THE LOST SISTER
A Mysteri Investigate Novel by :
N u r o h i m a
***
"Aku pasti sudah gila karena memberikan benda ini untuk wanita gila itu."
***
Jake bergegas kembali ke meja resepsionis dengan dua HT di tangannya dan satu HT yang tersimpan rapi di ikat pinggangnya. Ia memang menggunakan ikat pinggang khusus dimana pada beberapa bagian terdapat tempat untuk menyimpan sesuatu. Contohnya pistol dan HT.
Semua polisi yang terjun langsung ke lapangan memang dipersiapkan untuk segala hal yang mungkin saja bisa membahayakan nyawa mereka. Jake dan Ben tidak terkecuali. Mereka adalah sepasang detektif yang selama dua tahun ini telah menjadi rekan, sama - sama turun langsung menemui saksi dan korban, bahkan turut serta dalam aksi pengejaran pelaku yang mungkin juga memiliki senjata, entah itu senjata tajam atau senjata api.
"Ini untukmu," kata Jake kepada Ben. "Rayn dan tim sudah lebih dahulu masuk ke dalam."
Pria bermata sipit yang sebelumnya duduk bersama dua wanita itu pun segera bangkit dan menyimpan HT di tempat yang sama seperti Jake. Ia menganggukkan kepalanya dengan paham dan menunjuk Juliet dengan hanya mengangkat dagunya saja. "Kami baru saja memeriksa kamera CCTVnya. Mereka memang hanya memiliki satu kamera yang menyala dan itu cukup sulit. Bukan begitu, Juliet?"
Tanpa membalas tatapan Jake ataupun Ben, Juliet menggumam setuju. Matanya fokus menatap layar meski Lily sendiri kini tengah memerhatikan dua detektif yang saling berhadapan dengan meja sebagai penghalang mereka.
Merasa diabaikan, atau entah hanya perasaan Jake saja, detektif dengan kemeja hitam panjangnya itu lantas menyodorkan HT pada Juliet. Membuat wajah wanita muda itu mendongak dan kedua alisnya saling bertaut dalam karena bingung.
"Gunakanlah dalam keadaan darurat. Jangan merengek di sana atau aku sungguh akan menenggelamkanmu di kolam piranha," tukas Jake lugas.
Bukan hanya Juliet, Ben dan Lily tampak saling memandangi mereka berdua dengan ekspresi heran. Pertanyaan seperti mengapa tiba-tiba Jake bersikap baik atau peduli terhadap jurnalis koran yang awalnya sangat tidak disukainya itu, menarik perhatian mereka. Namun pada akhirnya, Ben dan Lily hanya dapat menutup mulut mereka rapat-rapat sembari menunggu reaksi Juliet yang tampaknya akan menunjukkan sesuatu yang berlawanan.
Juliet mendengus geli dan menatap HT di tangan Jake sekali lagi. Ia kemudian bangkit dan merebut benda berwarna hitam dengan lampu merah kecil yang berkedipdi ujungnya itu dengan cepat. "Apakah ini artinya aku harus tidur denganmu malam ini?"
Reaksi yang tidak terduga dari Juliet membuat Jake canggung. Tanpa sadar semburat merah muncul di kedua pipinya untuk beberapa saat. Memang hanya beberapa detik saja, karena pria dengan wajah maskulinnya itu tampak buru-buru menepis ekspresi memalukan itu dengan berseru, "Jaga bicaramu! Aku ini polisi."
Anehnya, sikap ketus yang ditunjukkan Jake justru membuat semua orang di ruangan resepsionis tertawa pelan. Ben bahkan mengatup mulutnya, berusaha dengan susah payah untuk tidak terlibat dalam momen lucu di hadapannya. Ia tahu betul bahwa Jake belum pernah disentuh oleh wanita manapun. Entah karena terlalu pemilih atau memang tidak memiliki waktu untuk mengurus perihal asmaranya, tapi yang jelas, Ben adalah saksi hidup bahwa Juliet adalah orang pertama yang mengajaknya berkencan langsung tanpa basa-basi.
Ben tahu bahwa Jake sekarang menjadi salah tingkah.
Jake bahkan kembali berseru, "Kenapa kalian semua menatapku begitu? Aku tidak tertarik dengan wanita manapun, termasuk wanita tidak tahu aturan ini, aku hanya memberikannya benda itu untuk berjaga-jaga jika serigala datang." Melihat reaksi ketiga orang di hadapannya sama sekali tidak berubah. Ia pun memilih memutar bola matanya yang bulat dan berbalik badan. "Atau sebaiknya, kubiarkan saja wanita itu tewas dimakan hewan buas. Menyebalkan sekali."
