Alea terdiam, mendengarkan pernyataan perasaan dari Zarka. Hatinya merasa binggung, ingin mencoba tapi dia berstatus Istri orang namun jika dia menerima perasaan Zarka, itu berarti dia sudah menodai pernikahannya.
"Aku tidak membutuhkan jawaban darimu, kamu tenanglah. Aku masih study dua tahun lagi jadi masih banyak waktu untuk menyakinkan perasaanmu jika aku serius ingin menjadikanmu Istriku." Alea menatap ke arah Zarka, ada sedikit rasa iba jika dia harus membohonginya. Tapi tetap saja, dia ingin merahasiakan statusnya sekarang.
"Ayah tidak memperbolehkan aku berpacaran." Jawab Alea pelan dan menggambarkan jika dia sedang berbohong.
"Itu bagus. Aku setuju dengan Ayahmu."
"Dan aku juga tidak di perbolehkan bergaul dengan lelaki."
"Hm apalagi?"
"Carilah wanita lain, sebab aturanku terlalu banyak."
"Itu sudah seharusnya terjadi." Zarka malah membenarkan hal itu membuat Alea binggung harus menolak dengan cara apa.
"Tapi.. Em itu, aku memiliki kekasih sekarang."
Zarka menoleh cepat ke arah Alea karena merasa kaget dengan jawaban itu.
"Katamu Ayah tidak memperbolehkan berpacaran?"
"Aku melanggar itu sebab zaman sekarang tidak akan ada hubungan pernikahan tanpa perkenalan dan lelaki di sini tidak cukup jika hanya berteman saja."
Raut wajah Zarka begitu kecewa mendengar kejujuran dari Alea, namun itu tidak menyurutkan niatnya.
"Boleh aku tahu bagaimana bentuk pacarmu?"
"Untuk apa?"
"Aku ingin tahu lelaki seperti apa yang kamu sukai." Kata Zarka mencoba tersenyum meski hatinya sedikit terluka.
"Dewasa."
"Maksud kamu?"
"Lelaki yang bisa berfikir dewasa."
"Hm terus?"
"Itu saja."
"Berarti dia dewasa hingga kamu memutuskan bersama dengannya."
Alea terdiam, memikirkan hatinya yang tertipu oleh Leo yang dulunya di fikir begitu dewasa namun nyatanya ucapan Leo sangat plinplan.
"Hm mungkin." Jawab Alea pelan.
"Kenapa mungkin?"
"Aku tidak tahu kesehariannya seperti apa sebab kita jarang bertemu." Alea kembali berbohong lagi dan lagi.
"Apa itu berarti aku tidak bisa menjadi temanmu?"
"Aku takut dia cemburu."
Alea begitu berat mengucapkan itu, ada perasaan yang mendorongnya untuk tidak mengucapkan itu agar Zarka bisa tetap tinggal untuknya.
"Hm oke, I am waiting for you, always waiting for you."
Alea cukup tahu dengan apa yang di ucapkan Zarka membuatnya tersenyum lega namun ada setitik rasa takut. Dia begitu takut mengecewakan lelaki baik yang duduk di sampingnya.
"Carilah wanita lain."
"No. Aku menginginkan kamu dan hanya kamu. You understand?"
"Hm yang penting aku sudah jujur."
"Iya, itu bagus daripada harus berbohong."
"Hm." Alea tersenyum kecut dan merasa sedikit tersinggung dengan ucapan dari Zarka.
"Ini totalnya Kak." Montir itu memberikan Zarka sebuah kertas nota yang tertulis nominal 450 ribu rupiah.
"Mahal sekali." Gumam Alea merasa binggung harus membayar sisanya dengan apa.
"Hm ini." Tanpa bertanya, Zarka memberikan lima lembar uang ratusan pada montir itu.
"Biar ku ganti uangmu." Kata Alea basa-basi.
"Tidak. Simpan uangmu aku sudah membayarnya."
"Tapi?"
"Sudahlah." Zarka menerima uang kembalian dari montir dan segera beranjak dari tempatnya untuk memeriksa motor Alea. Setelah di rasa baik montir memarkirkannya di bahu jalan agar Alea bisa menggunakannya." Apa ada yang kurang?" Tanya Zarka.
"Sudah baik." Alea tersenyum dan semakin tidak ingin menyakiti lelaki di hadapannya." Aku langsung pulang." Imbuh Alea lirih.
"Tentu saja." Alea melepaskan jaket meski Zarka melarangnya." Pakai saja." Imbuh Zarka.
"Tidak. Sebab mungkin setelah ini aku tidak dapat menemuimu lagi." Zarka melemah mendengar ucapan itu.
