Suara pintu dibanting dengan keras hingga menimbulkan keributan nyaring membuat Future segera keluar dari dudukan casannya. Dan melesat ke sumber suara.
Sebenarnya bukan karena suara tersebut yang membuat Future pergi tapi, sistem sensornyalah yang dapat mengenali Alan dengan mudah. Dan juga sebuah sinyal yang sengaja Alan buat melalui chip yang ia tanam di salah satu pundah Future.
Sebagai informasi, chip tersebut juga memiliki fungsi yang cukup banyak. Sinyal yang Alan buat dapat memberikan informasi mengenai dirinya kapan saja dan di mana saja. Kecuali, hal-hal pribadi kecil yang ia lakukan.
Alasan utama mengapa Alan menaruh chip pada Future, yaitu untuk membantunya jika ia menghadapi kesulitan di kantor. Dengan sistem sensor pada lensa mata Future yang dapat mengetahui semua berita dan keadaan , Alan yakin sepenuhnya kalau itu akan sangat membantunya. Terutama ketika sedang melakukan presentasi. Well, tidak jauh-jauh dari masalah pekerjaan.
Dalam kata lain, mereka akan tetap bisa terhubung melalui chip tersebut. Dan jika mode bluetooth diaktifkan keduanya dapat berkomunikasi satu sama lain.
Ini adalah walkie takie versi yang lebih modern. Ngomong-ngomong Alan sendiri lho yang membuatnya. Mulai dari segi rancangan dan kegunaannya hasil buah pikir Alan yang begadang semalaman demi hasil akhir yang sempurna.
"Alan, kau sudah pulang ya. Welcome home Alan," ucap Future sembari menyunggingkan senyumnya.
"Dih! Sambutan macam apa itu!" Sembari terkekeh Alan mengucapkannya.
Siapa pula yang mengajarkan sapaan-sapaan seperti itu padanya. Dia bahkan tidak tahu kalau Future memiliki sistem itu.
"Dalam bahasa manusia, biasanya mereka suka memberi sambutan sebagai bentuk penyemangat agar ketika orang tersebut pulang ke rumah tidak terlalu merasakan lelah. Kata lainnya pengalihan suasana hati."
"Oh ya? Aku baru dengar yang semacam itu."
"Iya Alan. Selain itu juga hal tersebut baik untuk kerja otak karena dalat merefresh pikiran agar kembali santai setelah seharian dibuat bekerja."
Alan manggut-manggut setuju. Tidak salah kok apa yang Future katakan. Buktinya saja sekarang dia merasa lebih baikan dari segi suasana hati. Ya, walaupun fisiknya masih terasa lelah sekali.
"Yasudah, aku akan membersihkan diri terlebih dahulu. Kau duduklah nanti dayamu cepat habis. Setelah itu aku akan mengajarimu memasak," jelas Alan.
Mendengar kata memasak, kedua lensa mata Future mengeluarkan cahaya biru kekuningan.
Warna baru! Heboh batin Alan.
"Masak? Wah terdengar sangat menyenangkan, Alan. Aku sudah lama ingin mencobanya," sahut Future semangat.
"Iya, tenang saja akan kuajarkan kau sampai handal. Agar lain kali saat aku pulang kerja atau pulang kampus, kau sudah menyiapkan makanan untukku."
Hmm, pada akhirnya tetap saja. Alan masihlah Alan yang suka memanfaatkan sesuatu menjadi lebih baik.
Eh, tidak bisa dibilang memanfaatkan juga sih. Karena jauh dari dalam pikirannya selain memasak untuk dirinya, Alan mau agar Future terlihat lebih manusiawi. Agar tidak ada orang-orang yang mencurigai siapa Future sebenarnya. Karena secara fisik, seratus persen Future sangat amat mirip dengan manusia biasa.
"Baik, Alan. Kau cepatlah mandi setelah itu ajari aku masak. Atau ingin kumandikan saja? Aku memiliki mode waterproof dan bisa bertahan dengan air. Aku juga dapat melakukan treatment seperti spa, creambath, dan-"
"Tidak-tidak! Tidak boleh Future! Aku bisa mandi sendiri," potong Alan cepat.
Alan sampai mendelik horror mendengar perkataan kacau Future barusan. Dia dimandikan oleh robot yang-
Ah sudahlah, Alan bahkan nyaris tersedak sendiri.
"Kenapa tidak boleh, Alan?"
Pertanyaan yang menyebalkan.
"Hei, kau- astaga ..." Alan mengerang frustasi.
