THE LOST SISTER
A Mysteri Investigate Novel by :
N U R O H I M A
***
"Mereka sengaja menciptakan rumor tentang serigala, tapi sebenarnya ... mereka sedang merencanakan sesuatu. Bukankah kemungkinannya cukup besar?"
***
Jake menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, lalu mengembuskannya perlahan. Ia menurunkan kedua tangannya dari d**a dan mengangkat wajahnya. "Daripada membuat asumsi yang memberatkan satu pihak, sebaiknya kita pergi dan memeriksanya sendiri. Ayo."
Mereka bertiga kemudian mengikuti arahan peta dan berhasil sampai di daerah pembatas dalam waktu kurang dari lima menit saja. Polisi bantuan yang dipimpin oleh Rayn masih menunggu di sana, sembari mencari-cari barang bukti yang mungkin saja tertinggal di sana.
Jake, Ben dan Juliet pun menghampiri mereka. Dan begitu sampai, Rayn segera menjabat tangan Ben. "Sudah lama tidak bertemu denganmu, Detektif Bennedict," sapanya.
"Ah, kau masih saja kaku kepadaku," goda Bennedict, mencoba mencairkan suasana yang menegang di hadapan mereka. "Jadi kau memimpin tim bantuan, bukan?"
Dan Rayn menganggukkan kepalanya sembari tersenyum sopan. "Ya, aku membawa total sepuluh personil dan satu anjing pelacak. Perkenalkan, Dip."
Anjing berwarna kekuningan itupun mengibaskan ekornya sembari berputar-putar di sekeliling Juliet. Dip sepertinya memang pejantan yang normal, ia bahkan tahu dimana letak wanita cantik berada.
Dan melihat peliharaan polisi yang satu itu menyukai Juliet, Jake dengan santainya berkata, "Apakah ini adalah momen untuk saling memperkenalkan hewan peliharaan?" Sehingga semua orang beralih kepadanya. "Kalau begitu, perkenalkan, wanita ini adalah Juliet. Bukankah Dip dan Juliet sangat mirip?"
Tiba-tiba saja Jake tertawa karena ucapannya sendiri. Sementara yang lain merasa tak enak karena kalimat yang terlontar dari mulut detektif muda itu jelas berisikan sindiran untuk Juliet. Ia masih belum berubah ternyata, pikir Juliet. Namun satu-satunya yang keluar dari mulut Juliet adalah, "Aku dan Dip memang sama. Kami hanya bersikap baik pada manusia yang waras." Tangan kurus Juliet mengusap-usap lembut puncak kepala Dip. "Bukankah aku seharusnya menggigit manusia itu, Dip?" Jake mendadak terdiam saat anjing yang berada di bawah asuhan kepolisian resmi itu menggonggong dengan keras, seolah setuju dengan ucapan Juliet. "Ah, tentu. Aku akan menggigitnya di waktu yang tepat. Terima kasih untuk saranmu, Dip. Anjing pintar."
Jake dan Juliet saling melempar pandangan sengit setelahnya. Sepertinya, mereka berdua memang terlahir kembali di dunia ini untuk saling membenci. Entah siapa mereka berdua di kehidupan sebelumnya, yang jelas, Ben hanya semakin merasa tidak enak karena Jake dan Juliet terus bertengkar sejak pertemuan pertama mereka.
Dan untuk menengahi situasi panas di antara mereka semua, yang bahkan Rayn dan timnya tidak terlibat sama sekali, Bennedict pun membuka suara. "Kami baru saja memeriksa kamera pengawas dan menemukan kemungkinan bahwa Annalise memang pergi ke toilet yang ada di sini."
Rayn melihat mereka semua bergantian dan mengangkat tangannya, menunjuk ke sisi barat tempatnya berdiri sekarang sembari menerangkan. "Toilet yang kalian maksud pasti tempat itu."
Mereka bertiga menoleh ke titik yang ditunjuk oleh Rayn. Sebuah toilet yang tampak sudah dipenuhi sarang laba-laba dan lumut di bagian luarnya. Posisi toilet itu berada tepat di atas rerumputan dan sebagian atapnya tampak sudah lapuk, bahkan hampir jatuh. Ketiga mengernyitkan alis bersamaan, lalu saling memandang dengan ekspresi tak habis pikir.
Rayn kemudian bertanya, "Jika Annalise pergi ke toilet itu. Apakah kalian yakin bahwa gadis itu bisa buang air dengan nyaman?"
"Tempat itu tidak terlihat seperti toilet. Itu bahkan lebih seram dari rumah hantu," tandas Bennedict jujur.
