"Huh ..."
Setumpuk buku yang tersusun rapi di meja kerja sebuah ruangan dengan bacaan kayu Presdir Room itu tampak berserakkan ke sana kemari.
Mr. Jazz yang terlihat sedang bersandar di kursi kebanggaannya sembari menutup mata.
Ia gelisah, sebab terus-terusan kepikiran tentang perkataan Megan kemarin. Hadirnya satu lagi makhluk yang sebangsa dengan Megan ini membuatnya gelisah.
Satu sisi ia merasa senang namun, di sisi lain ia juga beranggapan bahwa ini bisa saja menjadi ancaman baginya suatu saat nanti.
Selain itu, ia juga beranggapan kalau nantinya misinya untuk menguasai bumi bisa terkendala dengan hadirnya the future yang lain.
"Lalu apa yang harus kulakukan!" Erangan frustasi yang keluar dari lisan Mr. Jazz.
Pria itu memijat area pelipisnya perlahan.
"Benzie, Megan," gumamnya pelan.
Ya, setidaknya ia memiliki orang-orang cerdas dan berbakat yang berada di pihaknya. Benzie dengan keahliannya ysng cakap di segala bidang, juga Megan yang memiliki pengetahuan superior. Jadi tidak seharusnya ia merasa khawatir seperti ini.
Ya, seharusnya begitu. Tapi ntah mengapa Mr. Jazz justru terlihat sangat berkebalikkan dari perasaannya.
"Menjadikan keduanya berada di pihakku dan mendukung secara penuh, aku yakin pasti bisa."
Tapi, siapakah keduanya yang ia maksud itu?
"Sangat mudah mengambil alih dunia dan segala isinya jika aku memiliki kemampuan, kekuatan, dan relasi. Tak lupa juga, money."
Iya, duit. Harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
"Doujav Corp maju, dan terkenal sampai ke kancah internasional. Para pekerja yang kompeten menjadi jaminan dan nilai plus."
Pikirannya masih berandai-andai pada suatu saat ia akan menjajah dunia dengan keberhasilan yang tinggi. Keberhasilan mudah ia dapat pun dengan kesuksesan yang bernilai tinggi. Sehingga tidak sulit untuk terbang kan?
Anggap saja dirinya sebagai burung yang dapat terbang bebas, lepas.
"Karena tidak ada yang bisa mengendalikanku kecuali aku yang mengendalikan dunia," ucapnya santai.
Termasuk ke dalam manusia golongan hitam. Semuanya bisa, semuanya ada. Dan apa pun yang ia inginkan harus tercapai. Ingat ya, harus tercapai bukan tercapai. Ada kata harus yang menjadi predikatnya.
Lamunannya buyar detik itu pula. Ketika suara pintu diketuk masuk ke rungunya.
"Permisi, Sir." Seorang lelaki dengan pantofel hitamnya yang keren masuk. Yang membuat senyum Mr. Jazz berkembang lebar.
"Oh Benzie, senang melihatmu datang kemari. Sini-sini duduk dulu."
Sambutan yang berlebihan menurut Benzie. Memperkuat dugaannya terhadap sesuatu hal.
"Terima kasih, Sir." Adalah bentuk jawaban sopan santun yang menurutnya sebagai formalitas saja.
Well, sejauh ini mari melihat semua adrgan dari semua sudut pandang tokoh.
Dan mulai sekarang pula, Andrew merasa harus benar-benar berhati-hati. Ia tidak mau dijadikan alat untuk siapa pun. Dia adalah miliknya, dan hanya dirinya sendiri pula lah yang bisa menguasainya.
"Ada apa gerangan berkunjung tiba-tiba seperti ini, Benzie?" Terselip senyum asing yang menjadikan keraguan Benzie semakin besar.
"Apakah itu hanya topeng?"
"Aku sudah membaca berkas yang Anda kirim."
"Oke, kalau begitu kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan?"
Benzie mengangguk singkat, namun setelahnya ia juga terlihat kebingungan.
"Tapi, Sir. Apa yang Anda maksud dengan The Xavious? Kata-kata ini belum pernah ada dalam diskusi kita sebelumnya."
Mr. Jazz mengangguk sekenanya. Dengan tepukkan pelan tetapi tegas ia layangkan pada dalah satu bahu kekar Benzie.
"Tidak salah aku memilihmu Benzie. Kau memang sangat cerdas dan mudah memahami situasi."
Apa ini? Justru dia sedang kebingungan sekarang. Situasi bagaimana apanya pun Benzie tidak tahu.
"Dalam berkas tersebut, terselip makna penting yang harus kau cari tahu. Jangan berpatok pada pasal-pasal yang yang terdiri dari beberapa nomor. Bukan, bukan itu."
Iya, kalau mengenai itu Benzie juga tahu. Tapi, apa maknanya yang sesungguhnya.
"Ada data yang harus kucari tahu, dan itu adalah The Xavious. Signal yang Anda maksud sebagai The Xavious itu juga bukan jangkauan yang mudah dilacak."