"Memang benar kau bisa melakukan treatment untuk perawatan tubuh?"
"Iya, untuk kesehatan tubuh juga bisa. Bidang yang kupahami mengenai olahraga sanglah luas. Kau bisa bertanya apa saja denganku Alan."
Tidak peduli juga sih.
Yang sedang mengganggu pikirannya saat ini adalah, bagaimana mungkin manusia yang menciptakan Future memunculkan fitur seperti ini?
Hell, yang benar saja.
"Sudahlah, aku mau mandi dulu. Mandi sendiri!" Alan tekankan pada kalimat terakhirnya.
Kemudian ia langsung bergegas menuju kamarnya. Tak lagi memedulikan Future yang masih mengerjap-ngerjap di tempatnya.
Selama hampir dua puluh menit berlalu, dan Alan baru saja keluar lagi dari kamarnya. Kali ini penampilannya lebih segar dari yang sebelumnya.
Sebuah handuk kecil masih terlihat di atas kepalanya dengan rambut yang belum kering seutuhnya. Dan tengah Alan gosok-gosok perlahan.
"Alan! Ayo cepat ajari aku memasak!" Suara Future yang tiba-tiba dan mengejutkannya.
"Ya ampun, sabar dulu. Kau tidak lihat aku sedang apa?"
Future yang melihat Alan sedang mengusap-usap rambutnya pun mendekat.
"Mau aku bantu?" tawarnya.
Sebelah alis hitam nan tebal milik Alan terangkat. "Bantu apa?"
"Mengeringkan rambutmu Alan. Aku memiliki saring yang bisa memancarkan daya hangat sekaligus dingin dalam waktu bersamaan. Jadi, rambutmu bisa lebih cepat kering."
Oh ya? Satu lagi yang Alan baru tahu tentang Future.
"Boleh, kalau begitu keringkan rambutku."
Yang Alan giring dirinya menuju sofa di ruang tamu rumahnya. Kan tidak lucu hair drayer rambutnya di kamar. Walau sebenarnya Alan fine-fine saja. Toh, Future bukan manusia dan dia sama sekali tidak tertarik dengan benda ini.
Ya, di mata Alan, Future setaea dengan benda yang mempunyai kecerdasan tinggi. Namanya juga robot dari masa depan.
Selama proses pengeringan rambut yang Future lakukan, Alan tidak bisa untuk tidak terkejut terus-menerus. Bagaimana tidak? Baru kali ini ia melihat Future benar-bebar definisi dari robot multifungsi yang sesungguhnya.
Alat pengering rambut yang Future gunakan adalah dengan salah satu anggota tubuhnya.
Saat itu, ia menjulurkan sebelah lengannya ke depan setelah kilatan hijau bergerak seirama dengan warna merah, lantas kepalan tangan Future berubah menjadi suatu bentuk yang bundar. San muncul rongga-rongga juga jaring-jaring kecil di sana.
Kemudian, Alan bisa merasakan rasa hangat yang mulai menjalar di tengkuknya saat Future mengarahkan lengannya ke arah Alan.
Wow!
Alan benar-benar terkesima dengan hal tersebut.
Kalau mengeringkan rambut saja Future se-pro ini, bagaimana pula ia memandikan dan melakukan perawatan lain pada tubuh mausia?
"Apa dia akan berubah menjadi bak mandi? Setelah itu akan mengeluarkan air dan sabun. Lalu siapa saja bisa langsung mandi di sana?!" gumam Alan pelan.
Gumaman yang mulai melanglang buana ntah kemana-mana.
"Selesai. Ada A plus, A minus, B plus, B minus, dan E sebagai rating untuk Anda menilai sebagai pelayanan perawatan tubuh. Silahlan tentukan pilihan Anda."
Heh, apa ini?
Kemudian Future menghadap belakang namun, posisi kepalanya tetap menghadap depan. Ya, hanya bagian badannya saja yang berputar.
Astaga! Alan ngilu sekali melihatnya.
Di punggung tersebut muncul huruf-huruf yang Future sebutkan barusan. Lengkap dengan gambar simbol dan kodenya.
"Harus ya?" tanya Alan lagi.
Tanda centang keluar dan bacaan bertuliskan terima kasih dalam bahasa Inggris di sana muncul setelah Alan menekan kolom A plus.
Ya, karena dia memang merasa selega itu.
Selain rambutnya kering, Alan juga merasa lebih rileks. Apakah ini merupakan salah satu dari laser yang sempat menyorot tengkuknya tadi ya?
