[CLASSIFIED // INTERNAL USE ONLY]
DEPARTEMEN PERTAHANAN AMERIKA SERIKAT
NSW-DEVGRU (SEAL TEAM 6) // OPERASI HITAM
SUBJEK DATA:
• Nama: LCDR James D. Brandon (O-4)
• Sandi: Falcon-1 / The Phantom
• Status: Aktif / Komandan Skuadron Elite
KAPASITAS KINETIK (PREDIKSI ALGORITMA):
• Rekor Komando: 6 Tur Tempur. 18 Operasi Hitam.
• Metode Infiltrasi: Infiltrasi 3-Dimensi. Kemampuan HALO (30.000 kaki) & Sub-aquatic (4 jam tanpa gelembung).
• Keahlian Khusus: Asymmetric AI Intellect. Taktik "Double-Bluff".
• Kontra-Elektronik: Protokol Pemutusan Transmisi Mutlak (Radius 500 meter).
STATUS OPERASI (BLACK OPS):
• Target Proteksi: Sheikha Fatima (Komoditas Tertinggi / Umm Al Quwain).
• Protokol Penyangkalan: Mutlak. Jika tertangkap, Washington hapus seluruh eksistensi skuadron.
***
Dua hari sebelumnya.
"Akal sehatmu sudah benar-benar hilang."
Hampir semua anggota batalionnya di klub malam Shelter menoleh ke arah Lieutenant Jake Wilde. Dan membuat pria tampan itu menyadari betapa keras suara yang keluar dari mulutnya.
Tempat itu lebih ramai di akhir pekan. Karena sekarang adalah jadwal rutin para operator elite DEVGRU berpesta dan menenggelamkan diri dari sisa-sisa trauma setelah kembali dari tur tempur mereka di berbagai belahan dunia.
Malam menyelimuti kota New York yang tak pernah mati.
Sambil melemparkan pandangan sengit ke arah pasukan militernya yang membuat seluruh anggotanya buru-buru kembali pada urusan mereka masing-masing, James memusatkan pikirannya kepada sahabatnya. Rekan terbaiknya di SEAL.
"Misi ini direstui secara bilateral," suara James rendah. Tanpa kompromi. "Washington tidak perlu tahu detail komoditasnya."
Ia menyambar gelas birnya, tapi tidak menegak isinya.
Jake mengangkat kedua alisnya dengan terpana, "Kau baru saja menyelesaikan tur tempur kedelapan belasmu, James. Dan sekarang, alih-alih menikmati cuti panjang, kau justru menerima penugasan gila? Memimpin misi ekstraksi darurat ke wilayah konflik di Zahran?" ia tertawa mengejek, "Sialan. Dari mesin pembunuh menjadi pengawal pribadi seorang putri kerajaan Timur Tengah dengan tumpukan tas kosmetiknya."
"Simpan protesmu untuk komite senat, Jake," James menggeram, pelan dan kesal. "Ini direktif langsung sayap barat Gedung Putih. Zahran adalah pasokan rantai energi barat. Jika wilayah itu jatuh, kita lumpuh."
"James Dalgliesh Brandon," Jake berdecak meremehkan, "Predator terbaik yang dimiliki Pentagon. Dan sekarang, Gedung Putih mengirimmu ke Zahran hanya untuk menjadi pelayan istana bersafari necis?"
Pria itu terkekeh sinis. "Menjaga seorang putri manja yang kemungkinan besar akan pingsan hanya karena mendengar bunyi letupan peluru?"
James tidak menjawab. Genggaman jemarinya pada permukaan gelas bir yang berembun dingin mengencang satu jengkal.
Di dalam benaknya, James membenarkan sarkasme Jake tanpa bantahan. Targetnya kali ini hanyalah komoditas politik bergaun necis. Gadis egois dan manja. Sosok yang kemungkinan besar akan merepotkan mobilitas pasukannya dengan tumpukan koper kosmetik di tengah zona eliminasi.
Jake menghela nafas, "Kau seharusnya bisa berbicara kepada Jenderal Liam."
Sebelah alis James bergerak naik. "Jake," tegurnya. Tatapannya panas dan tajam.
Jake mendengus frustrasi, dan mengempaskan tubuhnya ke sofa, "Kau adalah aset paling berharga yang akan mewarisi nama belakangnya, James."
Ia menatap lurus ke wajah James, menolak terintimidasi. "Cukup satu kata pada Jenderal Liam, dan kau bebas dari lelucon birokrasi ini."
"Sialan!"
James membanting gelas birnya ke atas meja.
"Demi Tuhan, Jake, terkadang aku berpikir akan jauh lebih praktis jika aku menghantam kepalamu ke dinding hingga retak!"
Suara bariton sang Commander merayap lambat. Bagai sumbu mesiu yang terbakar pendek.
Jake mengangkat kedua tangannya, tetapi tidak terlihat menyesali perkataannya.
Ponsel James berbunyi dan itu berhasil membuat aura ketegangan di antara mereka mereda.
Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Blaire," James menunjukkan layar ponselnya kepada Jake. "Tutup mulutmu, Jake!"
Jake mengangkat satu bahu dan memutar tubuh membelakangi James.
"Bersenang-senanglah, Commander," katanya kasual lalu bergabung bersama pasukannya dan siap menyambut pesta semalam suntuk.
***
Blaire McMillan menyerukkan wajahnya ke leher James, meresapi aroma musk dan keringat yang menguap dari kulit pria itu. James selalu berhasil membuatnya merasa seperti terbang tinggi melesat keluar dari lubang yang luar biasa dalam, membawanya melintasi ruang angkasa dan meledak penuh warna.
James Brandon dan kemampuan ranjangnya adalah apa yang didambakan semua wanita.
Sekarang saat mereka tidak lagi liar dan dalam gairah, James menarik diri dengan gerakan sangat halus. Bergeser telentang, menatap langit-langit kamar sambil menekuk salah satu lengan berototnya di belakang kepala.
"Kau memikirkan hal lain?" Blaire menopang dagu di d**a James, senyumnya sedikit meredup.
James mengusap bahu polos Blaire, tapi tak benar-benar memeluknya. "Otakku tidak pernah tidur, Blaire."
Blaire menekankan ciuman yang kuat di leher James. "Aku benci mengakuinya, tapi kau tidak benar-benar bersamaku malam ini, James."
James beralih menatap mata Blaire, hanya beberapa detik, sambil menyunggingkan senyuman menyesal yang tipis, "Maafkan aku."
Ia mengangkat wajahnya dan menekankan ciuman yang singkat, kuat dan tak terbantahkan di mulut Blaire.
Mata James selalu bisa menghanyutkan, begitu pula semua kenakalan hebatnya. Pria ini melebihi dari semua impian menakjubkan Blaire. Dan ia tergila-gila setengah mati.
"Misi di Zahran, aku bisa memberitahu ayahku—"
"Blaire," potong James dengan nada menegur.
"Kau baru kembali dari tur tempurmu yang ke delapan belas," wajah Blaire muram, "Kau seharusnya di sini bersamaku, James."
Blaire McMillan. Putri tunggal Liam Douglas McMillan. Jenderal Bintang Empat Angkatan Darat Amerika Serikat.
James memejamkan mata, tidak terlalu peduli. "Aku di sini bersamamu, Blaire."
Blaire mendengus, "Kau tahu maksudku."
Pada saat seperti inilah, Blaire menyadari James tidak pernah menatapnya lebih dari lima detik.
"Dan kau tahu resiko berkencan denganku."
"Kau tunanganku," Blaire menjatuhkan belakang kepalanya di lengan James.
"Trump tahu itu, Blaire."
Tawa kecil Blaire terlontar. Ia berbalik menyamping menghadap James. "Katakan."
"Apa?"
"Kau mencintaiku."
James mendengus, "Kau memiliki diriku, Blaire," ia membuka mata dan melirik Blaire dengan sebelah alis terangkat, lalu melanjutkan dengan nada tidak tertarik, "Apakah kau masih menginginkan pernyataan tidak penting itu?"
Mata elangnya kembali terpejam.
Ia b******k? Seratus persen, ya.
Blaire mengangkat kepala dan mencium bahu James. "Itu bukan pernyataan tidak penting. Itu kalimat romantis yang ingin didengar semua wanita, James," Blaire dengan nada manja, memprotes.
James membuka mata, mengamati pantulan cahaya bulan yang jatuh di lantai marmer melalui celah pepohonan yang angkuh.
"Kita memiliki hubungan intim yang indah. Kau tidak membutuhkan kalimat apapun dari mulutku. Aku bisa saja membohongimu dan kau tidak akan mengetahuinya bukan?"
"Kau bukan pria seperti itu, James. Kau tidak pernah berbohong. Jadi katakan, aku ingin mendengarnya." Blaire menjalankan jemari lentiknya membentuk pola-pola abstrak di otot d**a pria itu, menolak untuk menyerah.
James melirik malas, "Tidurlah, letnan kecilku."
Blaire berdecak, nafasnya berembus berat.
"Kita sudah lama bersama, James, tetapi kau tidak pernah mengatakan kau mencintaiku."
"Aku sudah pernah memperingatkanmu, Blaire."
"Ya Tuhan, James... bahkan setelah dua tahun kau masih tidak bisa mengatakan aku mencintaimu. Apakah itu begitu sulit?"
"Karena aku tidak tertarik dengan kalimat konyol itu. Kau memilikiku. Sekarang tidurlah."
James bergerak ke posisi tidur. Jelas mengakhiri pembicaraan.
Ia pria jujur dan teratur.
Seorang pria b******k yang jujur dan teratur.
Blaire menghela nafas pasrah, "Aku mencintaimu, James."
"Selamat malam, Blaire."
"Kau menyebalkan."
"Dan sangat tampan."
"Pria tampan yang menyebalkan."
"Hmm."
***