Aku menghampiri Julian yang sudah menungguku diruangannya, dengan senyuman cerah khas miliknya ia menyambutku dan memintaku masuk kedalam ruangannya. Kuperhatikan sudut-sudut ruang prakteknya yang tidak terlalu besar tetapi nyaman untuk ditempati.
"Ada lukisan diriku disini?" tanyaku heran ketika melihat sebuah figura kecil yang berisi lukisan diriku.
"Kau memberikannya dulu sebagai hadiah ulangtahun, jangan berpura-pura lupa." Jawabnya santai, aku terkekeh, Greya ternyata senarsis itu. Untuk apa kau memberikan potret dirimu sebagai hadiah ulangtahun?
"Ya, ya. Sudah lama sekali, jadi aku kesulitan mengingatnya." Kataku mengelak, Julian memicingkan matanya seolah-olah dia menemukan hal yang aneh dariku. Dia mencurigaiku!
"Hasil pemeriksaan menyebutkan tidak ada yang salah dengan otak dan ingatanmu, tapi kenapa kau seolah-olah melupakan banyak hal layaknya orang yang amnesia?" benar, dia curiga padaku.
"Apa maksudmu?" tanyaku bingung dan juga waswas.
"Lupakan!" ucapnya,
"Sebaiknya kita segera makan siang karena aku masih punya jadwal yang tak bisa ditunda." Jelas aku menyadari perubahan sikap Julian. Tanpa banyak berbicara aku mengikuti Julian keluar dari ruangannya dan berjalan menuju kantin, Julian banyak terdiam kali ini tapi meskipun begitu, dia memperhatikanku dengan teliti.
"Apa yang kau lakukan?" Julian menanyaiku dengan suara yang agak keras ketika aku menyebutkan menu makanan kepada penjaga kantin, dia kaget dengan pilihanku dan aku juga kaget dengan teriakannya.
"Ada apa?" tanyaku bingung,
"Kau tidak mungkin lupa bahwa kau alergi udang kan?" katanya, aku menyumpahi diriku sendiri yang tidak melakukan penelitian terlebih dahulu terhadap tubuh yang sedang kupinjami ini.
"Tidak, aku tidak mungkin lupa." elakku, tapi aku yakin Julian pasti tidak akan memercayaiku.
"Kita harus berbicara diruanganku segera. Aku akan memesan makanan dari luar untuk makan siang." putus Julian tanpa menanyakan pendapatku. Kami kembali keruangan Julian hanya dalam kurun waktu 15 menit, Julian sudah sibuk memesan makan siang kami lewat aplikasi. Setelah kondisi cukup aman, Julian mulai mengeluarkan beberapa file dari rak filenya, ada nama Greya Tanasha disana!
"Apa kau tau apa yang sedang aku lakukan sekarang?" aku menggelengkan kepala pertanda tidak mengerti apa yang dia ucapkan dan lakukan.
"Aku sedang memeriksa kembali riwayat sakitmu dan sampai sekarang aku tidak menemukan sedikit alasan medis yang membuatmu hilang ingatan. Apa perlu kita melakukan MRI agar kita mengetahui penyakitmu sesungguhnya?" tanyanya serius, kukira dia akan mencurigaiku, tetapi ternyata dia hanya mengkhawtirkanku.
"Tidak, kita tidak perlu melakukan itu. Aku yakin baik-baik aja kok." Kataku, jelas aku tidak mengerti maksud dari MRI, jadi aku hanya mengikuti intuisiku saja.
"Kau sedang tidak baik-baik saja, Greya. Ada masalah dengan ingatanmu." Aku berdecak kesal, tidak mudah meyakinkan Julian dengan alasan dangkalku bahwa aku baik-baik saja.
"Ingatanku tidak bermasalah!" kataku menegaskan, Julian bersandar pada kursinya dan menghela nafas kasar.
"Greya, kau memilihku jadi calon suamimu kan?" tanyanya tegas,
"Ya..." jawabku hati-hati.
"Jika ingatanmu baik-baik saja, lalu ada cerita yang ingin kau sampaikan kepadaku?" tanyanya, aku tergagap.
"Apa maksudmu?" tanyaku
"Kau tentu sadar kan bahwa kau sudah berbuat banyak hal yang tidak mungkin kau lakukan sebelum kejadian overdosis itu." Ahh.. Aku mengerti maksudnya, Greya yang dulu sangat berbeda dengan Greya yang sekarang.
"Mungkin kejadian itu membuatku sadar bahwa aku tidak boleh lemah?" jawabku ragu, Julian memandangiku aneh.
"Kau bukan Greya Tanasha, kan?" 1 kesimpulan Julian yang sangat membuatku terkejut.
"Jangan bercanda, Julian. Kalau bukan Greya Tanasha, lalu siapa aku?" jawabku mencoba tenang.
"Aku tidak tau kau siapa. Yang jelas seorang Greya Tanasha tidak akan mungkin berniat menikahiku. Meskipun dia terlihat bodoh, dia merasa bahwa aku ini tidak selevel dengannya." Greya Tanasha yang bodoh! Apa yang kau lakukan terhadap seorang pria seperti Julian ini?
"Persetan dengan Greya Tanasha, dia tidak nyata! Dunia ini tidak nyata, hanya sekedar mimpi sebelum maut datang." celotehku tanpa sadar,
"Apa maksudmu tidak nyata?" suara Julian menyadarkanku dari celotehanku yang buruk. Aku tergagap, tidak mampu menjawab Julian akhirnya aku memilih tercebur kedalam sungai.
"Aku nggak tau kau siapa, tapi seharusnya kau ada disini Julian. Kenapa pria sepertimu muncul dimimpiku?" Aku meracau.
"Mimpi seperti apa yang kau bicarakan, Greya? Tidak ada yang bermimpi disini. Aku nyata dan kau juga nyata. Jika tidak percaya, cubit saja pipi gembulmu itu." Julian bingung dengan ucapanku tetapi aku lebih bingung lagi dengan ucapannya. Aku mencubit lenganku pelan,
"Auch!" sakit! Selama ini aku hidup didunia nyata pada 1000 tahun setelah zamanku! Aku tidak percaya ini!
"A.. apa yang terjadi? Kenapa aku bisa ada disini?" tanyaku tidak karuan, jadi... Aku memang hidup kembali?
"Kalau ini adalah dunia nyata dan bukan mimpi, kenapa ada Reksha dan Riya disini?" aku hampir berteriak setelah menyadari fakta tersebut. Julian bergerak dari kursinya, aku rasa dia sekarang ini sedang dipenuhi kebingungan yang lebih besar dari kebingunganku.
"Greya, tenanglah." Dengan sisa-sisa kebingungannya, Julian berusaha menenangkanku, hal yang membuatku ingin menikahinya segera. Air mataku jatuh tak tertahankan ketika menyadari bahwa aku memang hidup kembali ditubuh orang lain 1000 tahun kemudian. Dia memang mirip denganku, tapi dia bukan aku dan aku bukan dia. Lalu kemana Greya Tanasha 'pergi?'
Ditengah kekalutanku tentang fakta yang baru saja terungkap, tentang perasaanku yang berkembang untuk Julian, tentang kemungkinan bahwa perasaanku bertepuk sebelah tangan, dan tentang misteri 'perginya' Greya Tanasha, disana ada Julian yang serang berusaha menenangkanku dengan pelukannya.
'I'm Greya Agishka, a crowned princess who has reborn and promised to pay her revenge to her beloved people."
* * *
Note : Greya Agishka dan Greya Tanasha, sama tetapi berbeda.