Pagi ini, begitu membahagiakan untuk Leo tapi tidak untuk Alea. Dia belum puas semalam! Ya! Itu membuat suasana hatinya masih buruk meski harus di tutupin senyum palsu seolah dia juga merasa bahagia. Alea menyajikan sarapan seperti biasanya lalu duduk untuk ikut sarapan.
"Kamu jadi keluar nanti."
"Hm ya. Aku jenuh di rumah." Jawab Alea menikmati sarapan paginya.
"Ya sudah hati-hati, mungkin aku juga nanti pulang sedikit malam."
"Oke." Alea menuangkan teh hangat dan meminumnya.
"Berpakaian yang sopan ya."
"Iya aku tahu diri. Bukannya aku sudah sering melakukan ini."
"Aku hanya mengingatkan saja."
Sekarang dia sudah tidak pernah mengingatkanku untuk tidak nakal saat berada di perkerjaan? Apa dia sudah tidak perduli padaku? Tapi kemarin dia cemburu dengan Nia. Leo sedikit merindukan Alea yang posesif dan suka cemburu secara berlebihan meski terkadang Leo di buat kesal olehnya.
Namun sudah hampir tiga bulan, Alea sudah tidak pernah melakukan. Menginterogasi setiap pulang kerja, mengingatkan untuk tidak nakal dan mengirim beberapa chat untuk menanyakan keadaan Leo di tempat kerjanya. Tidak dapat di pungkiri jika Leo merindukan saat seperti itu.
Penyebab Alea tidak melakukan itu adalah kesalahan Leo sendiri. Dia seolah merasa keberatan jika Alea mengirimkan pesan bahkan pesan itu begitu lama di balas, padahal dulu Alea selalu meminta untuk mengirimkan pesan saat Leo beristirahat.
"Kau tidak pernah mengirimkan pesan akhir-akhir ini." Tanya Leo seraya menguyah makanan.
"Aku takut mengganggumu dan lagi kau terlihat tidak ada waktu untuk membalas itu."
"Jika ada waktu pasti ku balas." Jawab Leo ingin memberikan kode jika dia ingin Alea bersikap seperti dulu.
"Sudahlah, itu seperti anak kecil. Bukankah kita berjumpa setiap hari." Alea berdiri dan membereskan piring kosong miliknya, sementara Leo mengingat pernah berkata itu pada Alea meski sebenarnya dia lupa kapan dia mengatakannya.
Ingatannya begitu kuat ketika dia tersinggung dengan ucapanku. Leo berdiri dan membawa piring kotor pada Alea yang tengah mencuci piring. Setelah meletakkan piring, Leo dengan mesrah melingkarkan kedua tangannya ke pinggang dan menempelkan dagunya pada pundak belakang Alea.
"Ini sudah siang." Protes Alea selalu merasa kesal jika Leo bersikap seperti sekarang.
"Aku bisa datang sedikit terlambat." Leo mendekatkan hidungnya pada tengkuk Alea dan menghirupnya kuat sehingga membuat bulu kuduk Alea berdiri.
"Jangan begini." Protes Alea menghindar.
"Kenapa kau selalu berprotes seperti itu?"
"Semua sudah ada saatnya masing-masing." Jawaban tersebut selalu di lontarkan oleh Alea.
"Jika aku ingin sekarang? Aku harus melakukannya dengan siapa?"
"Terserah." Alea membasuh tangannya dan pergi berjalan ke arah dapur.
"Aku rasa dia masih sedikit kesal padaku." Gumam Leo mengikuti langkah Alea.
Alea berbaring di sofa sementara Leo berjalan ke kamarnya untuk mengambil baju kerjanya.
"Seharusnya ini tugasmu." Kata Leo setengah berteriak.
"Kau selalu tidak terima dengan pilihanku." Jawab Alea melirik ke arah Leo yang tengah memilah-milah baju.
"Mana kaus kakiku?"
"Di situ. Dimana lagi."
"Dimana? Tolong Carikan." Alea terpaksa berdiri dan mengambilkan sepasang kaus kaki yang bahkan berada di depan mata Leo.
"Ini apa?" Alea memperlihatkan dua pasang kaus kaki pada Leo.
"Itu tidak terlihat tadi."
"Kenapa matamu tidak teliti." Protes Alea.
"Itu kenapa kita di persatukan untuk saling melengkapi." Rayu Leo mencoba mencairkan suasana.
"Malas sekali." Eluh Alea berlalu pergi.
