Musim dingin di London kali ini datang dengan kemarahan yang luar biasa, membawa badai salju yang membungkus menara-menara gotik Sovereign Citadel dalam selimut putih yang dingin dan mati. Di dalam aula-aula yang dipanaskan oleh sistem termal tercanggih, suasana tetap terasa membeku. Setelah kehancuran Elena yang memalukan, kursi nomor sembilan kembali terisi. Kali ini oleh seorang pemuda yang membawa aura yang sangat asing di tempat yang penuh keangkuhan ini: Ketulusan.
Kenjiro Sato tiba di gerbang Citadel pada suatu pagi yang berkabut. Ia tidak datang dengan jet pribadi atau iring-iringan mobil mewah. Ia datang dengan taksi bandara sederhana, membawa koper tua yang permukaannya sudah lecet. Kenjiro adalah putra dari seorang pengusaha bengkel kecil di pinggiran Kyoto. Ayahnya adalah pria sederhana yang menghabiskan hidupnya dengan tangan berlumur oli agar Kenjiro bisa membeli buku-buku matematika yang ia cintai.
Bagi Kenjiro, beasiswa dari Sovereign Foundation bukan sekadar tiket menuju kesuksesan; itu adalah keajaiban yang ia syukuri setiap hari. Ia memiliki kemampuan otak yang melampaui logika manusia biasa—ia mampu melihat rasi bintang dalam barisan angka dan mendengar simfoni dalam persamaan kalkulus yang paling rumit sekalipun.
"Selamat pagi," ucap Kenjiro dengan senyum membungkuk hormat kepada petugas keamanan gerbang yang bahkan tidak sudi menatapnya. Ia memberikan sebungkus kecil manisan tradisional Jepang sebagai tanda perkenalan—sebuah tindakan "manusiawi" yang langsung menjadi bahan tertawaan di grup pesan singkat para elit sekolah.
Di balkon emas yang menghadap ke halaman utama, Bianca de Medici mengamati pemandangan itu melalui teropong taktisnya. Bianca, sang "Diplomat Ular", adalah ahli dalam membedah jiwa manusia. Baginya, melihat Kenjiro yang penuh harapan adalah sebuah gangguan estetika.
"Dia terlalu... bercahaya," bisik Bianca sambil menyesap wine putihnya. "Seseorang harus memadamkan lampu itu sebelum ia membuat mata kita sakit."
Penghancuran Kenjiro dimulai secara sangat halus. Selama bulan pertama, Kenjiro menjadi bintang baru di kelas-kelas teori kuantum. Ia memecahkan soal-soal yang bahkan membuat para profesor berkeringat. Namun, semakin ia bersinar, semakin dalam jaring laba-laba yang dirajut oleh Bianca di sekelilingnya.
Bianca mulai mendekati Kenjiro di perpustakaan pada jam-jam sepi. Ia berpura-pura menjadi satu-satunya anggota Top 8 yang memiliki nurani. Ia akan membawakan Kenjiro kopi hangat setiap malam, duduk di sampingnya, dan mendengarkan cerita Kenjiro tentang ayahnya di Kyoto yang sedang berjuang mempertahankan bengkel kecil mereka.
"Kau sangat luar biasa, Kenjiro," ujar Bianca dengan nada suara yang begitu lembut, hampir seperti nyanyian pengantar tidur. "Tapi kau harus hati-hati. Di sini, orang-orang tidak suka melihat seseorang melampaui mereka. Kau butuh perlindungan, dan aku bisa menjadi temanmu."
Kenjiro, yang tidak pernah mengenal pengkhianatan, mempercayai Bianca sepenuhnya. Ia menganggap Bianca sebagai malaikat penjaganya. Ia tidak tahu bahwa setiap malam, Bianca secara sistematis menyisipkan zat scopolamine dosis rendah ke dalam kopinya—sebuah zat yang secara perlahan mengikis kemauan diri dan membuat seseorang terjebak dalam kondisi antara sadar dan tidak, sebuah celah di mana halusinasi bisa ditanamkan.
Memasuki bulan kedua, teror psikologis dimulai. Valerius Vance mulai memanipulasi setiap perangkat digital yang digunakan Kenjiro. Saat Kenjiro mengerjakan persamaan matematika di layar monitor raksasa Hall "The Grid", angka-angka itu mulai bergeser dengan sendirinya. Sebuah angka 8 berubah menjadi 0, sebuah tanda tambah menjadi kurang.
"Kenjiro, kau yakin dengan jawabanmu?" bisik Bianca yang selalu ada di sampingnya. "Aku melihatmu menulis angka yang salah sejak tadi. Apakah kau... mulai kehilangan konsentrasi?"
Kenjiro mulai meragukan otaknya sendiri. Ia sering terbangun di tengah malam dengan perasaan diawasi. Suara-suara bisikan mulai menggema di koridor asramanya—suara yang dimodifikasi oleh sistem audio Valerius—yang menirukan suara ayahnya yang sedang menangis, mengutuk Kenjiro karena meninggalkannya sendirian di Jepang demi kemewahan yang palsu.
