Di kelas, Zarka tengah fokus memperhatikan dosen yang sedang menjelaskan sebuah mata pelajaran seraya sesekali melihat ke arah jendela. Matanya membulat melihat Alea mulai memasuki gerbang kampus. Dia segera membereskan buku dan laptop lalu memutuskan untuk keluar dengan setengah berlari.
Langkahnya di percepat saat Alea mengobrol dengan Gea yang setengah mati menyukainya. Dan dengan jelas dia mendengar jika Gea menyebutnya sebagai pacar di depan Alea.
"Kamu yang sedang mengarang." Sahut Zarka berjalan dan berdiri di samping Alea.
"Zarka?" Kata Gea terbata.
"Jangan dengarkan mereka, mari ikut denganku." Ajak Zarka tanpa menyentuh Alea sebab dia tidak ingin Alea salah sangka.
"Hm permisi." Alea tersenyum sejenak dan mengikuti langkah Zarka dari belakang.
"Sialan!!! Siapa wanita itu!!" Umpat Gea kesal.
"Body nya bagus ya, sayang dia pendek." Tutur Rania membuat Gea semakin kesal.
"Kau temanku atau temannya?"
"Ya memang body nya bagus kan Ella." Gea semakin kesal dan meninggalkan kedua temannya begitu saja.
"Bukankah dia aneh?" Tutur Rania terkekeh.
"Dia terlalu terobsesi dengan Zarka."
"Dasar! Harusnya dia sadar, kita hanya fans fanatik mereka Hahaha."
.
.
.
"Kamu tahu kampusku dari siapa?" Zarka begitu senang dengan kehadiran Alea sekarang.
"Aku tadi ke asrama dan bertanya pada Ibu-ibu yang ada di sana."
"Hm begitu." Wajah Zarka tersipu, melihat ke arah Alea yang begitu cantik dengan rambut hitam panjangnya.
Dia terlihat semakin seksi. Namun tatapan sekitar membuatnya merasa risau, dia begitu egois hingga tidak rela jika ada yang menatap Alea. Dia melepas jaketnya lalu memakaikannya pada bahu terbuka Alea." Di sini panas, pakailah." Imbuhnya beralasan.
"Aku tidak apa-apa."
"Sudahlah pakailah." Alea terpaksa memakai jaket yang kebesaran itu." Apa ada perlu mendesak?" Tanya Zarka.
"Hm aku ingin bertanya alamat bengkel motor kemarin. Aku tadi sudah menelfon tapi tidak kau jawab."
"Coba ku periksa." Zarka mengambil ponselnya dan terdapat dua panggilan tidak terjawab." Ini kontakmu?" Imbuhnya bertanya.
"Iya."
"Boleh ku simpan?"
"Tentu saja tapi jika ingin menelfon sebaiknya chat dulu. Aku takut ketahuan Ayah."
"Oke baik. Kita makan dulu, aku belum sarapan sejak pagi." Zarka mencari alasan untuk bisa mengajak Alea makan padahal tadi pagi dia sudah sarapan.
Aku juga lupa sarapan.
"Kau selalu mentraktirku."
"Tidak masalah." Keduanya berjalan keluar kampus menuju rumah makan yang ada di samping kampus tersebut. Keduanya duduk saling berhadapan hingga Zarka menyadari jika kedua mata Alea bengkak." Apa yang terjadi?" Tanyanya khawatir.
"Maksud kamu?"
"Matamu? Kamu habis menangis?"
"Tidak." Alea mengangkat tangan untuk menutupi matanya dengan rambut namun Zarka begitu jelly dan kembali menyadari plester yang menempel pada jari telunjuk Alea. Tanpa sadar Zarka menggeser tempat duduknya dan meraih jemari Alea dan memperhatikan lukanya.
"Terus ini?" Alea menarik tangannya cepat.
"Itu hanya... Terkena pisau dapur." Alea tersenyum aneh sebab hatinya bergetar saat Zarka menyentuh tangannya.
"Maaf. Aku begitu khawatir. Kenapa bisa kamu mendapatkan luka itu? Terus kamu menangis karena apa."
Ya Tuhan, lelaki ini lebih peka daripada suamiku. Dia memasang wajah khawatir sedangkan suamiku hanya bisa mengomel seperti tadi pagi. Alea teringat kejadian tadi pagi dan mendesah lembut. Hatinya begitu tertekan meski harus di sembunyikan rapat-rapat.
"Aku kurang berhati-hati tadi. Dan mata ini karena semalam kemasukan semut." Jawab Alea berbohong.
