Saat Alea pergi keluar bersama Monik, Zarka memutuskan untuk ikut pergi sebab dia tidak ingin kehilangan jejak. Niat itu tertunda karena dia harus mengantri untuk membayar makanannya tadi.
"Biar ku tunggu, kamu kejarlah dia sebelum kehilangan jejak." Pinta Abi selalu pengertian terhadap sahabatnya.
"Ku tunggu di depan."
"Oke." Abi tersenyum dan Zarka segera berlari kecil agar Alea bisa terkejar.
Langkahnya semakin di percepat saat Zarka melihat dua orang pemuda tengah menganggu Alea. Belum sempat Zarka berbicara namun Alea sudah terdorong mundur dan hampir saja jatuh bersama motornya jika Zarka tidak berada di belakangnya.
Dugh!
Tangan kiri Zarka menahan tubuh Alea sementara tangan kanannya menahan motor yang hampir oleng. Monik yang melihat itu hanya terpanah pada sosok Zarka yang begitu tampan dan berpostur tubuh tinggi.
"Ach..." Pekik Alea tidak sengaja berpegang pada lengan Zarka.
"Ada apa ini." Alea segera berdiri tegap dan memutar tubuhnya menghadap ke arah Zarka yang berada begitu dekat dengannya.
Dia... Alea terkejut dan kembali membalikkan tubuhnya menghadap ke arah depan dengan detak jantung tidak beraturan.
"Aku ingin membantunya tapi dia tidak mau." Jawab pemuda itu cukup takut dengan Zarka sebab postur tubuhnya yang tinggi.
"Jika tidak mau kenapa di paksa." Protes Zarka.
"Syuuut... Alea..." Bisik Monik menyuruh Alea untuk ke tempatnya. Alea akan berjalan ke arah Monik namun dia teringat motornya dan memutuskan untuk memegangi motor tanpa melihat ke arah Zarka.
"Itu..." Pemuda itu kembali melirik ke arah Alea dengan tatapan tidak sopan. Zarka menyadari hal itu dan bersiap berjalan maju.
"Kamu bisa memegang ini." Tanya Zarka.
"Tentu saja. Ini motorku." Jawab Alea mencoba tidak gugup.
"Terimakasih." Zarka tersenyum sejenak lalu berjalan maju ke arah pemuda itu.
Bukannya aku yang harus berterimakasih?
"Kenapa anda tidak pergi?" Tanya Zarka menghalangi pandangan pemuda tersebut.
"Apa kau juga temannya? Jika bukan, aku takut kau mengambil kesempatan pada gadis itu." Pemuda itu begitu tertarik dengan Alea hingga dia memberanikan diri untuk melawan Zarka.
"Kesempatan apa kawan." Zarka menepuk pundak pemuda itu lembut." Aku tidak berfikir seperti yang ada pada otak anda. Pergilah biar dia menjadi urusanku." Zarka tersenyum namun sanggup merontokkan nyali pemuda tersebut.
"Hm baiklah." Dia mengedipkan mata pada temannya dan pergi.
Zarka membalikkan badan, melihat ke arah Alea yang masih berdiri di samping motornya. Dia berjalan pelan ke arah Alea dan berdiri tepat di hadapannya.
"Kenapa motormu?" Tanya Zarka tersenyum melihat kecantikan Alea dari dekat.
"Entahlah, mungkin rusak." Jawab Alea tanpa melihat ke arah Zarka untuk menghindari hal yang tidak di inginkan.
"Boleh ku coba?"
"Hm tentu."
Zarka naik motor dan menghidupkan mesin, asap keluar semakin banyak sehingga Zarka mematikannya.
"Kapan terakhir kamu mengganti oli?" Tanya Zarka.
"Aku lupa."
"Kau tidak pernah mengganti nya." Sahut Monik.
"Kau tahu darimana?"
"Kau selalu mengajakku jika ke bengkel."
"Aku hanya menundanya."
"Dan lupa hahaha, motormu akan rusak jika tidak kau rawat." Jawab Monik terkekeh.
"Jika rusak, kau juga akan repot bukan!" Monik menghentikan tawanya sebab membenarkan hal itu.
"Iya..Iya... Jadi apa yang rusak?" Tanya Monik ingin tahu.
"Aku juga tidak tahu. Tapi mungkin masalah oli." Jawab Zarka begitu ramah hingga membuat perasaan Alea semakin tidak terkendali.
