Terdengar dengkuran begitu keras seolah Leo benar-benar tidak memikirkan perasaan istrinya yang tengah menangis semalaman. Hal itu membuat perasaan Alea semakin sakit sehingga tangisnya tidak bisa berhenti.
Aku menyukaimu sejak awal kita bertemu.
Suara Zarka tiba-tiba melintas di fikiran Alea, ada sedikit senyum mengingat kebersamaannya tadi siang. Matanya melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul dua malam.
Dia selalu melintas tanpa pemberitahuan.
Sementara di asramah, Zarka baru saja selesai sholat malam dan berdoa. Menyebut nama Alea dalam doanya sebab rasanya dia semakin menginginkan Alea sejak hari ini.
"Jaga dia untukku ya Allah. Bolehkah aku meminta agar engkau menjodohkanku dengan dia? Aku begitu ingin itu terjadi dan merasa tidak sabar ingin menghalalkannya sehingga dia bisa menjadi mahram ku. Amiiin." Zarka berdiri dan melipat sajadah lalu meletakkannya pada tempatnya. Setelah itu, dia berbaring, mengingat Alea bahkan mulai merindukannya." Apa kamu sedang tidur sekarang Baby? Aku ingin kamu di sini dan selalu bersamaku jika Allah mengizinkan ku untuk menghalalkanmu." Tangannya meraih guling, memeluknya erat dan membuat keinginannya kian menguat. Zarka mendesah lembut, melemparkan guling sembarangan sebab di fikirannya melintas sesuatu yang janggal. Ya tentu saja! Dia membayangkan Alea berada di sini bersamanya dan yang terjadi seharusnya bisa di tebak seperti apa.
Sebagai lelaki normal tentu Zarka menginginkan itu, menyentuh Alea bahkan mencumbuinya meski Zarka harus berpuasa dulu untuk sekarang.
"Dia tipeku! Aku benar-benar sudah gila sebab menginginkan itu. Ya Allah semoga engkau menjauhkanku dari fikiran kotor ini." Zarka memiringkan tubuhnya dan berusaha untuk tidur namun matanya enggan terpejam. Dia melihat Alea bahkan saat menutup mata. Fikirannya penuh dengan sosok Alea yang begitu mengusik Fikirannya dan juga hasratnya.
Bibir Alea, bahkan postur tubuh Alea begitu sempurna di mata Zarka yang tidak menyukai wanita yang kurus. Dia mendesah lembut, mencoba menyingkirkan fikiran kotornya tapi tetap saja dia begitu ingin Alea di sini sehingga dia bisa mendekapnya lembut. Di raihnya guling tadi dan di peluknya erat. Matanya terpejam, membayangkan jika guling itu merupakan Alea yang tengah menemaninya.
Selamat malam Baby, aku mencintaimu.
.
.
.
.
Pagi itu, Alea tidak tidur semalaman dan keluar rumah pukul setengah enam untuk membeli sayur dan lauk pauk. Hatinya memang tidak sedang baik begitupun raut wajahnya dengan mata membengkak. Dia berjalan perlahan ke arah tukang sayur langganannya yang biasanya berhenti di samping gang rumahnya.
"Eh Bu AL." Sapa Erna ratu gosip.
"Iya Bu Erna." Jawab Alea mencoba tersenyum.
"Matanya kok bengkak Bu? Habis nangis atau apa sih?" Alea mengerutkan keningnya sebab merasa kesal dengan pertanyaan Erna yang selalu mengurusi hidup orang.
"Bukan Bu. Semalam saya tidak bisa tidur sebab mata saya kemasukan semut." Jawab Alea memilih sayur dan ikan.
"Dua-duanya kemasukan semut? Astaga semut itu kompak sekali Haha." Jawab Erna terkekeh.
Dasar lampir kurang kerjaan! Umpat Alea dalam hati seraya memasang senyuman.
"Terus. Kapan nih hamil? Sudah dua tahun nikah kok belum juga hamil. Sudah periksa belum Bu, takutnya ada yang mandul." Ejek Erna yang sering di lontarkannya.
"Kalau masalah itu tanya sama Tuhan Bu, bukan saya! Memangnya ada manusia yang bisa membuat anak jika Tuhan tidak mengizinkan!! Hitung Pak." Jawab Alea tersulut emosi.
"Saya hanya bercanda Bu. Kenapa jadi marah gitu?"
