Suara ketukan pintu terdengar. Alan, Andrew, dan Futue yang sedang berdiskusi serius pun terdiam sesaat.
“Sudah bayar kos perasaan,” celetuk Alan sembari mengingat-ingat tanggal berapa hari ini.
Lantas perhatian Alan tertuju pada jam dinding yang menunjukan pukul 8 tepat. Tidak biasanya ia kedatangan tamu di jam-jam seperti ini. Mentok juga palingan Andrew tapi temannya itu sekarang sedang ada di rumahnya.
“Siapa ya?” kata Alan.
“Aku saja yang buka,” sahut Andrew.
Lelaki jakung itu segera beranjak untuk membuka pintu.
“Clava, 19 tahun,” celetuk Future yang di sebelah Alan sembari memerhatikan Clava dan Andrew di depan sana.
Dan Alan tidak mungkin tidak mungkin tidak mendengar perkataan Future barusan, sehingga ia menyikut lengan robot itu.
“Jangan membaca data orang sesukamu begitu, Future!” peringat Alan.
“Kenapa Alan?”
“Nanti kalau orangnya dengar bisa menimbulkan kecurigaan. Kalian belum saling mengenal jadi tidak boleh.”
“Apakah harus mengenalnya dulu baru aku boleh menyebut namanya?”
Alan berdecak, pertanyaan macam apa itu?
“Bukan seperti itu konsepnnya Future!”
“Lalu? Lagi pula aku sudh mengenalnya. Aku tahu nama dan umur, aku juga tahu daftar riwayat hidupnya.”
“Bukan-bukan! Bukan seperti itu.”
“Hai Kak Alan, hai ...”
Disaat keduanya sedang sibuk berdebat, Andrew dan Clava sudah berada di hadapan mereka. Dan Alan menyadari pada kebingungan Clava ketika melihat Future pun segera berkata, “Dia Future.”
“Oh, hai kak Future ...” Dengan nada canggung gadis berblouse putih tersebut menyapa.
“Hai Clava, senang bertemu denganmu.”
“Terima kasih,” jawab Clava sungkan. Lantas perhatian dara 19 tahun itu kembali pada Andreew yang berdiri tepat di sebelahnya.
Ia tak menanyakan apa pun kecuali dengan tatapan matanya yang seolah menutut pertanyaan. Ya, saat ini benaknya sedang dipenuhi berbagai macam pertanyaan.
“Kak Andrew-”
“Duduk dulu, mau minum apa? Kuambilkan sebentar.”
“Eh, tidak perlu, Kak. Aku baru saja selesai makan malam tadi jadi sudah kenyang dan tidak terasa haus.”
Andrew pun mengendikkan alisnya.
“Yasudah kalau begitu langsung saja ya.” Kalimat Andrew terdengar begitu ambigu di telinga Clava. Sampai sebuah ide mengerikan terbersit di pikirannya.
Ini serius dia tidak akan diapa-apakan kan?
“Seperti yang Alan bilang, namanya Future lebih tepatnya the future.”
“Nama yang unik. Seperti datang dari masa depan saja,” gumam Clava bersama dengan kekehannya.
Namun berbanding terbalik dengan Alan dan Andrew yang justru menanggapi serius perkataan gadis 19 tahun tersebut.
“Benar, aku memang datang dari masa depan. Dan saat ini sedang tersesat di dunia manusia,” ucap Future.
Habis sudah kata-kata yang akan Alan jelaskan. Tidak ada lagi yang bisa ia jelaskan kan? Niat ingin menutupi tapi malah dia sendiri yang membongkar jati dirinya. Walaupun tujuan Alan dan Andrew memang untuk memberitahukan hal ini pada Clava tapi, kedua lelaki itu tidak pernah berpikir kalau cara penyampaianya akan seperti ini.
“Wah ... Kak Future beneran lucu ya.” Tawa Clava meledak saat itu juga. Sementara tersangka hanya diam tanpa ekspresi apa pun. Lain lagi dengan si kembari beda ayah dan ibu. Alan dan Andrew, kedua lelaki itu terlihat mengusap wajah tak habis pikir dengan dua perempuan di sana.
