“Alan, kau sudah pulang.” Suara Future terdengar merdu begitu Alan masuk ke rumah dan menemukan robot perempuan itu berdiri di depan pintu rumahnya.
Tidak siap dengan hal tersebut yang sangat tiba-tiba, tentu saja Alan terlonjak kaget. Untung nya ia sigap sehingga tidak sampai kejengkang di lantai.
“Ck, kau ini apa-apaan sih. Kenapa di sini?” tanya Alan gemas.
Gemas ingin melempar robot perempuan itu ke planetnya kembali. Sayang, Alan tidak tahu dari planet mana Future datang.
“Menunggumu pulang Alan. Ternyata kau pulang lebih larut dari biasanya.”
Adu tatap keduanya pun terjadi beberapa saat. Bisa Alan lihat pancaran mata yang Future keluarkan sangat tidak normal sekali jika diperhatikan sedekat ini. Bukan seperti manusia pada umumnya tapi, seperti sebuah lampu pintar yang tahu kapan saatnya akan beraganti warna.
Ya, seperti itu yang Alan lihat.
“Banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan hari ini, makanya aku lembur.”
“Besok lembur lagi?”
Mendapat pertanyaan seperti itu, Alan menjungkitkan salah satu alisnya.
“Kenapa bertanya begitu?”
“Karena tidak ada siapa-siapa di rumah, sepi. Biasanya kan kau yang menjadi teman bicaraku tapi saat kau pergi tidak ada. Andrew juga tidak ada datang ke sini malam ini.”
Alan menganggukkan kepalanya sesaat.
“Andrew juga banyak pekerjaan dia sibuk,” jawab Alan sinngkat..
“Kalau begitu Andrew juga lembur ya Alan?”
“Iya.” Singkat, jelas, padat.
Sebenarnya, Alan merasa agak aneh. Tidak biasanya Future banyak bicara seperti ini padanya. Apalagi sampai mengerti istilah-istilah baru yang Alan pikir mungkin saja Future tidak mengetahuinya.
Contoh kecilnya, kenapa Future bisa merasakan sedih dan sepi karena sendirian di rumah? Bukankah Future adalah sebuah robot yang datang dari masa depan?
Kenapa robot bisa merasakan perasaan yang manusia punya? Mereka jelas-jelas bukan manusia asli yang memiliki hati dan perasaan. Lalu, ketika kalimat kesepian Future cetuskan sontak saja Alan heran.
“Huh ... kau ini menambahi beban pikiranku saja ya,” omel Alan sembari melepas ranselnya mejadi ia pegang dengan sebelah tangannya. Kemudian ia beranjak menuju sofa ruang tamu.
Bruk!
Melempar asal tasnya ke sofa dan menjatuhkan tubuhnya di sana.
“Alan, malam ini kau bisa mengajariku masak kan? Tadi siang aku mencari daftar menu masakan Indonesia yang sangat populer dan enak.”
Alan mengusak wajahnya kasar. Semakin-semakin saja pusingnya bertambah.
“Aku baru saja pulang dan permintaanmu sudah sebanyak ini, astaga Future.”
Sekuat mungkin Alan menahan rasa ingin menjejalkan kaos kaki yang sedang ia pakai ke mulut Future. Kalau saja ia tidak ingat siapa sebenarnya sosok yang sedang ia ajak bicara ini.
“Tidak ada acara masak-masak malam ini, sekarang sudah pukul sebelas malam Future. Besok pagi saja,” ucap Alan di tengah rasa lelahnya yang luar biasa.
“Tapi waktu itu kau bilang akan mengajariku masak, Alan dan tidak jadi. Sekarang tidak jadi lagi?”
Sorot matanya kali ini mengeluarkan sebersit cahaya berwarna biru kehijauan. Melintas singkat membentuk pola simetris dan menembus pada manik pekat milik Alan.
Kedua makhluk yang berbeda itu saling menatap sama tajamnya. Baik Future maupun Alan tidak ada yang mengerjap matanya. Well, tentu saja karena Future adalah robot yang jarang sekali berkedip tanpa suatu alasan.
Sementara Alan, lelaki itu masih pada pandangannya tak berpaling sedetik pun.
“Biru kehijauan,” gumam Alan pelan.
Sesaat, Alan bisa merasakan sedang berada di dunia yang berbeda tatkala tatapan Future beradu dengannya. Terlalu misterius, seolah dipenuhi oleh bintik-bintik bintang yang teramat terang dengan temaran rembulan yang meyaksikan.
