***
Jiyong sedang tertidur di sofa yang ada di kamar Taeyeon. Dan, Taeyeon tertidur di tempat tidurnya. Namun, tiba-tiba terdengar suara riuh di luar rumah. Yang membuat Jiyong dan Taeyeon langsung terbangun panik. Jiyong dan Taeyeon langsung turun ke luar rumah melalui jendela kamar Taeyeon. Dan, mendapati semua orang sedang ketakutan.
Di sana, ia juga melihat Choi dan Sam yang sedang menenangkan beberapa orang.
Mereka kedatangan tamu tak diundang dan tak diharapkan.
James bersama para pengikutnya.
Dan...
“Ayah,” kata Jiyong yang langsung berlari ke arah James.
“Jiyong,” balas Lupin dengan suara lirih.
“Lepaskan dia,” teriak Jiyong.
“Bukan negosiasi namanya kalau semua berjalan terlalu mudah,” kata James sambil menyeringai. Tatap matanya mengarah hanya pada satu orang di depannya saat ini.
Taeyeon.
“Bagaimana kalau kita barter?” lanjut James. “Aku ingin dia.”
James menunjuk ke arah Taeyeon yang sedang berdiri sendirian di antara kawanan serigala.
“Akan ku kembalikan Lupin dan menjauhkan diri dari desa ini. Kita akan hidup dengan tidak menganggap satu sama lain seperti biasanya. Tapi, berikan dia,” nego James.
Sontak, seluruh mata langsung mengarah pada Taeyeon yang sedang ketakutan. Taeyeon bahkan tidak lagi berani menatap mata James. Mengingat pertemuan pertama mereka membuat Taeyeon merintih kesakitan hanya dengan tatapan mata.
“Kenapa harus dia?”
James hanya menyeringai.
Jiyong mengedarkan pandangannya ke arah Taeyeon yang menatapnya dengan rasa takut. Dapat ia lihat dengan jelas bagaimana tubuh Taeyeon mulai bergetar.
Lalu, Jiyong kembali mengalihkan pandangannya ke arah Lupin yang menggelengkan kepala padanya. Seakan tahu apa yang akan dilakukan sang anak.
Jiyong mengedarkan pandangannya ke seluruh penduduk desa yang ada. Mereka sangat ketakutan. Bahkan, sangat terlihat di mata mereka sebuah permohonan yang tersirat.
Jiyong mulai melangkahkan kakinya ke arah Taeyeon yang berdiri didampingi Choi dan Sam. Laki-laki itu menyentuh wajah Taeyeon dengan kedua tangannya.
“Jiyong, aku takut,” kata Taeyeon.
Jiyong tersenyum, matanya menyipit.
“Kau akan baik-baik saja. Aku janji,” kata Jiyong sambil mencium kening Taeyeon dengan lembut. “Jaga Taeyeon dan Ayah,” lanjut Jiyong pada Choi dan Sam.
“Jiyong, apa yang akan kau lakukan?”
“Kau tidak akan bertindak bodoh, ‘kan?”
“Jiyong,” khawatir, Taeyeon pun menyentuh tangan Jiyong yang masih menyentuh wajahnya. “Apa yang akan kau –“
“Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Dan, tidak akan ku biarkan semesta mengambilmu dariku. Aku akan kembali. Percaya padaku. Dan, tunggu aku,” ucap Jiyong sambil berlinang air mata.
“Jiyong.”
Laki-laki itu menarik tubuh Taeyeon ke dalam dekapannya. Mendekapnya seerat mungkin. Seakan ini adalah hari terakhir mereka bertemu.
“Jiyong, jangan pergi.”
“Aku tidak akan pergi kemana-mana. Aku hanya akan pergi sebentar. Tunggu aku kembali, Taeyeon.”
Tangis Taeyeon pecah. Diikuti dengan kekhawatiran dari Choi dan Sam yang melihat Jiyong seperti ini.
“Times up. Berikan aku vampire kecil itu.”
Jiyong menghapus air mata Taeyeon dan kembali membalikkan badannya. Ia berjalan menuju ke arah James.
“Bagaimana kalau ditukar denganku?” tanya Jiyong dengan lantang dan mengejutkan semua orang.
James tertawa,”Aku tidak membutuhkan serigala lemah sepertimu.”
“Kau yakin?”
Dengan secepat kilat, warna mata Jiyong berubah. Warna bola mata kirinya berubah keemasan dan warna bola mata sebelah kanannya berubah menjadi merah.
Perubahan Jiyong membuat kaget semua orang, termasuk Taeyeon.
“Kau... serigala setengah vampire?” tanya James dengan takjub.
