Tubuh tegap Sang Commander seolah mengintimidasi udara saat ia bergerak maju. Tangannya terjulur untuk meraih pergelangan tangan Sheikha Fatima dan menyeret tubuh mungil itu keluar dari sangkar maut ini. Sesuai protokol evakuasi darurat standar Pentagon.
Namun, Sheikha Fatima mengangkat satu tangan mungilnya ke udara, "Berhenti, Commander."
Nah, pikir James. Putri kerajaan ini mulai memberi perintah dengan gaya menyebalkan.
"Kita tidak membutuhkan sekoper kosmetik untuk membawamu berlari keluar, Sheikha," kata James. Tanpa nada. Tanpa ekspresi. "Dan aku bukan pelayanmu."
Telapak tangannya nyaris menyambar lengan Fatima, ketika wanita itu bergerak mundur dan berkata, "Aku menolak kontak fisik."
Hening.
Hening yang dingin dan tajam.
Tangan James berhenti di udara. Rahangnya mengeras.
Fatima berdiri dengan tenang, wajahnya yang jelita terangkat lurus ke arah James. Ia bisa menghirup aroma sinis dan wibawa pria di hadapannya.
James menurunkan tangannya perlahan. Mengamati profil sang putri dengan tatapan mengejek.
"Menolak kontak fisik, Yang Mulia," ulangnya dengan berbisik. Sudut bibirnya terangkat sinis di balik samaran cat hitam wajahnya.
Ia mengangkat pergelangan tangan kirinya, mengarahkan arloji militer Luminox yang berpendar hijau tepat ke mata Sheikha Fatima.
"Dalam tepat empat menit dari sekarang, tim eksekusi faksi pemberontak akan meledakkan pintu depan rumah tua ini. Dan mengubah gaun sutra mahal Anda menjadi kain kafan."
James maju setengah langkah lagi, bayangan tubuh besarnya mengurung Fatima. "Anda sedang tidak berada di ruang dansa istana. Di mana Anda bisa menentukan siapa yang boleh memegang jemari lentik Anda, Sheikha."
Sebelah alis Fatima terangkat, namun ia bergeming.
James menggeram pelan, "Protokol evakuasi saya tidak mengenal tata krama kesopanan, Sheikha. Saya di sini untuk menyeret saksi hidup keluar dari zona maut. Bukan untuk meminta izin berdansa."
Suaranya datar. Sedingin baja.
"Ikuti protokol saya atau diam di sini untuk berbagi prinsip mulia itu kepada moncong senapan para pembunuh bayaran."
Penghinaan dingin itu mengusik kehormatan Jenderal Khaleed. Ia bergerak bangkit dengan sekali sentakan tajam ke arah James.
Namun Sheikha Fatima bergerak lebih cepat. Hanya dengan satu isyarat jemari yang minimalis, ia berhasil mengunci kembali pergerakan sang jenderal.
Sheikha Fatima tidak berkedip. Senyuman tipis yang misterius dan teramat tenang justru terbit di bibir penuhnya.
Dan James kesal karena dia benar-benar terusik. Dia mengaduk otaknya untuk mengenali jenis permainan psikologis wanita di depannya.
Sialan. Wanita ini bukan jenis pengoleksi kosmetik.
"Satu menit tiga belas detik, Commander. Kau membuang waktu berharga kita hanya untuk pamer arloji. Jika komandan skuadron elite Navy SEAL hanya bisa panik dan menyeret paksa seorang wanita, Gedung Putih jelas telah mengirim pria yang salah malam ini."
James Brandon menegang.
"Waktu adalah milik Pencipta saya, Commander Brandon. Bukan milik jarum jam di pergelangan tangan Anda."
James maju satu langkah. Rahangnya mengatup keras, hingga otot-otot di pipinya menegang.
Fatima mengangkat dagu dengan gagah berani.
"Saya tidak peduli dengan aturanmu. Bahkan jika kau mengarahkan moncong senapanmu ke kepalaku, aturanku tetap sama."
Sepasang mata Fatima menatap tanpa berkedip.
"Saya tidak akan menukar batasan suci Rabb saya demi beberapa menit tambahan bernapas. Lindungi saya sesuai aturan saya, atau kembalilah ke Washington dan mendengkurlah di balik selimut hangatmu."
Tidak ada raut takut. Tidak ada sorot gentar di matanya.