Okay, mungkin ini terdengar tidak masuk akal atau berlebihan sekali. Tapi, kenyataannya memang seperti itulah yang Alan rasakan.
“Tidak Future. Aku sedang lelah sekali, besok pagi saja.” Alan menegaskan sekali lagi.
Drrtt drrtt ...
“Pemindaian selesai. Alan, suhu tubuhmu bahkan mencapai 30 derajat. Kau demam.” Pernyataan yang Future ungkapkan.
“Kau memindaiku?”
“Iya, Alan. Dan kau ternyata kurang sehat. Minum air mineral satu setengah gelas setelah itu konsumsi obat penurun panas agar demammu berkurang.”
“Harus sekali minum obat?”
“Semua orang sakit harus minum obat agar lekas membaik Alan. Dan di bumi manusia hal ini juga telah diterapkan dalam semua diri manusia.”
Di tempatnya, Alan hanya mengangguk beberapa kali. Tidak bereaksi terlalu mencolok namun, otaknya tidak berhenti berpikir.
“Ya benar juga sih apa yang dia bilang.” Suara hati Alan berbicara.
“Apa sistemmu bisa mendeteksi orang sakit?”
“Iya, Alan. Aku bahkan bisa menangani orang sakit dengan memberikan perawatan ringan. Jadi, lebih baik sekarang lakukan saja apa yang kulakukan. Bak mandi sudah kuisi oleh hangat, sementara kau membersihkan tubuh, aku akan menyiapkan obat untukmu. Selamat malam Alan.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Future langsung pergi begitu saja tanpa memedulikan Alan yang masih terduduk di sofa. Lelaki itu hanya bisa mengerjap beberapa saat.
“Oh wow! Apa itu tadi? Sekarang dia malah bertingkah seperti seorang istri?” Alan bicara pada diri sendiri.
Semakin hari bukannya semakin mudah dipahami menurut Alan, Future malah kebalikannya. Semakin sulit dikenali sistem kerjanya juga terlalu manusiawi untuk dikatakan sebuah robot.
“Ck, yasudahlah terserah dia saja. Hitung-hitung memelihara bibi di rumah.”
Pada akhirnya Alan pun beranjak menuju kamarnya dan bersiap akan mandi. Ya, semenjak kehadiran Future Alan merasakan beberapa hal yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan. Takut, marah, merasa terbebani karena beberapa hal yang sulit ia jelaskan.
Pada intinya, Alan masih belum bisa menerima jati diri Future yang bukan manusia biasa. Itu dulu, saat-saat pertama mereka bertemu dengan cara yang cukup unik. Kalau sekarang ...
“Alan, kotak obanya sud kusiapkan di atas nakas kamarmu ya.” Suara Future kembali terdengar. Membuyarkan lamunan Alan mengenai masa-masa awal mereka dipertemukan.
Dalam bak mandi, Alan berteriak menjawab kalimat Future, “YA!!!”
“Ada-ada saja astaga.” Gerutuan kesal Alan sekali lagi.
Tidak sampai dua puluh menit kemudian, Alan keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah berganti baru dari setelan kerjanya. Terlihat lebih fresh dan harum tentunya.
Lelaki itu berjalan menuju nakas dan mendapati sebuah kotak P3K sudah tersedia di sana. Lengkap dengan segelas air mineral di sisinya.
“Cukup membantu,” gumam Alan sembari mencari tablet penurun demam dan dengan singkat menenggaknya. Alan juga mengonsumsi sebutir vitamin untuk daya tahan tubuhnya.
Selesai dengan itu, Alan keluar dari kamarnya untuk ke dapur. Perutnya sudah demo minta diisi namun, di pertengahan jalan ponselnya berbunyi mendistraksi langkahnya dan memutuskan untuk mengangkat panggilan tersebut.
“Nomor baru?” bingungnya.
Ya, pemanggil tidak tersimpan di dalam kontak ponsel Alan. Namun demikian ia tetap mengangkat panggilan suara tersebut.
“Halo?”
“Kak Alan, Kakak di rumah sekarang?”
Suara yang tidak asing, Alan rasa ia begitu mengenal suara perempuan di seberang sana.
“Clava?”
Seseorang di seberang sana mengangguk cepat walaupun Alan tidak bisa melihatnya.
“Iya, Kak ini Clava. Ada hal penting yang ingin Clava sampaikan ke Kakak sekarang. Kakak di rumah kan?”
