***
Taeyeon terbangun di sebuah ruangan dan mendapati Jiyong yang sedang menggenggam tangannya sambil tertidur di sebelahnya. Melihat hal itu, Taeyeon langsung merasa bersalah atas apa yang telah ia sebabkan beberapa jam yang lalu.
Ia berusaha untuk bangun tanpa menyadarkan Jiyong. Namun, usahanya gagal. Jiyong langsung terbangun saat merasakan tubuh Taeyeon bergerak.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Jiyong pada Taeyeon yang terlihat sendu.
Menyadari ini, Jiyong pun langsung mengembangkan senyumnya dan berkata,”Apapun yang terjadi, ini bukan salahmu, Taeyeon.”
“Bagaimana keadaan Sam?”
Jiyong hanya diam. Dia tidak dapat memberikan jawaban apapun. Ia hanya tersenyum sambil berdiri dan mengulurkan senyumnya.
Taeyeon mengikuti langkah Jiyong menuju ke sebuah rumah di mana Sam dirawat. Melihat Sam yang terluka karenanya, Taeyeon langsung menghampiri laki-laki tersebut.
“Sam, maafkan aku,” kata Taeyeon penuh rasa sesal.
“Tidak apa-apa, Taeyeon,” balas Sam dengan mengembangkan senyumnya. “Lukanya tidak parah, kok.”
“Tapi, kau terluka karena aku.”
“Yang penting kau baik-baik saja sekarang, Taeyeon.”
“Aku juga ingin meminta maaf padamu, Taeyeon,” ucap Choi yang datang dengan tiba-tiba.
Taeyeon menoleh ke arahnya yang sedang berlutut untuk meminta maaf.
“Aku sudah melakukan kesalahan besar malam itu. Aku minta maaf,” kata Choi dengan tulus. “Tapi, jika memang kau tidak bisa memaafkanku, aku bersedia untuk kau habisi sebagai balasan atas dendammu.”
Ucapan Choi sontak mengejutkan semua orang. Tapi. Taeyeon bergeming. Ia hanya menatap Choi dengan perasaannya yang bercampur aduk.
“Membunuhmu pun tidak akan membuat orang tuaku hidup kembali,” kata Taeyeon.
Pandangan Taeyeon berpendar, memandangi satu per satu orang yang ada di ruangan itu. Dengan mata yang berlinang, Taeyeon mencoba memaafkan dan memulai lembar kehidupan baru.
“Aku berhutang pada kalian yang telah menyelamatkanku dari para vampire kemarin,” kata Taeyeon dengan suara parau.
Sam menepuk pundak Taeyeon sambil tersenyum. Begitu pun Jiyong yang sedang mengamatinya dari ambang pintu. Semua orang tersenyum padanya. Tidak terkecuali Lupin yang sejak tadi hanya diam.
-
Setelah menjenguk Sam, Jiyong pun mengajak Taeyeon untuk berburu rusa di hutan daerah serigala. Jiyong terus menggenggam tangan Taeyeon, ia bahkan tidak melepaskannya walau sedetik pun. Taeyeon mendekatkan wajahnya ke telinga Jiyong sambil berbisik.
“Harus ‘kah kita membawa serigala sebanyak ini?” tanya Taeyeon dengan berbisik dan menunjuk ke arah kawanan serigala yang menemani mereka berburu.
Jiyong tertawa kecil,”For your safety.”
Di saat Taeyeon ingin sadar akan realita yang ada, namun perlakuan Jiyong justru semakin membuatnya percaya, bahwa mereka bisa bersama. Lagi dan lagi, Taeyeon berusaha menyadarkan dirinya, bahwa ia dan Jiyong tidak dapat bersama. Entah, sekeras apapun mereka mencoba. Suatu saat, perbedaan yang akan membawa mereka pada sebuah perpisahan yang tak diinginkan.
“Anyway, semakin hari kau semakin bisa mengendalikan dirimu. Aku bangga padamu,” kata Jiyong yang membuat pipi Taeyeon kemerahan seketika.
Di tengah-tengah perburuan mereka, tanpa mereka sadari mereka sudah berada di hutan daerah netral. Dan, tanpa mereka duga juga, ternyata ada seorang vampire yang mengikuti Taeyeon sejak tadi. Para kawanan serigala yang bersama Taeyeon itu langsung menyadari kehadiran sosok vampire tersebut.
Saat vampire itu mendekat ke arah Taeyeon, dengan spontan Jiyong langsung menyembunyikan Taeyeon ke belakang tubuhnya. Dan, mata para serigala itu langsung berubah berwarna keemasan saat itu juga. Taeyeon memperhatikan perubahan serigala itu satu per satu.
“Aku hanya lewat,” kata vampire itu membual. “Aku pergi sekarang.”
Jiyong dan teman-temannya hanya diam sambil bersiaga untuk menyerang jika vampire itu melakukan sesuatu yang tidak diinginkan. Setelah vampire itu pergi, mata para serigala yang berwarna keemasan itu pun berubah jadi normal lagi.
Jiyong tertawa mendapati Taeyeon yang keluar dari balik punggungnya dengan diam-diam.
“Takut?” kata Jiyong meledek.
“Tidak. Aku hanya –“ Taeyeon menggantungkan ucapannya dan secara tiba-tiba membalikkan tubuh Jiyong dan mendekatkan wajahnya pada Jiyong.