"Ini gara-gara kamu! Jika tadi kita pulang semua tidak akan terjadi." Kata Alea mengeluh.
"Akan ku bayar biaya kerusakannya."
"Kamu pikir tidak berat membawa motor sampai ke bengkel."
"Ada apa Zar?" Tanya Abi baru saja datang.
"Motornya rusak. Panggilkan montir untuk memeriksanya." Pinta Zarka yang ponselnya berada di tas milik Abi.
"Oke tunggu." Abi mengambil ponsel dan menelfon montir untuk datang ke lokasi.
"Jadi tidak perlu di dorong?"
"Tidak perlu. Siapa namamu." Tanya Zarka mengulurkan tangan kanannya.
"AL.. Alea dan dia Monik." Jawab Alea tidak membalas uluran tangan Zarka.
"Em Aku Zarka, dan dia temanku Abi." Zarka semakin kagum sebab Alea menolak uluran tangannya.
"Kita tunggu 10 menit." Sahut Abi tersenyum.
"Terimakasih."
"Sama-sama saudaraku." Jawab Abi ramah.
"Kita pesan makanan sambil menunggu." Sahut Monik.
"Tidak. Aku tidak berselera." Jawab Alea tegas.
"Mungkin ingin makan sambil berbincang?" Tanya Zarka berharap.
"Tidak perlu. Aku benar-benar tidak ingin makan." Alea tersenyum sejenak meski tidak menatap ke arah Zarka.
Tiba-tiba Monik menyeret Alea dan membisikkan sesuatu.
"Dia melihat ke arahmu sejak tadi tanpa berkedip." Bisik Monik.
"Tidak sopan sekali berbicara berbisik seperti ini. Diamlah. Nanti kita bahas." Jawab Alea juga merasa jika Zarka sejak tadi melihat ke arahnya.
Sebuah mobil pick up datang dengan dua orang berseragam montir. Mereka turun dan memeriksa motor milik Alea.
"Ini sudah parah, mungkin butuh waktu satu hari penuh untuk membetulkan ini." Kata montirnya melihat-lihat.
"Bagaimana?" Tanya Abi menatap ke arah Alea.
"Ya sudah tidak apa-apa. Aku bisa naik taksi pulangnya. Aku minta alamat bengkelnya."
"Aku tahu tempatnya jadi tidak perlu khawatir." Jawab Abi tersenyum ramah.
"Maaf. Bagaimana aku percaya." Kata Alea pelan sebab motor itu begitu berarti untuknya.
"Ini kartu namaku." Zarka mengeluarkan dompet dan memberikan kartu namanya." Ambillah, ini ada alamat asrama tempat kami tinggal." Alea mengambil kartu nama itu dan membacanya.
Mohammad Zarka? Dia pelajar? Batin Alea yang tahu alamat asramah itu berada di mana.
"Hm baik." Jawab Alea pelan.
Motor Alea segera di angkut ke atas motor pick up dan melaju pergi.
"Terimakasih atas bantuannya."
"Sama-sama."
Alea mengeluarkan ponselnya dan hendak memesan taksi online.
"Biar ku antarkan kalian pulang." Tawar Zarka membuat Alea berhenti mengetik.
"Kamu punya mobil?"
"Tentu saja. Daripada harus memesan taksi." Zarka begitu berharap Alea mau.
"Tidak. Kami sudah banyak merepotkan."
"Tidak. Itu tidak benar. Aku begitu bahagia jika kamu mau ku antarkan pulang."
"Terimalah saudaraku." Sahut Abi ikut memohon.
"Sudahlah tidak apa-apa, kita bisa turun di gang."
"Kenapa di gang? Sebaiknya langsung di rumah." Alea memutar otak untuk mencari alasan.
"Ayahku galak. Dia tidak memperbolehkan aku berdekatan dengan lelaki." Monik menahan tawa saat alasan itu terlontar dari bibir Alea.
"Itu hal yang bagus." Jawab Zarka semakin merasa kagum." Aku antar sampai depan gang." Imbuh Zarka setuju.
"Hm baiklah."
Alea terpaksa mau meski fikirannya selalu tertuju pada Leo suaminya. Dia merasa tidak nyaman karena tahu ini akan menyakiti hati Leo jika sampai Leo tahu.
Maafkan aku Mas..
Alea duduk di samping Monik di jog belakang mobil dengan tatapan mata yang terus melihat ke arah luar jendela.
Semakin kau acuh semakin aku menginginkanmu..
