Gerimis rinai hujan menyiram bumi, menikmati desau angin membelai dingin wajahnya. Dibalut dengan hangatnya aroma kopi yang diseduh. Namun, tetap saja auranya masih terlihat lusuh. Vey masih terpaku di atas kursinya. Merasakan angin malam yang terasa mengejek wajahnya. Untuk apa menunggu, siapa yang akan hadir menempati kursi kosong dihadapannya?.
Dengan gerakan pelan Vey memundurkan kursinya. Hendak pergi meninggalkan kedai kopi yang kini sudah menjadi tempat favoritnya. Namun, seseorang dari arah belakang memanggil namanya. Vey memajukan dan menduduki kursinya kembali, tanpa menoleh ke arah sumber suara itu. Laki-laki bertubuh jangkung itu mulai menempati kursi kosong dihadapan Vey. Dan mulai mengajak Vey berbicara dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, laki-laki itu sudah