"Kau jangan merindukan aku jika aku sedang berkerja."
"Tidak sama sekali!"
"Benarkah?" Leo berdiri di hadapan Alea dengan seragam lengkap.
"Hm tentu saja benar."
"Baik aku berangkat dulu." Leo mengulurkan tangan dan Alea langsung menyambutnya lalu menciumnya. Dia berdiri dan mengantarkan kepergian suaminya seperti biasa. Setelah Leo sudah tidak terlihat ada desahan lembut terdengar.
"Semoga kamu selamat sampai tujuan Mas."
Bagaimana jika Mas Leo kecelakaan setelah ini? Bagaimana jika dia tidak sampai tempat kerja dengan selamat.
Alea mengeggam ponselnya erat sebab ada rasa yang mendorongnya untuk mengirimkan pesan pada Leo. Namun saat kejadian dulu melintas, Alea tidak jadi melakukan itu sebab perkataan Leo yang sudah membuatnya tidak pernah mengirimkan sebuah pesan.
Kita bahkan berjumpa setiap hari. Makan bersama, tidur bersama bahkan mandi bersama. Untuk apalagi kita berkirim pesan seperti itu. Bersikaplah dewasa jangan seperti pasangan anak Sekolah dasar saja!
Ucapan dari Leo melekat kuat di ingatannya, dan menorehkan luka yang tidak pernah di sadari oleh Leo. Semua sikap manja Alea bahkan sedikit-sedikit sudah terkikis habis, dan dia berubah menjadi seperti sekarang. Sedikit acuh dan menahan perasaan untuk ingin perduli.
???
Zarka berjalan bersama dengan Abi seraya fokus memainkan game di ponselnya. Setiap waktu luang selalu Zarka habiskan untuk bermain game daripada harus memikirkan wanita yang mengejar-ngejarnya.
Dugh!
Zarka tidak sengaja menabrak Gea yang sengaja berjalan ke arah Zarka. Abi yang juga sedang fokus bermain tidak menyadari hal itu.
"Maaf." Ucap Zarka memungguti buku di bawah dan Gea segera ikut berjongkok agar bisa bersentuhan tangan dengan Zarka.
"Tidak apa-apa, aku juga tidak fokus tadi." Tangan lentik Gea menyentuh jemari Zarka namun dengan cepat Zarka menghindar.
"Ini buku mu, ayo Ab." Pinta Zarka berlalu pergi bersama Abi namun Gea meneriakinya.
"Apa kau suka nasi goreng kemarin? Itu buatanku sendiri." Zarka menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Gea.
"Aku tidak menyukai nasi goreng jadi aku memberikannya pada teman asramah ku." Zarka tersenyum sejenak lalu pergi.
"Menyebalkan sekali, setidaknya dia bilang terima kasih. Ini malah di berikan pada orang lain. Untung saja aku tidak benar-benar memasaknya." Gumam Gea berjalan berlainan arah sebab dia akan menuju kantin.
Zarka dan Abi memutuskan untuk duduk di salah satu tempat yang ada di taman. Keduanya melanjutkan permainannya seraya sesekali mengobrol.
"Kamu keterlaluan kawan." Kata Abi tersenyum.
"Keterlaluan apa?"
"Pada Gea."
"Jika aku baik nanti dia berfikir aku memberikannya harapan."
"Kau benar juga. Ada Cafe baru di buka, kau mau pergi ke sana? Katanya pemandangannya bagus sebab berada di dataran tinggi." Kata Abi menjelaskan.
"Aku ingin pergi ke Cafe kemarin, siapa tahu dia ke sana lagi." Jawab Zarka menginginkan pertemuan keduanya dengan Alea.
"Besok kita ke sana tapi hari ini kita ke Cafe baru itu, katanya ada promo khusus."
"Hm baiklah. Kita pergi sepulang kuliah tapi kita lihat dulu apa gadis itu ada di Cafe kemarin."
"Tidak masalah, kita lihat sebentar."
???
Alea berkaca untuk memilih baju yang menurutnya bagus, entah kenapa hari ini dia bersikap seperti itu padahal selama ini dia tidak pernah memikirkan soal penampilan karena statusnya sebagai istri Leo.
"Aku harus memilih baju yang baik agar hari ini hatiku merasa baik." Gumamnya mencoba beberapa baju.
Setelah menemukan baju yang sesuai, dia segera mengenakannya lalu memoles wajahnya dengan makeup tipis agar terlihat natural.
