"Jadi, apa yang membawamu kemari, Bima?"
Obrolan masih berlanjut, di ruangan dengan nuansa abu-abu yang terkesan mewah tersebut. Mr. Jazz pada singgasana kehormatannya dan Bima dengan tangan bersidekap sembari menunjukkan raut wajah serius.
"Mengenai terobosan terbaru rakitan software yang akan jauh lebih mempermudah pekerjaan kita."
Mr. Jazz jungkitkan salah satu alisnya.
"Selain mempermudah, versi ini juga adalah yang pertama di negara kita. Mungkin akan berkiprah di kancah internasional jika berhasil dikembangkan," tambah Bima.
"Aku harus mengetahui detailnya seperti apa. Banyak hal yang akhir-akhir ini tidak berjalan sesuai rencana. Jadi, aku akan lebih berhati-hati lagi." Mr. Jazz menjawab.
"Okay, benar-benar Jazz Vrank. Baiklah kalau begitu maumu."
Bima keluarkan ponsel pintarnya dari dalam saku jasnya, fokus pada layar benda pipih tersebut dalam beberapa waktu kemudian menyodorkannya pada Mr. Jazz.
"Ini adalah ide dasar hasil rancanganku sendiri. Ide pokok yang berawal dari pikiranku dan beberapa gagasan lainnya tentu saja dari timku. Jazz, ini bisa go internasional jika kita berhasil mengangkatnya dengan nilai yang baik."
Proposal digital dalam bentuk pdf itu pun Mr. Jazz baca secara seksama dalam layar ponsel Bima. Sembari mendengarkan setiap penjelasan yang kawan lamanya itu jelaskan.
"Sistem perusahaanmu sepertinya akan sangat mengesankan untuk kita angkat menjadi bahan percobaan." Gagasan lain itu datang dari Bima.
"Lihat padq bagian bawah tabel, ada sesuatu yang baru di sana," ucap Bima yakin.
Sontak saja perhatian Mr. Jazz langsung tertuju pada bagian yang Bima katakan.
Bola matanya bergerak lincah membaca dan memahami tiap deretan huruf dan angka di sana.
"Ilmiah education test." Adalah sepenggal kalimat yang Mr. Jazz baca dari isi proposal tersebut.
"Teruskan," komentar Bima. Yang mana tak menghiraukan pertanyaan sahabatnya itu.
Pria dengan rolex mahalnya itu pun tampak tenang sembari duduk dengan pena di salah satu tangannya yang sedang ia mainkan.
Tiga menit berlalu, setelah keheningan dalam waktu singkat tersebut, suara Mr. Jazz lah yang kembali terdengar.
"Penggunaan senyawa ilmiah untuk metode robotics yang baru dengan perangkat software yang baru pula." Pernyataan tersebut yang berhasil Mr. Jazz telaah dari isi keseluruhan proposal tersebut. Yang mana dalam waktu kurang dari satu detik setelah pernyataan tersebut Mr. Jazz utarakan, anggukan mantap Bima tercipta.
"Yup! Mungkin ide ini bukanlah yang pertama kali di dunia. Karena sejauh ini metode ini sudah banyak digunakan oleh para ahli robotics di luar negeri. Dan well, mereka berhasil."
"Negara-negara luar percaya dan yakin pada hal yang baru serta tidak pesimis padahal belum memulai. Jadi, menurutku kita juga patut mencobanya."
"Tunggu, Bim. Maksudmu bagaimana?"
Tak tik tak tik!
Jarum jam pada dinding yang berdetak terdengar sangat genting. Seolah menekankan hawa serius yang kental dalam ruangan mewah di sana.
"Pernyataanmu benar, Dude. Kita akan melakukan percobaan ini. Rekayasa genetik."
"Rekayasa genetik pada tubuh manusia dan menjadikan mereka robot?"
"Ya ... tidak bisa dibilang tidak atau iya juga sih. Tapi ini pure berdasarkan prosedur rekayasa genetik dan gabungan ide perusahaanku. Kita hanya perlu memulai, lalu mencoba."
Ini gila!
"Aku mulai menangkap maksudmu. Tapi, Bim di negara kita hal ini bukanlah sesuatu yang wajar. Ini bisa mencoreng nama baikku dan nama bain perusahaanku."
Di hadapannya, Bima masih tetap terlihat tenang. Tak gentar sedikit pun.
"Oleh karena itu aku mengusulkan untuk melakukan uji coba ini di salah satu anak cabang perusahaanku di USA. Secara konsep dan teori sudah dipahami, hanya tinggal bereksperimen. Kita tidak akan tahu pada hasilnya jika tidak dicoba," jelas Bima.