"Betul, itu merupakan kode yang harus kau pecahkan. The xavious, temukan signal yang mirip dengan Megan dan retas datanya." Kalimat Mr. Jazz yang membuat Benzie sulit menelan air di tenggorokannya.
Suatu perintah mutlak yang tidak bisa untuk tidak dikerjakan. Dan lagi, semua yang Mr. Jazz perintahkan harus berjalan sesuai rencana. Mulus.
Sebab yang Benzie tahu bosnya itu penganut kesempurnaan dalam segala hal. Terlebih dan khususnya pekerjaan. Perfectionist.
"Baik, Sir." Dan pada akhirnya jawaban yang keluar masihlah sama.
Tersampir seulas senyum tipis yang sarat akan kemenangan di bibir Mr. Jazz. Yang malah membuat Benzie geram. Ntah kenapa namun ia merasa tidak adil. Sekali lagi, tidak tahu karena apa.
"Sebaiknya kau mempersiapkan diri mulai dari sekarang, Ben. Kudengar anak yang merekomendasikan robot nuklir itu mulai mengerjakan proyeknya. Meskipun ya ... jika dia dibandingkan denganmu, tentu tidak ada apa-apanya. Tapi, lebih baik jika kau berwaspada saja."
Alan, satu nama itu langsung singgah di otak Benzie tat kala mendengar kata robot nuklir.
Inspirasi bodoh, imajinasi yang terlalu khayalan sekali. Begitu pikir Benzie.
"Ya, Sir," jawab Benzie singkat namun tegas.
Sebagai seorang perancang robot terbaik versi dunia, Benzie merasa sesuatu sekali disandingkan dengan Alan yang notabene hanya pegawai biasa.
Toh, Alan juga masih baru di Doujav Corp. Tidak baru sekali tapi juga belum terlalu lama. Statusnya yang masih mahasiswa S1 jurusan IT, membuat Benzie merasa unggul dari berbagai macam hal. Tidak melakukan apa-apa juga dia audah menang.
"Dua sampai tiga bulan ke depan, buatlah robot yang mengesankan Benzie. Jangan kalah dari anak dari machine learning itu. Ingat! Bukan hanya reputasimu yang kau pertaruhkan, tapi juga reputasiku."
"Baik, Sir."
"Baiklah, aku mendukung semua usaha-usahamu. Datanglah padaku jika kau mengalami kesulitan. Kau memiliki tim yang hebat, Ben. Akan kukirim Megan untuk membantu pekerjaanmu," sambung Mr. Jazz.
Oh ya, Megan. Benzie sempat melupakan robot pintar itu.
Sudah, apa lagi yang kurang darinya. Megan dan Mr. Jazz berada di pihaknya jadi, mustahil kekalahan yang ia terima kan?
"Terima kasih, Sir. Anda telah banyak membantu dan menolong saya. Tapi, kali ini saya akan melakukannya semua sendiri."
Perkataan Benzie itu membuat Mr. Jazz menegakkan posisi duduknya.
"Oh, ada apa ini?"
"Saya rasa selama ini saya sudah terlalu banyak bergantung pada Anda, Sir. Saya ingin menunjukkan integritas saya yang sesungguhnya." Begitu yakin Benzie berucap. Mata monolidnya tampak sangat kompetitif.
"Benzie, come on! Ada apa ini?"
"Tidak, Sir. Kali ini tolong biarkan saya membuat robot saya sendiri tanpa menerima bantuan Anda."
Karena desas-desus yang beredar mengenai dirinya yang hanya mengandalkan nama Jazz Vranks, juga permainan dalam dari relasinya sudah sampai ke telinga Benzie.
Selama beberapa tahun terakhir ini, pemberitaan dan kabar burung yang kurang baik mengenai dirinya memang kerap kali Benzie dengar. Ia juga membaca artikelnya. Pun menonton acara televisi mengenai dirinya sendiri.
Dan selama itu pula, Benzie selalu abai. Ia mencoba menutup mata dan telinganya. Ini sudah menjadi resiko pekerjaannya yang tersorot kamera. Bahan nyinyiran netizen tidak pernah ada habisnya jadi, Benzie maklum.
Tapi, untuk sekarang ia merasa tidak bisa lagi mempertahankan semua kebohongan dan berita-berita simpang siur tersebut.
Kemunculan Alan juga menjadi salah satu pemicunya. Dan, satu hal yang tidak bisa ia jabarkan.
"Jika itu memang kemauanmu, baiklah. Aku tidak bisa memaksamu kan Benzie. Jadi lakukanlah sesukamu. Tapi, dengar dan ingat ini. Kapan pun kau butuh, kapan pun kau mau, aku serta Megan bersedia membantu. Kita adalah tim, Benzie."
"Akan saya ingat selamanya, Sir. Saya sangat berterima kasih pada Anda."
"Tidak perlu sesungkan itu, Benzie."
Dan ini akan sangat menarik.
"Well, kita lihat saja nanti." Salah satu dari dua pria tersebut menggumam pelan.
***