James terkesima selama beberapa detik. Ia mengamati Sheikha Fatima dalam-dalam. Keningnya berkerut saat analisis logisnya mendeteksi sebuah anomali.
Sebagai interogator Pentagon, James dilatih membedah micro-expression—gerakan bawah sadar otot wajah yang mustahil dimanipulasi. Dan di wajah Fatima, ia menemukan sesuatu yang janggal.
James sengaja menggeser tumpuan badannya sepuluh sentimeter ke samping, menyelinap ke dalam bayangan pilar.
Tes pertama.
Orang normal refleks melakukan saccade—gerakan otomatis bola mata untuk mengunci objek yang bergerak.
Namun, sepasang manik mata indah Fatima tetap diam. Fokusnya tidak bergeser satu milimeter pun. Pandangannya lurus, terpaku pada titik kosong tempat suara James tadi berasal.
Detik ketiga, James memperhatikan pupil mata Fatima. Sinar arlojinya sempat memantul melewati wajah sang putri. Tidak ada refleks konstriksi. Iris mata itu tidak mengecil merespons cahaya.
Dia tidak melihatku.
Keparat.
Sheikha Fatima buta.
Fatima tersenyum tipis, "Baru mengetahuinya, Commander?"
Rahang James mengatup rapat. Amarahnya mendidih.
Analis sialan di CIA memberi berkas intelijen cacat. Informasi sekrusial ini sengaja disembunyikan. Pentagon mengirimnya untuk Black Ops jarak dekat tanpa memberi tahu satu fakta fatal: aset yang harus dia bawa berlari menerobos hujan peluru adalah seorang tunanetra.
Ini bukan misi perlindungan. Ini jebakan bunuh diri politik Washington.
"Dua belas orang bersenjata otomatis bergerak di koridor barat, tepat di atas kita," kata Sheikha Fatima menginterupsi pikiran James mengutuki Pentagon.
Wajahnya mengarah tepat ke sudut saluran pipa ventilasi besi di langit-langit sebelah kiri.
"Jarak mereka seratus meter. Langkah kaki mereka berat dengan ritme pergerakan acak—mereka bukan tentara reguler," Fatima mengernyit, lalu menggeleng. "Dan bukan juga kelompok militan."
James terpana. Dihantam kejutan berikutnya dari Sang Sheikha, jantungnya seolah merosot ke perut.
Wanita ini.
"Tentara bayaran profesional," desis James. "Keparat."
"Dalam waktu satu menit empat puluh detik, mereka akan meledakkan pintu akses utara di ujung koridor ini," bisik Fatima tenang. "Mereka mengira kita terjebak di ruang isolasi."
James segera menyentuh earpiece di telinganya. Mengaktifkan frekuensi radio tim SEAL-nya yang siaga di beberapa titik di luar.
"Falcon-2, laporkan pergerakan di sektor barat," perintah James.
Suara desis radio merespons instan.
"Falcon-1, sensor mendeteksi getaran acak. Dua belas target bergerak ke arah barat membawa muatan peledak menuju pintu utara. Perkiraan kontak: sembilan puluh detik."
Rahang James mengetat. Ia menatap Fatima tajam.
Wanita ini, bagaimana mungkin?
Desis radio lain memotong frekuensi. Falcon-3, Penembak jitu timnya yang bersarang di titik ketinggian di luar.
"Falcon-1, pesta di sini terlalu ramai. Gelombang kedua datang dari arah timur. Enam target tambahan dengan senapan runduk dan rompi antipeluru kelas berat. Formasi menyapu."
Klik halus senapan terdengar di radio. "Kurasa mereka bukan tamu undangan kerajaan."
Falcon-2 menyahut dengan kekehan dingin. "Gelombang timur terlihat terburu-buru, Falcon-1. Izinkan kami memberi mereka layanan kamar gratis agar mereka bisa tidur lebih cepat."
James menyeringai dingin. Karakter aslinya sebagai pemburu di medan laga bangkit.
James menekan transmit. Suaranya datar. Tenang. Dan terstruktur.
"Falcon-3, urus yang timur. Pastikan mereka tidak check-out. Falcon-2, tautkan ranjau kita ke paket mereka di utara. Kita tinggalkan hadiah runtuhan geometri sebagai salam perpisahan."
James mematikan transmisi radio. Ia mengalihkan pandangannya dari kegelapan koridor, kembali menatap Fatima.