???
Di tempat kerja Leo, seperti biasa saat istirahat dia berjalan ke arah kantin untuk membeli makan siang. Elsa yang tahu hal itu langsung berjalan ke arah Leo seraya memegang lengan Leo erat.
Elsa, teman wanita terdekat Leo. Dia sudah bersuami namun karena perkerjaan suaminya sering keluar kota sehingga membuat Elsa sering kesepian.
"Kita makan bersama." Ajak Elsa tersenyum. Leo membiarkan Elsa menyentuhnya sebab menurutnya itu hal yang biasa.
"Suamimu sudah pulang?" Tanya Leo.
"Belum. Sepi di rumah kapan-kapan jalan yuk." Ajak Elsa.
"Alea bisa marah jika tahu."
"Ya jangan sampai tahu." Jawab Elsa tertawa renyah.
Alea sempat mengenal Elsa dulu, dia begitu tidak suka melihat Leo berdekatan dengan Elsa yang menurutnya seperti wanita gatal. Hingga akhirnya Elsa keluar sebab merasa sakit hati dengan pernikahan Leo dan Alea. Namun perasaan Elsa yang tidak terbendung sehingga membuat dia memutuskan untuk berkerja kembali dan bonusnya, Alea sudah berhenti berkerja dan dia bisa mendekati Leo dengan leluasa.
"Ya mungkin kapan-kapan." Elsa semakin girang sehingga membuat pegangannya semakin erat. Leo yang memang hobi menggoda membiarkan hal itu terjadi dan menganggap itu sebagai hiburan juga untuk penyemangat di tempat kerja.
???
Alea semakin mati gaya setelah Monik turun duluan, bukan tanpa alasan dia merasakan itu sebab sejak awal Zarka sengaja memperhatikannya di kaca spion.
Ada yang salah pada perasaan Alea karena tidak seperti biasanya dia begitu gugup. Jantungnya berdetak tidak beraturan dan terkadang membuat dia kesulitan menghirup oksigen saat ini.
Ingatlah pada suamimu Alea.. Kenapa kau gugup seperti ini. Batinnya berkecamuk mencoba meredam perasaan gugupnya.
"Kamu terlihat bukan orang Indonesia?" Tanya Alea berharap Zarka berhenti menatapnya.
"Hm kami dari Bangladesh. Di sini kami study sambil menikmati keindahan Indonesia." Jawab Zarka tersenyum indah dan semakin membuat mata Alea buta.
"Sudah terlihat."
"Apa kamu seorang muslim?" Tanya Zarka.
"Hm iya. Tapi bukan muslim yang taat." Jawab Alea tersenyum aneh.
"Tidak masalah, aku bisa membimbingmu." Ucap Zarka lepas kendali sebab keinginannya untuk memiliki Alea semakin menguat setelah hari ini.
"Membimbing?" Tanya Alea binggung.
"Sebagai sesama muslim kita harus saling membimbing." Sahut Abi meluruskan ucapan Zarka.
"Aku paham."
Mas Leo bahkan tidak pernah menyuruhku.
"Apa kegiatanmu.sehari-hari?" Tanya Zarka lagi.
"Tidak ada."
"Berapa umurmu?"
"Dua puluh dua." Jawab Alea singkat.
"Aku dua tiga."
Dia lebih tua satu tahun dariku.
"Kupikir kamu baru lulus?"
"Aku memang menunda study selama dua tahun sebab perlu banyak waktu memperoleh izin untuk datang kesini."
Alea hanya tersenyum sebab otaknya seolah berhenti berkerja saat itu. Dia tidak biasa berada di posisi ini apalagi wajah kedua lelaki di depannya begitu berbeda.
Mimpi apa aku semalam. Batin Alea membuat Zarka berfikir jika Alea sedang dalam masalah.
Ini terlalu dini untuk bertanya jadi sebaiknya aku diam dulu.
Zarka sering menatap wajah Alea dari pantulan cermin spion sehingga membuat Alea semakin gila di buatnya.
"Apa tidak masalah jika memutar jalan? Lihatlah sangat macet, mungkin ada kecelakaan di depan." Kata Zarka menjelaskan.
"Ya sudah tidak apa-apa."
"Aku akan mencari jalan tercepat agar bisa cepat sampai." Sahut Abi melihat pada GPS di ponselnya.