Mr. Jazz terdiam sesaat. Untuk beberapa sekon ia termenung tanpa melakukan banyak tindakan apa pun. Kedua obsidiannya bergerak gelisah ke kanan dan kiri. Namun, secara keseluruhan wajahnya masih memancarkan aura yang tenang. Ia bersembunyi dengan tampangnya yang sangat membantu.
"Bagaimana dengan manusia yang akan kita jadikan bahan percobaan itu, Bim? Ini akan memakan banyak waktu dan biaya."
"Apa kau mempermasalahkan mengenai biaya, Jazz? Seriously?"
"Tidak hanya karena biaya, tapi manusia tidak beruntung itu Bima. Jangan mengada-ada! Sekarang Doujav Corp sedang fokus pada rangkaian robotics kami yang akan mengadakan beberapa evaluasi. Dan menurutku pribadi, ini sudah sangat membantu menaikkan secara pesat kurva laba Doujav Corp."
Bima terlihat menampilkan senyum tipisnya. Jenis senyum misterius yang cukup menyentuh sisi gelap seorang Mr. Jazz. Well, seperti yang kita tahu bahwasannya seorang Jazz Vranks adalah pribadi yang suka bermain secara halus. Meski kesal tapi, tak ia tunjukkan secara langsung.
"Kau yakin hanya dengan itu? Bagaimana jika suatu saat nanti perusahaan robotics lain menemukan terobosan terbaru mereka dengan ide yang sangat menakjubkan? Kira-kira bagaimana dengan eksistensi Doujav Corp?"
Oh, ini adalah kalimat jebakan. Seorang nelayan akan melempar jala ke arah perairan lautan lepas dengan umpan yang tidak terlihat. Begitupun pada Bima yang tengah melakukan hal sama demikian.
"Perusahaanku hanya berniat membantu, Jazz. Kita memang berteman baik, maka dari itu kau adalah orang pertama yang kuajak melakukan percobaan ini. Kesepakatan bersama dengan bulat dan tujuan yang baik. Demi perusahaan kita masing-masing."
Mr. Jazz masih diam. Namun, diamnya adalah mencari titik terang pada otaknya sendiri. Pemikiran seorang Mr. Jazz Vrank yang dibanggakan dan dikagumi banyak orang karena akal cerdas nan jenius.
"Ini bukan hal kecil, Bima. Kita mempertaruhkan banyak hal."
"Ya, tentu saja. Siapa yang bilang kita tidak mempertaruhkan apa pun. Dari sini kita bisa mendapatkan hal yang sangat menarik lagi. Contohnya kekuasan, reputasi baik, dan nama baik."
"..."
"Dengar Jazz, awal mula aku membangun Breeyan yang kini telah menjadi hak milikmu secara penuh yaitu, Doujav Corp. Segala usaha dan ide-ide telah kulakukan secara penuh dengan pertimbangan yang matang. Aku tahu dan bisa, hanya saja pada saat itu waktu dan suasana tidak mendukung. Sekarang, kita tinggal melangkah pada step yang sudah tersusun. Menjadikannya lebih dari sekedar biasa dan membuat luar biasa. Semua akan berdecak kagum pada kita."
Sangat rinci dan jelas. Mr. Jazz tampak cukup tenang.
"Aku paham. Rekayasa ini untuk mendongkrak popularitas kedua perusahaan kita. Agar pemberitaan mengabarkan kalau perusahaan kita melakukan kerja sama yang luar biasa. Lalu, setelah berhasil kita akan memanipulasi bahwasannya rekayasa genetik ini bukanlah rekayasa genetik sebagaimana aslinya tapi, kita akan publikasikan sebagai the real robot hasil rakitan manusia. Bukan begitu maksudmu?"
Prok prok prok ...
Tepuk tangan dari Bima langsung terdengar bergemuruh ke seisi ruangan.
"Bravo bravo, Jazz. Kau memang saudara laki-lakiku yang sangat membanggakan. Aku takjub pada pemikiranmu yang smart itu."
Sembari tepuk tangan, senyum manis pun tak lepas dari raut Bima. Seolah jemur gigi, memanerkan senyun lima jarinya dengan percaya diri.
"Benar-benar adik laki-laki yang sangat bisa diandalkan," komentarnya lagi.
"Doujav Corp sudah terkenal dengan robot-robot mereka yang keren dan the next level. Apalagi terakhir kali robot menakjubkan hasil rancangan Benzie. Siapa namanya? Star ..."
"Starlight," sambung Mr. Jazz.
"Ya, Starlight. Robot rumah tangga yang sangat mengesankan dan berhasil masuk nominasi terbaik dunia. Itu adalah hasil kerja yang tidak singkat dan sedikit. Sepertinya, sebagai seorang pimpinan Doujav Corp kau pasti tahu bagaimana usaha yang ia kerjakan untuk itu."