"Andai makeup ku harganya mahal pasti bisa bertahan begitu lama dan aku tidak harus membawa makeup ke sana kemari." Dia meletakan alat makeup pada tasnya lalu berjalan keluar. Tidak lupa dia mengunci pintu sebelum akhirnya menaiki motornya untuk menyusul Monik di rumahnya.
Lima belas menit kemudian, Alea sudah tiba di depan rumah Monik dan Monik segera naik ke boncengan.
"Di daerah mana?" Tanya Alea.
"Kita mampir dulu ke toko B untuk membelikan pesanan suamiku. Aku tidak akan di izinkan jika tidak mau." Kata Monik menjelaskan.
"Hm oke." Alea tersenyum dan segera melajukan motor matik miliknya menuju toko B.
Tiga jam kemudian...
Alea dan Monik baru saja keluar dengan bermandikan keringat sebab antrian yang begitu membeludak. Alea sangat kesal atas itu hingga dia memilih untuk langsung pulang.
"Maaf AL, aku tidak tahu jika antri." Kata Monik pelan.
"Lelah sekali. Pikiranku semakin tidak waras di sana."
"Maka dari itu kita ke Cafe agar pikiranmu fresh." Rayu Monik.
"Lihatlah dandananku jadi berantakan." Kata Alea menunjuk mukanya sendiri.
"Kau sudah cantik jadi meski makeup mu luntur itu tidak masalah." Rayu Monik lagi.
"Kau yang bayar."
"Okelah tidak masalah."
"Baik kita ke sana." Jawab Alea terpaksa mengiyakan sebab dia tahu watak Monik yang selalu memaksa.
Keduanya langsung melaju ke arah Cafe yang memakan waktu dua puluh menit hingga keduanya sampai di sana. Alea turun dan memasang wajah masam sebab punggungnya terasa begitu sakit namun Monik malah menanggapi itu dengan tertawa renyah.
"Kau gila! Sialan!" Umpat Alea melepas helm yang di pakainya.
"Lucu sekali tadi. Kita hampir menabrak tukang somay karena jalan yang berkelok-kelok." Jawab Monik kembali terkekeh.
"Aku kaget setengah mati tapi kau malah tertawa seperti itu. Jika aku salah berbelok kita bisa terjun ke jurang yang tertinggal hanya nama." Alea mengikat rambutnya sembarangan.
"Iya maaf. Tapi tadi benar-benar lucu hahaha. Kau sensi sekali gara-gara kelakuan suamimu itu?"
"Hus jaga bicaramu!"
"Oh iya kamu takut ketahuan ya. Kalau kita lagi jalan berdua seperti ini berarti kita singel kan."
"Hm daripada kita di olok-olok sebagai istri tidak tahu diri." Monik kembali terkekeh dan Alea menjawabnya dengan senyuman.
Keduanya segera berjalan masuk dan tidak sadar jika ada empat mata yang memperhatikannya. Tentu saja itu Zarka bersama Abi.
Tatapan Zarka kembali fokus pada satu sosok yang mulai duduk tidak jauh dari tempatnya. Abi tersenyum sebab yang di cari oleh Zarka ternyata muncul di hadapannya seolah Tuhan sudah mengaturnya.
"Ini sebuah kebetulan atau dia memang untukku." Tutur Zarka pelan sebab tidak ingin Alea mendengarnya.
"Mungkin jodoh atau juga hanya kebetulan, hanya Allah yang tahu." Jawab Abi tersenyum.
Zarka memperhatikan raut wajah Alea yang seolah tengah memikirkan sesuatu. Itu terbaca dari tidak ada senyuman sejak tadi dan pandangan Alea terkadang terlihat kosong.
Apa dia sedang dalam masalah? Batin Zarka begitu ingin tahu.
Sementara di meja Alea, dia melipat kedua tangannya dan duduk seraya menatap pemandangan yang tersuguh di hadapannya. Memang indah namun fikiran Alea tidak fokus sehingga dia tidak menyadari keindahan itu.
"Lupakan masalah rumahmu dulu, kau kelihatan sekali jika sedang galau." Kata Monik berbisik.
"Kau tidak mengalaminya jadi kau bisa berucap seperti itu. Dia memang minta maaf, tapi aku merasa permintaan maaf itu tidak tulus sebab dia mengulang kesalahan itu lagi." Kata Alea pelan.
"Suamimu memang sedikit sinting padahal dulu ku fikir dia perfect sebab tidak pernah marah." Jawab Monik yang tidak pernah melihat Leo marah sekalipun.