Alan masih bertanya-tanya.
"Terima kasih."
Setelah posisi tubuhnya kembali ke bentuk semula, Future menampilkan senyumnya.
"Ayo, Alan sekarang ajari aku masak."
Membuat Alan lekas mengerjap beberapa kali.
Oh, masih ingat rupanya.
"Iya-iya, ayo ke dapur," kata Alan yang beranjak berdiri.
Namun, saat itu ponselnya berbunyi. Mengalihkan peehatiannya ke arah nakas yang menampilkan ponselnya di sana tengah menyala.
"Sebentar," katanya lagi.
Sebuah panggilan masuk.
"Mr. Jazz." Ia membaca nama yang tertera di layar.
"Future sebentar, bosku menelepon."
Kemudian Alan menyingkir untuk mengangkat panggilan teleponnya.
"Halo, Sir."
"Alan bisa datang sebentar?"
"Maaf, Sir. Ada keperluan apa ya?"
"Mengenai ide robotmu waktu itu. Ada hal penting yang ingin kutanyakan padamu. Bisa kau datang sekarang?"
Sejenak Alan melirik jam di dekat nakas. Pukul setengah delapan malam. Dia juga sedang tidak sibuk. Walaupun nanti ia akan bersiap untuk menyusun proyek robotnya.
Tapi, bukankah Mr. Jazz juga bilang akan mengajaknya bicara dengan asal-usul keribetannya itu? Jadi, tidak bisa Alan menolak.
"Baik, Sir. Ke mana saya harus datang?"
"Alamatnya sudah kukirim melalui pesan teks. Setengah jam lagi kau bisa kan?"
Ting!
Pesan masuk dari Mr. Jazz.
Cepat-cepat Alan klik ikon untuk membacanya.
"Baik, Sir," jawab Alan pada akhirnya. Karena ketika ia membaca alamat yang Mr. Jazz kirim, letaknya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Sehingga Alan mengiyakan dengan cepat.
Mana tau juga memang ada hal penting yang ingin disampaikan Mr. Jazz padanya.
Panggilan pun berakhir.
"Dari siapa Alan?"
"Bosku, kau bisa memastikan keamanan rumah saat aku pergi kan?"
"Bisa, Alan."
"Bagus. Aku akan pergi keluar sebentar. Karena sepertinya bateraimu masih banyak jadi jaga rumah sampai aku kembali."
"Kau mau ke mana Alan?"
"Bertemu dengan bosku."
"Di mana?"
"Tidak terlalu jauh dari sini."
"Apa aku tidak bisa ikut saja?"
"Tidak!" jawab Alan cepat bahkan sebelum satu detik pertanyaan Future keluar.
"Kau ini ada-ada saja. Mana mungkin aku bertemu dengan bosku membawa orang lain. Ini bukan acara keluarga, astaga."
Dan yang juga Alan pikirkan adalah, jati diri Future yang sebenarnya. Bosnya itu adalah pencipta robot yang telah berhasil membuat robot hasil rakitannya menjadi kebanggaan banyak orang. Sementara Future, dia adalah salah satu robot itu.
Bagaimana kalau sampai Mr. Jazz menyadari siapa dia yang sebenarnya dan berniat membawa Future padanya?
Wah-wah hal semacam itu tidak boleh terjadi. Jangankan Mr. Jazz siapa pun orang itu yang berniatmembawa Future pergi tidak akan Alan izinkan sebelum rasa penasarannya akan Future dan the future terpenuhi.
Ya, semata-mata hanya karena untuk penelitiannya saja. Tidak lebih.
Ingat itu, tidak lebih!
***
Cafe Aslar, ruang VIP lantai 3, jam 8 malam.
Alan memasuki ruangan yang tertulis pada pesan yang Mr. Jazz kirim beberapa saat lalu.
Di meja paling ujung, Alan bisa melihat seseorang dengan setelan kemeja mahalnya tengah duduk sendirian di sana.
Dilihat dari cara berpakaiannya yang sangat rapi, menonjolkan jiwa kepemimpinan yang besar juga menunjukkan siapa dirinya dengan merk-merk pakaian tersebut. Alan hapal.
Oleh sebab itulah, Alan melangkahkan kakinya ke sana.
"Mr. Jazz maaf saya terlambat," ucap Alan begitu sampai di depan orang tersebut.
Ya, dia Mr. Jazz yang mengajaknya bertemu.
"Tidak masalah, Alan. Duduklah."