Apa yang sebenarnya terjadi? Aku tahu dia berbohong padaku. Apa hidupnya begitu sulit? Aku sangat sakit melihat raut wajahnya yang tidak sehat.
"Sudahlah, jangan membahasnya."
"Maaf. Mungkin ini terlalu awal tapi aku mengkhawatirkanmu." Jawab Zarka lirih.
Deg!
"Terimakasih."
"Silahkan makan." Zarka mencoba menutupi ke khawatirannya dengan senyuman.
"Mari makan." Gerakan Alea begitu pelan bahkan seperti seseorang yang tidak nafsu untuk makan. Perkataan Leo tadi sangat mengusik perasaan, apalagi beberapa kali dia kembali membandingkannya dengan Ibu mertuanya.
Klunting..
Alea tidak sengaja menaruh sendok dengan sedikit keras melupakan seseorang yang saat ini berada di sampingnya.
"Kenapa?" Tanya Zarka.
"Ini hambar." Jawab Alea yang tidak makan sejak pagi.
"Kamu ingin pindah tempat?"
"Tidak. Aku ingin mengambil motorku dan pulang."
"Siang ini sudah selesai."
"Kira-kira berapa biayanya?" Tanya Alea yang hanya menyediakan uang 200 ribu sebab ATMnya tidak di bawa karena sakit hati pada Leo.
"Aku juga tidak tahu. Apa kita langsung ke sana saja untuk melihat?"
"Aku tunggu kau selesai makan." Alea tersenyum namun tidak terlihat indah di mata Zarka.
"Tidak. Aku tidak lapar, aku akan membayar dan kita pergi." Alea merasa bersalah sebab makanan di hadapannya bahkan belum di sentuh.
"Tunggu." Zarka menoleh dan berbalik badan.
"Apa?"
"Kita makan dulu." Jawab Alea lirih.
"Kau bilang ingin ke bengkel?"
"Makanan ini tidak tersentuh."
"Tidak apa-apa."
"Duduklah, kita makan dulu setelah itu ke bengkel."
"Kamu tidak apa-apa?"
"Hm.." Zarka duduk kembali dan melihat Alea yang mulai menyendok makanannya.
"Berceritalah jika ada masalah." Kata Zarka pelan. Alea melirik sebentar namun kembali makan.
Entah kenapa aku tidak ingin Zarka mengetahui status pernikahanku.
"Aku hanya berselisih paham dengan Ayah." Jawab Alea berbohong.
"Jadi mata itu?"
"Hm aku menangis sebab merasa kesal." Alea mengingat lagi ucapan dari Leo yang menilainya begitu buruk.
"Aku juga sering begitu dulu." Zarka tersenyum berharap Alea merasa lebih baik.
"Benarkah?"
"Aku sering bertengkar dengan Ayah dan puncaknya ketika aku meminta izin study di Indonesia."
"Aku tidak tahu Bangladesh berada di mana?"
"Suatu saat kau akan tahu..."
Sebab aku akan membawamu ke sana.
"Aku tidak ingin ke sana sebab biaya pesawatnya pasti mahal." Jawab Alea mulai merasa nyaman.
"Bisa ku atasi, bilang saja kapan kamu siap untuk ke sana dan aku akan menanggung semua biaya." Alea tersenyum menatap ke arah Zarka dan hal itu membuat Zarka begitu senang.

"Kamu anak orang kaya?" Tanya Alea basa basi.
"Aku tidak ingin menyebutnya begitu sebab itu tidaklah penting. Aku hanya bersyukur Tuhan memberiku begitu banyak kenikmatan."
"Hm tapi aku sudah bisa melihatnya. Kamu dari Bangladesh tapi bisa membeli mobil."
"Oh itu? Ayah hanya tidak ingin aku kesulitan di sini." Alea mengangguk seraya tersenyum." Kamu sangat cantik." Imbuh Zarka. Wajah Alea langsung memerah dengan sanjungan yang sudah tidak pernah di dengar dari suaminya. Dia bahkan lupa, kapan terakhir kali suaminya memanggilnya Sayang.
"Aku tidak cantik, masih banyak yang lebih cantik."
"Kamu paling cantik, itu menurut pandanganku."
Alea mengangkat kepalanya, melihat ke arah Zarka yang tidak sedang berakting. Nyalinya menciut sebab lelaki dihadapannya begitu tampan tinggi apalagi Alea tahu dari Ibu Asramah jika Zarka idola kampus.
"Apa gadis tadi adalah teman yang menyukaimu?"