"Dan sekarang saya balik bertanya? Kenapa wajah Ibu seburuk itu?? Apa anda bisa menjawabnya??" Tukang sayur menahan tawa sebab selain ratu gosip wajah Erna juga begitu jelek dan banyak kerak hitam pada kulitnya." Binggung kan? Semua sudah di gariskan! Jangan bertanya sesuatu yang tidak bisa di jangkau nalar manusia!" Imbuh Alea menyerahkan uang 100 ribu. Setelah mendapat kembalian dia langsung pergi tanpa menyapa Erna.
"Mentang-mentang cantik dia menghina saya seperti itu." Gumam Erna tidak terima.
"Mangkanya jaga mulut Bu, Nona tadi juga ingin punya anak tapi bagaimana lagi jika Tuhan belum memberi."
"Kenapa Kau panggil aku Bu dan memanggilnya dengan Nona? Umurku satu tahun lebih muda dari dia!!" Tukang sayur menggaruk kepalanya sebab Erna terlihat seperti wanita berusia 40 tahun.
Setibanya di rumah, Alea langsung memasak untuk dia dan suaminya dengan mata bengkak dan kantuk yang tidak kunjung datang. Suasana hatinya yang tidak baik, membuatnya hampir kehilangan jari telunjuknya. Darah segar keluar dari sana membuat Alea semakin kesal. Diletakkannya pisau sembarangan dan membasuh lukanya dengan air keran.
Dia membuka kotak P3K dan mengambil plester lalu melekatkannya pada jari telunjuknya.
"Perih sekali." Eluhnya." Lebih baik aku beli saja." Alea membereskan bahan makanan dan memasukkannya ke dalam kulkas.
Dia kembali keluar untuk membeli rawon di warung dekat rumahnya. Suasana warung begitu ramai jika setiap pagi, banyak Bapak-bapak yang mengopi di sana namun Alea tidak memperdulikan itu sebab tidak ada pilihan lain.
Semua mata tertuju padanya sebab postur tubuh Alea yang terlalu indah untuk di lewatkan.
"Bu rawonnya 30 ribu."
"Iya Mbak sebentar." Jawab Ibu warung ramah.
"Tidak masak Bu." Sapa Pak Haru suami dari Erna.
"Tidak Pak." Jawab Alea ramah.
"Ini Mbak." Alea mengambil satu bungkus rawon dan memberikan uang lalu segera pergi dari sana.
"Alea memang the best bodynya." Kata Pak haru tertawa." Tidak seperti istriku yang sudah tidak berbentuk." Imbuhnya.
"Itu karena istrimu sudah pernah hamil jadi melebar." Sahut Ibu warung.
"Tergantung juga. Istri temanku anaknya sudah dia tapi bodynya masih bagus. Beliin produk kecantikan untuk istrimu biar cantik." Sahut lainnya.
"Percuma, di beliin juga bentuknya sudah kayak celengan Semar." Seluruh isi warung tertawa terkekeh mendengar candaan dari Pak Haru.
Setibanya di rumah, Alea melihat Leo sudah bangun dan tengah melihat acara televisi. Dengan acuh, Alea berjalan begitu saja melewati Leo dan berjalan ke arah dapur. Dia mengambil panci kecil lalu menuangkan Rawon yang di belinya tadi.
Leo mendecak kesal, sebab dia membenci makanan dari warung itu.
"Kenapa tidak masak?" Tanya Leo.
"Malas." Jawab Alea asal.
"Malas terus, jika beli terus-menerus uang belanja tidak akan sampai sebulan." Kata Leo berprotes tanpa melihat keadaan jari Alea yang teriris setengah senti.
"Aku pastikan sampai." Jawab Alea tidak ingin banyak bicara.
"Motormu ke mana? Aku tidak melihatnya."
"Ke bengkel, kehabisan oli dan rusak."
"Rusak?? Kenapa bisa sampai habis olinya? Memangnya kamu tidak mengisinya? Setiap hari keluar tapi untuk mengisi oli saja tidak mampu." Nada bicara Leo memang cenderung tidak kasar namun itu lebih buruk sebab rasanya seperti sebuah belati tajam yang mengiris-iris hati Alea.
Bukankah dia tahu jika gaji bulanan selalu tidak ada sisa? Apalagi sudah tiga bulan ini banyak sekali pengeluaran
"Terus kau punya uang untuk menebus motor itu?"