“Eh, iya di rumah. Ada apa, Cla? Kau terdengar agak terburu-buru, ada sesuatu tidak beres?” Mendengar nada bicara Clava yang tidak santai, Alan jadi ikut-ikutan bingung.
“Akan Clava sampaikan langsung pada Kakak, yasudah Clava tutup ya, Kak. Aku ke rumah Kakak sekarang.”
Klik!
Panggilan berakhir dengan cepat, Clava lah yang memutuskan sambungan terlebih dahulu. Alan yang masih bingung pun mendadak jadi mirip patung. Bengong tanpa melakukan apa pun.
Tok tok tok ...
Terkesiap, suara ketukkan pintu dari luar membuat Alan berjingkat kaget.
“Secepat itu? Sambungan teleponya saja baru terputus” gumam Alan.
Dugaannya adalah Clava. Lantas, seringan bulu ia melesat menuju pintu utama. Saat melewati Future di sofa ruang utama Alan hanyamelongos sesaat.
Tok tok tok ...
“Iya sebentar!”
Krek ...
“Clava kau cepat se- Kadal?!”
Raut wajah Alan yang tadinya flat alias datar langsung berubah histeris. Menatap sosok yang kini berdiri di hadapannya tidak sesuai ekspetasi.
Tahukah kamu siapa kadal yang Alan maksud? Iya benar, sahabatnya yang kerap kali menjadi partner kerja, parner ribut, dan segala partner dalam kegiatannya sehari-hari.
“Clava masih dalam perjalanan, sudah ayo masuk,” ucap Andrew santai dan langsung masuk ke dalam rumah Alan tanpa menunggu dipersilahkan terlebih dahulu oleh pemiliknya.
“Ck, memang dasar Kadal. Sudah datangnya seperti tuyul, sekarang asal main nyelonong saja,” gerutu Alan. Kemudian mengikuti Andrew dan menutup daun pintu.
“Andrew kau datang!” Seruan semangat itu dari Future yang langsung berdiri melihat eksistensi Andrew di sana.
Melambaikan tangan dan pasang senyum lima jari, Andrew menyapa, “Hai Future, kukira kau sedang dicas. Bateraimu masih banyak ya?”
“Masih banyak, Andrew.”
Andrew membalas dengan anggukan kecil dan mengambil posisi duduk di sofa seberang Future. Tak lama kemudian Alan muncul dari arah depan.
“Jadi kau dan Clava memutuskan untuk datang sekarang? Bukannya sudah kubilang aku sibuk malam ini?! Kau pasti juga sedang sibuk kan?”
Kalimat panjang Alan yang tak Andrew indahkan. Ia malah fokus pada ponselnya di tangan.
“Ada beberapa persoalan penting yang kata Clava ingin ia sampaikan. Selain itu juga hanya malam ini dia luang. Besok-besok mungkin tidak akan bisa bertemu,” sahut Andrew cuek. Sembari menjelaskan perhatiannya masih tertuju pada layar ponsel.
Alan mendudukkan dirinya Di sofa seberang lainnya.
“Sepenting itukah?” tanyannya dengan sebelah alis berjungkit ke atas.
“Jelas! Buktinya Clava langsung mengajak bertemu saat ini juga. Padahal ya, Al kalau tidak salah sehabis kau meneleponku tadi dan aku memberitahu padanya, katanya ia sedang ada kegiatan penting di kampusnya. Tapi sepuluh menit setelahnya ia kembali menelepon untuk mengajak kita bertemu sekarang.”
Apa yang Andrew katakan memang benar adanya. Clava, meskipun usianya paling muda di antara mereka tapi, justru dialah yang paling sibuk seperti orang dewasa layaknya.
Di masa-masa yang seharusnya ia masih menikmati kuliah sembari bermain, Clava malah sudah terjun ke dunia kerja yang cukup serius. Lebih lagi, dalam lingkungan yang menuntut kesempurnaan. Padahal sesekali waktu Alan dapat melihat bahwa sisi remaja dalam diri Clava sangat kental.
Jiwa-jiwa muda yang menginginkan kebebasan dalam konteks yang baik. Bermain, belajar,, da memaknai hidup secara perlahan dengan menyeimbangkan beberapa persfektif lainnya.
Tapi, yasudahlah. Alan tidak bisa menuntut lebih apalagi merecoki kehidupan Clava yang jelas-jelas bukan kuasanya.
Hanya saja, Alan merasa prihatin.
“Itu kenapa aku tidak pernah mau menjadi orang pintar, And. Mereka hidup namun seperti diikat kaki dan tangannya.”
“Ha?”
