Alea mengintip saat mobil Zarka sudah pergi dari gang, dia keluar dari persembunyiannya lalu berjalan ke jalan utama untuk pulang. Pikirannya kalut dan bertanya soal pemandangan yang di lihatnya tadi.
Itu benar-benar Mas Leo..
Kakinya berayun pelan masuk ke gang nomer delapan lalu tidak berapa lama dia sudah tiba di rumah. Tangannya meraih kunci yang selalu di letakkan pada atas pintu lalu memasukkannya pada lubang kunci.
Cklek..
Pintu terbuka, memperlihatkan rumah yang sunyi bertambah dengan perasaannya yang tidak baik. Alea menaruh tas di atas meja lalu berbaring di sofa tanpa melepas alas kaki.
Dia tengah cemburu, sehingga tubuhnya langsung melemah seolah rasa cemburu itu sudah menyerap kekuatannya. Seharusnya tidak seperti ini, dulu dia begitu emosional jika cemburu bahkan tidak segan-segan untuk mengomel. Namun ucapan Leo merubahnya, merubah Alea menjadi pribadi yang sulit menggambarkan tentang apa yang di rasakannya seperti sekarang.
Kruuuuukkkkkk
Suara perut Alea memecah keheningan hatinya. Dia mendesah lembut, berjalan lunglai menuju ke belakang berniat untuk membuat mie. Tangannya terangkat dan membuka lemari. Keningnya berkerut sebab tidak menemukan apapun di sana.
Aku lupa jika mie instan habis. Eluhnya memegang perut. Langkahnya menuju ke kamar lalu berganti baju Karena dia merasa gerah dengan bajunya sekarang. Tangannya meraih daster dan mengambil dompet lalu berjalan keluar untuk membeli mie di mini market yang terletak 300 meter dari rumahnya.
Alea kembali berjalan keluar gang menyusuri trotoar menuju ke arah mini market. Langkahnya terhenti saat melihat sebuah mobil yang cukup di kenalnya berhenti.
Zarka? Batinnya dalam hati. Alea berpura-pura tidak tahu dan langsung masuk ke dalam mini market. Kenapa dia masih di sekitar sini. Alea meraih keranjang lalu berjalan ke arah rak yang penuh dengan mie instan. Di ambilnya masing-masing dua untuk setiap varian rasa setelah usai dia memutar badan dan hendak pergi ke kasir namun langkahnya kembali terhenti sebab Zarka sudah berdiri di hadapannya.
"Ponselmu tertinggal." Tutur Zarka menyodorkan ponsel milik Alea.
"Astaga. Maaf." Alea segera mengambil ponsel dari tangan Zarka dan menggenggamnya erat.
Dia semakin cantik dengan gaun yang di pakainya sekarang. Pikiran Zarka mulai tidak fokus hingga dia tidak sadar sudah melihat Alea dengan begitu lama.
"Ehemmmm." Alea berdehem dan membuat Zarka tersadar lalu tersenyum.
"Maaf. Aku sungguh minta maaf, kamu cantik sekali jadi membuatku ingin berlama-lama melihatmu." Kata Zarka tidak sabar ingin jujur atas perasaannya.
Wajah Alea memerah, dan jantungnya berpacu dengan hebat sebab lelaki di hadapannya begitu luar biasa.
"Semua wanita cantik."
"Hm iya. Tapi aku menyukaimu."
Deg!
Mata Alea melebar, merasakan degup jantung yang semakin menggila. Dia seperti bermimpi! Bahkan sosok di hadapannya mirip seorang pangeran yang entah dari mana?
Aku terlihat buruk dan pendek, kenapa dia berkata demikian?
"Kamu bisa saja. Em kasihan temanmu sudah menunggu." Kata Alea beralasan sebab ingin mengusir Zarka secara halus.
"Abi sedang ada perlu tadi, jadi aku menurunkannya di suatu tempat."
"Oh.. Aku akan membayar ini." Mengangkat sedikit keranjangnya.
"Ku temani." Zarka mengambil alih keranjang dan mempersilahkan Alea untuk berjalan duluan.
"Terimakasih."
"Tidak masalah, aku senang melakukannya. Em aku boleh minta sesuatu?" Tanya Zarka berjalan di samping Alea.
"Apa itu?"
"Tolong temani aku makan, ku lihat di seberang jalan ada depot."
