Aku tau Julian tidak akan memercayai ceritaku sepenuhnya, tentang aku yang hidup dizaman yang berbeda dengan mereka, tapi setidaknya didunia ini, aku mempunyai seseorang yang tau tentang diriku yang sebenarnya. Meski Julian masih sedikit ragu tentang asal-usulku, setidaknya dia berjanji untuk tidak menceritakannya kepada siapapun. Hanya saja, Julian memintaku untuk belajar menjadi Greya Tanasha. Banyak hal dari wanita itu yang tidak aku ketahui, dan 1 pertanyaan lagi, kemana Greya Tanasha pergi? Mengapa dia meninggalkan tubuh ini untuk kutinggali? Apa mungkin dia lelah dengan kehidupan yang terlihat sempurna tapi penuh dengan penderitaan seperti yang diceritakan Julian?
"Kau harus segera kembali bekerja, Greya. Waktu makan siang sudah habis." Julian mengingatkanku, aku tersadar dari lamunanku tentang Greya Tanasha. Segera, aku menelpon Claires untuk menjemputku.
"Bagaimana makan siang anda, Bu Bos?" Ia menanyaiku,
"Semuanya berjalan dengan lancar, Clai. Pertanyaan dariku, apa kau sudah siap menjadi sekretarisku?"
"Anda akan mendapatkan jawabannya setelah tiba dikantor, Bu. Ada seseorang yang bersikeras ingin menjadi sekretaris anda. Jadi saya tebak, saya akan tetap menjadi asisten anda saja. Bukankah mengurusi kepentingan pribadi Bos lebih menyenangkan daripada mengurus kepentingan pekerjaannya?" Ahh.. Good point! Claires memang benar, dia lebih cocok menjadi asistenku dibandingkan menjadi sekretarisku.
"Maksudmu Riya?" tanyaku penasaran,
"Tidak, tetapi anda mengenalinya dengan sangat baik." Claires bersekukuh untuk tidak memberikan bocoran tentang seorang manusia yang memaksa menjadi sekretarisku itu. Hari ini jalanan kota tidak mengalami kemacetan seolah semesta mendukungku untuk bertemu orang ini dengan cepat.
* * *
Aku memasuki ruanganku dengan waswas, ada perasaan ganjil yang menganggu ketika aku melangkahkan kaki menuju kursi kebesaranku. Ada seseorang yang sedang berdiri membelakangiku dan memandang area luar melalu jendela kaca ruanganku. Jantungku tidak bisa berhenti berdetak karena seolah-olah mengenali dia hanya dari punggungnya saja.
"Apa yang kau inginkan dariku, tuan muda Reksha Ariyan yang terhormat?" tanyaku tegas ketika menyadari bahwa pemilik punggung itu adalah Reksha, dia berbalik kearahku. Ditangannya dia sedang memegang segelas air yang kurasa bukan air minum biasa, apa dia sudah gila?
"Kudengar kau sedang mencari sekretaris baru setelah kau memaksa Riya untuk naik jabatan." Bagitu katanya, oh, jadi kabar itu baru sampai kepadanya rupanya. Kusambut ucapannya dengan sebuah senyuman meremehkan,
"Aku tidak memaksanya, aku hanya memberikannya promosi untuk sebuah jabatan yang bagus. Dia sudah lama bekerja disini, dan aku tahu kemampuannya tidak akan berguna jika hanya digunakan untuk mengurusi jadwalku saja." Ucapku, aku duduk dikursiku tanpa memedulikan Reksha lagi. Aku tidak akan peduli dengan apa yang akan dia katakan sekarang.
"Angkat aku menjadi sekretarismu." Kali ini aku benar-benar peduli dengan apa yang dia ucapkan, bagai disambar petir disiang bolong, aku tidak menyangka bahwa dia akan meminta pekerjaan itu. Apa yang telah kau lakukan, Greya? mengapa kau membuat pria ini mempunya kesempatan untuk menggagalkan rencana balas dendammu?
"Jangan bercanda, Reksha. Kau mempunyai pekerjaan yang lebih layak daripada sekedar menjadi sekretarisku." Aku berusaha tenang, ada rencana yang sedang Reksha pikirkan saat ini dan aku harus bisa bergerak selangkah didepannya. Menjadi sekretarisku berarti mengetahui semua agenda kerjaku, Reksha bersama dengan Riya (di zamanku) sangat ingin menggulingkan aku dari kedudukanku, bukan tidak mungkin Reksha dizaman ini juga akan melakukan hal yang sama. Dan jika Reksha menjadi sekretarisku, dia dan Riya akan semakin leluasa bertemu sebagai atasan dan bawahan. Aku pusing!
"Aku bisa meninggalkan pekerjaan itu agar bisa mendampingimu sehari-hari." Sikap manis ini dulu yang membuatku jatuh cinta kepada Reksha, tapi kali ini aku tidak akan jatuh kelubang yang sama. Aku harus bisa menyingkirkan Reksha dari hadapanku saat ini. Reksha jelas tahu bahwa kedudukannya diperusahaan ini tak lagi cukup kuat ketika aku memutuskan batal menikah dengannya. Tetapi jika ia bisa mengetahui internal perusahaan dengan menjadi sekretarisku, itu akan sangat menguntungkan baginya. Dia bisa menggunakan posisi itu untuk melawanku. Otakku bekerja dengan cepat, berusaha menyadarkan pria ini, bahwa apa yang dia punya sekarang sudah lebih dari cukup.
"Kau tidak melakukannya untukku, Reksha, tapi untuk dirimu sendiri." Sindirku, aku menyalakan laptop dan berpura-pura sibuk dengan layarnya
.
"Aku hanya ingin tahu kenapa tunanganku tiba-tiba memutuskanku sebulan sebelum kami menikah." Aku memutar bola mataku malas dengan ucapannya yang terkesan tidak bersalah.
"Ucapanmu di Rumah Sakit ketika aku baru sadar sudah menjadi salah satu alasan mengapa aku batal menikahimu, Reksha! Haruskah aku mengucapkan semua alasan lainnya? Selain b******n ternyata kau juga cukup tidak tahu diri ya."
"Aku memang sedang lelah saat itu karena sibuk bekerja dan kemudian aku mendapatkan telpon bahwa kau sedang dirumah sakit karena overdosis." dia membela diri,
"Ya, berselingkuh dibelakangku juga karena kau sangat lelah dengan hubungan kita. Aku paham maksudmu, jadi sekarang keluarlah dan kubur mimpimu menjadi sekretarisku. Bekerjalah sesuai dengan pekerjaan yang diberikan kepadamu dan jangan meminta yang lain. Tentu kau tahu, bahwa dengan statusmu saat ini, aku bisa dengan mudah mencari penggantimu kan? Jadi tolong jangan macam-macam, atau kau sudah mempunyai perusahaan lain yang mau menerima seseorang dengan latar belakang sepertimu?" Kataku mengingatkan, Reksha tampak terkejut dengan ucapanku. Greya Tanasha yang kutahu tidak akan pernah mengungkit latar-belakang Reksha. Aku tidak tau apakah Reksha yang kukenal dizamanku sama dengan Reksha dikehidupan yang sekarang, tapi yang kutahu mereka sama-sama b******n tak bernurani. Tidak peduli siapapun dia, aku akan tetap membalaskan dendamku.
"Aku berselingkuh itu bohong! Aku tidak pernah selingkuh darimu." Bohong! Aku tahu itu bohong.
"Hmm,,, Good to know Reksha, jadi tolong tinggalkan ruanganku sekarang." perintahku sekali lagi.