THE LOST SISTER
A Mysteri Investigate story by :
N u r o h i m a
***
"Kamera pengawas di koridor itu tidak sedang diperbaiki. Itu adalah satu - satunya kamera yang menyala. Kita mungkin bisa menemukan sesuatu jika memeriksa kamera CCTV di koridor itu."
***
Tim bantuan yang terdiri dari sepuluh personil kepolisian kota New York, dua petugas kesehatan yang membawa ambulans dan satu ekor anjing pelacak pun dikerahkan dalam pencarian hilangnya Annalise.
Bersamaan dengan itu, sebuah artikel dengan judul "Mencari Annalise Portman" yang dibuat langsung oleh Juliet pun resmi dirilis ke laman media sosial harian The New York Times.
Mengingat bahwa gadis yang kini duduk di bangku kelas dua di sekolah ternama First High School itu telah menghilang selama lebih dari 13 jam yang lalu dan bisa saja ia sedang dalam bahaya sekarang. Jika Annalise tidak mengonsumsi makanan atau minuman sejak terakhir kali dirinya terakhir terlihat oleh orang lain, gadis itu mungkin sudah mengalami kelelahan dan dehidrasi ringan. Atau yang terparah, Annalise bisa saja pingsan dan tidak mendengar suara sirene serta polisi yang menggaumkan namanya di tengah hutan.
Bennedict duduk di balik meja resepsionis bersama Juliet dan Lily yang sibuk mengutak - ngatik sebuah laptop di hadapan mereka. Ia tampak menggeser kesana kemari kursor tetikus demi bisa mendapatkan rekaman CCTV di hari dan waktu yang sesuai dengan yang ingin mereka periksa. Jake sendiri sibuk mengatur pembagian wilayah bersama personil bantuan dan Maribeth serta yang lainnya sudah kembali ke tempat mereka masing - masing (dengan syarat mereka bersedia kembali jika dibutuhkan keterangan tambahan untuk penyelidikan).
Untuk sementara, fokus akan dialihkan untuk menemukan Annalise terlebih dahulu. Namun di sisi lain, mereka juga akan mengungkap apa yang sebenarnya terjadi dan mungkinkah bahwa insiden ini didalangi oleh pihak yang memang sejak awal menjadikan Annalise sebagai target.
"Aku menemukannya!" seru Lily semangat. Membuat Juliet yang sedang memeriksa ulang artikel di internet dan Ben yang merapikan catatannya pun mendongak antusias. Mereka mendekat ke arah Lily dan mulai memperhatikan rekaman kamera di laptop dengan teliti. "Ini gadis tadi, bukan?"
Lily, sang penjaga meja resepsionis itu menunjuk gadis di dalam laptop. Gadis dengan sepatu merah mudanya yang mencolok adalah Scarlett dan bisa dipastikan bahwa gadis lain yang berjalan di sebelahnya adalah Annalise. "Ini pasti Annalise," kata Juliet. "Rambutnya pirang dan lurus, tingginya sama dengan gadis bernama Scarlett tadi, mungkin sekitar 165cm, pakaian terakhir yang digunakan gaun kasual selutut warna merah. Apakah ini merah batu bata atau merah seperti tomat?"
Bennedict mendelik bingung. "Apakah detil warna pakaian juga berpengaruh?"
Dan Juliet pun membalas pertanyaan tadi dengan satu anggukan penuh keyakinan. "Semakin detil informasi yang kau dapat, akan semakin mudah untuk menemukannya."
Lily yang mendengar opini tersebut pun menambahkan. "Sepertinya dia menggunakan pita berwarna merah juga di rambutnya. Dan ... jepit abu - abu," dengan sedikit tidak percaya diri.
"Itu bukan abu, itu perak," ujar Juliet mengoreksi.
Ketiganya kembali hening dan fokus pada video yang kini menunjukkan bahwa kedua gadis itu sudah selesai dengan percakapan mereka dan berdiri dari kursi kayu yang ada di dekat tenda murid perempuan, dimana posisi mereka sedikit jauh dari kamera yang ada. Mereka kembali terlihat mengobrol selama beberapa sebelum keduanya berjalan menuju ke koridor. Tidak banyak pergerakan yang di dapat saat mereka sampai di tengah - tengah koridor selain keduanya yang mendadak menghentikkan langkah di sana.
"Mereka berpisah di sini," tukas Juliet.
