Kepergian Marcus meninggalkan trauma digital yang membekas di koridor-koridor Sovereign Citadel. Namun, di tempat di mana uang bisa membeli ingatan, ketakutan itu perlahan terkubur oleh hiruk-pikuk persiapan ujian dan aroma parfum musiman yang baru saja tiba dari Grasse. Di tengah kekosongan posisi Ranking 9 yang dianggap "berdarah" itu, muncul seorang gadis bernama Elena.
Jika Hana adalah kecerdasan murni dan Marcus adalah vokal perlawanan, maka Elena adalah Kesempurnaan Moral. Ia adalah putri tunggal dari Sir Arthur, seorang diplomat veteran PBB yang telah mendamaikan dua negara konflik. Elena tumbuh di kedutaan-kedutaan besar di seluruh dunia, belajar bahwa keanggunan adalah perisai dan integritas adalah pedang. Ia tidak masuk ke posisi Ranking 9 untuk menantang Top 8; ia masuk karena ia percaya bahwa kasta tertinggi adalah tempat bagi mereka yang mampu memberikan contoh kepemimpinan yang beradab.
Itu adalah delusi yang sangat indah, sampai Dante Moretti memutuskan untuk mengotorinya.
"Dia terlalu putih," ujar Dante suatu sore, sambil bersandar di kap mobil Ferrari Daytona SP3 miliknya yang berwarna merah darah. Ia memutar-mutar kunci perak di jarinya, matanya yang tajam menatap Elena yang sedang memimpin rapat OSIS di taman mawar kampus. "Gadis seperti itu... aku penasaran bagaimana suaranya saat dia memohon ampun di tengah lumpur yang aku ciptakan."
Dante Moretti tidak memiliki kesabaran seperti Valerius atau kecerdasan taktis seperti Sloane. Ia adalah predator fisik yang menyukai kehancuran yang terlihat jelas. Baginya, menghancurkan Elena bukan tentang uang atau data, tapi tentang Reputasi.
Penghancuran Elena dimulai dengan sebuah undangan fisik yang dikirimkan melalui kurir pribadi. The Night of Gold, pesta tahunan paling eksklusif yang diadakan di Penthouse asrama Top 8. Biasanya, Ranking 9 dilarang hadir kecuali mereka memiliki "restu" khusus. Namun, kali ini, Dante sendiri yang menyerahkan undangan bertahtakan emas itu saat mereka berpapasan di koridor atletik.
"Ini adalah tradisi, Elena," ujar Dante. Senyumnya tampak begitu tulus, memperlihatkan deretan gigi putih yang rapi, namun matanya tetap sedingin es. "Sebagai Ranking 9, kau adalah bagian dari kami. Jangan biarkan insiden Marcus membuatmu mengisolasi diri. Kami ingin menyambutmu secara resmi."
Elena, yang dididik untuk selalu mengedepankan diplomasi, melihat ini sebagai kesempatan untuk meredam ketegangan antara Top 8 dan siswa reguler. Ia mengira ia bisa menjadi jembatan perdamaian. Ia tidak menyadari bahwa ia baru saja menerima tiket menuju eksekusinya sendiri.
Malam pesta itu tiba dengan kemegahan yang memabukkan. Penthouse Top 8 diubah menjadi aula pesta bertema Versailles. Pancuran air mancur di tengah ruangan tidak menyemburkan air, melainkan Dom Pérignon yang berkilau di bawah lampu kristal. Musik klasik dimainkan oleh ansambel string quartet di sudut ruangan, sementara para pewaris tahta dunia berdansa dengan gaun dan jas yang harganya setara dengan rumah mewah.
Elena datang dengan gaun sutra berwarna putih gading, tanpa perhiasan berlebihan—hanya seuntai kalung mutiara warisan ibunya. Ia tampak seperti malaikat yang tersesat di tengah lautan iblis berjas mewah. Dante menyambutnya di pintu masuk, membungkuk hormat layaknya seorang ksatria.
