Aku bersandar ke belakang kursi kerjaku dan memejamkan mata sejenak setelah menyelesaikan pekerjaanku hari ini, aku ingin beristirahat sejenak disini dan oleh sebab itu aku belum ingin pulang. Kunikmati waktu tenangku selama beberapa waktu sebelum suara pintu ruangan yang dibuka dengan kasar mengganggunya, suara ketukan tumit sepatu dilantai membuatku tak perlu susah payah menebak siapa yang datang. Hanya ada 1 orang perempuan yang berani masuk kedalam ruanganku dengan attitud seperti itu.
"Greya, aku ingin kembali menjadi sekretarismu saja. Aku tidak tahan berada disana, mereka menyiksaku." Adunya kepadaku, aku sudah bisa menebak bahwa ia akan menginginkan hal tersebut.
"Tidak bisakah kau bersabar dan belajar untuk mengimbangi mereka, Riya? Aku bersusah payah menaikkanmu keposisi itu, sia-sia kerja kerasku meyakinkan dewan pimpinan jika kau menyerah dengan semudah itu." Kataku mencoba meyakinkannya, Riya memang menjadi kepala sekretaris, tetapi posisi itu berada tepat dibawah divisi Human Resourches, divisi yang dikenal sebagai divisi neraka karena para personil yang tidak ramah bagi pekerja-pekerja baru, apalagi jika mereka mempunyai bawahan yang dianggap tidak memiliki kualitas. Mempromosikan Riya untuk berada diposisi itu sebenarnya bagian dari rencanaku untuk balas dendam, dengan kualitas rapuh seperti itu, mustahil Riya tidak merasa menderita. Riya tidak bisa apa-apa, pekerjaan yang dia lakukan selama menjadi sekretarisku sebenarnya tidak ada yang benar.
"Kau sungguh tidak peduli dengan penderitaanku, kan? dulu kau selalu memihakku, tapi sekarang kau sengaja tidak memerhatikanku lagi. Sebenarnya kesalahan apa yang kulakukan kepadamu sehingga kau setega itu kepadaku?" Aku membuka mata karena ucapannya tersebut, menarik sudut bibir dengan tipis untuk memberikannya senyuman sinis, tapi sepertinya dia tidak sadar akan hal itu karena terlalu sibuk memikirkan penderitannya sendiri, jadi, mengkhianatiku bukan sebuah kesalahan baginya, ya. Wanita ini terlalu lihai untuk bermain seolah menjadi korban.
"Jika aku tidak peduli kepadamu, kau tak mungkin berada diposisi itu, Riya. Kau sungguh tidak menghargai usahaku untuk mempromosikanmu, ya? Aku sangat menyadari kemampuanmu yang cukup tidak berguna jika hanya berada diposisi sekretarisku terus-menerus, sudah 7 tahun kau berada diposisi itu, apa kau tidak menginginkan kenaikan pangkat?" kataku menjelaskan, aku harus sabar menghadapinya jika ingin rencana balas dendamku berhasil, jika dia menyerah sekarang, usahaku untuk menyiksanya akan sia-sia.
"Disana mereka tidak memperlakukanku dengan baik, mereka selalu memarahiku jika ada sekretaris yang resign atau pekerjaannya kurang bagus, mereka mengatakan bahwa aku tidak melatih mereka dengan baik. Itu pekerjaan mereka untuk merekrut pegawai baru." keluhnya, Riya tidak sepenuhnya salah, ada untungnya aku meletakkannya pada posisi itu karena pada akhirnya mengetahui rahasia tim Human Resourches yang mengalihkan kesalahan kepada orang lain. Tetapi Riya yang belum ada pengalaman itu juga seharusnya belajar menjadi atasan yang benar, dia terlalu banyak mengeluh tanpa melakukan usaha apapun.
"Belajarlah, Riya. Kau akan kebal dengan mereka sebentar lagi," Ucapku tak peduli, biarkan dia merasakan kekejaman hidup sesekali,
"Kau sama sekali tidak peduli lagi denganku! Kau jahat." Kata terakhir yang diucapkannya membuatku tak lagi mampu mengontrol amarah,
"Kau belum pernah melihatku marah ya? Oh, Riya, kau terlalu polos untuk hidup didunia ini. Apa kau akan merasa aman karena selalu duduk bersamaku? Berhati-hatilah dengan ucapanmu karena kau tidak tahu apa yang akan kulakukan jika mengucapkannya sekali lagi. Jangan menganggap remeh perasaanku, Riya, kau bisa berada di setitik debu detik ini juga jika aku menginginkannya. Jagalah sikapmu dan jangan bangunkan singa yang sedang tertidur." Kataku dengan nada suara yang dingin kepadanya, Riya tampak kaget dengan ucapanku, mungkin dia tidak menyangka akan melihat sisi itu dariku. Dia keluar dari ruanganku dengan terburu-buru dan membanting pintu dengan cukup keras. Aku kembali memejamkan mataku setelah kepergiannya, tak lama kemudian pintu ruanganku terbuka lagi, aku membuka mata untuk melihat siapa yang datang. Hufft, pria didepanku ini akan selalu menjadi tameng Riya jika ia tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Jika kau ingin membicarakan Riya, pergilah. Aku sedang tidak ingin membicarakannya sekarang." Kataku sebelum dia mengutarakan maksud kedatangannya kesini.