"Ya memang tidak marah seperti pada umumnya tapi perkataannya membuat mental ku tidak kuat. Aku sudah menuruti semua maunya agar dia bahagia."
"Daripada di tahan lebih baik kamu mengungkapkan itu."
"Hei sialan! Aku sudah mengungkapkan itu ratusan kali tapi dia selalu ada alasan untuk memojokkan aku."
"Jangan keras-keras hahaha, kita bisa jadi tontonan di sini." Jawab Monik terkekeh.
"Kau memancing emosiku. Apa ada seorang suami yang meragukan kesucian istrinya?" Gumam Alea.
"What?? Serius." Kata Monik setengah berteriak.
"Suaramu lebih keras dari suaraku tadi." Umpat Alea melirik malas ke arah Monik namun matanya tidak sengaja menangkap sosok Zarka yang tengah melihat ke arahnya.
Astaga dia... Batin Alea membuang muka. Tubuh Alea seolah dingin dan kaku sebab dia sadar jika sejak tadi ada yang memperhatikannya.
"Hahaha iya maaf."
"Diamlah!" Bisik Alea.
"Kenapa?"
"Belakangmu. Lihatlah dari kaca bedak dan jangan menoleh." Jawab Alea berbisik.
Monik mengambil kaca bedak dan membukanya. Dia terkejut melihat Zarka berada bersama Abi duduk tidak jauh dari tempatnya.
"Astaga si bule." Kata Monik malah tertawa cekikikan.
"Dia melihatku! Kita harus segera pergi." Ajak Alea tiba-tiba.
"Kita bahkan belum memesan." Protes Monik.
"Tinggal saja sendiri. Aku mau pergi." Alea mengambil tasnya dan berjalan keluar di ikuti oleh Monik.
Meski Mas Leo tidak sempurna, aku tidak ingin memberi kesempatan seseorang untuk menyukaiku. Apa yang ku fikirkan! Belum tentu pemuda itu menyukaiku. Tapi sudahlah sedia payung sebelum hujan.
Monik segera naik ke boncengan Alea namun mesin tidak kunjung hidup bahkan saat mesin hidup knalpot milik Alea mengeluarkan asap yang begitu banyak.
"Hentikan. Kamu membuat tempat ini penuh polusi." Canda Monik yang di balas Alea dengan tatapan tajam.
"Kenapa lagi motor ini." Kata Alea yang sama sekali tidak tahu mesin.
"Mana aku tahu. Coba hidupkan lagi." Alea naik lagi dan mencoba menghidupkannya namun asap kembali keluar.
"Olinya mungkin habis Kak." Sahut dua orang pemuda berjalan ke arah Alea dan Monik.
"Kamu tahu mesin?"
"Hm iya, aku lulusan Sekolah menengah kejuruan." Jawab pemuda itu seraya melirik ke arah tubuh Alea yang memang terlihat begitu menggoda untuk di pandang. Alea menyadari hal itu sehingga dia merasa risih." Aku bisa bantu Kak, rumahku deket kok." Imbuhnya menatap bagian d**a Alea yang berukuran besar.
"Tidak terima kasih." Tolak Alea.
"Hei kenapa kau tolak, terus kita jalan kaki?"
"Sudahlah ayo pergi sialan!" Bisik Alea merasa kesal pada Monik yang tidak peka terhadap tatapan dari pemuda itu.
Saat Alea akan mendorong motor, pemuda itu berdiri menghalanginya seraya tersenyum menjijikan.
"Aku akan mencari bengkel saja."
"Mari ku bantu Kak, bengkel di sini jauh." Jawabnya beralasan.
"Tidak terima kasih." Alea mendorong ke lain arah namun pemuda itu kembali menghalanginya lagi.
"Aku kasihan padamu Kak."
"Aku tidak mau kau bantu. Minggirlah!" Kata Alea meninggikan suaranya sebab merasa kesal.
"Kakak tidak akan tahu daerah sini."
"Aku orang sekitar sini."
"Aku bahkan baru melihat Kakak." Alea semakin jijik merasakan tatapan pemuda itu. Alea terpaksa terus mendorong motornya meski pemuda itu tidak ingin pergi hingga tangan pemuda itu mendorong bagian depan motor sehingga membuat Alea terdorong mundur dan...
Bugh!!
Tubuhnya tidak jatuh dan malah membentur d**a bidang seseorang yang tengah berdiri di belakangnya.-
Silahkan like dan vote sebanyak-banyaknya
Terimakasih
Salam satu rumpun ?♥️