THE LOST SISTER
A Mysteri Investigate story by :
N u r o h i m a
***
"Ck. Ternyata kau lebih gila daripada aku, Juliet."
***
Jake melangkah meninggalkan ruang resepsionis untuk memeriksa tim bantuan yang baru saja datang. Mata cokelatnya yang bulat menangkap kurang lebih sepuluh personil polisi tambahan turun dari mobil, dua petugas kesehatan dan seekor anjing pelacak.
Pria bertubuh atletis itu lantas menemui salah satu dari mereka dan mengangkat tangannya, membalas hormat yang diberikan oleh polisi tersebut, kemudian menurunkan tangan mereka dan berjabat tangan. "Bagaimana?"
"Inspektur meminta kami menurunkan sepuluh personil, tapi jika darurat, kami diperbolehkah menambah personil tambahan dan beberapa anjing pelacak lagi."
Diketahui bahwa polisi yang kini berhadapan dengan Jake bernama Rayn. Ia yang akan memimpin personil bantuan di bawah penyelidikan Jake yang merupakan detektif dari kasus hilangnya Annalise tersebut. Jake kemudian menganggukkan kepalanya paham dan menyilang kedua tangannya di d**a. "Nama gadis itu adalah Annalise. Murid kelas dua, usia 16 tahun. Wali kelasnya mengatakan bahwa ia menggunakan pita merah di rambutnya," jelasnya.
Dan Rayn memeriksa jam di tangan kirinya. "Waktu?"
"Lebih dari 13 jam." Jake mengedikkan kedua bahunya. "Ia menghilang sejak kemarin sore."
Pria dengan seragam lengkap dan senjata yang tampak disematkan di pinggangnya itupun mengangguk mengerti dan berkata, "Aku akan pergi sekarang. Kita harus bergegas sebelum membiarkan gadis itu kehilangan kesadarannya."
Dan Jake pun mengeluarkan selembar kertas dari saku celananya. Ia menyodorkannya pada Rayn dan menjelaskan. "Ini adalah peta di area kemah yang kudapatkan di meja resepsionis. Jika tidak ada kesalahan, maka Annalise mungkin melewati pagar pembatas di sisi utara area kemah dan memasuki hutan. Di dalam hutan, terdapat sebuah danau yang jaraknya mungkin cukup jauh dari pintu masuk perbatasan, kita hanya bisa berharap agar Annalise menemukan jalan menuju danau itu sebelum mengalami dehidrasi."
"Baik." Rayn menerima kertas warna - warni di tangannya dan mencoba membacanya terlebih dahulu. Ia mengamati setiap titik yang menggunakan warna berbeda sebagai penanda jalan dan sebuah tempat khusus. "Jalan masuk menuju perbatasan berada di dekat toilet. Apakah ini toilet wanita?"
Namun pria berotot itu mengangkat kedua bahunya. "Anggap saja bahwa toilet itu sudah lama tidak digunakan dan Annalise tersesat saat hendak masuk ke sana." Jake kemudian mengeluarkan kantung ziplop berisi sapu tangan berwarna merah dan kembali memberikannya kepada Rayn. "Annalise menghilang, pula dengan barang - barang pribadi. Ia seperti hilang di mangsa peri hutan. Hanya ini yang tersisa. Sapu tangan ini diberikan oleh Louis, teman ... ah, kurasa mereka berkencan. Ya, kurasa Louis adalah kekasih Annalise. Mungkin kau bisa menggunakan itu untuk Dip (nama anjing penjaga yang dibawa oleh Rayn)."
Dan lagi, Rayn mengangguk patuh sembari membuka resleting yang menutupi kantung. "Baiklah." Dan setelah memanggil anjing berjenis German Sheperd itu dengan satu panggilan, Rayn mencoba mengenduskan aroma yang tersisa di sapu tangan merah yang bahkan tidak dikeluarkan dari kantungnya itu. "Temukan dia, Anjing pintar!"
"Aromanya mungkin sedikit berbaur dengan aroma tubuh Louis, tapi bocah itu berkata dia sama sekali belum menggunakannya dan aroma parfum Annalise masih menempel di sana," tambah Jake. "Kau bisa menyimpannya selama proses pencarian berlangsung. Wanginya mungkin memudar jika hutan di balik area kemah ini terlalu luas dan dalam."