Puncaknya terjadi pada malam paling dingin di bulan Desember, saat Citadel mengadakan Winter Gala. Bianca menjebak Kenjiro ke dalam ruang simulasi "The Vault". Dinding-dinding ruangan itu adalah layar LED 360 derajat yang mampu menciptakan realitas virtual yang sangat nyata.
Di sana, Bianca memutar sebuah berita palsu yang telah diedit dengan sangat rapi. Berita itu menampilkan gambar bengkel ayah Kenjiro yang hangus terbakar. Seorang narator berita melaporkan bahwa ayah Kenjiro telah melakukan bunuh diri di dalam bengkel tersebut karena terlilit hutang yang dikirimkan secara anonim oleh "pihak yang merasa terhina oleh keberadaan putranya di London".
"Ayah... tidak... Ayah!" Kenjiro meraung, ia menghantamkan tubuhnya ke dinding layar yang dingin. Air matanya membeku di pipinya yang pucat.
"Lihat apa yang telah kau lakukan, Kenjiro," suara Bianca bergema di seluruh ruangan, terdengar seperti tuhan yang sedang menghakimi. "Kecerdasanmu adalah kutukan bagi keluargamu. Kau seharusnya tetap menjadi anak montir, bukan berpura-pura menjadi pangeran di sini."
Kenjiro kehilangan kewarasannya saat itu juga. Di bawah pengaruh zat kimia yang terus diberikan Bianca dan manipulasi mental yang biadab, ia mulai melihat angka-angka biner mengalir keluar dari kulit tangannya seperti darah hitam. Ia merasa dunianya sedang runtuh, dan satu-satunya cara untuk menghentikannya adalah dengan menyelesaikan "Persamaan Kematian" yang ia lihat di pikirannya.
Ia berlari keluar dari "The Vault", menembus badai salju tanpa mengenakan mantel, hanya dengan kemeja tipis yang basah. Ia berlari menuju Hall "The Grid", tempat di mana ia biasanya merasa paling berkuasa.
Dengan tangan yang gemetar hebat dan napas yang sesak, Kenjiro memecahkan vas bunga kristal besar di sudut aula. Ia mengambil potongan kaca yang paling tajam. Ia tidak mencoba menyerang orang lain; ia mulai menuliskan rumus-rumus di atas lantai marmer hitam yang dingin menggunakan darah dari pergelangan tangannya sendiri yang ia lukai berkali-kali.
Ia menulis dengan liar, menggumamkan doa-doa dalam bahasa Jepang yang terbata-bata. Darah merah segar merembes ke pori-pori marmer yang mahal, membentuk barisan angka-angka yang menceritakan penderitaannya.
Keesokan paginya, pemandangan di Hall "The Grid" akan menghantui setiap siswa reguler selama sisa hidup mereka. Kenjiro Sato ditemukan terbujur kaku di tengah aula, tepat di pusat lingkaran emas Sovereign Foundation. Tubuhnya membeku dalam posisi meringkuk, matanya yang besar menatap kosong ke langit-langit aula yang megah, seolah mencari jawaban yang tidak pernah ia temukan. Tangannya masih menggenggam pecahan kaca, dan di lantai sekelilingnya, terukir persamaan matematika paling menyedihkan yang pernah ada: sebuah rumus yang hasilnya selalu Nol.
Kenjiro meninggal dunia karena hipotermia dan pendarahan hebat di tengah kemewahan yang menolaknya.
Pihak yayasan bergerak dengan kecepatan yang mengerikan untuk menutupi tragedi itu. Dalam tiga jam, lantai Hall "The Grid" sudah bersih mengkilap seolah-olah tidak pernah ada setetes darah pun di sana. Jenazah Kenjiro dikirim kembali ke Kyoto dengan peti mati yang disegel, disertai surat pernyataan bahwa ia meninggal karena "insiden kesehatan mental yang mendadak".
Di balkon emas, Top 8 berkumpul untuk sarapan. Bianca de Medici tampak sangat tenang, ia bahkan tidak sedikit pun terlihat terganggu saat memotong steak wagyu miliknya.
"Empat kursi kosong," ujar Aixa Dalton sambil menatap ke arah aula yang sudah bersih di bawah sana. "Permainan ini mulai melelahkan. Bisakah kita pastikan kursi nomor sembilan tetap kosong untuk selamanya?"
"Kenjiro adalah contoh sempurna," sahut Bianca dingin. "Otak hebat tidak ada gunanya jika kau tidak memiliki tulang punggung untuk menahan beban dunia kita. Dia hanyalah sebuah statistik yang sudah dihapus."
Mereka semua tertawa, sebuah tawa yang terdengar sangat merdu namun kosong. Mereka merasa telah menang mutlak. Mereka merasa telah membuktikan bahwa tidak ada rakyat jelata yang bisa bertahan di benteng mereka.
Namun, di keheningan London yang tertutup salju, sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar statistik sedang bergerak. Kematian Kenjiro bukan hanya sebuah akhir; itu adalah pemicu bagi sebuah kehancuran yang tidak akan bisa dibersihkan oleh robot pembersih mana pun. Kursi nomor sembilan mungkin kosong hari ini, namun kegelapan yang ditinggalkan Kenjiro sedang menunggu penghuni terakhirnya—seorang martir yang akan membuat Top 8 merindukan kematian yang dialami Kenjiro.
Bersambung…