Kebetulan sekali aku lapar. Tapi jika makan di sini dan ada seseorang yang melihatku? Ini bisa jadi masalah besar.
"Aku mohon, jangan menolakku." Pesona Zarka saat ini mampu membuat Alea melupakan rasa cemburunya pada Leo.
"Di situ tidak seberapa enak."
"Hm tunjukkan di mana makanan yang enak." Kata Zarka meletakkan keranjang pada meja kasir.
"Tapi bajuku?"
"Baju itu begitu indah hingga membuatmu terlihat semakin luar biasa."
Apa dia membual? Ini kan daster?
"Hm ya sudah." Jawan Alea pelan.
"Total semuanya 95 ribu rupiah."
"Debit bisa?" Zarka menyodorkan kartunya.
"Bisa Kak."
"Biar ku bayar." Sahut Alea akan mengeluarkan uang.
"Sudah tidak apa."
"Terimakasih."
"Kamu banyak mengucapkan terimakasih hari ini." Zarka mengambil kantung plastik seusai bertransaksi.
"Kamu banyak membantu."
"Aku tidak merasa begitu." Tangan panjang Zarka mendorong pintu untuk Alea.
Mas Leo sudah tidak pernah melakukan ini padaku.
"Sekali lagi terimakasih."
"Ami tomake bhalobashi." Jawab Zarka tersenyum.
"Bahasa apa itu?"
"Bahasa negaraku."
"Apa artinya? Terimakasih kembali? Atau sama-sama?" Tanya Alea ingin tahu.
"Anggap saja begitu."
"Hm oke."
Aku mencintaimu, itulah artinya.. Batin Zarka membukakan pintu untuk Alea lalu menutupnya lembut. Dia menaruh belanjaan pada jog belakang dan masuk pada pintu yang lain.
Setibanya di depot yang cukup jauh dari rumah, keduanya turun dan langsung memesan. Alea yang tidak percaya sudah melakukan hal ini, hanya terpaku melihat sajian di hadapannya.
Apa aku berdosa melakukan ini?
"Kenapa? Ada yang salah dengan menu yang ku pesan?" Tanya Zarka.
"Tidak. Ini sudah benar." Alea menggeser piring." Mari makan." Imbuhnya menyendok makanan dan memasukkannya pada mulutnya.
"Bolehkah aku menjadi temanmu?" Tanya Zarka sejak tadi melihat ke arah Alea tanpa menyentuh makanannya.
"Aku tidak mempunyai teman lelaki. Ayahku galak." Jawab Alea ingin jika setelah ini dia tidak akan bertemu dengan Zarka lagi.
"Aku sangat ingin berteman denganmu."
"Aku tidak punya banyak waktu untuk itu."
"Aku tidak masalah, asal kita berteman."
Dua orang wanita cantik masuk ke dalam depot dan memesan. Karena tempatnya penuh sehingga mau tidak mau Alea harus berbagi tempat duduk.
"Maaf Kakak." Kata salah satu dari mereka. Alea melirik ke arah kedua wanita yang terlihat begitu anggun dan modis.
Wanita sepertinya yang cocok dengannya. Kedua wanita itu curi pandang pada Zarka namun anehnya Zarka tidak melihat ke arah mereka sedikitpun dan pandangannya fokus pada Alea.
"Makan yang banyak." Pinta Zarka tidak menganggap kedua wanita itu ada.
"Hm.." Kejadian ini mengingatkannya pada kejadian dulu saat Leo dan dirinya masih berpacaran. Saat itu keduanya duduk di taman dan kebetulan di depan mereka ada seorang wanita duduk bersama kekasihnya. Wanita itu begitu cantik dan imut. Awalnya Alea tidak tahu jika tatapan Leo tidak fokus, dia baru tahu ketika Alea bertanya sesuatu namun Leo tidak menjawabnya dan malah fokus memandang ke arah depan. Hal itu membuat Alea begitu sakit dan sampai saat ini Leo tidak bisa menghilangkan kebiasaan buruknya untuk lebih menghargai pasangannya.
Itu berbanding terbalik dengan apa yang di lihatnya saat ini. Lelaki di hadapannya bahkan lebih tampan dari suaminya namun dia lebih bisa menghargainya meski Alea tidak secantik wanita di sampingnya.
"Kenapa tidak bersemangat begitu?" Tanya Zarka.
"Apanya?" Tanya Alea balik.
"Apa masakannya kurang sedap?" Kedua wanita itu malah fokus melihat ke arah Zarka.