Benar, Mr. Jazz tahu lebih banyak dari proses tersebut. Sebab ia juga turun andil dalam proses perakitan tersebut. Dia juga yang menggembleng Benzie untuk membuat rakitan terbaru dengan ide-ide menarik lainnya.
Dan siapa sangka, bahwa Starlight akan se-meledak itu?
Keren, menakjubkan dan sangat di atas rata-rata.
"Kali ini kita memasuki rute kedua. Kita akan berfase menciptakan robot baru yang tidak kalah dari Starlight. Pastinya dengan hal-hal menakjubkan lainnya. Lebih cerdas, lebih bisa diandalkan, lebih dan lebih baik dari robot manapun yang pernah diciptakan oleh manusia di muka bumi ini."
Ya, jika ingin menonjolkan keserakahan sedikit saja lagi, hal seperti yang sahabatnya itu katakan adalah salah satu goals yang begitu Mr. Jazz damba-dambakan.
Bagaimana namanya akan tersohor di mata dunia. Lebih dari Mr. Jazz yang selama ini dikenal publik. Mr. Jazz Vrank yang luar biasa.
"Tapi Benzie juga tengah mengerjakan proyek baru robotnya," ucap Mr. Jazz setelah lama tutup suara.
Bima letakkan pena yang sejak tadi ia mainkan kembali ke kotak peralatan tulis di atas meja.
"Lalu? Hal ini tidak bisa dijadikan alasan untuk kita tidak berjalan menuju ide yang lain kan?"
Benar, memang benar. Tapi, sebagai seorang perfeksionis seperti Mr. Jazz ia menginginkan semua berjalan bertahap. Satu-persatu, perlahan, dan pasti. Sehingga akan membuahkan hasil yang luar biasa.
Karena bagi Mr. Jazz sendiri, yang berpegang teguh pada prinsip, proses adalah prioritas. Maka, kesalahan yang tadinya dalam sebuah pekerjaan adalah kewajaran bagi Mr. Jazz adalah kemustahilan.
Right is right. Tidak boleh belok kanan atau kiri.
Ya, seperfeksionis itulah sosoknya.
"Justru dengan rekayasa genetik ini, kita bisa membantu Benzie dalam merangkai beberapa rakitan tambahan pada prosedur robotnya. Senyawa ilmiah berupa chip yang akan kita tanamkan pada salah satu sensornya."
Wow! Agaknya ini sangat aneh. Begitu pemikiran Mr. Jazz yang jenius.
"Aku tahu Megan juga bisa kita andalkan dalam proyek ini, Jazz."
Ah iya! Megan.
Setelah dari tadi terjebak pada kebuntuan dan kebingungan yang panjang. Akhirnya otak beku Mr. Jazz mencair dengan cepat.
Ketika nama Megan disebutkan, pada saat itu pula kepercayaan diri Mr. Jazz kembali sepenuhnya. Kekhawatiran yang tercipta langsung sirna saat itu juga.
Lagi, sirine peringatan yang bunyinya berdenting keras dengan bola lampu yang langsung menyala. Begitu kiasannya. Mr. Jazz kembali pada dirinya yang semula.
"Kau betul, Dude. Megan!" ucapnya semangat empat lima.
"Well, dua hari lagi kita akan terbang ke USA untuk kau melihat langsung perencanaan proyek yang sudah kususun sedemikian rupa. Setelahnya, kau bisa memutuskan untuk memulai atau tidak."
Senyum lebar dengan gurat bahagia pun terpancar dari paras tegas pria berkepala empat tersebut.
"Ini akan sangat mengesankan." Lagi, monolog Bima yang terdengar seperti gumaman.
***
Bruk!
"Aakh! Ya Tuhan pinggangku."
Sebuah kardus besar lainnya mendarat di meja kayu ruangan Alan. Dengan keluhan Alan yang telah terdengar mengkhawatirkan pinggangnya.
Kardus-kardus besar terus berdatangan di ruang kerjanya. Ini masih di Doujav Corp dan untungnya anggota timnya yang lain membantunya membawa kardus besar yang lebih dari 6 buah itu.
"Hampir 60%, apa sudah bisa kubuat kerangka lainnya ya?" Ia bertanya pada diri sendiri.
Ya, saat ini di sana hanya ada dirinya seorang.
"Oke, mari buka sistem sonsor biasanya dulu. Setelah itu akan kulanjutkan dengan chip data A."
Alan kembali memfokuskan pada layar komputernya yang menampillan keseluruhan bentuk fisik robotnya.
Mengcopy beberapa data dan memuat ulang file-file yang urgent lainnya. Tak lupa pula memeriksa kerangka atom luarnya dengan cermat.
Sampai pada setengah jam kemudian, Alan masih di tempat yang sama dengan kesibukkan yang sama.
