Setelah kepergian Hana yang tragis, kursi nomor sembilan di balkon Aula Agung sempat dibiarkan kosong selama dua minggu. Kekosongan itu terasa seperti lubang hitam yang siap menelan siapa pun. Namun, di tengah ketakutan yang merayap di koridor Sovereign Citadel, seorang pemuda bernama Marcus justru melihatnya sebagai sebuah peluang.
Marcus bukan lahir dari rahim kekuasaan, namun ia tumbuh besar di lingkungan yang memuja logika. Ayahnya adalah Profesor Julian, seorang pakar sejarah yang integritasnya diakui secara internasional. Marcus tumbuh dengan keyakinan bahwa kebenaran adalah mata uang tertinggi. Dengan IQ yang mencapai angka 160 dan lidah yang tajam, Marcus menduduki peringkat sembilan bukan hanya karena pintar, tapi karena ia ingin membuktikan bahwa sistem Citadel yang korup bisa dikritik dari dalam.
"Ranking bukan berarti kau memiliki hak untuk menindas," ujar Marcus dengan suara lantang dalam diskusi kelas Hukum Internasional di minggu pertamanya. Matanya menatap tajam ke arah Aixa Dalton dan Rue Hiloré. "Kekayaan keluarga kalian tidak membuat pendapat kalian lebih valid daripada hukum yang berlaku."
Di baris belakang, Valerius Vance tidak melepaskan pandangannya dari layar tablet kaca transparannya. Ia tidak marah. Malah, sebuah senyum tipis—hampir tidak terlihat—muncul di sudut bibirnya. Bagi Valerius, Marcus bukan ancaman; Marcus hanyalah sebuah bug menarik yang perlu ia hapus secara sistematis dari sistem operasi Citadel.
"Integritas," gumam Valerius pelan, suaranya seperti desisan kabel listrik. "Mari kita lihat seberapa kuat integritasmu saat seluruh dunia melihatmu sebagai monster."
Penghancuran Marcus dimulai pada hari Selasa malam yang tenang. Saat Marcus sedang belajar di perpustakaan megah yang berbau kertas tua, Valerius duduk di asrama pribadinya yang serba minimalis. Di hadapannya, tiga monitor holografik menampilkan aliran data biner yang bergerak secepat cahaya.
"Infiltrasi selesai," bisik Valerius pada ruangan yang kosong.
Tanpa Marcus sadari, ponsel di sakunya mulai memanas. Valerius tidak hanya mengambil alih akun sosial medianya; ia mulai memanipulasi jati diri digital Marcus. Pukul dua pagi, saat Marcus tertidur lelap, akun-akunnya mulai mengunggah pernyataan-pernyataan kebencian yang sangat radikal. Serangan verbal terhadap kelompok minoritas, pujian terhadap organisasi terlarang, hingga ancaman kekerasan terhadap dekan sekolah—semuanya diposting dengan gaya bahasa yang meniru cara bicara Marcus secara sempurna melalui bantuan kecerdasan buatan.
Esok paginya, Citadel gempar.
Saat Marcus melangkah masuk ke kantin asrama, suasana berubah menjadi dingin. Orang-orang yang biasanya ia sapa kini memalingkan muka dengan tatapan jijik. Beberapa siswa reguler bahkan berbisik sambil menunjuk ponsel mereka.
"Apa yang terjadi?" Marcus bertanya dengan bingung, mencoba mendekati salah satu temannya.
"Jangan dekat-dekat denganku, kau psikopat rasis!" teriak siswa itu, menjauh dengan wajah ketakutan.
Marcus mengeluarkan ponselnya dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Layarnya penuh dengan notifikasi kebencian. Ia melihat postingan atas namanya sendiri—hal-hal mengerikan yang tidak pernah ia bayangkan. "Ini bukan aku! Aku diretas!" teriaknya di tengah kantin yang luas.