"Aku tidak punya teman selain kamu. Dia hanya gadis yang menyukaiku bukan teman apalagi pacar. Aku tidak suka berpacaran, sebab Islam melarang." Jawab Zarka tersenyum.
"Oh begitu."
"Iya kamu satu-satunya temanku sekarang dan selamanya."
Alea hampir saja tersedak mendengar ucapan dari Zarka yang di rasa sedikit ganjil.
Apa maksud dari selamanya?
"Kamu bisa saja." Alea mencoba mencerna semuanya dengan berfikir positif.
"Aku serius untuk ini, aku begitu serius hingga selalu menyebutmu dalam doaku."
Alea menelan makanannya pelan, dia benar-benar merasa ada yang salah dengan ucapan Zarka.
"Apa yang kamu sebut?"
"Itu rahasiaku dengan Tuhan."
Jika aku bertanya duluan? Aku takut salah dan nanti dia akan menyebutku terlalu percaya diri.
Zarka yang gemas melihat Alea yang kebingungan langsung mengungkapkan perasaannya meski lewat bahasanya sehingga Alea tidak mengerti.
"Ami tomake bhalobashi." Tuturnya membuat Alea melihat ke arah Zarka.
"Aku tidak mengucapkan terimakasih? Kenapa kamu berkata sama-sama?" Zarka semakin ingin tertawa melihat ekspresi wajah Alea yang kebingungan." Ada yang lucu?" Imbuh Alea.
"No baby. Habiskan makanan itu dan kita pergi."
"Oke baiklah."
Alea mencoba tidak memperdulikan itu dan hanya ingin berterima kasih pada Zarka yang sudah membuat perasaannya menjadi lebih baik.
???
Di tempat kerja Leo, dia melirik ke arah jam yang menunjukkan pukul 11 siang. Bibirnya tersenyum membereskan file yang ada di meja dan bersantai sebab perkerjaannya sudah hampir selesai.
Senyumannya menghilang saat mengingat Alea yang tengah marah padanya karena ucapannya yang di rasanya sangat wajar. Dia tidak juga paham jika ucapannya begitu menyakiti batin istrinya.
"Apa aku salah menyuruhnya berhemat agar ada tabungan seperti yang di lakukan Mama?" Leo tidak sadar akan gajinya yang kecil dan terlalu pas jika di gunakan untuk hidup dan makan. Dia sama sekali tidak paham soal harga bahan pokok yang terkadang begitu mahal. Yang di fikirkannya hanya mengorek kesalahan sang istri tanpa tahu kenyataannya seperti apa. Membandingkan dengan Mamanya padahal dalam kenyataan Mama Leo memiliki usaha sampingan untuk hidup, sementara Alea harus terpaksa berhenti berkerja atas saran dari dokter agar segera memiliki anak.
"Hai." Sapa Elsa duduk di hadapan Leo.
"Oh hai." Suasana hati Leo langsung membaik saat melihat Elsa dengan wajah full makeup. Terkadang ada keinginan agar Alea dapat berdandan seperti Elsa namun istrinya tidak pandai bersolek.
"Apa Alea marah kemarin?"
"Tidak. Dia tidak tahu aku pergi makan malam denganmu dan kebetulan kemarin dia juga tidak memasak. Akhir-akhir ini dia sangat pemalas dan sering tidak memasak." Eluh Leo yang ingin di urus dengan baik tapi sulit menghargai.
"Aduh.. Kasihan banget sih? Mau tidak jika ku bawakan bekal setiap hari biar kamu tidak perlu sarapan pagi di rumah." Tawar Elsa dengan niat buruknya sebab dia menginginkan Leo bisa menjadi miliknya. Leo bahkan tidak sadar sudah di selamatkan oleh Alea karena sejak Alea hadir, Elsa menggurungkan niat untuk bercerai dengan suaminya sebab menginginkan Leo untuk jadi suaminya. Hingga sekarang Leo tidak juga sadar jika wanita di hadapannya bukanlah wanita baik-baik.
"Aku tidak bisa. Nanti dia curiga jika aku tidak memakan masakannya karena terkadang dia menyiapkan sarapan untukku."
"Ya kan bisa kamu makan siang bekal dariku, bagaimana?"
"Baiklah terserah kamu asal tidak merepotkan."
"Tentu tidak. Nanti malam kita makan malam bersama tidak?"
"Aku sedang ada masalah dan ingin menyelesaikannya." Jawab Leo menolak.
"Masalah apa?"
