Aku keluar dari kamarku dengan terburu-buru karena menyadari sudah terlambat untuk pergi kekantor. Tidak seperti biasanya Claires tidak membangunkanku pagi-pagi dan sepertinya dia memang belum datang untuk menjemputku, aku terpaku ketika melihat seseorang yang sangat kukenali sedang menungguku dimobil, tetapi dia bukan Claires.
"Apa yang kau lakukan? dimana Claires?" tanyaku bertubi-tubi kepadanya yang sekarang duduk dikursi pengemudi,
"Dia tidak akan masuk hari ini karena sedang terjadi sesuatu dirumahnya, jadi, kau ikut bersamaku." Jawabnya dengan nada suara yang sombong.
"Tidak, aku akan naik taksi saja." Tolakku,
"Kau tidak ingin terlambat lebih lama dari ini, kan? apa susahnya menuruti permintaanku sekali saja?" Pintanya dengan putus asa, aku sampai bertanya-tanya dalam hati kemana sikap sombongnya tadi menghilang? Kulirik arloji dipergelangan tanganku dan kudapati bahwa waktu bekerja akan segera dimulai, aku memang seorang atasan, tapi aku juga tidak boleh memberikan contoh yang buruk kepada bawahanku, kan? Dengan berat hati aku masuk kedalam mobil tetapi duduk dibelakangnya yang sekarang bertugas sebagai sopir.
"Aku bukan sopirmu, Greya." Dia memprotes tindakanku, aku mendengkus kesal dengan ucapannya tersebut.
"Kau menawarkan diri untuk menggantikan Claires sebentar kan? Jadi bersikaplah seperti Claires." Tolakku, aku tak sudi duduk disampingnya dan sejujurnya aku juga tidak dapat menebak apa yang dia inginkan kali ini.
"Kau akan setega itu kepadaku? Aku tidak menerima bayaran untuk menjemputmu, Greya." dia masih tetap belum terima dengan penolakanku,
"Aku tidak memintamu untuk menjemputku, Reksha! Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi kepada Claires sehingga ia tidak datang menemuiku hari ini. Biarkan keadaannya seperti ini atau aku akan berangkat sendirian saja ke kantor." Ancamku, Reksha terdiam dan tidak berani melontarkan kalimat yang bermaksud memprotes tindakanku. Reksha mengemudikan mobilnya menuju kantor dan aku sama sekali tidak tertarik untuk mengobrol dengannya.
"Kau tidak pernah sediam itu ketika sedang bersamaku," Komentar pertama Reksha setelah kami tiba di kantor, orang-orang menatapi kami karena mereka melihat kami tiba bersamaan digedung ini. Mungkin mereka bertanya-tanya alasan mengapa kami datang bersama padahal kami sudah tidak punya hubungan apa-apa. sial! mungkin ini yang diinginkan oleh Reksha, dia ingin membuat citra seolah-olah kami sudah berbaikan didepan orang-orang kantor. Mengapa aku menuruti keinginannya untuk berangkat bersama kekantor?
"Greya, apa yang kau lakukan?" Argia menanyakan hal yang tentu saja sudah menjadi pertanyaan banyak orang yang melihat Reksha datang bersamaku,
"Bukan apa-apa, dia datang menjemputku karena Claires tidak datang kerumah. Aku juga tidak tahu mengapa Claires absen bekerja ." Aku menjawab pertanyaan Argia dengan hati-hati, akibat keteledoranku yang tidak memeriksa latar belakang Argia, aku harus rela bersikap dengan penuh perhitungan didepannya. Salah sedikit, dia bisa berbalik memusuhiku.
"Apa maksudmu dengan tidak hadir? Claires sudah berada diruanganmu sejak tadi pagi." Ada masalah apa ini? mengapa Claires tiba-tiba sudah ada diruanganku? Dengan tergesa-gesa, aku segera masuk kedalam ruanganku dan melihat Claires sudah duduk dikursi tamu.
"Mengapa kau ada disini tetapi tidak menjemputku kerumah?" tanyaku kepadanya, Claires menatapku dengan bingung.