"Kenapa begitu?"
"Aku tidak ingin membuat pacarku cemburu." Alea semakin tidak ingin meninggalkan Zarka namun dia harus mengambil keputusan.
"Bagaimana dengan menelfon?"
"Boleh kamu lakukan sesekali hanya untuk bertanya kabar."
"Baik." Zarka tersenyum." Ingatlah satu hal. I am waiting for you. Datanglah jika kamu dalam masalah, aku akan selalu ada untuk kamu."
Deg!
Hati Alea semakin meleleh dengan ucapan dari Zarka. Dia tidak bisa menerima sebab menginginkan suaminya bisa bersikap seperti Zarka, namun dia tidak bisa kembali memutar waktu dan harus tetap mengutamakan suaminya dari lelaki manapun juga.
"Kita lihat sampai kapan kamu akan bertahan untuk menungguku." Canda Alea.
"Hm lihatlah, aku akan buktikan kata-kata itu."
"Aku pergi. Terimakasih untuk semuanya."
"Jaga diri baik-baik. Aku mencintaimu."
"Hm Assalamualaikum." Kali ini Alea tidak lupa mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam salam."
Alea menghidupkan mesin motornya dan pergi meninggalkan Zarka yang masih menatapnya tidak rela.
Aku sangat egois ya Allah, aku tidak perduli dia memiliki seseorang di sana. Aku minta jadikan dia takdirku, aku begitu menginginkannya dan aku begitu sakit mendengar kenyataan itu.
Tes...
Setitik air mata keluar dari sudut mata Zarka. Sangat sakit namun dia tidak ingin melepaskan Alea begitu saja. Dia begitu yakin dengan keajaiban doa sehingga dia bertekad untuk mencintainya dalam doa agar Tuhan bisa membantunya.
???
Setibanya di rumah, Alea melihat motor Leo yang sudah terparkir di pekarangan rumah yang merupakan milik orang tua Alea yang sudah meninggal. Dia segera turun dan masuk lalu di sambut oleh tatapan tajam Leo yang kesal melihat baju Alea yang terlihat tipis dan menerawang.
"Kau keluar memakai baju itu?" Tanya Leo.
"Aku tadi terburu-buru jadi tidak sadar memakainya." Jawab Alea jujur.
"Benarkah? Apa kau sengaja agar lelaki di luar mendapatkan tontonan gratis atau kau ingin mencari lelaki lain yang bisa membuatmu hidup bahagia?" Alea menatap Leo tajam, ucapan itu benar-benar keterlaluan seolah Leo menganggap dia seperti jalang.
"Apa maksud ucapanmu Mas? Sudah ku bilang aku tidak sengaja."
"Mana ku tahu. Aku tahu kau tidak bahagia bersamaku."
"Aku tidak pernah berniat seperti itu."
"Sudahlah." Leo mengambil dompet dan menaruh beberapa lembar uang pada meja." Ini untuk belanja hingga gajian depan." Imbuhnya mengambil uang dan menyodorkannya pada Alea.
"Berikan itu pada Mamamu!!" Alea tidak menerima uang itu dan hendak melangkah masuk.
"Kau mau makan apa jika tidak mau menerima ini?" Alea terdiam sebab dia memang tidak bisa berkerja atas permintaan Leo sebab begitu ingin segera memiliki momongan.
Hatinya begitu sakit, karena baktinya tidak di hargai sama sekali. Leo tidak sadar jika Alea berhenti berkerja hanya ingin membuatnya bahagia.
Tangannya terangkat, menerima uang dari Leo dengan bergetar dan air matanya sudah jatuh.
"Nangis terus! Dasar!! Lama-lama aku tidak betah berada di rumah!!" Alea mengeggam uang itu erat.
"Pergilah ke tempat yang kau inginkan!!" Dengan sisa keteguhan, Alea berjalan ke dalam meski perasaan begitu sakit.
"Jika aku tidak mencintainya, sudah ku tinggalkan dia dari dulu." Umpat Leo menghidupkan televisi." Setiap di rumah tidak ada masakan apapun! Bagaimana aku bisa betah di rumah." Imbuh Leo mengomel dan Omelan itu terdengar jelas di telinga Alea.
"Ya Tuhan..." Dia berbaring miring dan menangis sejadi-jadinya berharap Leo merasa iba dan merajuknya namun itu tidak terjadi meski sudah sepuluh menit berlalu hingga dia tertidur.
???
Dengan langkah malas, Zarka berjalan menaiki anak tangga. Abi yang tengah menunggunya langsung menghampiri Zarka yang wajahnya terlihat tidak baik.
