THE LOST SISTER
A Mysteri Investigate Novel by :
NUROHIMA
***
"Semoga kita bisa menemukan Annalise dalam keadaan selamat."
***
Saat itu, bukan hanya ponsel milik Bennedict yang berdering, melainkan ponsel Juliet juga. Namun karena saar itu ia menggunakan mode getar, tidak ada satupun dari detektif itu menyadarinya. Dan setelah Jake mengambil keputusan untuk menemui Nyonya Maribeth terlebih dahulu, barulah Juliet berani memeriksa benda pipih yang sejak tadi disimpannya di dalam saku celana jeansnya.
Satu panggilan tidak terjawab. James Cordon.
"Ah, si b******k itu rupanya." Juliet menatap layar ponselnya lamat-lamat. Ia berpikir untuk beberapa detik sebelum akhirnya menekan deretan angka yang terlihat di sana dan melakukan panggilan pada James. "Kita lihat apa yang bisa dimiliki oleh James saat ini."
Panggilan telpon itu akhirnya tersambung. Suara bass milik seseorang di sebrang pun berhasil membuat wajah Juliet terangkat. "Jadi ... Apa kau punya informasi yang penting sampai harus repot-repot menghubungiku di jam kerja seperti ini?"
"Aku tahu kau memegang akses ekslusif untuk kasus hilangnya gadis itu."
Juliet menyeringai sinis. "Itu sama sekali bukan urusanmu."
James, pria yang merupakan teman satu kantor Juliet itu tertawa di telpon. Tawa rendah yang mencemooh hingga membuat bulu-bulu di tubuh wanita itu bergidik karenanya. "Kau tahu bahwa aku bisa melakukan apapun untuk mendapatkan keinginanku, bukan?"
Juliet dan James seperti pinang yang dibelah dua. Mereka sama-sama menyukai pekerjaan mereka, tapi untuk tujuan yang berbeda. Juliet memilih mengabdikan dirinya sebagai jurnalis untuk mendapatkan dan membagikan informasi kepada masyarakat. Sedangkan James menerjunkan dirinya dalam media sebesar The New York Times untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Keduanya sangat menyukai pekerjaan mereka saat ini, hanya itu. Sisanya jelas berbeda.
Dan Juliet tidak menyukai James karena dua hal. Satu, James menyukai uang. Dan dua, James terlalu menyukai uang. Awalnya, bekerja untuk mencari uang mungkin terdengar logis dan normal di telinga Juliet. Namun lama-lama, alasan itu menjadi klise. James terlena dengan uang yang dimilikinya. Ia tidak lagi mencari kasus untuk turut serta dalam mengungkap kebenaran, melainkan menggunakannya untuk kepentingan pribadi; politik uang.
Visi misi James kemudian berubah. Yang sebelumnya berniat untuk membantu masyarakat, kini justru beralih menjadi memanfaatkan masyarakat. Juliet adalah saksi perjalanan itu. Tidak ada rahasia di antara mereka sebelumnya. Namun kini, mereka hanya seperti dua orang yang saling tidak mengenal jika bertemu di jalan.
"James, aku akan menghubungimu lagi. Jadi-"
"Wartawan lain sedang menuju ke area kemah," potong James. "Aku hanya ingin memberi tahumu soal itu, Juliet."
Wajah wanita muda itupun berubah cemas. Namun semua yang terjadi sudah berada dalam tebakannya. Artikel daring memang bekerja dengan cepat. Mereka bahkan mengendus berita-berita eksklusif milik media lain melalui platform tersebut. Ia kemudian mengangkat kedua alisnya dan mencoba mengatur napas, tidak ingin terdengar panik saat sedang berbicara dengan rekan jurnalisnya itu. "Aku akan membiarkan mereka. Lagipula mereka tidak memiliki akses masuk, mereka mungkin hanya akan mencecarku."
Tawa James terdengar dari sebrang sana. Ia kemudian menggumam pelan dan berkata, "Jaga dirimu baik-baik kalau begitu. First High School tidak akan membiarkanmu lolos jika artikelmu menyudutkan mereka."
Entah hanya perasaannya saja atau memang sungguhan, tapi ini adalah kali pertama James kembali menasihati Juliet bak adiknya sendiri. Sudah lama sekali sejak mereka cukup dekat dan pria yang dua tahun lebih dewasa darinya itu mengeluarkan kata-kata bijaknya sebagai seorang rekan seperti ini. Hati Juliet yang dingin sempat terenyuh, meski sedikit. Terlalu sedikit bahkan untuk wanita itu membalas kata-kata tersebut. Ia pun hanya menggumam pendek dan menimpali. "Aku tahu kau juga akan mencecarku seperti yang lain, bukan? Akan kupastikan bahwa kau menerima informasi aktual yang lebih cepat dibandingkan jurnalis lain mengenai berita hilangnya Annalise."