"Aku akan pinjam Monik."
"Seharusnya kau pandai mengatur uang agar kita punya tabungan. Lihatlah Mama ku, dia dulu selalu bisa mengatur uangku dengan baik. Tidak seperti kau yang boros." Alea mengangkat kepalanya, menatap tajam ke arah Leo.
"Hm berikan uang gajimu pada Mama mu agar dia mengaturnya dengan baik." Alea mengambil ATM dan meletakkannya pada meja dapur lalu berjalan melewati Leo begitu saja.
"Kau selalu salah faham. Aku menyuruhmu meniru Mamaku."
"Aku bukan Mamamu!."
Brakkkk!
Alea menutup pintu kamar mandi keras sebab pikirannya terasa begitu panas oleh ocehan Leo.
"Kenapa dia tidak menikah dengan Mamanya saja." Eluhnya menatap kaca toilet lekat. Air mata kembali keluar dengan rasa sakit yang bertumpuk. Dia menanggalkan bajunya dan menguyur tubuhnya dengan air berharap kepalanya bisa mendingin.
*Kenapa suamiku seperti itu Tuhan, ku fikir dulu dia dewasa tapi ternyata dia hanya lelaki yang entah seperti apa.
.
.
.
.
.
Sejak subuh Zarka menunggu panggilan dari Alea namun ponselnya tidak berdering sama sekali. Abi yang tahu hal itu hanya tersenyum melihat kelakuan temannya yang baru saja jatuh cinta.
"Kenapa tidak mengambilnya sendiri, bukankah kemarin ponselnya tertinggal?"
"Aku tidak mau melakukan itu, aku tidak ingin dia menyebutku tidak sopan." Jawab Zarka.
"Ya sudah tunggu saja, dia pasti menghubungimu untuk mengambil motornya. Sekarang kita sarapan dulu dan berangkat ke kampus."
"Hm baiklah.." Zarka berjalan malas ke arah Abi yang sudah membelikannya sarapan." Dia tipeku, aku tidak bisa tidur semalam." Imbuh Zarka mulai mengunyah makanannya.
"Hm dia cantik, tapi sayang tubuhnya tidak tertutup sempurna."
"Aku ingin merubahnya suatu hari nanti."
"Jangan memaksanya. Jika kamu benar menyukainya, terima dia dengan segala keburukannya." Kata Abi menyarankan.
"Aku tahu itu. Aku tidak akan memaksanya. Aku bahkan tidak ingin menyakitinya meski hanya sebesar jarum suntik."
"Aku yakin kamu mendapatkan yang terbaik saudaraku. Jika dia memang jodohmu, Allah akan mempermudah urusanmu." Abi menepuk lembut pundak Zarka dan tersenyum.
Aku ingin egois untuk hal ini Ya Allah. Jadikan dia takdirku meski seharusnya dia bukan Jodohku. Aku begitu menginginkannya.
???
Setelah Leo sudah berangkat kerja, Alea meraih ponsel dan dompetnya. Dia mengambil kartu nama Zarka lalu mencoba menghubunginya namun tidak ada jawaban sebab Zarka tengah mengikuti mata pelajaran kuliah sekarang.
Apa dia sibuk? Atau... Tidak mungkin. Dia bahkan memiliki mobil jadi tidak mungkin jika mereka menipuku?
Secara bersamaan muncul berita di televisi yang membahas berbagai modus penipuan. Alea menyimak itu dan takut jika memang kemarin hanyalah modus. Dia jadi berfikir macam-macam, beranggapan jika Zarka dan yang lain adalah komplotan penipu.
Dia kan dari Bangladesh, sekaya apa dia hingga bisa membeli mobil di sini? Bukankah dia hanya pelajar? Kenapa aku tidak berfikir begitu dan langsung terpesona dengan ketampanannya? Jika motorku hilang! Mas Leo akan marah sebab itu motor pemberian dari Mamanya. Alea langsung menghubungi Monik untuk membicarakan kekhawatirannya.
"Ya AL." Jawab Monik lemah.
"Mari kuajak mengambil motorku, aku takut mereka menipuku!" Kata Alea begitu panik.
"Tidak mungkin begitu. Uhuk..uhuk.."
"Kau sakit?"
"Iya. Aku tidak bisa berdiri sekarang sebab tubuhku lemas uhuk...uhuk...."