Sementara Scarlett melanjutkan perjalanannya menuju ke ruang makan, Annalise berdiam di sana untuk beberapa saat. Gadis bertubuh kurus itu mengeluarkan ponsel dari saku gaunnya dan tampak seperti sedang mengetik. Ia mengirimkan pesan. "Waktunya cocok dengan waktu penerimaan pesan yang diterima oleh Louis," pungkas Juliet lagi.
Bennedict berdecak kagum. "Kau bahkan melihat waktunya, sementara aku hanya berfokus pada isi pesannya." Ia kemudian mengusap puncak kepala Juliet dan tersenyum bangga. "Gadis pintar."
Namun Juliet justru menepisnya dengan kasar dan mencebik. "Kau memperlakukanku seperti anjing asal kau tahu saja." Dan bergerak menunjuk layar laptop sekali lagi. "Kemana dia pergi? Apakah itu memang arah toilet?"
Lily menggumam. Gadis kurus dengan rambutnya yang digulung ke belakang itu berpikir untuk sejenak. Berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa pernyataan yang akan diucapkan adalah sebuah kebenaran yang nyata. Ia pun mengembuskan napas berat dan menggelengkan kepalanya. "Ini memang arah toilet yang berada di dekat perbatasan area kemah. Tapi...,"
Tanpa sadar Juliet dan Bennedict kompak berseru, "Tapi apa?!"
"Kami sudah menghimbau seluruh tamu untuk tidak menggunakan toilet itu sebelumnya."
Kedua orang di belakangnya itu pun saling bertukar pandang karena kebingungan. Hingga salah satu di antara mereka pun memutuskan untuk bersuara, "Apa maksudmu, Nona?"
Ya. Itu adalah Bennedict dengan segala rasa ingin tahunya. Ia duduk di sisi kanan Lily, sementara Juliet di sisi kiri wanita itu. Jika dilihat - lihat, mereka bahkan seperti sedang melakukan pekerjaan kelompok di sekolah sekarang.
"Toilet yang berada di dekat perbatasan sudah lama tidak digunakan. Bagaimana mungkin, seorang gadis seperti Annalise mendatangi tempat seperti itu?"
Keheningan kembali terjadi. Ketiganya sama - sama tenggelam di dalam pikiran mereka sendiri. Beberapa petunjuk seperti Annalise yang meminta izin ke toilet kepada Scarlett dan pesan yang dikirimkan kepada Louis. Bukankah menandakan dengan jelas bahwa toilet di dekat perbatasan kemah memang merupakan tujuan akhir gadis itu?
"Apa Annalise sedang mencoba menguji nyalinya dengan mendatangi toilet yang sudah tidak terpakai itu?"
Sebuah pikiran gila yang keluar dari mulut Bennedict berhasil mencairkan suasana yang menegangkan di antara mereka. Juliet dengan cepat memukul kepala pria yang usianya terpaut tiga tahun lebih tua daripada Jake dengan sebuah buku yang ada di atas meja dan membuat Lily tertawa. "Aku tahu kau memang gila sejak kita sekolah dulu, tapi aku tidak tahu bahwa kau juga bodoh, Ben."
Sembari mengusap kepalanya yang sedikit sakit akibat pukulan ringan dari Juliet, Ben mencoba membela diri. "Sekarang kalian bayangkan saja, untuk apa gadis seperti Annalise memilih toilet yang jelas - jelas sudah tidak terpakai? Bukankah ini sangat aneh?"
Juliet mengatup kedua bibirnya yang dipoles lipstik berwarna merah muda. Apa yang dikatakan oleh Ben memang ada benarnya. Dan sebuah pikiran gila lain justru muncul di kepalanya sekarang. "Bagaimana ....," Lily dan Bennedict sontak menoleh ke arah Juliet. Menatapnya lurus - lurus karena penasaran dengan apa yang sedang dipikirkan oleh wanita bergaya s*****l itu. "Bagaimana jika bukan toilet itu yang menjadi tujuan utama Annalise pergi."
Bennedict menggumam. "Lalu?"
"Bagaimana jika tujuan awal Annalise pergi melewatkan makan malamnya adalah karena memang Annalise ingin menemukan batasan itu."
Bennedict serta Lily hanya bisa mengerutkan dahi mereka dalam - dalam.
"Annalise tidak pergi untuk toiletnya, tapi pagar pembatasnya. Annalise ingin melewati pagar pembatasnya."
"Ck. Ternyata kau lebih gila daripada aku, Juliet," tandas Bennedict tak percaya.
(CERITA DALAM PROSES REVISI)