"Apa yang terjadi?"
"Dia memiliki pacar." Jawab Zarka lemah. Abi tersenyum dan merangkul kedua pundak Zarka erat.
"Hanya pacar, belum suami." Canda Abi." Tetap berdoa, segala sesuatu yang sudah menjadi hakmu akan kembali padamu meski itu terhalang oleh baja yang begitu kuat." Ucap Abi ingin menghibur sahabatnya.
"Aku cemburu dan rasanya sangat sakit. Aku baru merasakan perasaan seperti ini. Indahnya luar biasa juga sakitnya yang tidak ingin kalah."
"Begitulah Cinta. Kamu boleh berhenti jika ingin mumpung semuanya masih di awal."
"Tidak! Aku masih ingin menunggu."
"Jika begitu, kamu harus tetap bersemangat dan selalu menyebutnya dalam doa."
"Itu pasti, aku begitu mencintainya." Zarka kembali tersenyum, mengingat kebersamaannya dengan Alea yang terjadi begitu singkat namun cukup membuatnya bahagia.
Kamu milikku Alea, Tuhan sudah mentakdirkan pertemuan kita kemarin
???
Alea yang ketiduran menyipitkan matanya melihat ke arah Leo yang tengah berdiri seraya berganti baju. Dia segera bangun dan melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul tujuh malam. Tidak biasanya suaminya keluar jam segitu sehingga Alea menaruh curiga yang begitu besar.
"Mau kemana kamu Mas?"
"Ke Mama."
"Malam-malam begini?"
"Hm iya, tadi Wina telfon Mama sakit. Mungkin aku pulang larut."
"Apa aku ikut?"
"Tidurlah terus. Aku berangkat dulu." Leo langsung melangkah pergi tanpa mengulurkan tangan seperti biasanya hal itu membuat perasaan Alea semakin terpuruk. Leo bahkan tidak khawatir soal wajahnya yang membengkak akibat terlalu banyak menangis.
"Dia bahkan tidak merasa bersalah. Ya Tuhan kepalaku pusing sekali." Umpatnya meremas erat kepalanya. Tangannya meraih ponsel dan menghubungi Monik untuk berbagi cerita.
"Ya AL."
"Kau sedang apa? Sudah baikan belum?"
"Hehehe sudah."
"Cepat sekali?"
"Ketemu yuk, nanti ku ceritakan."
"Kau bohongi aku?" Tanya Alea yang tahu kebiasaan Monik.
"Maaf. Hei suaramu kenapa serak? Kamu habis menangis?
"Apa pantas aku mengeluh?"
"Kau juga manusia."
"Siapa bilang jika aku seekor kucing?"
"Aku sedang di Cafe biasanya, tadi bersama suamiku tapi dia ada panggilan mendadak jadi aku di tinggal sendiri. Aku tadi akan menghubungimu tapi kau sudah lebih dahulu menelfon."
"Aku berantakan sekali." Alea berkaca pada cermin dan melihat wajahnya yang membengkak.
"Sudahlah, ke sini cepat tidak perlu berpamitan pada suamimu yang gila itu."
"Dia tidak ada."
"Wahh cepat ke sini."
"Tunggu aku dua puluh menit."
"Oke."
Alea beranjak bangun meski tubuhnya terasa lemah, dia butuh refreshing agar pikirannya kembali baik dan siap menerima ocehan dari suaminya besok. Dia mengambil celana jeans dan kaos putih lalu mengikat rambutnya sembarangan. Tidak lupa memoles bibirnya dengan lipstik agar tidak terlihat begitu pucat. Tangannya menyambar kunci dan membereskan uang yang berceceran di tempat tidur lalu memasukkannya ke laci lemari. Langkahnya di percepat menuju ke arah pintu lalu menaruh kunci di tempat biasa. Dengan kecepatan sedang Alea menuju Cafe di mana dia biasa bertemu dengan Monik.
Lima belas menit kemudian, Alea sudah tiba di sana dan segera masuk lalu duduk di hadapan Monik yang kebetulan duduk di depan Cafe.
"Astaga wajahmu." Monik mengusap wajah Alea yang bengkak juga sekitar mata yang terlihat merah." Kenapa semakin parah?" Imbuh Monik khawatir.
"Beri aku perkerjaan." Kata Alea tiba-tiba.
"Untuk apa?" Tanya Monik." Kau mau bercerai dan menjadi wanita mandiri?" Imbuh Monik bertanya.
"Kau mendoakan ku jadi janda?"
"Aku hanya bertanya, kenapa tiba-tiba?"