"Terus siapa yang menemaniku?"
"Kau telfon saja nomernya, aku yakin mereka akan mengantarkannya ke gang."
"Mereka tidak menerima panggilanku."
"mungkin masih sibuk, kau tunggu sebentar."
"Kau bilang begitu sebab itu bukan motormu!! Jika hilang kau mau menggantinya?"
Alea menutup panggilan begitu saja berjalan menuju kamar. Dia mengambil baju sembarangan dan berniat untuk pergi ke alamat yang diberikan oleh Zarka kemarin. Sembari mengunci pintu, dia memesan taksi online. Lima menit kemudian taksi sudah terparkir di bahu jalan dekat rumahnya. Alea segera berjalan ke arah taksi dan masuk.
Dua puluh menit kemudian, Alea sudah tiba di Asrama khusus laki-laki. Ada rasa ragu saat akan masuk ke sana, tapi demi motornya dia harus masuk dan bertanya apakah benar Zarka tinggal di Asrama itu. Paling tidak jika infonya tidak benar, dia bisa lapor polisi agar motornya bisa di selamatkan.
Dia melangkah masuk, melihat Asramah begitu sepi namun dia tetap melangkah masuk hingga seseorang wanita paruh baya menghampirinya.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya Ramah.
"Saya ingin mencari Zarka, apa benar dia tinggal di sini?"
"Zarka? Kamu urutan nomer tiga sejak tadi pagi." Alea mengerutkan keningnya sebab binggung dengan perkataan dari Ibu Asrama.
"Maksud Ibu?"
"Dia idola kampus jadi wajar jika seperti itu. Apa ada barang titipan untuk Zarka? Biar saya sampaikan sepulang kuliah."
Idola kampus? Kuliah? Alea mendesah lembut sebab mengingat jika Zarka masih kuliah. Dia tidak mengangkat telfon karena mungkin masih kuliah.
"Tidak ada Bu, saya hanya ingin bertanya itu. Jika boleh tahu, Zarka kuliah di mana?"
"Kamu tinggal berjalan sekitar 200 meter dari sini dan di sanalah dia kuliah."
"Baiklah Bu, terimakasih, permisi." Alea tersenyum sejenak sebelum akhirnya beranjak pergi.
Rambut panjang Alea yang di biarkan terurai, membuat kesan seksi semakin melekat di dirinya. Dia menyusuri jalan berniat untuk menuju ke kampus dan menanyakan soal alamat bengkel pada Zarka. Sepanjang perjalanan, banyak lelaki muda melihat ke arahnya meski Alea sama sekali tidak memperdulikan itu.
Dia masuk kampus dan berjalan ke arah tiga orang wanita yang tengah berbincang di taman kampus. Dan kebetulan sekali, ketiga wanita itu adalah Gea, Rania dan Ella.
"Permisi." Sapa Alea ramah.
"Iya." Jawab Gea yang awalnya ramah.
"Apa kalian kenal dengan mahasiswa yang bernama Mohammad Zarka?"
"Zarka?" Raut wajah Gea berubah.
"Ada perlu apa dengannya?"
"Kamu mengenalnya?"
"Ya dia pacarku."
"Oh.." Jawab Alea tersenyum meski di dalam hatinya terbesit rasa kecewa.
Dia sudah punya pacar dan pacarnya begitu cantik. Sudah seharusnya begitu. Batin Alea berkecamuk namun dia sadar jika hanya berteman dengan Zarka.
"Kamu siapa?" Tanya Gea ketus.
"Jangan marah dulu, aku hanya temannya."
"Teman?"
Zarka berteman dengan dia? Di bahkan tidak mau menjadi temanku dan tidak pernah berteman dengan wanita manapun apalagi wanita ini! Aku tahu dia hanya modus saja!
"Iya aku temannya." Rania dan Ella terkekeh mendengar hal itu sebab mereka kenal sifat Zarka seperti apa.
"Kau mengarang cerita?" Gea tersenyum mengejek.
"Maksudmu?"
"Pacarku tidak mempunyai teman perempuan." Jawab Gea tegas namun mata Alea melihat ke arah Zarka yang sudah berdiri di belakang Gea dan kedua temannya.
"Kamu yang mengarang cerita." Sahut Zarka membuat mata Gea melebar sebab merasa begitu terkejut dan malu.-
Terimakasih...
Salam satu rumpun.♥️♥️