THE LOST SISTER
A Mysteri Investigate Novel by :
NUROHIMA
***
"Apa itu artinya ... Annalise sudah dimakan oleh serigala?"
***
Ponsel Bennedict tiba-tiba berdering. Memecah suasana tegang yang muncul akibat asumsi Bennedict mengenai kemungkinan bahwa Annalise bisa saja sudah tewas karena hewan berbulu yang tersembunyi di dalam hutan.
Ia kemudian menekan tombol hijau pada layar dan menerima panggilan. "Dengan Bennedict di sini. Ada yang bisa kubantu?"
" ...,"
Pria itu membulatkan mulutnya, ber-oh-ria. "Baiklah. Aku akan segera kesana."
Dan panggilan yang hanya berlangsung selama beberapa menit itupun dimatikan. Bennedict menyimpan ponselnya, lalu melihat Jake dan Juliet yang kini memandangnya penasaran. Mereka berdua jelas-jelas menunggu pemilik ponsel itu memberi tahu mereka, seberapa pentingkah informasi yang disampaikan oleh penelpon tadi.
"Siapa itu, Ben?" Juliet memulai dengan tak sabar.
"Nyonya Maribeth." Bennedict menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Bis sekolah yang akan menjemput murid-murid sudah datang."
Juliet dan Jake saling bertukar pandang. Seolah lupa bahwa keduanya sedang tidak akrab. Dan tampak jelas di wajah keduanya, bahwa Jake maupun Juliet turut bingung untuk menanggapi kejadian ini. Namun pada akhirnya, Jake lah yang membuka suara, mengambil keputusan. "Mari kita biarkan Rayn dan timnya bekerja lebih dahulu. Kita harus menemui Nyonya Maribeth."
Bennedict menggaruk tengkuk lehernya dengan canggung dan suaranya tiba-tiba terdengar lebih rendah dari sebelumnya. Ia terdengar sedih saat akhirnya mengatakan, "Tapi kita belum menemukan Annalise."
Membuat dua rekannya, Jake dan Juliet ikut prihatin dengan keadaan mereka saat ini. Tidak banyak yang dapat mereka lakukan selain berusaha mencari gadis malang itu dan berharap banyak pada pencarian yang dipimpin oleh Rayn. Hutan mungkin menjadi satu-satunya tempat yang paling berpotensi tinggi untuk menemukan Annalise. Mengingat bahwa jejak terakhir gadis itu mengarah pada pagar pembatas di area kemah yang entah telah dirusak oleh siapa (atau apa).
"Kita tidak bisa memberikan hal yang manis pada orang dewasa. Bukankah manusia dewasa harusnya sudah terbiasa dengan kenyataan yang pahit?" ujar Jake mencoba diplomatis. "Berita ini pasti akan sangat menyakitkan bagi semua orang. Namun, apa kita perlu berbohong dan memberikan mereka harapan kosong? Itu akan lebih menyakiti mereka pada akhirnya, bukan?"
Bennedict menarik tangannya ke atas, mata cokelatnya mengamati jam tangan yang bertengger di pergelangan kirinya sekali lagi. Ia mengembuskan napas berat dan berkata, "Sudah lebih dari 14 jam."
"Waktunya semakin sedikit," tandas Juliet.
Jake mengangguk mengiyakan dan memijit pelipisnya yang mulai terasa pening. "Sudahlah, mari kita temui Nyonya Maribeth dulu. Kita juga tidak bisa menahan anak-anak yang lain dan membuat mereka ketakutan dengan hilangnya teman mereka."
Jake dan Bennedict kemudian berjalan bersama, sama-sama kembali menuju halaman depan demi menemui wanita bertubuh gempal yang merupakan wali kelas sekaligus ketua panitia kegiatan kemah. Secara garis besar, Nyonya Maribeth adalah orang yang paling bertanggung jawab untuk keseluruhan kegiatan kemah tahun ini. Ia bahkan adalah orang yang memesan tempat, mengatur makanan dan lain-lain. Hilangnya Annalise pastilah menjadi beban besar bagi dirinya sendiri.
Namun bersedih bukanlah jalan untuknya. Mengingat bahwa masih ada murid-murid lain yang menunggu Annalise bersamanya. Memulangkan murid yang lain mungkin adalah jalan terbaik dan itu bukan berarti bahwa Nyonya Maribeth meninggalkan Annalise sendirian di hutan.
Jake dan Ben kemudian sampai di meja resepsionis. Ada Nyonya Maribeth dan Lily di sana. Wanita bertubuh tambun itu sudah siap pulang dengan jaket berbulu tebal menyelimuti pakaiannya dan koper kecil berada dalam genggamannya.