Alan yang tiba-tiba berucap demikian, sementara Andrew tengah dalam mode serius tentu saja terkesiap mendengar perkataan sahabatnya barusan.
“Maksudmu, Al?” tanya Andrew.
“Hal yang ingin Clava sampaikan, pasti akan cukup berat. Tanpa kita sadari kita sudah masuk ke dalam dunia orang-orang cerdas, And. Mungkin ini hanya firasatku saja tapi, sepertinya akan berhubungan dengan beberapa hal pribadi kita,” jelas Alan.
“Alan, kau gelisah.” Itu suara Future. Celetukkan tersebut berasal dari manusia robot berjenis wanita di antara para lelaki di sana. Yang sejak tadi diam tanpa berbicara sedikit pun.
Perhatian Alan dan Andrew pun tersorot padanya.
“Dari mana kau tahu?” Alan bertanya.
“Aku-”
“Kau memindaiku lagi?” potong Alan cepat.
“Iya, Alan. Aku memindaimu karena rangsangan sinyalmu terbaca dalam chipmu yang ada padaku. Di sini terasa agak aneh dan akses menuju ke sinyalmu juga mengalami sedikit gangguan,” jawab Future.
“Jadi seperti itu caramu mendeteksiku jika sedang dalam suasana hati yang tidak bagus?”
Namun Future menggelengkan kepalanya.
“Tidak selalu, aku juga memeriksa beberapa hal lainnya mengenaimu melalui mesin pencarian global.”
“Ck, jawaban macam apa itu,” sanggah Alan sembari menyemburkan tawanya.
Begitu pun pada Andrew yang ada di sana. Dalam saat-saat terntentu, Future memang bisa dijadikan bahan tertawaan karena perkata-perkataannya yang sangat formal atau sekedar kalimat yang berptar-putar.
“Ada-ada saja kau ini, Future. Bateraimu sudah mau habis ya?” tanya Andrew setelah tawanya sedikit mereda.
“Tidak, Andrew. Dayaku masih banyak dan mampu bertahan lebih lama lagi.”
“Ah iya aku lupa. Kau ini kan mampu bertahan selama 2 kali 24 jam ya.”
Kalimat Andrew adalah fakta. Kenyataan bahwa daya Future dapat bertahan selama dua hari secara berturut-turut meski digunakan dengan cukup maksimal. Ini merupakan salah satu dari beberapa yang menarik dari dirinya.
Alan bahkan pernah berkata kalau suatu saat nanti dia bisa bertemu dengan perancang Future maka, dia ingin berguru dengan bersungguh-sungguh. Siapa tahu kan kecerdasannya bisa menular pada dirinya.
“Amin!” ucap Alan tanpa sadar. Andrew yang melihat kerandoman sahabtanya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya singkat.
Tidak tahu saja dirinya kalau sejak tadi Alan sudah berandai-andai ke mana-mana sampai berucap pun itu hanya spontanitas.
Pada saat itu, tiga menit setelah candaan mereka. Andrew pamit ke kamar mandi dan Future yang kembali diam di sisi Alan.
Tok tok tok ...
Suara pintu diketuk kembali terdengar.
“Sepertinya itu Clava,” gumam Alan pelan kemudian dengan cepat melesat ke arah pintu utama.
“Tunggu di sini, jangan melakukan apa pun lagi. Kau dengar Future?”
“Iya Alan,” jawab wanita yang belum jelas apakah manusia asli, manusia setengah robot, atau makhluk planet dari masa depan yang berwujud manusia.
Ya, begitu Alan meyakini jati diri Future saat ini. Satu yang pasti, Future adalah robot. Karena luar dalamnya semua sudah Alan lihat. Bahkan ia sendiri yang mengutak-atik bagian tubuh depan di antara leher dan perut pada diri Future. Alan melihat dan memegangnya.
Seratus persen manusia jika dilihat dari luarnya. Namun, di balik baju yang melingkari tubuhnya, semua sangat bukan komponen dari sebagaimana anggota tubuh lainnya.
Bagian depannya yang terdapat dua buah benjolan, itu adalah salah satu ruangan untuk mengatur ulang sistemnya dan juga beberapa hal penting lainnya. Tidak lembut seperti jelly yang menggemaskan, mereka bahkan sangat kokoh karena lapisan yang terletak di sana.
Demi Tuhan, Alan sudah melihat semuanya secara rinci.
Krek ...
“Kak Alan, Kakak harus pindah dari tempat ini sekarang!”
“Ha?”
***