Saat dirinya terlalu larut pada pekerjaannya, ponselnya yang terletak di atas meja pun tak lagi Alan dengar. Panggilan masuk tersebut terlewatkan sampai beberapa kali.
Hingga ketika sebuah tepukkan mendarat di salah satu pundaknya, barulah Alan berhasil meraup kembali kesadarannya secara penuh.
"Oh!"
"Serius boleh, Alan. Tapi tidak dengan hilang kendali seperti itu. Lama-lama kau jadi mirip seperti robot," ucap salah satu anggota timnya yang kebetulan masuk ke ruangannya untuk mengambil sesuatu.
Keterkejutannya tak berlangsung lama sebab Alan langsung menampilkan senyumnya.
"Sorry, Bro. Sepertinya aku memang sangat serius. Hehe ..."
"Ponselmu sudah bunyi ke-10 kali, Al. Angkat sana."
Ah iya, Alan bahkan sampai tidak mendengarkan nada dering ponselnya sedikit pun.
"Oke, terima kasih," katanya singkat. Kemudian menuju meja yang terdapat benda pipih miliknya di sana.
"Andrew, kenapa lagi anak itu," gerutunya. Namun tetap Alan angkat dengan menslide ikon hijau ke atas.
"Halo-"
"HEH! ANAK IKAN PARE! KE MANA SAJA KAU HAH?! SENGAJA TIDAK MAU MENGANGKAT PANGGILANKU?!"
Oh my Gosh!!
Cepat-cepat Alan jauhkan jangkauan ponselnya dari telinganya.
"Tidak usah teriak-teriak begitu, kadal. Tentu saja aku sedang sibuk bekerja. Apa lagi? Kenapa pula kau?"
Gantian Alan yang ngegas tanpa batas.
"Ck, dasar anak ayam kepala ikan teri! Kau di Doujav Corp?"
"Di mana lagi memangnya, pluto!" sinis Alan.
Helaan napas jengah terdengar dari seberang sana.
Alan yakin, di sana pasti Andrew sedang misuh-misuh sembari memutar bola matanya. Kebiasaan yang sudah Alan hapal luar kepala.
"Ada apa? Cepat katakan! Aku sibuk!"
Tidak ada gunanya melawan Alan sementara ia sendiri juga keras kapala. Jadi, Andrew memilih mengalah.
"Sudah sampai mana progressnya, Al? Kau lembur malam ini?"
"Hampir 60%, sepertinya iya aku akan lembur. Kau bisa tangani sistem sensor gps dan backup datanya kan, And?"
"Bisa, kirim saja beberapa data yang ingin kau input. Malam ini akan kukerjakan di rumahku sendiri. Karena beberapa peralatan dan medianya tidak bisa dibawa ke sembarang tempat," jelas Andrew di seberang sana.
"Oke, tidak masalah. Asalkan kau bisa menyelesaikan bagianmu. Oh ya, aku juga akan mengerjakan sebagian sistem sensor Future."
"Sistemnya masih belum stabil?"
"Hanya ada beberapa titik berbeda yang keluar dari jangkauan. Kau bisa selesaikan akses chip terbaru kan, And?"
"Iya gampang. Oh ya, aku meneleponmu karena ingin memberitahumu kalau Clava memiliki informasi penting mengenai the future dari masa depan."
"Oh ya? Apa?"
"Dia juga belum menjelaskannya padaku. Bagaimana kalau kita membuat temu janji. Bukankah akan lebih baik bila kita diskusikan secara langsung?"
"Oh begitu, oke baiklah. Malam ini jelas kita sama-sama tidak bisa kan. Jadi, kalian atur waktu tepatnya kapan, nanti kabarkan ke aku."
"Oke, Al. Oh, satu lagi."
"Hum?"
"Clava menyampaikan ini kepada kita secara pribadi. Kita harus berhati-hati dengan Mr. Jazz, Al."
Mr. Jazz? Ada apa dengannya?
"Sudah ya, kututup dulu."
Klik!
Panggilan berakhir sepihak setelah Andrew memutuskan sambunganbya lebih dulu dari seberang sana.
"Halo, And! Ck, kenapa sudah dimatikan sih," gerutu alan jengkel. Padahal ia belum selesai berbicara.
Beberapa saat, pemuda 22 tahun itu termenung sejenak setelah meletakkan ponselnya kembali ke tempat semula. Kalimat Andrew yang mengatakannya harus berhati-hati dengan Mr. Jazz, memenuhi pikiran Alan.
"Hati-hati yang seperti apa maksudnya ya?" gumam alan lirih sekali.
Saking senyapnya, detik jarum jam tangan yang Alan pakai pun terdengar berisik.
"Yasudahlah, nanti saja kutanyakan setelah pulang."
Dan Alan pun melanjutkan kembali pekerjaannya. Mencoba mengabaikan hal-hal lain demi kelancaran pekerjaannya.
***