"Enak kok." Alea melirik ke arah jam yang sudah hampir sore." Ayah akan pulang sebentar lagi." Tuturnya beralasan.
"Oke. Habiskan makananmu dan kita pulang."
Perasaan Alea begitu tertarik pada lelaki di hadapannya meski hatinya ingin sekali menolak. Ada setitik rasa nyaman saat ini sebab Zarka bisa menghargainya dengan begitu baik.
Andai Mas Leo begitu.
"Mereka begitu cantik." Pancing Alea.
"Siapa?"
"Kedua wanita tadi."
"Iya." Jawab Zarka singkat.
"Pasti tipemu seperti mereka." Kata Alea bercanda yang entah bertujuan untuk apa.
"Tipeku sedang duduk di sampingku." Alea memutar kepalanya menghadap ke arah Zarka yang langsung menghentikan laju mobilnya." Aku benar-benar tidak tahan." Zarka menghadap ke arah Alea.
"Apa maksudmu?" Tanya Alea mencium sesuatu yang salah.
"Aku menyukaimu sejak awal kita bertemu." Kata Zarka membuat jantung Alea meledak saat itu juga dan membuat aliran darahnya berhenti mengalir sejenak." Jadilah temanku. Aku mohon." Imbuhnya bersungguh-sungguh.
Maksudnya menyukai sebagai teman? Batin Alea binggung.
"Hanya teman?"
"Hm ya teman? Kamu mau?" Zarka kembali menyuguhkan senyuman kematian untuk Alea.
"Sudah ku katakan jika Ayahku sangat galak." Jawab Alea ingin menghindari Zarka sebab sadar dengan statusnya.
"Itu bagus. Aku mendukung Ayahmu tapi tolong, bertemanlah denganku." Alea menatap mata Zarka sejenak dan ada perasaan lain terselip meski masih sedikit. Dia memalingkan wajah sebab ingin membuang rasa itu jauh-jauh. Rasanya Zarka datang di saat yang tepat sebab hati Alea tengah membutuhkan seseorang untuk bisa membuat hatinya kembali berwarna seperti dulu.
"Aku tidak pantas untuk itu." Jawab Alea pelan.
"Tidak pantas? Apa yang membuatmu berfikir demikian?"
"Sudahlah. Temanmu pasti banyak, untuk apa berteman denganku yang hanya lulusan SMA."
"Apa itu SMA?" Zarka tidak mengerti singkatan itu.
"Sekolah menengah atas."
"Oh terus masalahnya di mana?"
"Kamu mahasiswa kan?"
"Hmm kamu benar." Jawab Zarka masih tidak mengerti.
"Bertemanlah dengan yang lain."
"Not! I don't want anything else. I just want you." Jawab Zarka tegas.
"Aku bahkan tidak tahu kamu berkata apa." Zarka terkekeh mendengar keluguan dari Alea yang berkata dengan sebenarnya.
"Aku hanya ingin berteman denganmu dan hanya kamu." Jawab Zarka tersenyum.
Berteman saja! Bukankah tidak masalah? Mas Leo bahkan berteman dengan banyak wanita di sana? Alea kembali mengingat kejadian tadi.
"Hm baiklah."
Ucapan itu terasa ringan terlontar dan entah kenapa Alea begitu bahagia bisa berteman dengan Zarka meski dia tidak memahami arti dari kata-kata Teman untuk Zarka.
"Terimakasih." Jawab Zarka kegirangan dan mulai melajukan mobilnya.
"Senang sekali?"
"Tentu saja. Aku di beri banyak keberkahan hari ini." Alea memandang Zarka saat tersenyum dari samping dan itu semakin membuat jantungnya meledak.
Aku tidak boleh terbawa perasaan.
Zarka berhenti di gang tempat Alea tadi, setelah mengucapkan terimakasih Alea hendak turun namun Zarka memanggilnya.
"Tunggu dulu."
"Ada apa lagi?" Zarka mengulurkan tangannya.
"Peresmian pertemanan kita." Kata Zarka menatap Alea penuh harap. Dengan ragu Alea membalas uluran tangan Zarka dan bersalaman.
"Sudah." Kata Alea merasa jika Zarka sengaja berlama-lama menjabat tangannya.
"Maaf." Zarka melepaskan jemari Alea yang ingin di genggamannya terus.
"Hm terimakasih."