Dengan canggung, Alan menarik salah satu kursi dan menempelkan bokongnya di sana.
Kriet ...
Bahkan suara pergeseran kursi dengan lantai pun terdengar mengerikan di telinga Alan. Ini nih ya begini kalau efek remahan biskuit bertemu dengan keju mozarela.
Bukan siapa-siapa. Tidak ada apa-apanya.
Bel di pinggir meja berbunyi. Mr. Jazz lah pelakunya. Tak lama kemudian seorang waiter menghampiri mereka.
"Black jack coffe dan Americano no sugar," ucap Mr. Jazz.
Well, sejauh ini Alan hanya diam. Dia cukup menjadi pemerhati saja.
"Sepertinya anak muda tidak terlalu menyukai minuman yang pahit. Dan kupikir Black jack coffe akan cocok denganmu."
Jadi, Americano no sugar untuk Mr. Jazz dan dia kopi hitamnya?
Namanya black jack kan? Jadi anggap saja begitu. Toh mereka sama-sama hitam dan tetap saja kopi walau sekeren apa pun namanya. Rasanya juga tidak terlalu jauh.
"Terima kasih, Sir."
Mr. Jazz mengangguk sejenak kemudian berucap, "Bukan apa-apa, karena sepertinya kau akan tidur sedikit lebih lama malam ini."
Yang sontak saja membuat Alan mengerutkan dahinya.
Pesanan datang, Alan masih terlalu canggung untuk menyambar gelasnya di atas meja tersebut. Sementara Mr. Jazz mengambil Americanonya dan menghirup dalam-dalam aroma minuman kesukaannya tersebut.
Sepuluh menit berlalu, dan keadaan masih secanggung ini sebab Mr. Jazz belum juga mengutarakan niatnya menemui Alan di sini. Alan ingin membuka suara terlebih dahulu pun segan, karena Americano itu masih tergenggam di tangan bosnya.
Ya ampun situasi macam apa ini?
"Begini Alan, kau pasti sudah mengenal Benzie sebelumnya kan?"
Si Bensin meledup yanb selalu membuatnya jengkel sampai ke ubun-ubun itu? Tentu saja!
Yang sayangnya hanya bisa Alan teriakkan dalam hati saja.
Tapi, tunghi dulu. Kenapa jadi membawa-bawa nama Benzie?
"Tentu saja, Sir. Siapa yang tidak mengenal pencipta robot hebat itu. Apalagi Benzie berada dalam naungan Doujav Corp yang telah mendunia. Mustahil tidak ada yang mengenalinya," jawab Alan.
Benar begitu kan?
"Tidak ada niat apa pun mengajakmu bertemu di sini, Alan. Aku hanya ingin kau bisa menjadi yang terbaik di Doujav Corp terlepas dari nama Benzie yang tinggi. Mengenai dokumen itu masih berlaku sampai detik ini."
Ya, dokumen. Diingatkan lagi pada hal itu Alan jadi merasa ada sesuatu yang tidak beres di sini.
"Dokumen ..."
"Dokumen kerja sama," sambung Mr. Jazz.
"Jadilah timku dan kau akan mendapatkan segalanya."
Yang membuat benak Alan sontak saja dipenuhi berbagai macam tanda baca. Tidak hanya tanda tanya tapi juga tanda seru, tanda petik, tanda huruf S yang terdapat garis satu tegak di tengahnya.
Juga sebuah kalimat yang hanya terdiri dari dua kata enam huruf. Diakhiri tanda tanya dan seru bersamaan pada ujung kalimatnya.
"Apa ini?!"
***
"Alan kenapa lama sekali? Katanya ingin mengajariku memasak?"
Begiru pulang dan membuka pintu, Alan disambut oleh pertanyaan Future yang sangat-sangat tidak penting baginya.
Hampir saja tumbuh rambut putih di kepalanya. Dan sekarang dia juga tidak akan bisa semudah itu menjawab pertanyaan Future. Sudahlah, memang derita seorang Alan cukup berat.
"Future, buat struktural menu untuk menajamkan sistem sensor robotku. Jam dua pagi nanti, akan kulihat. Besok pagi akan kuselesaikan kerangka awalnya." Adalah kalimat pertama dan terakhir yang Alan ucapkan begitu sampai di rumah. Kemudian ...
Brak!
Raganya habis ditelan daun pintu kamarnya.
"Mood tidak baik terdeteksi. Ada sebuah sinyal yang mengikuti Alan." Future mengoceh.