"Agak ... menakjubkan saat tahu Annalise memilih toilet seperti itu," timpal Juliet.
"Gadis yang mengerikan."
Dan kalimat yang keluar dari Jake menjadi opini terakhir sebelum akhirnya ketiga orang itu menyimpulkan bahwa Annalise tidak benar-benar menggunakan toilet untuk buang air. Mereka kemudian saling bertukar pandang sebelum kemudian Rayn melanjutkan, "Kalian bisa lihat bahwa pagar pembatas ini ... dirusak oleh seseorang." Pria bertubuh tinggi itu menunjuk pagar pembatas setelah menggunakan sarung tangan lateks. "Namun melihat bentuk sobekan yang tidak rapih, alias tidak terlihat seperti sengaja dipotong, kita tidak bisa mengatakan bahwa benda dari kawat ini dirusak oleh manusia."
Juliet berkerut kening dan berseru dengan panik. "Maksudmu ... Annalise dibawa oleh serigala ke dalam hutan? Apa menurutmu ini masuk akal?"
Namun Rayn menimpali rasa ingin tahu yang memenuhi diri Juliet dengan tenang. "Ini hanya kesimpulanku. Kalian bisa memeriksanya sendiri untuk memastikan," ujarnya. "Aku dan timku akan melanjutkan pencarian ke dalam hutan. Jika ada informasi tambahan, kalian bisa berkomunikasi denganku melalui HT." Mata cokelat Rayn lantas beralih pada Juliet. "Untukmu, kau cukup cantik. Tapi berhati-hatilah dengan mulut kasarmu itu. Kau bisa berada dalam bahaya karenanya."
Melihat Rayn sedang mengkritiknya, Juliet pun mengedikkan kedua bahunya dan menyeringai sinis. "Bahaya adalah nama tengahku. Senang bertemu denganmu."
Rayn pun berbalik, hendak melewati pagar pembatas yang sudah rusak itu sembari berbisik, "Aku suka wanita itu." Dan berjalan masuk ke dalam hutan dengan seluruh personil mengekor di belakangnya.
Setelah memastikan bahwa mereka sudah mulai melakukan penyisiran ke dalam hutan, Jake pun mendekati pagar yang terbuat dari kawat itu. Ia memerhatikan bekas kerusakan yang dibuat oleh seseorang, atau sesuatu itu dengan teliti. "Gunakan sarung tangan lateksmu, Ben. Pastikan kau menemukan sesuatu di sekitar sini." Lalu, netra cokelat terang milik Jake beralih pada Juliet. Tatapannya masih tajam dan sinis. "Kau. Pastikan kau tidak menyentuh apapun di TKP. Sekali saja kau menyentuh benda ini dengan tangan kotormu, aku akan membawamu ke Afrika."
Juliet memutar kedua matanya malas. "Harus berapa kali kukatakan bahwa piranha tidak hidup di Afrika?"
"Masa bodoh dengan itu. Kau cukup diam di sana dan jangan lakukan apapun," perintah Jake.
Pria itu kemudian bergerak ke sisi lain pagar dan memeriksa satu persatu lubang dari pagar berbahan dasar kawat tersebut. Sementara Bennedict merendah dan mencari sesuatu di tanah. Matanya tampak fokus dan kedua tangannya mengangkat satu persatu bebatuan kecil di bawah sana.
Juliet berdiri di posisinya tadi, tanpa melakukan apapun. Ia hanya diam, melihat Jake lalu Ben, kemudian melihat pagar pembatas tadi bergantian. Hanya itu-itu saja yang dilakukannya, mengingat Jake sudah mengancamnya tadi.
Setelah menunggu beberapa saat, barulah Jake menemukan sesuatu. Ia mengangkat sesuatu dari salah satu lubang pagar ke udara dan memberi tahu kedua rekannya. "Bukankah ini adalah bulu hewan?"
Bennedict dan Juliet pun menoleh cepat, kemudian menghampiri detektif muda itu dengan antusias. Mereka berdua memerhatikan bulu yang berada di tangan Jake dan saling bertukar pandang.
"Apakah rumor mengenai serigala itu benar?" tanya Ben.
"Bulu kuning kecokelatan, tipis tapi kasar ... Ini adalah bulu milik serigala merah. Serigala khas Amerika serikat bagian tenggara."
Kalimat yang keluar dari mulut Juliet justru membuat Jake dan Ben bergidik ngeri. "Apa itu artinya Annalise ... sudah dimakan oleh serigala?"