THE LOST SISTER
A Mysteri Investigate Novel By :
Nurohimah
***
"Disini tertulis bahwa buku ini milik ...," Juliet tiba-tiba terbelalak tak percaya sebelum akhirnya melanjutkan. "Milik Annalise Portman."
***
Wajah pucat Juliet seketika mendongak, menatap Jake dan bergantian dengan ekspresi tak percaya. Ia terkejut, tetapi pada detik berikutnya, hanya sebuah senyum kemenangan yang terlukis pada bibir merah mudanya. Wanita itu kemudian buru-buru berdiri, menepuk pakaiannya yang kotor karena terkena tanah tadi, lalu mengangkat buku dengan nama Annalise di bagian depannya itu ke udara dengan sombong.
"Aku memilikinya," tandas Juliet.
Bennedict ikut bangkit dan menyilang kedua temannya di d**a. "Kau memang berguna, Juliet. Tidak salah jika aku menerim uang darimu," katanya keceplosan.
Membuat Jake sontak menoleh dengan tatapan tajam pada rekan yang selama beberapa tahun ini sudah menjadi akrab dengannya. Ia merasa dikhianati. Bennedict memang nekat menarik Juliet dalam pusaran kasus demi meraup keuntungan pribadi alih-alih memikirkan harga diri rekannya tersebut. Pria berusia 27 tahun itu menunjuk wajah Juliet dan Bennedict bergantian, "Jadi, kalian memang terlibat bisnis di sini." Kemudian bersedekap tanpa sedikitpun melepas raut tak suka dari wajahnya. "Pantas saja wanita gila ini tiba-tiba datang dan membuat masalah." Ia kemudian melanjutkan kekesalannya pada Juliet, kedua mata cokelatnya tertuju pada wanita di hadapannya. "Dan kau, sebaiknya kau kembali HT-mu serta buku itu."
Juliet memutar kedua bola matanya malas dan menurunkan tangannya dari udara, mendekap buku milik Annalise di dadanya erat-erat. "Mari membuat kesepakatan," ujarnya.
"Tidak ada kesepakatan. Kembalikan semua barang-barang itu dan tinggalkan area kemah ini sekarang juga," balas Jake dengan ketus.
Merasa usahanya belum berhasil, Juliet mencoba memutar otak. Ia mengatup bibirnya dan terdiam untuk beberapa saat, sebelum kemudian tatapan mendesak yang terus ditujukan Jake padanya mulai mengganggu. "Aku akan memberikan buku ini asalkan kau membiarkan aku bergabung dalam penyelidikan."
"Hey, aku sudah bilang kalau-"
"Dan kau tidak boleh merubah keputusanmu lagi kali ini," tuntas Juliet tanpa rasa takut sedikitpun.
Jake mengembuskan napas jengah dan mengangkat satu alisnya. "Jika aku menolak? Bukankah aku diperbolehkan untuk mengambil kedua benda itu secara paksa darimu, Nona Tidak Tahu Aturan?"
Juliet tertawa mencemooh. Ia lantas mengedikkan kedua bahunya dan mulai berbesar kepala di depan kedua detektif itu. "Jika kau menolak, aku akan memberikan buku berharga ini kepada detektif lain yang lebih kompeten. Kau jelas tahu karirmu akan berakhir seperti apa, bukan?" Baru saja Jake hendak menyela, Juliet sudah lebih dahulu menyela. "Dan jika kau melakukan pengambilan paksa, menyentuhku, bukankah kau tahu bahwa aku bisa melaporkanmu atas kasus pelecehan seksual? Sedikit saja tubuhmu menyentuh kulitku, kau akan tahu akibatnya."
"Whoa!" Jake mendengus geli dan mundur beberapa langkah sembari menatap Bennedict. Ia menunjuk Juliet lagi seraya berkata, "Kau lihat? Kau membawa wanita yang salah, Ben. Dia bahkan mengambil barang bukti dalam kasus kita dan menyebabkan masalah. Menurutmu, siapa yang akan bertanggung jawab atas kekacauan ini?"
Bennedict tersudutkan. Ia menggaruk tengkuk lehernya yang sama sekali tidak gatal hanya karena merasa kikuk dengan kedua tatapan maut yang diberikan oleh Jake maupun Juliet. Jake dengan tatapan memaksa agar ia bisa mengusir Juliet dan Juliet yang merasa tidak ingin rugi dan memberinya tatapan pertolongan. Ia membatin dalam hati. "Ah, sial." Sebelum kemudian menghela napas panjang dan melihat kedua lawan bicaranya itu bergantian. "Kenapa kalian tidak memutuskan untuk berbaikan saja dan menjadi tim?"
"Tidak!" jawab keduanya kompak.
"Aku akan menjadi rekan satu tim kalian jika dia mau membuat kesepakatan," kata Juliet menyindir Jake.