Namun, di sudut ruangan, Valerius Vance menyesap kopinya dengan tenang. "Buktikan," ucap Valerius pelan namun terdengar jelas di tengah kerumunan. "Di dunia ini, Marcus, jejak digital adalah kebenaran. Jika sistem mengatakan kau yang menulisnya, maka kau adalah pelakunya."
"Kau yang melakukan ini, kan?!" Marcus menerjang ke arah meja Top 8.
Dante Moretti segera berdiri, menghalangi Marcus dengan tubuhnya yang besar. "Jaga bicaramu, Rakyat Jelata. Valerius bahkan tidak menyentuh ponsel murahmu itu."
Valerius baru saja memulai tahap kedua: The Family Erasure.
Ia tidak hanya menyerang Marcus, ia menyerang sumber kehormatan Marcus: Ayahnya. Melalui backdooryang ia temukan di server universitas tempat Profesor Julian bekerja, Valerius meretas seluruh arsip penelitian sang profesor. Secara perlahan dan sangat teliti, ia menyisipkan paragraf-paragraf hasil plagiarisme dari jurnal-jurnal kuno yang belum pernah didigitalisasi sebelumnya ke dalam tesis-tesis sang profesor.
Hanya dalam hitungan jam, sebuah laporan anonim yang "sangat kredibel" sampai ke meja komite etik universitas. Berita itu meledak secara nasional. Profesor Julian, simbol integritas akademik, dituduh melakukan penipuan intelektual terbesar dalam dekade ini.
Sore itu, Marcus menemukan ayahnya di sambungan telepon, menangis tersedu-sedu. "Marcus... mereka memecat Ayah. Gelar Ayah dicabut. Karir Ayah... semuanya hilang."
Marcus terjatuh ke lantai koridor Citadel yang dingin. Ia merasa seperti sedang tenggelam di daratan. Namun, kengerian itu belum berakhir. Layar-layar digital raksasa di aula utama—yang biasanya menampilkan harga saham—tiba-tiba berubah menjadi warna merah darah.
Sebuah video diputar secara otomatis.
Dalam video itu, terlihat sosok yang sangat mirip dengan Marcus—sebuah deepfake tingkat tinggi—sedang bertransaksi di sudut gelap asrama, menjual bocoran soal ujian tengah semester kepada siswa lain dengan imbalan sejumlah besar uang. Video itu terlihat sangat nyata, lengkap dengan suara Marcus yang serak.
"Itu palsu! Lihat baik-baik, itu editan!" Marcus berteriak histeris di depan kerumunan siswa yang kini menatapnya seperti sampah.
"Sistem keamanan AI kita telah memverifikasi video ini, Marcus," suara dingin Aixa Dalton terdengar dari atas balkon. Ia menatap ke bawah dengan tatapan jijik yang murni. "Kau tidak hanya rasis dan memiliki ayah penipu, tapi kau adalah parasit yang menjual integritas sekolah ini. Kau memalukan Ranking 9."
Valerius kemudian mengaktifkan fase terakhir: The Sensory Overload.
Malam itu, Marcus melarikan diri ke perpustakaan untuk mencari tempat persembunyian, namun Valerius telah menguasai seluruh sistem gedung itu. Saat Marcus masuk, lampu-lampu kristal mulai berkedip dengan frekuensi yang menyakitkan mata. Audio tersembunyi di plafon mulai memutar suara-suara bisikan yang telah dimodifikasi. Suara ayahnya yang menangis, suara teman-temannya yang menghina, dan suara Valerius yang terus menggumamkan: "404... User Not Found... Kau tidak ada... Kau hanya sampah digital..."
Marcus mulai berteriak, menutup telinganya dengan bantal-bantal sofa perpustakaan. Ia berlari ke arah rak-rak buku, namun setiap layar komputer yang ia lewati menampilkan foto wajahnya dengan tulisan besar: DEAD INSIDE.
