Pak. Saya belum mandi beberapa hari, lho. Ini sofanya kalau jadi bau nggak masalah?”
“Nggak masalah,” sahut pria itu yakin. “Bisa dibersihkan nanti kalau kamu sudah kuat berjalan,” tambahnya meyakinkan.
“Maaf, saya jadi merepotkan lagi,” ucap Bella.
Pria itu mendongak, ia menatap Bella dengan pandangan lembut yang pertama kali gadis itu lihat. Senyum tipisnya merekah. “Jangan khawatirkan hal-hal sepele seperti itu,” ucap pria itu. “Lebih penting kamu bisa kembali sehat.” tambahnya yang lalu berdiri. “Oke, perawatannya sudah selesai, kamu bisa istirahat.”
Gadis itu tak bisa banyak bereaksi, rasa sungkannya sangat kuat memeluk pikirannya. Bella hanya mampu menurut, ia merebahkan diri di atas sofa. Sementara itu Gavin membantu membentangkan selimut di atas tubuh Bella.
Tangan pria itu mengepal, menahan diri dari tindakan lain yang ingin ia lakukan. Sesaat kemudian dia benar-benar bangkit dan mengemasi peralatan untuk merawat Bella. Lalu pergi meninggalkan gadis itu di atas sofa pengungsian.
Hari-hari selanjutnya bagaikan rutinitas alami sekitaran sofa pengungsian. Penuh dengan ucapan maaf, terima kasih, dan permisi dari Gavin dan Bella. Tapi perlahan, Bella terbiasa dengan kehadiran dan bantuan pria itu.
Sampai pada hari Bella harus kontrol yang memaksa gadis itu bangun lebih awal.
“Masih demam?” tanya dokter Rudi sembari memeriksa kaki Bella.
“Masih, Dok,” jawab Gavin yang duduk di kursi pendamping.
“Antibiotiknya tetap diminum ya, obat demam juga tetap diminum sampai nanti malam, seharusnya besok susah tidak demam lagi,” terang dokter.
“Baik,” jawab Gavin.
“Kakinya sudah enakan?”
“Hari ini sudah mendingan, Dok.” Kali ini giliran Bella berani menjawab.
“Masih terasa pusing kalau ingat sesuatu?”
“Sudah banyak berkurang,” ucap Bella sambil terangguk.
“Oke. Semua luka besar sudah diganti jadi plester ya. Seharusnya segera pulih dan sekarang sudah bisa dipakai mandi,” terang dokter Rudi. “Kamu masih perlu pakai wrist brace dan ankle brace sampai dirasa tidak sakit. Tapi jangan dipaksa ya.”
“Terima kasih, Dok,” balas Bella sopan.
“Hmm, bukan bermaksud tidak sopan,” ucap dokter tiba-tiba. “Wajahmu tampak familiar, apakah sebelum kecelakaan kemarin ini kita pernah bertemu?”
Pertanyaan dokter itu seketika membuat Bella gugup. “Belum,” jawab gadis itu sambil menggelengkan kepala.
“Ah, mungkin cuma perasaan atau saya yang salah ingatan ya. Baiklah, kalau ada rasa sakit luar biasa bisa kembali ke sini. Tapi semoga semua aman ya dan lancar ya jadi tidak perlu kembali.” kata dokter Rudi yang kemudian berjalan kembali ke mejanya.