"Kau tampak... sangat murni malam ini, Elena," bisik Dante. Suaranya rendah, hampir seperti geraman harimau. Ia memberikan segelas minuman berwarna merah muda pucat di gelas kristal Baccarat. "Ini adalah mocktail khusus dari saripati bunga mawar. Tanpa alkohol, sesuai dengan reputasimu yang bersih."
Elena tersenyum, merasa dihargai. Ia menyesap minuman itu. Rasanya manis, sedikit pahit di ujung lidah—yang ia kira adalah efek dari kelopak mawar. Ia tidak tahu bahwa di dalam gelas itu, Sloane Rothschild telah meneteskan Liquid Bliss, sebuah zat sintetis ilegal yang tidak berbau namun memiliki efek halusinasi kuat yang melumpuhkan sistem saraf motorik.
Hanya butuh waktu lima belas menit sebelum dunia di mata Elena mulai berputar. Lampu kristal di langit-langit seolah mencair dan menetes ke arahnya. Jantungnya berdegup tidak beraturan, dan rasa panas yang asing menjalar di seluruh tubuhnya, membuatnya merasa melayang namun sekaligus tak berdaya.
"Dante... aku merasa tidak enak badan," gumam Elena, tangannya meraba udara, mencoba mencari pegangan.
"Tentu saja, Malaikatku. Mari kita cari ruangan yang lebih tenang," ujar Dante. Ia merangkul pinggang Elena, menuntunnya melewati kerumunan siswa yang mulai tertawa dan berbisik.
Dante membimbingnya ke sebuah ruangan privat yang kedap suara di lantai dua. Di situlah perangkap itu tertutup. Di dalam ruangan itu, aroma kemenyan dan zat kimia menyengat hidung. Dante meletakkan Elena di atas sofa beludru merah. Ia tidak menyentuh Elena secara fisik; ia jauh lebih licik dari itu.
Beberapa orang asing yang bukan siswa Citadel—orang-orang bayaran dari jalanan London yang tampak kumal namun telah didandani—masuk ke ruangan itu. Mereka diperintahkan untuk duduk di sekitar Elena yang setengah sadar. Dante kemudian menaburkan bubuk putih dan meletakkan beberapa botol zat terlarang yang sangat ilegal di atas meja kaca di depan Elena.
"Valerius, sekarang," perintah Dante melalui alat komunikasi kecil di telinganya.
Seketika, sistem keamanan di area tersebut mati secara singkat. Valerius Vance menghapus rekaman CCTV selama sepuluh menit ke depan. Di dalam ruangan, seorang fotografer profesional bayaran mengambil puluhan foto dari berbagai sudut. Foto-foto itu memperlihatkan Elena dalam kondisi yang tampak seperti seorang "Drug Queen" yang sedang berpesta liar dengan orang-orang kelas bawah di tengah tumpukan narkotika. Elena terlihat tertawa kosong, matanya sayu, benar-benar tampak seperti seorang pecandu berat.
Esok paginya, Citadel tidak terbangun oleh suara bel kelas, melainkan oleh getaran serentak di ponsel setiap siswa.
Seluruh dinding digital di Aula Agung, asrama, hingga kafetaria menampilkan foto-foto tersebut. Judul beritanya menghancurkan: "THE FALLEN ANGEL: SKANDAL NARKOBA RANKING 9."
Elena terbangun di asramanya dengan kepala yang terasa seperti dihantam palu godam. Ia bahkan belum sempat mencerna apa yang terjadi ketika pintu kamarnya didobrak oleh tim keamanan yayasan. Di belakang mereka, berdiri Aixa Dalton dan Isolde von Bismarck dengan wajah yang menunjukkan rasa jijik yang dibuat-buat.
"Geledah semuanya," perintah Isolde dingin.
Hanya butuh beberapa detik bagi mereka untuk menemukan bungkusan plastik berisi zat terlarang di bawah kasur Elena. Elena menjerit, ia mencoba menjelaskan bahwa ia tidak pernah membawa barang itu, namun suaranya tenggelam oleh kilatan kamera keamanan yang memproses bukti fisik.
"Aku tidak tahu itu apa! Dante... Dante yang memberiku minum semalam!" teriak Elena, air mata membasahi wajahnya yang kini tampak kuyu.