Puncaknya, Marcus berlari menuju atap perpustakaan dalam keadaan delusi berat. Ia merasa seolah-olah seluruh sistem digital dunia sedang mengejarnya. Di sana, di bawah langit London yang kelabu, ia berdiri di tepi balkon setinggi tiga puluh meter.
Di bawah, di lapangan asrama, Valerius Vance berdiri sendirian. Ia memegang tabletnya, tidak bergerak, tidak memanggil bantuan. Ia hanya menonton.
"Ayo, Marcus," bisik Valerius di bawah sana, meski suaranya secara ajaib terdengar di telinga Marcus melalui smart-watch yang masih ia kenakan. "Hapus dirimu dari sistem ini. Itu satu-satunya cara agar suara-suara itu berhenti."
Marcus tidak melompat, namun jiwanya sudah pecah. Ia ditemukan keesokan paginya meringkuk di pojok atap dalam posisi janin, menggumamkan barisan angka biner tanpa henti di bawah guyuran hujan sisa semalam. Matanya terbuka lebar, namun ia tidak lagi melihat siapa pun. Cahaya di matanya telah padam, digantikan oleh kekosongan yang dingin.
Marcus didiagnosis menderita gangguan psikotik akut akibat tekanan mental yang ekstrem. Pihak yayasan, dengan efisiensi yang menakutkan, mengeluarkan pengumuman resmi di layar-layar koridor bahwa Marcus dikeluarkan karena "perilaku menyimpang dan ketidakstabilan mental yang membahayakan reputasi akademik Citadel".
Seluruh data tentang Marcus di server Citadel dihapus secara permanen dalam hitungan detik. Foto-fotonya, nilai-nilainya yang brilian, hingga catatan kehadirannya menghilang seolah-olah ia hanyalah sebuah kesalahan tik dalam sejarah sekolah. Jika kau mencoba mencari nama "Marcus" di direktori siswa, kau hanya akan menemukan layar putih kosong.
Saat ambulans membawa Marcus pergi tanpa ada satu pun teman yang melambai, Valerius berdiri di balkon emas, memperhatikan dari jauh dengan wajah tanpa ekspresi. Ia membuka folder di tabletnya, mengklik kanan pada profil Marcus yang terakhir, dan memilih opsi: [DELETE PERMANENTLY].
"Dua kursi kosong," ujar Aixa yang muncul di samping Valerius, sambil memutar-mutar gelas sampanyenya yang berkilau di bawah sinar lampu aula. "Sangat efisien, Valerius. Kau membuatnya menghancurkan dirinya sendiri tanpa kita perlu mengotori tangan."
Valerius hanya menyesap kopinya yang sudah dingin, matanya tetap menatap gerbang yang tertutup setelah ambulans itu lewat. "Ini bukan tentang efisiensi, Aixa. Ini tentang estetika. Sampah harus dibuang ke tempat yang tidak terlihat oleh mata."
Mereka berdua berbalik, meninggalkan balkon dengan langkah yang angkuh, masuk kembali ke dalam kehangatan asrama elit yang berbau kemewahan. Di bawah sana, para siswa reguler berjalan dengan kepala menunduk, bibir mereka terkunci rapat oleh ketakutan. Mereka kini tahu satu kebenaran mutlak di benteng ini: menentang Top 8 bukan berarti kau akan dipukul, tapi berarti kau akan dihapus dari muka bumi seolah kau tidak pernah dilahirkan.
Kursi nomor sembilan kembali kosong, memancarkan kegelapan yang kini dua kali lebih pekat. Aula besar itu mendadak sunyi, hanya menyisakan suara mesin server yang berdengung pelan, seolah sedang menelan sisa-sisa keberadaan Marcus yang masih tertinggal di udara.
Tidak ada pahlawan. Tidak ada harapan. Yang ada hanyalah hukum Sovereign yang tak tersentuh.
Bersambung…