Laboratorium Rekayasa Sistem dan Kontrol, Doujav Corp.
Hari semakin sore tapi tidak membuat para pegawai di sebuah perusahaan IT raksasa di Indonesia tersebut kekurangan semangat mereka. Terlihat dari banyaknya para penghuni yang masih fokus pada kegiatan mereka masing-masing. Laboratorium terlihat sangat tertib, rapi, dan semuanya berjalan sesuai prosedur.
Sebagai perusahaan elit dan terkemuka yang bergerak di bidang teknologi robotics, tentunya Doujav Corp memiliki beberapa sarana dan prasarana yang lebih dari kata memadai. Salah satunya seperti laboratorium sendiri, sebuah museum robotics yang sudah mendapatkan izin resmi dari pemerintah, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Memasuki sore, bukannya lengang tetapi justru terlihat semakin sibuk di ruangan tersebut. Usai melakukan rapat dengan beberapa kolega dari luar negeri kini, para staff dan pegawai yang lain kembali pada kesibukkan mereka masing-masing.
“Sepertinya akan ada lembur lagi malam ini?”
Seorang pria dengan jas mahalnya berucap pada seseorang di sebelahnya. Berdiri menjulang tinggi di antara para kesibukkan yang sedang terjadi.
“Evaluasi tahunan akan dilaksanakan sebentar lagi, beberapa mega proyek juga akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Ada banyak pekerjaan yang harus mereka selesaikan,” jawab pria yang tak lain adalah pimpinan Doujav Corp.
“Dan akan banyak pula target yang harus diselesaikan?”
Bukan, itu bukan pertanyaan melainkan ledekkan yang salah satu pria di sana ucapkan. Sebab setelahnya kedua pria tersebut saling tertawa satu sama lain.
“Hahaha ... lama tidak bertemu dan kau masih sama seperti Jazz yang kukenal dulu.” Komentar yang seru dari pria itu yang membuat Mr. Jazz terkikik kecil.
“Kau juga masih sama seperti Bima yang kukenal sejak dulu,” ucap Mr. Jazz.
“Ya, Bima yang cerdas dan sukses. Bukan bagitu Mr. Jazz yang terhormat?”
“Cih, lagak sekali kau.” Keduanya kembali tertawa ringan.
Kemudian Mr. Jazz kembali berucap. “Kudengar perusahaanmu semakin berkembang pesat selamat ya, Bro. Kau memang kakak laki-laki yang sangat menginspirasi.”
Sebuah tepukkan tegas bersarang di salah satu bahu kokoh pria bernama Bima tersebut.
“Jangan berlebihan, Dude.”
“It’s real, btw.”
Keduanya sama-sama mengangguk kecil. Kemudian kembali berjalan mengelilingi laboratorium.
“Breeyan Company menjadi Doujav Corp, sepertinya memang pilihan yang tepat dulu kuberikan perusahaan ini padamu,” ucap Bima disela kegiatan berkeliling mereka.
“Ya ... seperti yang kau lihat sekarang. Bahkan jauh lebih berkembang dari pada Breeyan dulu,” sahut Mr. Jazz santai.
“Oke, kuakui Breeyan dengan Doujav Corp yang sekarang tidak ada apa-apanya. Uang memanglah masa depan yang paling menjanjikan.”
Perkataan Bima sontak saja mengundang tawa dari Mr. Jazz. Kedua pria itu lanjut berjalan menuju sebuah ruangan masih di laboratorium yang isinya berupa kerangka-kerangka robot dengan berbagai macam jenis dan bentuk.
“Wah ... sebanyak ini masih dalam progress semua?” tanya Bima.
“Tidak semua tapi, aku berharap bahkan bisa lebih dari yang ada di sini.”
Bima tanggapi dengan anggukan ringan.
“Oh ya, Jazz. Kau tahu apa tujuan utamaku berkunjung ke sini selain dari mengunjungi Breeyan Company yang kini telah berganti nama menjadi Doujav Corp?”
“Ck, kesannnya seperti aku merampok perusahaanmu saja ya, Bim. Ini kubeli dengan jutaan dollar yang merupakan uangku. Aku bukan perampok!”
Balasan sinis Mr. Jazz pun membuat Bima tertawa.
“Ya ya, lagi pula aku tidak ada beranggapan apa pun padamu yang kurang baik. Hanya ingin menyampaikan unek-unek saja,” jawab Bima.
“Sepertinya cukup serius? Kita ke ruanganku?”
“Tawaran yang tepat, di sini bukan tempat yang baik.”