Setelah tubuhnya melenggang pergi meninggalkan ruangan meja resepsionis. Ben pun berkata, "Kau sebaiknya ikut kami ke dalam, Juliet. Mungkin kita bisa menemukan sesuatu yang lebih spesifik di dalam hutan."
"Apakah tidak akan berbahaya untuknya, Detektif?" tanya Lily cemas. "Kudengar di dalam hutan memang banyak sekali hewan buasnya."
Namun untuk menjawab rasa khawatir itu, justru Juliet lah yang membuka suara. "Aku pandai bela diri." Lalu wanita bertubuh ramping itu tersenyum kecil sembari menyimpan HT di dalam saku jaket varsitynya. "Dan aku suka memukul serigala. Jadi, jangan khawatirkan itu."
Meski masih merasa takut, tapi Lily akhirnya mengangguk. Ia mengangkat kedua sudut bibirnya ke atas dan berkata, "Anda harus berhati-hati, Nona. Aku sangat menyukai gayamu."
"Tentu, terima kasih." Juliet pun berjalan menghampiri Ben. Namun, sebelum mereka berdua meninggalkan ruangan yang dominan dengan warna putih itu, Juliet berbalik dan menunjuk Lily. "Lily, bisakah kau menyalin rekaman itu ke sebuah diska lepas? Simpan di tempat yang aman dan jangan berikan itu pada siapapun selain kami bertiga."
Lily mengangkat tangannya ke udara. Memberikan tanda OK dengan jari-jarinya yang kurus sembari tersenyum ramah. "Aku akan mengurusnya."
Ben lantas membawa Juliet pergi meninggalkan ruangan resepsionis untuk menyusul Jake yang menunggu mereka di halaman depan. Pria itu tampak mendengarkan suara yang keluar dari benda kecil di tangannya. Wajahnya berekspresi serius, Rayn pasti sedang menyampaikan informasi penting untuknya. Atau kira-kira, begitulah yang dipikirkan Ben saat itu sampai ia sampai di hadapan Jake dan dapat menanyakannya secara langsung tanpa harus memendam rasa penasaran itu sendirian. "Apakah itu Rayn?"
Jake mengangguk. "Mengenai pagar pembatasnya...,"
Ben dan Juliet saling bertukar pandang sebelum mimik di wajah mereka berubah menjadi sedikit tegang dan penasaran. "Ada apa? Apakah mereka sudah menemukan pagar pembatasnya?"
Wajah pria berusia 27 tahun itu tampak tak nyaman saat akhirnya ia menurunkan HT dari udara, menjauhkannya dari telinga dan menjelaskan, "Rayn bilang, pagar pembatasnya dirusak."
"Apa itu manusia atau hewan? Seberapa parah?" cecar Juliet tak sabar.
"Cukup besar. Sepertinya pagar pembatas itu sengaja dirobek atau dibuka." Jake menyimpan HT di ikat pinggangnya dan menyilang kedua tangannya di d**a. Sembari menimbang-nimbang kemungkinan yang ada, Jake pun berkata, "Sepertinya kasus ini akan naik statusnya menjadi kasus penculikan dan kekerasan terhadap anak."
"Tapi apa mungkin? Siapa yang tinggal di dalam hutan dan apa motif orang itu menculik Annalise ke dalam hutan? Mereka bahkan hanya bisa mendapatkan air di satu danau yang entah seberapa jauh dari lokasi mereka? Apa orang itu sedang menjemput maut, hm?!" Juliet bahkan mengatakan semua pertanyaan itu hanya dalam waktu beberapa detik saja. Wanita itu jelas kesal. Kekerasan terhadap anak dan wanita adalah satu dari sekian banyak perbuatan yang dibenci oleh Juliet yang notabenenya memang ingin melindungi kedua aspek tersebut. "Apa mungkin seseorang yang menculik Annalise adalah warga lokal sendiri?"
"Apa maksudmu, Juliet?" tanya Ben.
"Mereka sengaja menciptakan rumor tentang serigala, tapi sebenarnya ... mereka sedang merencanakan sesuatu. Bukankah kemungkinannya cukup besar?"
(CERITA SEDANG DALAM PROSES REVISI).