"Ben, sebaiknya kau kembalikan uang yang kau terima dari wanita gila itu dan usir dia sekarang juga," desak Jake tak mau kalah.
Tidak ingin merasa pusing lebih lama hanya karena menghadapi sikap keduanya yang sangat kekanakan, Bennedict pun mencoba mengambil jalan tengah. "Juliet, apakah kau berjanji akan memberikan kami buku itu jika kau bergabung dalam penyelidikan?"
Dan tanpa ragu, wanita berambut panjang itu menganggukkan kepalanya. "Tentu. Dengan satu syarat, bahwa kalian tidak akan merubah kesepakatan di tengah jalan dan aku diizinkan untuk mengikuti penyelidikan sampai Annalise berhasil ditemukan."
Bennedict hendak kembali berbicara, tapi Jake lebih dulu memotong. "Sebenarnya apa motivasimu bergabung dalam penyelidikan ini, hm? Kenapa kau sangat gigih, padahal gadis itu tidak ada hubungannya denganmu?"
Lagi, Juliet memutar kedua bola matanya dengan malas. "Oh, ayolah." Kemudian menyibak rambutnya ke punggung hingga kini Jake dan Bennedict dapat melihat ceruk dalam leher milik wanita itu. "Aku harus menyelesaikan apapun yang kumulai. Kira-kira begitulah prinsipku. Jadi, mari membuat kesepakatan. Aku akan menepati janjiku, maka berusahalah untuk menepati janjimu juga."
Dalam waktu sepersekian detik, saat Jake dan Juliet beradu pandang, Jake tiba-tiba merasa momen mendadak berubah. Atmosfer di antara mereka menjadi berbeda. Tatapan dalam yang ditampilkan oleh netra biru milik Juliet perlahan menyentuh sisi lain dari hati Jake yang telah membeku. Atau kira-kira, begitulah yang dirasakan pria bertubuh atletis itu sampai akhirnya ia tersadar dari fantasi anehnya dan berkata, "Jawabanku tetap tidak."
"Kalau begitu baiklah. Aku akan memberikan buku ini kepada detektif lain," timpal Juliet tanpa rasa bersalah.
Namun justru Bennedict lah yang kalang kabut. Ia segera menyela pembicaraan dengan berkata, "Tunggu, Juliet." Dan memandangi Jake dengan ekspresi memelas. "Jake, bisakah kau menurunkan egomu kali ini? Kita membutuhkan buku itu. Bisa saja itu merupakan petunjuk penting atas menghilangnya Annalise. Ayolah ... kumohon. Aku akan mentraktirmu makan malam besok."
Mata Jake mendelik cepat. "Apakah itu pasta dengan daging asap?"
"Ah, ya. Apapun itu. Bagaimana? Kau setuju?" tanya Bennedict antusias.
"Kau berjanji, 'kan?"
"Iya, iya aku berjanji padamu," ulangnya tak sabar. "Katakanlah kau sepakat kepada Juliet."
Jake kemudian mengalihkan pandangannya ke arah wanita itu. Ia mengangkat satu alisnya sebelum kemudian berkata, "Baik. Aku sepakat. Jadi, berikan buku itu sekarang. Kau boleh menyimpan HT-nya karena kau akan ikut dalam penyelidikan."
Senyum sumringah terpancar di bibir Juliet. Ia tidak menyangka bahwa buku itu benar-benar berpihak padanya. Padahal Jake maupun Bennedict berada di tempat itu, tapi mengapa Juliet yang menemukannya? Bukankah itu sudah jelas karena takdir lah yang memberikan jalan untuk Juliet ikut membantu menemukan Annalise Portman?
Wanita itu kemudian menyerahkan buku yang diduga dimiliki oleh Annalise kepada Jake dan ikut mendekat seperti yang dilakukan oleh Bennedict. Mereka bertiga sama-sama melihat buku itu saat Jake akhirnya memeriksanya.
Namun, tidak ada apapun yang mencurigakan di dalam buku tersebut. Selain catatan pelajaran dan beberapa rumus yang mungkin dibuat Annalise saat gadis itu berada di sekolah.
"Ada sebuah tanggal di sini," kata Jake saat menemukan sesuatu.
Bennedict lantas menunjuk halaman di buku itu dan berkata, "25 Desember 2003." Seraya mengerutkan dahinya dalam-dalam. "Bukankah itu lima belas tahun yang lalu? Untuk apa Annalise menuliskan tanggal di rentang waktu yang sudah lama?"
Jake dan Bennedict mungkin tidak tahu apa-apa soal tanggal itu. Namun melihat tanggal yang tertera di buku itu, justru mengingatkan Juliet pada satu peristiwa mengerikan yang dilihatnya di masa lalu.
Namun, apa mungkin Annalise mengetahui sesuatu? Atau ini semua hanya kebetulan saja?