Cahaya entah kembali
Kusentuh aksara hidup
Untuk tertatih melangkah
Memangku kertas lusuh.
Memang siapa sempurna
Tapi tinta telah memutih
Tak bisa tetesskan air mata
Meski hati tersakiti
Harapku tenggelam
Didasar mimpi gulita
Tak ada terus mencari
Tanpa lilin membantuku
Warna menatap penuh dusta
Menyeringai
Bersorak bangga
Hanya ibu
Menemaniku dalam suara
Sekedar mengusir sunyi
Untuk menimang mimpi
Sebuah kereta meninggalkan stasiun. Desir angin melantun tasbih menebarkan hawa kedamaian. Disesaki orang-orang yang bercanda ria, saling berbagi senyum dari bibir mereka. Namun, api seakan membakar tubuhku. Gerah. Hatiku dihantui rasa gelisah. Ingin rasanya cepat sampai di rumah, lalu menghempaskan tubuhku ke atas kasur.
Tiba-tiba terdengar suara gesekan dari bawah kereta. k