Lagi-lagi Mr. Jazz menganggukkan kepalanya dan keduanya pun berjalan keluar dari laboratorium dengan sesekali masih bercengkrama kecil. Sepanjang mereka berjalan, seluruh staff dan pegawai Doujav Corp yang berpapasan dengan keduanya pun menunduk memberi hormat. Beberapa ada juga yang menegur, khususnya pada Bima yang sebagian sudah ada yang mengenalnya sebagai pemilik lama dari Doujav Corp yang dahulu bernama Breeyan Company.
Selain itu, sosok Bima juga dikenal sebagai sohib atau teman dekat dari pemilik Doujav Corp sekarang. Yakni Mr. Dourelio Jazz Vranks yang lebih dikenal sebagai Mr. Jazz.
Saat melewati koridor terakhir yang tepat akan menuju ruangan utama pimpinan, mereka berpapasan dengan Alan. Yang mana saat itu terlihat membawa sebuah kotak kardus berukuran cukup besar.
Menyadari di depan sana adalah bosnya, Alan sempatkan tersenyum singkat sembari menunduk saat posisinya hampir berdekatan dengan kedua orang-prang berkelas tersebut.
“Selamat siang, Sir,” sapa Alan ramah.
“Oh, Alan. Ya, selamat bekerja,” sahut Mr. Jazz. Sebuah senyuman singkat pun pria itu layangkan
Sampai pada sosok Alan hilang di balik pintu kayu besar bersama dengan kardus bawaannya. Detik itu jugalah senyum ramah Mr. Jazz menghilang dengan cepat dan berganti menjadi sebuah raut datar nan dingin.
“Pegawai baru?” Suara Bima terdengar.
Mr. Jazz mengerutkan keningnya tanpa mengangguk atau menggeleng. Pria dewasa itu menjawab, “Sudah cukup lama juga sebenarnya, kau saja yang tidak kenal.”
“Ya, tentu saja. Karyawanmu semakin bertambah setiap tahunnya. Kadang juga berkurang dalam jumlah besar pada akhir bulan.”
“Itulah caranya mempekerjakan karyawan, Bim. Tidak ada yang tahu integritas kerja setiap orang dalam waktu yang lama. Jika benar-benar berkualitas maka akan terlihat.”
Sekali lagi dan ntah untuk yang keberapa kalinya, Bima mengangguk saja. Pria itu tahu dan memahami bagaimana sosok di hadapannya kini. Itulah yang membuat Bima bangga melepaskan Breeyan Company pada Jazz Vrank dan berlapang d**a saat perusahaan yang ia bangun dengan penuh harapan harus berubah nama da kepemilikan.
Well, tapi itu dulu. Sekarang, seorang Bima bahkan berada di derajat yang sama dengan Mr. Jazz.
Pria berkepala empat yang nyaris memasuki usia 50 tahun itu kini adalah seorang CEO di sebuah perusahaan IT miliknya yang menetap di negara Eropa. Kini, bahkan sudah memiliki banyak anak perusahaan yang tersebar baik di dalam maupun luar negeri.
Keduanya pun tiba di ruangan Mr. Jazz, kemudian masuk ke dalamnya. Ketika Bima telah duduk di sofa, tanpa banyak alasan lagi pimpinan dari Doujav Corp tersebut bertanya, “Jadi, apa yang membawa seorang Bimo sampai ke Indonesia setelah sekian lama tenggelam di negaranya sendiri dan memutuskan pergi ke luar negeri? Manusia super sibuk seperti dirimu sepertinya tidak akan mudah bepergian sesuka hati tanpa tujuan yang jelas.”
Bravo!
Dalam duduknya, Bimo mengacungkan salah satu jempolnya dan ia arahkan pada teman lamanya tersebut.
“Good voice! Ya, sangat penting.”
Di ruangan lain, Alan yang baru saja meletakkan kardusnya menghembuskan napas panjang.
Gubrak!
Tergeletaknya beban tersebut, bersamaan dengan Alan yang menghempaskan tubuhnya ke arah kursi kerjanya. Beranjak mendekati isi kardus dan mengorek isi di dalamnya.
Mulai dari kabel-kabel, keping-keping logam, dan peralatan robotik lainnya. Alan susun rapi di atas meja kerjanya.
“Tinggal satu lagi bagian badan utamanya yang belum kubawa kesini,” monolog Alan. Namun dalam sejenak langkahnya terhenti akan ingatan pada sosok yang ia temui bersama dengan Mr. Jazz tadi.
Membuat sisi kepo alias ingin tahu dari dalam dirinya tersulut. Karena menurut Alan, wajah itu tidak asing baginya tapi, siapa?
“Mungkin mirip kali ya,” gumam Alan sekali lagi. Kemudian melanjutkan langkahnya.
***