Kepedihan kembali datang, merenggut setitik kebahagiaan yang tersisa. Butiran bening yang baru saja mengkristal kini mulai mengurai kembali, membasahi tanah yang diinjak, menguap bergabung bersama udara yang terasa pengap. Dadanya sesak. Tangis tak membuat hatinya merasa lega. Dunia seakan mati seiring dengan kepergian orang-orang terdekatnya.
“Ya, saatnya kita pulang nak.” seorang lelaki paruh baya menyentuh pundaknya, Yara bergeming.
“Relakan dia, buatlah langkahnya ringan. Seperti kamu merelakan kepergian Mama dan Ren.”
Yara mengembuskan nafasnya berat lalu beranjak.
“Om akan selalu ada buat kamu. Kamu tahu kan dimana dapat menemukan Om?”
Yara mengangguk lemah.
—
Untuk ketiga kalinya Yara merasa tersesat dalam kegelapan. Ia melalui hari-harinya dengan berat. Kedukaan yang dulu pe