“Taeyeon, apa yang kau –“
“Matamu,” Taeyeon memperhatikan mata kecokelatan laki-laki itu dengan baik. “Apa semua serigala matanya akan berubah berwarna keemasan saat mereka menjadi serigala?”
Jiyong mengangguk. Ia menahan napasnya sejenak, saat Taeyeon semakin mendekatkan wajahnya ke arahnya. Taeyeon masih mengamati mata milik Jiyong tanpa menyadari bahwa jarak mereka sudah berada sedekat ini.
“Kau cantik,” kata Jiyong yang langsung membuat Taeyeon tersadar betapa dekatnya jarak mereka saat ini.
Wajah perempuan itu langsung memerah. Saat Taeyeon ingin menjauhkan tubuhnya, Jiyong langsung melingkarkan tangannya ke pinggang perempuan itu. Membuat Taeyeon terkejut.
“Jangan pernah pergi dariku, Taeyeon.”
“Aku tidak pernah ingin pergi darimu, Jiyong. Tapi, kita tidak pernah tahu takdir akan membawa kita ke mana. Dan, aku bisa membahayakanmu sejauh apa.”
“Aku akan melindungimu dan melawan takdir kalau perlu. Karena, aku mencintaimu.”
Taeyeon tersipu malu. Jiyong menempelkan kepalanya dengan kepala Taeyeon. Sedekat ini. Keduanya memejamkan mata mereka, dan merasakan bunyi hutan yang membuat keduanya tenang.
Di saat keduanya sedang asyik bersama, tiba-tiba saja terdengar suara lolongan serigala. Jiyong yang mendengar lolongan itu langsung berubah matanya menjadi warna merah. Taeyeon menatapnya dengan khawatir.
“Kita harus pulang,” kata Jiyong yang langsung membawa Taeyeon melesat jauh.
-
Sesampainya di sana, Jiyong bersama teman-temannya dan Taeyeon langsung kaget melihat keadaan desa yang berantakan. Semua orang nampak ketakutan. Jiyong langsung berlari ke kediamannya, dan ia sudah menemukan Choi dan Sam yang terluka.
“Apa yang terjadi?”
“James, Jiyong.”
“James? Kenapa? Di mana Ayah?”
“Ketua dibawa oleh para vampire itu, Jiyong.”
Seketika itu juga, Jiyong mengepalkan tangannya. Matanya berubah. Dan, ia mengeluarkan suara lolongan serigala.
Taeyeon menghela napasnya panjang dan memutuskan untuk keluar dari rumah Lupin. Ia berjalan menyusuri desa serigala ini yang sudah porak-poranda dan berantakan. Di antara mereka ada yang terluka. Mereka diselimuti ketakutan dan tangisan.
Di saat yang sama itu juga, Taeyeon menitikkan air mata.
“Ini semua salahku. Seharusnya aku tidak datang ke sini,” gumamnya.
-
Malam pun menjelang, Taeyeon masih duduk di balkon rumah Lupin sambil memandangi langit yang tanpa bintang. Jiyong datang dengan segelas darah hewan yang ia bawakan untuk Taeyeon.
Mendengar langkah kaki Jiyong, Taeyeon pun menoleh kaget.
Dari ambang pintu kamarnya, ia dapat melihat Jiyong tersenyum ke arahnya. Meski begitu, Taeyeon juga bisa melihat jelas betapa laki-laki itu bersedih atas apa yang terjadi hari ini.
“Buatmu,” kata Jiyong seraya menyodorkan gelas pada Taeyeon.
Taeyeon mengambil gelas itu dari tangan Jiyong dan meminumnya tanpa berkata apapun.
“Jiyong, bagaimana Ayah?”
Jiyong tersenyum getir,”Kau jangan khawatir. Aku yang akan menangani ini.”
“Ta-tapi, Jiyong –“
“Ingatlah ini, Taeyeon. Apapun yang terjadi, jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri. Ini bukan salahmu, oke?”
Dengan ragu-ragu, Taeyeon menganggukkan kepalanya. Sedangkan Jiyong, masih berusaha tersenyum dan menyembunyikan kesedihannya.
“Jiyong, jika ada yang bisa ku bantu...”
“Kau sudah membantuku dengan tetap aman di sini, Taeyeon,” sambar Jiyong.
Malam ini, Jiyong terlihat sangat tampan. Dengan kemeja putih digulung selengan, ia menatap Taeyeon dengan tulus.
“Kau tahu betapa aku mencintaimu ‘kan, Taeyeon?”
“Aku tahu.”
“Aku ingin mendengar hal yang sama dari mu.”
Taeyeon tertegun. Ia mencoba mengalihkan pandangannya dari Jiyong.
“Apa kau juga merasakan hal yang sama, Taeyeon?” tanya Jiyong.
Taeyeon diam beberapa saat sebelum menjawab.
“Aku juga mencintaimu, Jiyong. Tapi, untuk terus berharap kau akan berada di sisiku, itu hal yang tidak mungkin. Aku takut akan menyakiti diriku sendiri dengan harapan yang ku bangun sendiri, Jiyong.”
Jiyong tersenyum sambil memegang tangan Taeyeon.
“Maka, itu sudah cukup bagiku. Bahwa kau juga mencintaiku. Dan, akan ku lakukan apapun agar kau berada aman di sisiku.”