Bagaimana dia melakukannya?
Dengan gerakan yang sangat halus dan terukur, James memutar kepalanya ke arah Jenderal Khaleed. Ia hanya menaikkan satu alisnya sedikit. Lalu menggerakkan dagunya dengan sentakan tajam ke arah Fatima.
Tatapan tajam sang jenderal mengunci mata James. Mengirimkan pesan bisu yang hanya bisa dimengerti oleh mereka.
Sheikha Fatima buta. Tapi di dalam kegelapan ini, dia melihat lebih cepat dari satelitmu, Commander. Dia bukan beban yang harus kau seret. Dia adalah poros pergerakan pasukanmu.
James mengendurkan rahangnya yang kaku. Ia mengakui kemampuan Sang Putri. Namun sebagai komandan operasi hitam, dia tetap memegang kendali utama atas nyawa dua belas orang di bawahnya.
Dia butuh melihat bagaimana 'poros strategi' ini bekerja saat peluru pertama mulai menembus dinding.
James melangkah maju. Mendekat hingga menyisakan jarak satu meter dari sang putri.
Kehadirannya masif. Dingin. Dan penuh kalkulasi.
"Analisis yang menarik, Sheikha Fatima," suara James terdengar berwibawa. Tanpa nada meremehkan, namun tetap menyisakan jarak profesional yang tegas.
"Pintu utara akan menjadi kantong pembantaian mereka dalam sembilan puluh detik. Jika poros strategi di kepala Anda memang seakurat itu, katakan pada saya. Ke mana Anda akan menuntun sepuluh pasang mata pasukan saya sebelum pintu itu meledak?"
Fatima tidak menunjuk dinding atau pintu. Ia hanya memiringkan kepalanya tipis ke kanan.
"Di balik panel generator tua di sudut ruangan ini. Ada saluran drainase vertikal sedalam empat meter yang terhubung langsung ke pipa jaringan katakombe bawah tanah gurun. Itu jalur evakuasi kita."
"Saluran vertikal?" James menaikkan alisnya. Tatapannya beralih cepat antara panel besi generator tua yang masih tertutup itu dan sosok Fatima.
Melompat tanpa tali pengaman ke dalam struktur yang belum ia petakan bukan hanya berisiko mencederai mobilitas pasukannya. Tapi terdengar seperti tindakan bunuh diri bagi wanita di depannya.
"Anda ingin kita melompat ke dalam kegelapan tanpa tali?"
"Waktu Anda sisa tujuh puluh detik, Commander. Dan saya yakin sepuluh prajurit SEAL Anda cukup tangguh untuk mendarat tanpa patah kaki," suara Fatima mengalir tanpa beban.
"Atau Anda ingin saya melompat lebih dulu?" salah satu sudut bibir Fatima bergerak membentuk lengkungan mengejek.
James mendengus. Tanpa membuang waktu, Ia memberi isyarat tangan.
Dua operator SEAL-nya langsung menerjang panel generator. Menyentaknya hingga penutup besi saluran drainase itu terbuka lebar.
Bau amonia dan udara lembap langsung menguar.
"Khaleed, kau duluan," perintah James tegas.
Dengan satu tangan mengunci hulu pedangnya agar tidak berguncang, sang jenderal veteran bergerak beberapa langkah sebelum melompat ke dalam kegelapan tanpa ragu.
Logam drainase berderit pendek saat tubuhnya lenyap tertelan lubang sebelum akhirnya senyap.
Lantai tanah di bawah sepatu James bergetar samar. Musuh di atas mereka baru saja memotong jarak sepuluh meter lebih dekat.
Sisa waktu mereka menguap dalam hitungan detik.
Dan detik berikutnya yang teramat krusial ini, sepenuhnya menjadi milik Fatima.
James melirik arloji digitalnya sekilas, lalu menatap Fatima.
"Lima langkah lurus dari posisimu berdiri, Sheikha. Mendarat dengan lutut menekuk jika kau masih ingin berjalan besok pagi."
Fatima membaca keadaan di sekitarnya lewat suara-suara yang memantul di dinding ruang generator tua itu. Telinganya menangkap deru napas James yang memburu akibat adrenalin. Disusul gesekan kain seragam sang komandan yang melangkah cepat ke arahnya karena kehilangan kesabaran melihatnya bergeming.