Mata James langsung berubah menjadi merah, seakan tertarik dengan sosok Jiyong yang baru saja menunjukkan identitas aslinya.
“Jiyong,” Taeyeon pun terkejut melihat perubahan Jiyong.
“Bawa aku. Dan, tinggalkan mereka. Aku akan jadi apa yang kau inginkan. Tapi, tinggalkan mereka,” pinta Jiyong.
“Tidak, Jiyong!” teriak Lupin.
James memberi kode pada pengikutnya untuk membebaskan Lupin dan membawa Jiyong. Saat Jiyong sudah berada dalam genggaman para vampire, James sekali lagi mengarahkan pandangannya ke arah Taeyeon yang masih tidak percaya dengan kebenaran yang baru saja ia dapatkan.
“Look at me,” kata James pada Taeyeon.
Taeyeon yang menatap mata James itu pun langsung kembali merasa kesakitan. Kali ini, rasa sakit yang ia rasakan itu membuatnya berubah menjadi vampire. Bahkan, ia juga merasakan haus darah yang luar biasa.
Melihat Taeyeon yang sedang mengerang kesakitan, Jiyong pun marah.
“Leave her alone!” teriak Jiyong. Suara teriakan Jiyong barusan membuat beberapa benda yang ada di sekitarnya langsung berterbangan dan jatuh berserakan.
James menoleh ke arah Jiyong saat menyadari kekuatan besar yang Jiyong miliki.
“Interesting,” kata James sambil menyeringai. “Aku akan kembali untukmu, vampire kecil.”
James pun membalikkan badannya dan menghilang dengan sekejap mata. Sedangkan Taeyeon, masih terjatuh di tanah dengan rasa sakitnya.
“Bantu dia,” perintah Lupin pada Choi dan Sam.
-
“Kita harus menolong Jiyong.”
“Jiyong benar-benar dalam bahaya.”
“Harus ‘kah kita melindungi perempuan itu dan membahayakan Jiyong?”
“Setelah mereka tahu identitas Jiyong yang sebenarnya, kita hanya bisa berharap Jiyong bisa kembali dengan selamat.”
“Seharusnya kita tidak pernah menerima dia, ketua.”
Samar-samar Taeyeon mendengar pembicaraan orang-orang di luar kamarnya. Dengan kepala yang masih berat dan pandangan yang buram, ia bangun dari tidurnya.
“Taeyeon,” Sam menghampiri Taeyeon dengan membawa segelas darah hewan.
“Sam,” kata Taeyeon sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.
“Minum dulu,” Sam menyodorkan minuman yang ia bawa.
“Terima kasih.”
Sam memandangi Taeyeon yang sedang menghabiskan minumannya dengan tak b*******h. Ia tahu bahwa Taeyeon cemas. Ia tahu Taeyeon juga merasa bersalah.
“Tae –“
“Sam –“
Kedua berbarengan memulai percakapan. Lalu, Sam memberi kode untuk Taeyeon berbicara duluan.
“Bagaimana lukamu, Sam?” tanya Taeyeon sambil memerhatikan luka Sam yang sudah tidak lagi dibalut perban.
“Sudah sembuh berkat ketua, Taeyeon.”
“Syukurlah.”
Keduanya kembali hening.
“Taeyeon, jangan khawatir. Kita akan berusaha sebisa mungkin untuk membawa Jiyong kembali.”
Taeyeon hanya tersenyum getir. Seolah enggan membahas tentang hal itu saat ini. Karena, hanya akan menambah rasa bersalahnya semakin besar.
“Sam,” panggil Taeyeon pelan. “Ajari aku beladiri.”
Sam tertegun sejenak mendengar pemintaan Taeyeon barusan.
“Aku harus bisa melindungi diriku sendiri agar tidak bergantung kepada kalian terus menerus.”
Dengan tatapan penuh harap, ia pun memohon kepada Sam. Sam membalas tatapan Taeyeon iba.
“Baiklah. Aku akan mengajarimu semampuku,” kata Sam yang langsung membuat Taeyeon mengembangkan senyumnya.
“Oh iya, Taeyeon, soal apapun yang akan kau dengar nanti dari orang-orang. Cukup kau abaikan saja. Yang terpenting kau baik-baik saja. Dan, itu perintah Jiyong.”
Taeyeon mengangguk. Ia tersenyum, namun hatinya hancur.
Bagaimana mungkin ia bisa menghancurkan hidup orang lain untuk kesekian kalinya setelah kedua orang tuanya sendiri. Seakan kehadirannya di dunia ini hanya sebagai penghancur.