Ia kemudian menekan tombol merah di tengah-tengah layar dan memutuskan panggilannya dengan James, rekannya yang begitu mencintai uang. Ada jeda di sana. Juliet memandangi sekitar dengan kesal kemudian menghela napas berat. Ia tidak mengerti mengapa kasus ini bisa tiba-tiba menyesakkan dadanya, tapi firasatnya jelas buruk soal itu.
Baru saja wanita itu hendak menyusul dua rekan polisinya tadi, Jake dan Bennedict justru datang kembali ke pagar pembatas, tempat dimana Juliet berada. Tidak ada yang bisa dilakukan Juliet selain menutupi kekesalannya pada James dengan menebar senyum ramah pada kedua detektif tadi. "Bagaimana? Kita akan masuk ke hutan sekarang?" tanya Juliet, berusaha terdengar antusias.
Namun Jake dengan cepat mengulurkan tangannya. "Kembalikan HT-mu."
Kening Julietpun berkerut dalam. Netra birunya lantas memandangi Jake, kemudian ke Bennedict dengan ekspresi bingung secara bergantian. "Apa-apaan? Bukankah kau sudah meminjamkannya padaku?"
"Kubilang kembalikan," ulang Jake.
"Aku ... aku tidak mau, aku tidak bisa," dalih Juliet dengan panik. "Kau sendiri yang bilang bahwa di dalam hutan mungkin saja ada serigala. Bagaimana jika kita terpisah dan aku harus berjuang menyelamatkan diri dari sekawanan serigala? Harimau? Singa?"
Pria yang bertanggung jawab atas jalannya penyelidikan itupun mengembuskan napas panjang yang terdengar jengah sebelum kemudian menatap lurus-lurus netra biru milik Juliet. "Kau tidak akan ikut masuk ke dalam hutan. Itulah sebabnya aku memintamu untuk mengembalikan benda itu," ujarnya mencoba menjelaskan. Lalu, Jake kembali mengulurkan tangan, menengadah ke atas dan menatap mata lawan bicaranya dengan penuh harap. "Jadi, bisakah kau kembalikan benda itu selagi aku bersikap baik?"
Alih-alih langsung mendengarkan dan patuh, Juliet justru memundurkan langkahnya ke belakang. Ia menyembunyikan kedua tangannya di belakang punggung karena benda kecil berwarna hitam itu ada di saku belakang celananya. "Tidak. Keputusan sudah diambil. Aku akan tetap ikut masuk ke dalam hutan apapun yang terjadi."
Jake mendengus kesal dan maju satu langkah, mengikuti tempo langkah yang diambil oleh wanita itu. "Kembalikan. Sebaiknya kau menurut sebelum aku benar-benar marah padamu," ancamnya.
Namun Juliet kembali memundurkan langkahnya. Berusaha keras untuk mempertahakan benda kecil yang memang sebelumnya dipinjamkan oleh detektif itu agar dirinya bisa terjun langsung ke dalam pencarian di hutan. "Aku akan ikut mencari Annalise."
Jake maju lagi. "Kau tidak ada hubungannya dengan Annalise. Sebaiknya kau cari berita lain saja."
Melihat kedua orang di hadapannya merebutkan hal yang dirasa tak terlalu penting, Bennedict mencoba menengahi dengan berkata, "Hey ayolah. Kalian hanya membuang-buang waktu, bukan? Kita seharusnya masuk ke dalam hutan sekarang dan membantu Rayn, bisakah kalian berhenti bersikap kekanakan?"
"Aku akan ikut ke dalam hutan," pungkas Juliet bersikukuh.
Dan kata-kata itu terdengar menyebalkan di telinga Jake. Ia pun menghentikan langkahnya sejenak sebelum kemudian mendorong Annalise. Niat awalnya mungkin ingin membuat wanita itu hanya mundur beberapa langkah saja dan menggertaknya, tapi Juliet justru tidak kuat menahan tubuhnya sendiri dan limbung jatuh ke tanah yang berada di belakangnya.
Jake dan Bennedict mendadak panik, tapi hanya Ben lah yang bergerak untuk membantunya.
Juliet mendongak, menatap marah pada detektif yang kini berdiri dengan tangan saling menyilang. "Apa kau harus melakukan ini kepadaku?"
"Apa kau baik-baik saja, Juliet?"
Baru saja Juliet hendak berdiri, tangannya yang kurus tiba-tiba menyentuh gundukan tanah mencurigakan di bawah kakinya. Ia pun bergeser dan memerhatikan tanah itu sesaat sebelum kemudian menggalinya dengan jari-jarinya sendiri.
"Lihat? Dia dan Dip memang mirip," ejek Jake.
Kedua mata Juliet sontak terbuka dengan antusias saat sebuah buku tergeletak di sana, tidak terlalu dalam di tanah. Ia lantas membersihkan tanah-tanah yang menutupi halaman depannya dan membukanya perlahan. "Disini tertulis bahwa buku ini milik ...," Juliet tiba-tiba terbelalak tak percaya sebelum akhirnya melanjutkan. "Milik Annalise Portman."
(NOVEL INI SEDANG DALAM PROSES REVISI)
Jangan lupa tap love ya semuanya. terima kasih.