"Sepertinya Mas Leo tidak ikhlas memberiku nafkah." Jawab Alea lirih dengan mata berkaca-kaca.
"Itu hak mu! Harusnya kau menyadarkannya."
"Tidak. Aku tidak ingin berdebat lagi, rasanya sungguh melelahkan." Jawab Alea mulai terisak namun di tahan sebab Cafe itu begitu ramai. Monik menatap sahabatnya sendu sebab merasa kasihan dan iba.
"Kamu ingin berkerja di mana?"
"Entahlah, jualan online atau apapun itu asal bisa di kerjakan di rumah dan aku tidak perlu repot mengemas."
"Coba kamu cari di sosial media, biasanya banyak perkerjaan yang seperti itu."
"Benarkah?"
"Hm iya, aku sering melihatnya di beranda. Atau begini saja, biar aku bantu carikan jadi kamu tidak perlu membuat akun." Monik menawarkan sebab dia tahu Alea tidak memiliki akun.
"Bantuan mu begitu berarti untukku." Alea tersenyum meski rasanya dia tidak ingin melakukannya.
"Apa yang dia katakan?" Tanya Monik ingin tahu.
"Sangat buruk hingga aku tidak ingin menyebutkannya."
"Aku jadi ingin menangis." Monik ikut berkaca-kaca sebab Alea sudah cukup lama menahan perasaan ini sejak dia mengalami keguguran dulu. Leo memang tidak menyalahkannya atas itu. Tapi sejak saat itu sifat aslinya terlihat, mulutnya begitu lunak layaknya bibir seorang wanita. Bicara seenaknya tanpa memikirkan bagaimana perasaan Alea." AL bukannya itu Leo?" Imbuh Monik terbata. Alea segera menoleh kebelakang dan melihat Leo berjalan beriringan bersama Elsa.
Hati Alea remuk, tercabik-cabik menjadi potongan kecil. Dia masih ingat Leo berpamitan ingin ke Mama tapi pertunjukkan di hadapannya begitu nyata.
"Kita pergi." Alea berdiri dan menyeret paksa Monik untuk pergi lewat samping Cafe.
"Kenapa pergi? Ayo pergoki dia! Akan ku bantu."
"Aku tidak ingin jadi tontonan." Alea memakai helm dan segera memasukkan kunci motornya lalu melaju pergi meninggalkan Cafe.
Kenapa Mas Leo tega melakukan itu? Bukankah dia tahu jika aku begitu membenci wanita itu. Dengan pikiran kalut tanpa sadar Alea membawa motor dengan begitu kencangnya.
"Al nyebut Al nyebut, aku masih ingin hidup." Protes Monik berada di boncengan Alea.
Ciiiiittttttt....
Belum sampai Monik diam, Alea sudah lebih dulu mengerem dengan mendadak sebab di depannya ada sebuah mobil yang hampir menghantamnya. Untung saja pemilik mobil bisa menghentikan mobilnya tepat waktu sehingga membuat Alea terselamatkan dari kecelakaan.
"Gimana sih bawa motor!" Umpat pemilik mobil turun dan mencaci Alea sehingga menimbulkan kemacetan.
"Maaf Pak saya tidak fokus tadi." Tutur Alea memohon.
"Kalau tidak fokus jangan menyetir!!!" Suara lelaki separuh baya itu begitu lantang hingga terdengar begitu keras.
"Maafkan saya hiks hiks hiks hiks." Alea tidak bisa membendung air matanya sebab dia juga sangat kaget dengan kejadian ini.
"Kami tidak sengaja Pak, mobil bapak juga baik-baik saja. Kenapa bapak membentak teman saya seperti itu." Sahut Monik merengkuh kedua pundak Alea erat.
"Kalau sampai tertabrak, nyawa saya akan menghilang dan apa kalian bisa mengembalikannya!!"
"Buktinya bapak baik-baik saja!"
Zarka yang kebetulan berada di situ terpaksa turun sebab mendengar suara ricuh. Dia mempercepat langkahnya saat melihat samar Monik ada di sana karena wajah Alea di tekuk dan menangis sejadi-jadinya.
"Maafkan teman saya Pak." Sahut Zarka sopan. Dia melihat Alea yang meliriknya sebentar meski kembali menunduk.
Kenapa dia lagi. Aku sungguh tidak mengerti kenapa selalu ada dia saat aku terjebak masalah. Aku tidak tahu harus bagaimana? Aku malu tapi rasanya sangat menyakitkan ternyata suamiku berselingkuh dengan Elsa!-
Terimakasih
salam satu rumpun ♥️