"Simpan khotbah sucimu, Sheikha." James merentangkan tangannya yang kokoh untuk menyentak lengan wanita itu tanpa memedulikan protokol kesopanan lagi.
"Kita akan membahasnya lagi setelah memastikan tubuhmu tidak hancur berkeping. Karena kau hanya berdiri di sini demi mendebat prinsip di kepala sucimu."
Sayang sekali, telapak tangan James hanya menangkap udara kosong.
Mengandalkan kalkulasi waktu di kepalanya sejak tubuh Khaleed jatuh dan arahan James, Sang putri melangkah cepat.
Lima langkah kaki yang mantap tanpa ragu, lalu terjun bebas. Tenggelam ke dalam kegelapan pekat saluran drainase tanpa suara jeritan.
James membeku. Seringai sinisnya lenyap.
Untuk pertama kalinya, sang Commander yang terkenal sedingin es mematung dengan mulut setengah terbuka di tengah kegelapan ruangan.
Keparat!
Dari kegelapan di belakang tubuh James, Red mendengus sinis lewat jaringan radio.
"Kukira kita dikirim untuk menjemput putri manja dengan tumpukan koper kosmetik, Commander," sahut Red. Nadanya penuh ironi yang tajam. "Siapa yang sangka wanita ini adalah radar berjalan? Sialan. Dia buta, tapi instingnya membuat satelit pengintai kita terlihat seperti rongsokan."
"Dan sekarang dia melompat ke neraka lebih dulu dari tim elite DEVGRU," kekeh Chase.
James mendengus tajam.
"Tutup mulut kalian." Suara James kejam. Lalu melompat menyusul ke dalam kegelapan drainase.
Di belakangnya, sisa anggota tim SEAL bergerak seperti rentetan bayangan tak kasat mata. Terjun berurutan dengan ritme yang rapat.
Tepat ketika langit-langit di atas kepungan mereka mulai bergetar hebat menerima hantaman peledak musuh.
***
BUK!
James mendarat dengan posisi lutut menekuk sempurna, meredam hantaman beton sedalam empat meter. Sepatu bootnya menggilas debu katakombe kuno yang pengap.
Dalam kegelapan total, James menyentak senter senjata SIG Sauer-nya. Berpendar merah redup agar kilatan cahayanya tidak terdeteksi sensor musuh.
Di depannya, Fatima berdiri dengan punggung setegak batu karang. Tanpa lecet. Di sampingnya, Jenderal Khaleed siaga dengan pedang terhunus.
"Falcon-1, semua tim mendarat selamat. Area belakang aman," bisik Chase lewat radio internal, disusul bunyi klik senjata anggota DEVGRU yang menyebar dengan posisi siaga.
James melangkah maju, tepat di depan Fatima. "Jalur mana, Sheikha? Kita punya waktu kurang dari enam menit sebelum musuh menyadari kita tidak mati di ruang generator."
Fatima memiringkan kepala, telinganya menangkap desis udara dari kejauhan. "Ke arah kiri, Commander. Ikuti aliran udara dingin itu, lalu ambil percabangan kanan bawah."
"Kiri adalah jalan buntu, Sheikha. Alat pemindai saya mendeteksi runtuhan beton di sana," potong James dingin.
"Beton itu memiliki celah selebar setengah meter di bagian dasar, Commander Brandon," balas Fatima tenang. "Udara gurun berembus dari sana. Itu jalur pipa drainase luar yang tidak ada di peta Pentagon-mu."
James menatap manik mata indah Fatima yang kosong dalam pendar cahaya merah senjatanya. Sialan. Wanita ini benar-benar memetakan maut lewat pendengaran.
"Kalian dengar dia, DEVGRU?" James memberi komando melalui jaringan comms. Matanya tetap mengunci Fatima. "Formasi berbanjar. Bergerak senyap. Ikuti kompas berjalan kita."
"Copy, Falcon-1," sahut Vance Creed dengan kekehan rendah di kegelapan. "Sepuluh pelayan istana siap merangkak."
Tim DEVGRU bergerak seperti rentetan bayangan hitam, menyusup ke dalam labirin katakombe purba.
Di depan, Fatima menuntun sepuluh pasang mata terbaik Amerika menembus kegelapan menuju titik jemput pesawat sub-sonik—dengan sepasang mata indahnya yang buta.
***