"Nyonya Maribeth," sapa Bennedict berbasa-basi.
"Bagaimana? Apakah mereka menemukan sesuatu?" tanya Maribeth penuh harap. Ia bahkan tidak menanggapi obrolan ringan yang hendak dimulai Bennedict dan lebih memilih fokus untuk menanyakan perkembangan pencarian Annalise yang baru saja dilakukan oleh kepolisian. "Bagaimana dengan hutannya? Mereka bisa menemukan Annalise, bukan?"
Jake menghela napas sesaat, lalu menggelengkan kepala. "Sepertinya kita membutuhkan waktu yang lebih lama dari yang kita kira." Ia mencoba berkata jujur kepada wanita paruh baya itu. "Hutan ini tampaknya cukup luas dan ...,"
"Dan apa?"
"Dan sepertinya rumor mengenai hutan yang diisi oleh serigala itu benar adanya, Nyonya," lanjut Jake.
Yang justru membuat kedua wanita di hadapannya berteriak histeris. Maribeth bahkan tak kuasa menahan tangis saat membayangkan kondisi Annalise yang mungkin berada dalam bahaya. Hutan dan serigala, keduanya terdengar mengerikan di telinga wanita bertubuh tambun itu. Ia bahkan langsung jatuh terduduk di kursi yang tepat berada di belakangnya setelah mendengarkan informasi tadi.
Pikiran seperti apa yang harus dikatakannya pada orang tua Annalise nanti telah membayang-bayangi dirinya. Maribeth kemudian mendongak, menatap wajah Jake dengan kedua mata yang basah karena air mata. "Apa yang sebaiknya aku lakukan sekarang, Detektif?"
Jake melihat Maribeth, lalu ke Bennedict dan kembali lagi kepada wanita itu. "Kami akan mengantar kepergian bismu, Nyonya," pungkasnya. Isak tangis Maribeth pecah seketika. Bayangan buruknya setiap kali mengingat bahwa ia akan meninggalkan Annalise di hutan akhirnya terjadi juga. Ia merasa amat sedih karenanya. Namun, dengan semaksimal mungkin, Jake mencoba menjelaskan, "Pencarian baru dilakukan kurang lebih satu jam. Terlalu sebentar untuk sebuah pencarian di dalam hutan yang luas. Kami akan terus mengabarimu terkait perkembangan pencarian Annalise di dalam hutan. Kami pastikan kami melakukannya. Jadi, kau tidak perlu khawatir, Nyonya."
Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Maribeth selain mengangguk pasrah, memberi tanda bahwa ia mengerti dan mencoba patuh pada perkataan detektif itu. Ia pun berdiri dari kursi, dibantu oleh Lily yang setia menemaninya sejak tadi. "Aku sangat berharap kabar baik darimu, Detektif." Maribeth hendak berjalan, meninggalkan area resepsionis. Namun langkahnya terhenti tatkala mengingat sesuatu di sana. "Omong-omong, aku sudah menghubungi orang tua gadis itu."
Jake dan Bennedict saling beradu pandang bingung. "Apakah mereka akan kemari hari ini?" tanya Ben ingin tahu. "Mengingat situasinya cukup mendesak begini."
Sayangnya, Maribeth memberikan jawaban yang tidak diinginkan oleh keduanya. "Kedua orang tua Annalise ternyata sedang pergi keluar kota. Ayahnya dan ibunya sedang melakukan perjalanan bisnis yang berbeda."
Jake menimpali. "Jadi, mereka tidak akan ke sini hari ini?"
"Kurasa besok mereka akan menemuiku di sekolah. Jika kalian tidak keberatan, bisakah kalian berdua juga datang ke sekolah kami untuk memberikan penjelasan yang lebih rinci terkait perkembangan pencarian Annalise?" Maribeth mengusap dadanya dengan perlahan beberapa kali. "Dadaku selalu sesak setiap kali memikirkan gadis itu dalam bahaya. Aku sangat takut sesuatu menimpanya di dalam hutan."
Bennedict kemudian mengambil sikap. Ia menghampiri Maribeth, mengusap punggungnya dengan lembut dan tersenyum lembut, berusaha menenangkan wanita itu. "Sebaiknya kau tidak perlu banyak pikiran. Mari, akan kuantarkan kau ke bismu, Nyonya."
"Astaga, ini benar-benar menyedihkan," gumam Maribeth bersamaan dengan langkahnya meninggalkan area perkemahan Grandville. "Semoga kita bisa menemukan Annalise dalam keadaan selamat."