"Dante?" Aixa tertawa, sebuah tawa yang terdengar sangat anggun namun mematikan. "Dante sedang bersama kami di aula utama saat pesta berlangsung, Elena. Ada ratusan saksi. Jangan mencoba menyeret orang lain ke dalam lubang yang kau gali sendiri."
Berita itu menyebar lebih cepat dari api di hutan kering. Sir Arthur, ayah Elena, yang sedang memimpin negosiasi perdamaian di Jenewa, langsung dipanggil pulang secara darurat. Skandal itu menjadi santapan media internasional. Seorang putri diplomat veteran tertangkap sebagai pengguna narkotika berat di sekolah paling elit di dunia. Karir Sir Arthur yang dibangun selama tiga puluh tahun hancur dalam hitungan jam. Negosiasi perdamaian yang ia pimpin gagal karena kredibilitasnya sebagai pemimpin moral habis tak bersisa.
Sore itu, di Aula Agung yang dipenuhi oleh ribuan siswa yang menatapnya dengan pandangan hina, Elena berdiri sendirian. Dante Moretti melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Elena. Ia membungkuk sedikit, membisikkan kata-kata yang hanya bisa didengar oleh gadis itu.
"Kau tahu, Elena? Murni itu membosankan. Aku lebih suka melihatmu seperti ini—hancur, kotor, dan tidak berarti."
"Kau iblis..." bisik Elena dengan suara yang hancur.
"Mungkin," Dante menyeringai, menatap ke arah kerumunan siswa yang kini menyoraki Elena. "Tapi aku adalah iblis yang memiliki Ranking. Sedangkan kau? Kau hanyalah sebuah skandal yang harus dibersihkan."
Elena dikeluarkan secara tidak hormat saat itu juga. Ia tidak diberikan kesempatan untuk tes darah ulang atau pembelaan hukum, karena yayasan Sovereign tidak ingin skandal ini mencoreng nama baik institusi lebih lama lagi. Sir Arthur menjemputnya dengan mobil pribadi yang seluruh kacanya ditutup rapat untuk menghindari kerumunan wartawan yang haus akan berita di luar gerbang.
Elena tidak pernah lagi terlihat di London. Rumor yang beredar di asrama mengatakan bahwa ia dikirim ke fasilitas rehabilitasi mental yang sangat ketat di pegunungan Swiss, terkunci dari dunia luar selamanya. Reputasinya sebagai "Gadis Sempurna" telah terkubur di bawah lumpur yang diciptakan Dante Moretti dengan bantuan taktik Sloane dan Valerius.
Di balkon emas, Top 8 kembali berkumpul. Kali ini mereka tidak minum teh, melainkan Champagne Crystal. Aixa menatap kursi nomor sembilan yang kini kembali kosong untuk ketiga kalinya.
"Tiga kursi," gumam Aixa sambil membelai emblem emas di jasnya. "Citadel mulai terasa kembali ke tatanan yang seharusnya."
Dante menyesap minumannya, matanya menatap tajam ke arah gerbang yang baru saja tertutup rapat. "Dia memang cantik saat menangis. Tapi kecantikan tanpa kekuasaan untuk melindungi diri sendiri hanyalah sebuah tragedi yang menunggu untuk terjadi. Siapa yang akan menjadi martir berikutnya?"
Malam itu, Citadel kembali merayakan kesunyiannya yang mewah. Tiga nyawa telah tumbang dengan cara yang berbeda: kemiskinan, kegilaan, dan aib. Mereka merasa tidak terkalahkan. Mereka merasa bahwa mereka adalah tuhan di benteng ini.
Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa di balik keheningan itu, kursi nomor sembilan sedang menunggu penghuni keempatnya—seorang pemuda yang tidak akan bisa mereka hancurkan hanya dengan uang atau skandal. Seorang pemuda yang akan membawa mereka masuk ke dalam labirin emosi yang paling gelap, karena dia adalah satu-satunya orang yang paling dicintai oleh seseorang yang sedang memperhatikan mereka dari balik bayangan di Asia.
Bersambung…