"Aku bertengkar dengannya tadi padahal aku hanya ingin dia berhemat agar punya tabungan meski hanya sedikit." Leo menjelaskan pada Elsa padahal seharusnya itu tidak di lakukan sebab permasalahan rumah tangga harus di selesaikan berdua dengan istrinya.
"Kenapa dia boros sekali." Sudah pasti jika Elsa malah membuat pertengkaran mereka semakin panas." Aku saja selalu menyisakan uangku." Leo tidak sadar jika gaji suami Elsa begitu besar.
"Begitu saja dia marah dan tidak mau menyimpan ATM milikku."
"ATM kau berikan untuknya?"
"Hm keuangan ku serahkan padanya, aku hanya minta uang bensin dan jajan." Jawab Leo pelan.
"Seharusnya kau kelola uang itu sendiri, agar kalian bisa berhemat. Beri dia uang seperlunya seperti yang suamiku lakukan."
"Mama menyuruhku begitu."
"Itu jika istrimu pandai mengaturnya, jika tidak! Bukankah kau sendiri yang rugi sebab uangmu habis dengan cepat."
"Kau benar juga." Leo tersenyum dan mulai memikirkan ide dari Elsa. Dia tidak mendengarkan pesan dari sang Mama yang menyuruhnya percaya pada istri sebab seorang istri tidak akan pernah membohongi suaminya. Dia lebih percaya Elsa yang niat buruknya sudah tercium sejak awal.
???
Setibanya di bengkel, ternyata motor Alea belum selesai dan harus menunggu dua jam ke depan. Zarka menawarkan untuk mengantarkan Alea pulang namun Alea tidak mau sebab dia merasa begitu suntuk di rumah.
"Aku berjanji akan menghubungimu jika sudah selesai."
"Hanya dua jam jadi aku tunggu saja di sini." Alea duduk di ikuti oleh Zarka. Dia melirik ke arah Alea yang akan melepaskan jaket miliknya sebab merasa gerah. Dengan cepat tangan Zarka mencegah itu sebab di sana begitu banyak lelaki.
"Tidak. Pakai saja jaket itu."
"Aku merasa gerah." Kata Alea.
"Em maaf bukannya aku tidak sopan tapi bajumu terlihat terlalu ketat. Maaf aku benar-benar minta maaf, aku hanya tidak ingin kamu di pandang tidak sopan oleh mereka." Jawab Zarka pelan.
Alea menyikap jaket, melihat kaos putih yang di pakainya begitu ketat dan menerawang. Dia tidak sadar itu sebab tadi terlalu terburu-buru. Untung saja Zarka menyadarkannya hingga dia tidak harus menjadi tontonan para mata lelaki di sana.
Pantas saja saat aku berada di jalan mereka melihatku seperti itu. Aku terselamatkan sebab Zarka begitu baik dan sopan. Aku jadi sedikit malu padanya. Eluh Alea dalam hati seraya menaikkan resleting jaketnya.
"Aku tidak sadar sudah memakai kaos ini, aku biasanya memakainya di rumah." Kata Alea pelan.
"Tidak masalah, kamu bisa memakai jaketku untuk menutupi itu."
"Terimakasih."
"Sudah seharusnya aku menjagamu, dan aku ingin melakukan itu sepanjang hidupku." Kata-kata Zarka kembali menggelitik hati Alea. Selain tersanjung dia juga binggung maksud dari Zarka itu apa?
"Kau harus melakukan itu dengan orang terkasih mu."
"Sudah ku lakukan."
Deg!
"Maksudmu?"
"Kamu kekasihku." Mata Alea melebar dengan tubuh kaku dan aliran darah berhenti sejenak. Tubuhnya terasa dingin mendengar pernyataan dari Zarka sekarang.
"Bu bukankah kita hanya teman?"
"Hm Teman, maksudku Teman hidup. Aku mencintaimu Alea.. Aku hanya bisa berteman sebab aku tidak ingin berpacaran. Aku ingin menikahimu setelah studyku selesai." Perasaan Zarka yang tidak bisa terbendung bagaikan bom waktu bagi Alea sebab dia salah mengartikan semuanya. Tubuhnya panas dingin namun ada rasa bahagia terselip. Tidak bisa di pungkiri jika dia tertarik dengan Zarka meski mereka baru saja saling mengenal. Sikap lembut Zarka di balut dengan perhatian yang manis membuat Alea sedikit terbuai meski dia harus menolaknya mentah-mentah.
Tuhan aku harus menjawab apa.-
Terimakasih ☺️
Salam satu rumpun.