"Aku bahkan tidak tahu bahwa kau sedang bermasalah dengan Riya, aku datang hanya untuk mengajakmu pulang bersama." Aku tersenyum sinis, pria ini terlalu banyak bermimpi, ya?
"Kau tahu betul jawaban yang kuberikan seperti apa, jadi pergilah." Usirku, tak sudi pulang diantar Reksha, pria itu pasti mempunyai rencana makanya ia bertingkah sangat berbeda hari ini. Mengapa ia tidak mengajak pacarnya saja yang pulang bersama? Reksha melakukan banyak penawaran agar tetap pulang bersamaku, tentu saja ucapannya itu tidak memengaruhiku sama sekali. Aku menelpon Claires untuk menyiapkan mobil karena aku akan segera pulang bersamanya.
* * *
Seseorang membunyikan bell dipintu rumahku ketika aku sedang menikmati makan malamku yang seadanya, aku tidak pintar masak dan terlalu malas untuk keluar membeli makan, Claires juga sudah pulang kerumah, jadi aku tidak ingin mengganggunya lagi. Dengan makanan yang tersisa dimeja makan, aku bergegas menuju pintu untuk melihat siapa yang datang, Julian menyapaku lewat interkom dan akupun segera membukakan pintu untuknya.
"Apa saya menganggu anda, nona?" sapanya dengan nada jenaka,
"Tentu saja tidak, pak. silahkan masuk." kataku mempersilahkan Julian memasuki rumah, selama aku hidup didunia ini, barangkali ini pertamakalinya ada seorang pria mengunjungiku kerumah. Aku tinggal sendiri disini, orangtuaku, eh maksudnya orangtua Greya Tanasha tinggal dirumah lain. Mereka bilang bahwa rumah ini adalah hadiah untukku ketika aku berani mengambil alih posisi Ayah sebagai CEO diperusahaan, ya, meski pada awal-awal, aku menjadi sosok boss yang dibenci oleh karyawanku.
Aku mengarahkannya keruang tamu untuk menjamunya, kupanggil asisten rumah tanggaku untuk menyajikan minum dan makanan ringan untuk Julian. Aku juga meminta beliau untuk menyimpan sisa makananku dibawah tudung saji, nanti aku akan memakannya lagi.
"Ada apa ya, Pak, malam-malam berkunjung kesini?" tanyaku penasaran,
"Bisakah kau berhenti memanggilku, 'Pak'? aku bukan rekan bisnismu, Greya." katanya, aku terkekeh kecil mendengar protesannya tersebut.
"Baiklah, Julian. Ada tujuan apa kau mengunjungiku?" Aku mengulangi pertanyaanku dengan bahasa yang lebih santai.
"Hmm, begini, Greya. Kau ingat bahwa kau mengajakku menikah sebelum mengetahui siapa kau sebenarnya?" Aku mengangguk mendengar ucapannya tersebut,
"Kau bukan Greya yang kukenal tapi Greya yang lain, tetapi bagaimana dengan proses pernikahannya? Sudah lewat dari sebulan kau siuman, dan kau mengatakan kepada Reksha bahwa kau akan tetap menikah, kan?" Tanyanya, ah, ya.. Aku benar-benar lupa perkara itu, aku terlalu sibuk untuk menyusun rencana balas dendam sehingga lupa bahwa sudah seharusnya aku menikah.
"Aku mengerti kekhawatiranmu, Julian, tetapi dengan kehadiran Argia dengan kondisi yang seperti itu, sepertinya kita tidak akan bisa menikah dengan waktu yang dekat, kan? lagipula, aku bukan Greya yang kau kenal, jadi kau juga tidak akan mungkin menikahiku, kan?" balasku setelah terdiam sejenak untuk memikirkan jawaban,
"Aku bisa menghilang sewaktu-waktu jika Greya yang asli ingin kembali ketubuhnya ini, dia akan terkejut jika dia menyadari sedang menjalani kehidupan berumahtangga denganmu." Lanjutku,
"Itu maksudku, Greya. Kita tidak bisa melajutkan rencana pernikahan itu untuk saat ini, setidaknya kita harus mencari cara agar kau kembali ketubuh aslimu, kan?" aku menegang ketika mendengar ucapan itu,
"Ragaku sudah mati, Julian. Dikehidupanku, Reksha membunuhku, ingat? aku ingin mencari jiwa Greya Tanasha, dengan begitu aku bisa mati dengan tenang, tapi jangan mencari tubuh asliku karena dia sudah tidak ada. Jangan habiskan waktumu untuk melakukan itu." Ucapku, Julian mengangguk paham dengan ucapanku yang tidak sulit dipahami. Aku harus mencari jiwa Greya Tanasha, tapi sembari melakukan itu, aku akan tetap membalaskan dendamku kepada Greya dan Riya.
* * *
Bersambung
Thanks for reading, guys
XOXO