Semakin lama saja. Situasi apa ini Tuhan. Aku sesak bernafas di sini. Ah lewat sini? Ini jalan tempat kerja Mas Leo. Bibir Alea tersenyum dan saat itu juga Zarka ikut tersenyum.
Rasa kagumnya semakin kuat sebab sikap Alea terlihat sedikit acuh meski memang untuk segi baju, Alea tidak masuk tipe Zarka, dia menyukai gadis berhijab sementara Alea memakai baju yang cenderung kurang kain meski tidak parah.
Senyum Alea hilang dan matanya melebar seraya mendekatkan wajahnya pada kaca mobil. Memastikan jika yang di lihatnya bukan Elsa dan suaminya namun dalam kenyataannya itu memang dia.
Tidak ini tidak mungkin? Bukankah Elsa sudah keluar dari sana. Terus apa yang di lakukan Mas Leo bersama Elsa? Apa dia berkerja lagi atau Elsa sengaja makan di sana untuk menemui Mas Leo.
Perasaan Alea seketika kalut dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Dia tipe wanita yang mempunyai kecemburuan besar pada pasangan. Dan akhir-akhir ini dia sudah tidak mau mengungkapkan itu sebab ingin menghindari konflik dengan Leo. Alea memendam itu meski terkadang dia begitu ingin bertanya dan mengungkapkan kekhawatirannya.
Mas Leo tidak pernah bercerita soal ini. Alea menunduk, sehingga wajahnya bisa tersamarkan dengan rambut panjangnya. Dia melihat layar ponsel, dan jari telunjuknya ingin bergerak ke kontak Leo namun keinginan itu di urungkan.
"Apa yang kau lihat? Apa semua baik-baik saja?" Tanya Zarka menyadari jika saat ini Alea tengah menahan tangis.
"Tidak ada. Aku baik-baik saja." Alea mengangkat kepalanya dan berusaha tersenyum meski matanya tidak sanggup menipu.
Zarka menghentikan laju mobilnya lalu mengambil satu lembar tisu dan memberikannya pada Alea.
"Apa kami menakutimu saudaraku?" Tanya Abi merasa khawatir.
"Tidak." Alea tersenyum dan mengambil tisu dari tangan Zarka lalu mengusap lembut kedua matanya." Sepertinya ada debu masuk." Imbuh Alea berbohong.
"Benar begitu?" Zarka terpaksa harus menerima jawaban itu meski dia yakin jika Alea tengah berbohong.
"Iya maaf."
"Tidak perlu minta maaf. Kamu tidak bersalah." Zarka mulai menghidupkan mobil dan kembali melaju.
"Kamu lihat tadi jalanan benar-benar macet jadi kami memilih jalan lain. Kami bukan orang jahat." Sahut Abi yang berfikir jika Alea takut padanya dan Zarka.
"Aku tidak pernah berfikir begitu." Alea tersenyum meski terlihat palsu. Raut wajahnya kembali berubah seraya menatap kaca mobil dan hal itu begitu menyakiti Zarka meski dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Aku tidak pernah mempunyai perasaan semacam ini ya Allah. Kenapa aku begitu sakit melihatnya bersedih seperti itu padahal aku baru saja mengenal dia. Aku menginginkan dia tersenyum. Angkatlah semua kesedihannya agar dia bisa bahagia atas hidupnya. Amin.
"Berhenti di sini." Pinta Alea. Zarka meminggirkan mobil dan berhenti.
"Apa ini gang rumahmu?"
"Iya." Alea terpaksa berbohong padahal gang rumahnya masih dua blok dari sana." Terimakasih bantuannya." Imbuh Alea.
"Sama-sama." Alea tersenyum sejenak dan hendak turun.
"Semoga kita bisa bertemu lagi." Tutur Zarka tersenyum ke arah Alea yang saat ini menatap ke arahnya.
"Hm semoga. Mari.." Alea akan turun namun ucapan Zarka menghentikannya lagi.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam." Alea tersenyum sejenak dan turun dari mobil Zarka lalu berjalan masuk ke dalam gang.
"Aku semakin menginginkannya." Gumam Zarka masih menatap ke arah Alea dari belakang.
"Dia gadis yang baik dan manis."
"Aku ingin dia jadi takdirku."
"Amin insyaallah." Sahut Abi membuat Zarka tersenyum dan melajukan mobilnya saat melihat Alea sudah hilang dari pandangannya.-
Silahkan like, vote dan share sebanyak-banyaknya
Terimakasih
Salam satu rumpun ?♥️