"Sama-sama." Alea turun dan harus kembali berakting masuk ke dalam gang." Assalamualaikum." Imbuh Zarka membuat Alea tersenyum tipis.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Alea segera turun.
"Jaga dia ya Allah." Gumam Zarka melajukan mobilnya.
Alea bernafas lega saat melihat mobil Zarka sudah berlalu pergi. Dia keluar dan berjalan ke arah gang rumahnya.
"Dia begitu manis dan berbeda dengan Mas Leo." Eluh Alea kembali mengingat kejadian tadi siang. Emosinya meluap-luap hingga dia mempercepat langkahnya agar segera sampai ke rumah.
Setibanya di rumah, Alea meletakkan mie instan begitu saja dan masuk ke kamar untuk beristirahat. Dia sengaja untuk tidak memasak hari ini sebab ingin memberi Leo pelajaran.
.
.
.
.
.
Pukul tujuh malam, motor Leo terdengar di halaman rumah namun Alea tetap pada posisinya duduk di sofa seraya menonton televisi.
Tok...tok...tok...
"Tidak di kunci." Teriak Alea.
Cklek...
Leo membuka pintu dan masuk lalu menguncinya lagi. Dia melihat ke arah Alea dan duduk di sebelah kaki.
"Masak apa kamu?" Tanya Leo tahu kebiasaan Alea seperti apa. Alea selalu menyambutnya dan langsung mengambilnya makan.
"Tidak masak!" Jawab Alea kesal.
"Kau kenapa lagi? Suami pulang bukannya di sambut dengan senyuman tapi kau suguhkan dengan raut wajahmu yang ketus itu!" Kata Leo berprotes.
"Suruh Elsa menyambutmu!!" Kata Alea membuat mata Leo melebar.
Kenapa dia tahu?
"Kamu bicara apa?"
"Actingmu sungguh bagus Mas!! Jelas-jelas ku lihat kau bersama Elsa di kantin tadi siang!"
Deg!
Leo menelan salivanya kasar, otaknya berfikir sebab ingin mencari-cari alasan untuk ini.
"Dia di tarik lagi oleh perusahaan." Jawab Leo asal.
"Aku tahu bagaimana perkerjaan Elsa dulu! Dia tidak pernah berkerja dengan beres dan selalu meminta bantuan pada setiap lelaki termasuk kamu!!! Iya kan?" Kata Alea dengan mata berkaca-kaca sebab mengingat masa lalunya saat masih berkerja satu kantor dengan Leo. Dia sering melihat kedekatan Elsa dengan suaminya, bahkan terkadang Elsa menghampiri Leo di ruangannya dengan bahasa tubuh yang sangat menjijikan.
"Aku hanya berteman. Jangan berlebihan." Jawab Leo masih tidak ingin di salahkan.
"Aku bahkan melihatmu begitu dekat dengannya tadi!!! Kau suka jika dia menyentuhmu bukan!!" Alea mulai terisak sebab dadanya terasa begitu nyeri.
"Bukankah kau sudah terbiasa, memang Elsa seperti itu pada semua orang."
"Kau sadar tidak? Elsa itu istri orang! Jika istrimu seperti Elsa apa kau rela Mas? Istrimu di jamah dengan banyak lelaki."
"Aku tidak mempermasalahkan masa lalumu tapi kenapa kau mempermasalahkan itu?" Alea langsung menatap tajam Leo dengan bulir air mata yang membasahi pipi.
"Apa yang kau maksud dengan masa lalu? Apa kau masih menyebutku tidak suci?"
"Saat malam pertama, kau bahkan tidak mengeluarkan darah. Bukannya itu berarti kau sudah pernah melakukan itu dengan orang lain!" Jawab Leo penuh hinaan membuat perasaan Alea semakin memburuk.
"Aku sudah bilang padamu jika aku melihat darah di sprei."
"Mana ku tahu? Aku tidak melihatnya sendiri."
"Jika aku tahu akan seperti ini. Tidak akan ku cuci langsung sprei itu!!"
"Nyatanya kau tidak bisa membuktikannya."
"Aku lelah! Terserah padamu." Alea berdiri dan meninggalkan Leo yang duduk di ruang tengah rumahnya.
"Apa bedanya dia dengan Elsa? Kenapa dia tidak mengakuinya juga sebab aku tidak masalah untuk itu." Gumam Leo mengingat makan malamnya bersama Elsa tadi.-
Terimakasih...
Salam satu rumpun ♥️