Robot itu pun lengser dari sana. Ia berjalan menuju sofa di mana para peralatan robot Alan tergeletak di sana.
Lantas Future raih salah satu remote yang hampir selesai desainnya. Ia membuka salah satu kubikel pada bagian lehernya dan memasukkan chip yang tempo hari Alan buat.
Menunggu beberapa saat, natanya mengerjap sampai tiga kali hingga bunyi klik yang panjang terdengar.
"The future unit, AaJ3 terdeteksi." Sebuah sinyal yang terhubung dengan Alan tadi.
Kening Future pun berderit kecil kemudian munculnya layar yang menampilkan gambar seorang lelaki di sana. Seseorang yang tinggi besar dengan bola mata cokelat muda cerah. Hazel yang indah. Rolex mewah melingkari pergelangan tangannya.
Dreett ...
Kemudian bahasa pemrograman pun tersaji. Hanya Futurelah yang tahu.
Robot tersebut membacanya perlahan, sembari mengerjap berulang karena caranya menggunakan sistemnya dengan menggerakkan kursor yang berada di bola matanya.
"Kerajaan Inggris, 1994." Sebait kalimat yang keluar dari lisan Future.
Sebuah foto terpampang jelas di sana. Di dahi Future yang sedang menjadi smart screen berukuran 7 sampai 8 cm.
Foto pria berwajah flawless tanpa kumis dan janggut. Jambang-jambang halus di sekitar rahangnya terlihat rapi. Tercukur sempurna hingga menunjukkan ketegasan jawlinenya yang mengagumkan.
"Mexico, 1987. Tiga puluh empat tahun, beristri."
"Future!"
Suara teriakan Alan terdengar menggema. Mendistraksi fokus Future hingga memutuskan kekuatan sinyalnya. Ngomong-ngomong Future tidak mengnonaktifkan sinyal dari chip Alan. Oleh sebab itu fokusnya terganggu.
"FUTURE!"
Menutup halaman dengan cepat, Future pun bergegas menuju sumber suara.
"Iya Alan." Dengan nada santai Future menjawab. Tapi kakinya melangkah tak seirama dengan nada sahutannya yang lembut terkesan lama. Kakinya justru bergerak dengan gesit.
"Ada apa Alan?"
"Cari informasi terbaru mengenai sinyal yang pernah terhubung denganmu kemarin malam. Aku yakin kalau mungkin saja ini pasti berhubungan."
"Tidak dengan sinyal yang kemarin, tapi aku menemukan sinyal baru yang sama denganku dan mirip dengan sinyal kemarin yang berada denganmu Alan," sahut Future.
Yang membuat perhatian Alan langsung tertuju sepenuhnya padanya. Dari rebahan dengan bantal yang menutupi wajahnya, dalam sekejap benda empuk berbusa itu melayang hingga mendarat tidak sempurna di lantai.
"Maksudmu?"
"Sistemku membaca adanya sinyal yang kau bawa pulang dengan nama the future dengan nomor unit AaJ3. Ini adalah unit pertama yang tercipta sejak penghujung tahun 2900-an."
"..."
"Nomor seri yang langka, beberapa data terbaca tapi sangat jauh dari perkiraanku, Alan. Jika unit itu dimiliki oleh bangsaku maka akan ada banyak angka di belakangnya tapi ini hanya satu. Dan data manusia juga terbaca di dalamnya."
"Future, sebentar!" Alan langsung konek. Jaringan 5G di otaknya langsung terhubung.
AaJ3 dan nama sinyal the future yang merupakan nama bangsa Future.
"Bisa lacak nomor seri ganda yang melekat pada satelit?"
"Bisa."
Karena biasanya sistem hack akan terhubung dengan satelit luar angkasa kalau untuk kepentingan internasional.
"AHJ998257381, kode natrix AI mode seri KYZe 9090."
"Nomor halaman!'
"Gheyw25e83936"
Sistem input dan konektivitas terbatas. Ya, ini dia masalahnya. Limited!
Dan hanya para hacker handallah yang bisa membaca data mereka.
Dia membutuhkan Andrew sekarang.
Oleh sebab itu, cepat Alan tarik ponselnya yang tergeletak di dekat guling dengan gesit. Mendial up nomor sahabatnya dalam sekejap mata.
Begitu terhubung, "Andrew dengar ini baik-baik! AHJ998257381, kode natrix AI mode seri KYZe 9090. Nomor halaman Gheyw25e83936. Aku akan membuat desain virtual untuk sistem keamanan luarnya."
"Oke, Al."
***