Rayn dengan sigap menutup kembali kantung ziplop itu setelah Dip memberikan isyarat bahwa ia sudah cukup menerima dan mengingat aroma yang melekat di sapu tangan merah tersebut. Ia kemudian menyimpan benda yang merupakan peninggalan satu - satunya dari Annalise ke dalam saku jaket kulitnya dan berkata, "Apa ada hal lain yang perlu kami ketahui, Detektif?"
"Penjaga kemah bilang, penduduk lokal seringkali membicarakan rumor mengenai hewan buas di dalam hutan." Jake mengedikkan kedua bahunya ragu. "Kudengar itu adalah serigala, sebaiknya kau dan yang lain tetap waspada. Kalian membawa senjata, bukan?"
"Ya, kami sudah dipersiapkan untuk itu."
Jake hanya bisa mengangguk sembari menatap Rayn beserta timnya yang sudah siap untuk melakukan pencarian dengan takjub. Ia pun menurunkan kedua tangannya dari d**a dan memberi tahu, "Aku akan menyusul kalian sebentar lagi. Kami sedang memeriksa satu - satunya kamera yang ada di area perkemahan ini untuk melihat posisi terakhir Annalise kemarin sore."
Dan kedua alis Rayn pun berkerut dalam. "Maksudmu ... tidak ada kamera lain yang menyala sejak kemarin?"
"Mereka berdalih sedang melakukan pemeliharaan jaringan dan memperbaiki beberapa yang rusak."
Namun tiba - tiba, polisi yang usianya tidak terpaut jauh dari Jake itu pun mendengus geli sembari mengangkat satu alisnya. "Menurutmu kau bisa mempercayai mereka?" Jake mengernyitkan keningnya bingung. "Jangan mudah terlena oleh kata - kata, Jake. Akan lebih mudah menemukan serigala yang bersembunyi di hutan daripada lidah yang menutupi kebohongan."
Detektif muda itu terdiam, mencoba meresapi peringatan bernada sarkastik yang diucapkan oleh Rayn. Mereka memang cukup dekat untuk saling mengingatkan, tapi Jake yakin bahwa Rayn mencoba memberinya peringatan untuk tidak mudah mempercayai orang - orang di area perkemahan dengan maksud lain. Mungkinkah Rayn mengetahui sesuatu atau hanya berasumsi saja?
"Baiklah, aku akan pergi sekarang." Rayn menepuk - nepuk bahu Jake, bersikap santai setelah melewati beberapa obrolan sejak mereka bertemu tadi. "Pastikan kau membawa HT, kita akan berkomunikasi melalui itu agar pembicaraan kita tidak disadap oleh siapapun. Jika radius pencarianku terlalu jauh, aku akan menghubungi ponselmu."
Jake mendengus pendek. "Pastikan kau mendapatkan sinyal yang bagus di dalam hutan sebelum serigala datang. Semoga beruntung, Kawan."
"Ah, tentu. Mari kita temukan Annalise dan selamatkan dia."
Lalu tubuhnya yang berbalut seragam resmi dan jaket kulit berwarna hitam pun berbalik. Dengan menarik Dip yang berjalan setia di sisinya dan sembilan personil lain yang segera mengikuti perintah dari Rayn sebagai pemimpin mereka. Mereka kemudian hilang dari pandangan Jake setelah melewati belokan yang menuju langsung ke arah perbatasan di sisi utara area kemah Grandville, New York.
Dan di saat itulah, Jake baru sadar bahwa ia meninggalkan HT nya di dalam mobil. Sembari menatap ke sekeliling, memastikan tidak ada orang lain selain mereka yang bersangkutan, ia pun berjalan meninggalkan area kemah untuk ke mobilnya di area parkir. Pria bertubuh tinggi itu dengan sigap mengambil benda yang merupakan jalan komunikasi antara dirinya dan Rayn juga Ben kemudian menyimpannya di pinggangnya, dimana ada ikatan khusus di sabuknya saat itu.
Saat hendak menutup mobil, tersisa satu HT di dalam dan entah mengapa, wajah Juliet melintas di kepalanya. Jake tertawa pelan, kenapa juga wanita tidak tahu aturan itu harus repot - repot bergabung, Juliet tidak memerlukan benda itu, batin Jake. Namun sepertinya, refleks tubuh dari pria itu memberikan respon yang lain.
Ia bergerak dengan cepat meraih HT yang tersisa di sana dan berkata, "Aku pasti sudah gila karena memberikan benda ini untuk wanita gila itu."