"Seharusnya saya yang bertanya, Bu Bos, mengapa anda mengirimi saya pesan tadi pagi untuk tidak menjemput anda karena anda ingin menyetir sendiri?" Aku terkejut dengan ucapan Claires karena aku merasa tidak mengiriminya pesan apapun tadi pagi.
"Aku tidak mengirimimu pesan apapun kepadamu tadi pagi, Claires." kataku, Claires memeriksa ponselnya dan menunjukkan riwayat percakapan kami kepadaku.
"Claires, kau tidak mungkin tidak menyimpan nomor ponselku kan?" Aku memelototi Claires setelah melihat nomor yang sama sekali tidak mempunyai nama didalam riwayat pesan tersebut,
"Ini bukan nomorku, Claires. Seharusnya kau tidak tertipu dengan ini." kataku sekali lagi, Claires tersipu malu karena aku baru saja memergoki keteledorannya yang tidak memperhatikan nomor yang masuk tersebut.
"Saya minta maaf, Bu Bos." Aku mengabaikan perminta-maafan dari Claires dengan segera meninggalkannya menuju kursiku. Sial! Reksha mencoba maju 1 langkah didepanku dengan menipu Claires. Aku mencoba memikirkan cara untuk membalas tindakan Reksha kali ini. Seharusnya sedari awal aku curiga dengan kemunculannya digarasi rumahku tadi pagi.
* * *
Aku sibuk mempelajari konsep-konsep pemasaran yang ditulis oleh beberapa karyawanku hari ini sehingga aku tidak ada waktu untuk sekedar menikmati makan siang, Argia setia menemaniku dan memberikan beberapa masukan dan juga kritikan terhadap beberapa konsep, dia memang sangat jenius.
"Makanlah, Greya. Aku sudah membelikanmu makan siang." Argia mengingatkanku untuk makan terlebih dahulu sebelum melanjutkan kegiatanku. Setiap divisi sedang memberikan laporan hari ini, jadi aku memang harus bekerja dengan keras.
"Terimakasih, Gia." Kataku, aku menghentikan kegiatanku sejenak dan melangkah menuju meja tamu dimana Argia menyajikan makan siang. Setengah dari makan siangku belum habis ketika ada 2 orang manusia yang masuk kedalam ruanganku dengan muka masam dan ekspresi wajah yang saling mencibir, aku tidak mengerti dimana Claires sehingga membiarkan keributan ini terjadi. Masing-masing diantara mereka membawa tas dari restoran dan aku bisa menjamin bahwa mereka sedang berebut untuk membelikanku makan siang.
"Aku masuk terlebih dahulu, jadi aku menang."
"Aku yang menang, jadi keluarlah."
Mereka berdua saling beradu mulut yang membuatku jengah.
"Kalian berdua, keluarlah!" perintahku, tamu tak diundang itu menatapku tidak percaya.
"Aku bisa mengerti mengapa kau mengusir Reksha, tapi mengapa kau mengusirku juga? apa salahku?" Pria yang bekerja sebagai Dokter itu kini berani melayangkan protes kepadaku, kalian mungkin bisa menebak dia siapa. Yupp, dia Julian, pria yang biasanya hanya bisa berdiam diri dirumah sakit itu sepertinya sedang mendapatkan liburnya hari ini.
"Kalian sangat terlambat karena dia sudah makan dengan makanan yang kubeli," Argia menatap mereka dengan tatapan sombong dan mereka hanya bisa mendesah kecewa, sebenarnya apa yang sedang terjadi disini?
"One step ahead, brodie!" Argia bersorak dengan keberhasilannya mengalahkan Reksha dan Julian.
"Para pria sedang bersaing untuk mendapatkan perhatian anda, Bu Bos, dan saya tidak berani untuk ikut campur dalam persaingan itu. Meski saya tahu bahwa Argia bersikap curang dengan memberikan jadwal makan siang yang salah kepada kedua pesaingnya yang lain. Ah, catatan tambahan, sepertinya mantan tunangan anda sudah mulai tergila-gila dengan anda Bu Bos." Informasi itu aku dapatkan dari Claires setelah aku bercerita dengan kejadian aneh hari ini.
Aku tidak hidup kembali untuk jatuh cinta, tapi untuk balas dendam, jadi aku tidak punya waktu untuk ini. Hufft.