Menurut Alan, namanya juga robot mana bisa memahami menahan perasaan kan. Sedangkan menurut Andrew, dasar anak kecil pikirannya terlalu polos. Itu adalah kalimat yang tepat untuk mengambarkan karakter Clava.
“And, sejak kapan?”
Alan menyikut salah satu lengan temannya saat Andrew kembali duduk di sebelahnya.
Tidak menjawab, Andrew malah mengalihkan perhatiannya pada sosok Clava yang masih tersenyum kecil.
“Benar apa yang dia katakan, Va. The future yang datang dari masa depan, planet yang ntah berada di mana pada tahun 3038. Dia bangsa the future bukan manusia.”
Kretek!
Baru saja Alan mencoba meregangkan area sekitar lehernya agar tidak terlalu keram karena melihat lelucon Future yang tidak lucu sama sekali. Kini, suara kretekan tersebut tidak menimbulkan apa pun bagi Alan. Padahal biasanya selalu ia anggap kenikmatan yang hakiki.
“And!” Berbisik tapi dengan nada yang tegas.
Tidakkah ini terlalu cepat? Mereka harus berbincang-bincang dulu sejenak, paling tidak basa-basi sebagai pembuka pembicaraan.
Sekali lagi, Alan mengusap wajahnya dengan berat. Ternyata si kadal dengan robot dari masa depan ini sama saja menyebalkannya.
“Kak-”
“Kak, ini-”
Seperti DVD lama yang kasetnya sudah mulai rusak sehingga macet, begitu pun dengan kalimat Clava yang terputus-putus.
“Future, pindai Clava!” perintah Andrew yang segera Future laksanakan.
Dan malam itu, adalah waktu yang mengejutkan bagi Clava sebab baru mengetahui faktanya walau benak pun masih sulit mempercayai.
Bagaimana perkataan Future, Andrew, serta Alan yang menyatakan bahwa Future bukanlah manusia melainkan robot yang datang dari masa depan. Satu hal layaknya tiba-tiba dirimu terjun ke duna fantasi namun, kecerdasan dan ketanggasan Future dalam memindai data-data yang ia inginkan lagi-lagi membuat Clava terkejut.
Momen yang paling mencengangkan baginya adalah ketika dengan gamblangnya Future membaca grafik neraca perusahaan-perusahaan terkenal dalam skala internasional. Dan ketika Alan menunjukkan bagaimana anggota tubuh bagian dalam milik Future saat kain-kain itu dilepas.
“Mesin?” Kalimat terakhir Clava sebelum Andrew mengatakan tujuan utamannya mengajaknnya bertemu di rumah Alan.
“Kami ingin kau bergabung dengan kami untuk meneliti Future secara spesifik, Va,” jelas Andrew.
“Mungkin ini terdengar aneh untukmu tapi, kami ingin seseorang yang cerdas dan tanggap sepertimu menjadi tim kami. Selain itu kita juga bisa meneliti di mana letak planet Future yang sebenarnya.” Alan ikut menyahuti.
Ini adalah parade terbesar dalam sejarah hidupnya, hidup Clava yang baru pertama kali melihat bagaimana sosok robot yang sangat mirip dengan manuia pada umumnya.
“Tapi, Kak serius ini betulan robot?” tanya Clava.
Karena sejak tadi Clava perhatikan, secara keseluruhan fisik yang Alan dan Andrew sebut sebagai robot ini sama sekali tidak menunjukkan definisi robot yang sesungguhnya. Kecuali anggota tubuh bagian dalamnya yang telah ia lihat langsung.
“Seperti yang kau lihat, Clava. Banyak sistem rangkaian kabel-kabelnya yang tidak kuketahui.”
“Untuk meretas datanya pun sangat sulit. Melihat sinyal yang terhubung dengannya juga mustahil. Kode mesinnya juga tidak teredeteksi.” Andrew menambahkan.
“Tapi aku bisa bantu apa, Kak?”
Dan kesepakatan pun terjadi malam itu.
***