Hari ini tepat hari jumat. Abigail turun dari mobil Range Rover milik Maxwell lalu mengikutinya dari belakang menuju pesawat pribadi milik keluarga Wilmer berwarna hitam bercampur putih. Di bagian sisi sayap kiri pesawatnya bertuliskan; Wilmer24.
Kemarin Maxwell memintanya ikut dalam acara liburan. Dia tidak bisa menolak mengingat Maxwell sangat pemaksa. Tidak menerima penolakan lebih tepatnya. Semua barang yang dia bawa sudah berada di tangan pesuruh Maxwell. Jadinya dia hanya tinggal membawa diri. Katanya mereka akan pergi ke Santorini, kota yang menyuguhkan banyak hal romantis di sana.
Setibanya di dalam pesawat, Abigail terbelalak kaget. Dia menatap Maxwell dengan mata yang melebar sempurna. Maxwell sendiri menarik senyum ketika Abigail menatapnya dengan tatapan tidak menyangka. Siapa yang akan mengira keempat CEO tampan ikut dalam acara liburan yang Maxwell maksud?! Dia perempuan sendiri?
“Sepertinya kau tidak bisa hidup tanpa sekretarismu, Max. Saat kita akan pergi liburan, kau tetap mengajaknya,” celetuk Greg meledek.
“Maxwell mencintai sekretarisnya, Greg. Maka dari itu dia mengajaknya bersama kita.” Ryvero menimpali.
Maxwell tertawa santai menanggapi semua celetukan yang terlontar dari kedua rekannya. Tanpa membalas, dia duduk di samping Steve yang sibuk membaca buku.
“Abigail, duduklah sesuai keinginanmu. Di sampingku juga tidak masalah,” kata Maxwell dengan senyumnya.
Melihat senyum Maxwell rasanya Abigail sudah tidak bisa mempercayai bosnya lagi. Dia tidak mendapat kabar apa pun perihal keempat orang yang ikut serta dalam liburan mereka. Beberapa menit berikutnya Abigail mengingat sesuatu mengenai jadwal cuti bosnya selama tiga hari ke depan dan mengatakan akan berlibur bersama keempat CEO lainnya. Mengapa dia melupakan hal itu? Dan kenapa dia harus setuju ikut? Kalau begini dia memilih setengah gajinya hilang seperti ancaman Maxwell kemarin!
Abigail melihat sebentar seisi pesawat. Ryvero duduk bersampingan dengan Greg di seberang sana, sementara Steve dan Maxwell pada sisi bagian kanan. Sementara sisi kirinya ada Troy duduk di bangku seorang diri dan ada bangku kosong tepat di depan Troy. Mau tidak mau Abigail duduk di depan lelaki dingin itu.
Dia melihat Troy sedang melihat pemandangan di luar jendela lalu Abigail melihat ke samping kirinya, menyadari keempat lelaki sedang berbincang. Tidak ada yang bisa Abigail lakukan selain memejamkan mata sambil meremas bagian bawah dress-nya karena kesal. Dia mendoakan banyak kata 'semoga' supaya selama liburan hatinya kuat. Iya—karena dari yang dia ketahui Steve pasti akan mencari mangsa dan b******u di depan matanya.
Ya Tuhan... tolong jangan biarkan hatiku semakin mengikis jika nanti melihat Steve bersama yang lain. Tolong kuatkan aku. batin Abigail penuh harap.
Dalam doanya, dia tidak sengaja melihat Troy yang juga melihatnya. Iris abu-abu yang menggoda itu seolah menghipnotis sehingga dia tidak kuasa untuk terus memandanginya. Abigail segera mengalihkan pandangannya lalu tanpa sengaja menyadari tatapan Steve yang kebetulan terarah padanya. Lagi dan lagi, Abigail tak kuasa menahan debar jantungnya. Dia buru-buru mengalihkan pandangan supaya Steve tidak tahu betapa gugupnya dia sekarang.
“Abigail kalau kau ingin tidur, kau bisa menetap di kamar yang tersedia. Buatlah dirimu nyaman,” ucap Maxwell tiba-tiba.
Abigail tersentak dan segera menyahuti. “Ah, iya, Mr. Wilmer.”
Dari jauh, Ryvero berbisik pada Greg. Entah apa yang mereka bicarakan tapi Abigail dapat melihatnya karena mereka berdua sedang menatapnya.
“Di antara kami semua siapa yang menurutmu paling tampan, Abigail?” tanya Ryvero tiba-tiba.
Detik itu pula, Abigail mulai mengerti maksud bisik-bisik yang Greg dan Ryvero lakukan. Ternyata ingin bertanya soal ketampanan mereka.
“Uhm... Mr. Wilmer yang tertampan di sini,” jawab Abigail pelan. Padahal hatinya ingin menyebutkan nama Steve namun tidak mungkin. Bisa ketahuan jika dirinya memendam rasa untuk rekan bosnya.
“Bukannya Steve yang paling tampan?” celetuk Greg.
Abigail mati kutu. Mengapa Greg mendadak mempertanyakan hal itu? Apakah begitu jelas jika dirinya menyukai Steve? Akan tetapi dia tidak pernah menunjukkannya pada siapa pun. Lantas mengapa Greg berkata demikian? Rasanya dia ingin menghilang sekarang juga!
Berusaha tenang, Abigail akhirnya menjawab, “Tidak, Mr. Wilmer yang paling tampan.”
Greg berdecak. "Padahal aku pikir kau akan menjawab Steve karena beberapa perempuan menyatakan bahwa Steve yang tertampan di antara kami berlima."
Abigail sedikit lega. Ternyata Greg bertanya karena ada alasan lain. Jantungnya hampir saja lepas dari tempatnya kalau Greg memang benar-benar mengetahui dirinya menyukai Steve.
“Padahal yang paling tampan adalah Troy. Mata abu-abu uniknya itu dapat memikat perempuan mana pun termasuk mantannya Steve.” Ryvero membeberkan.
Steve menutup bukunya kemudian menoleh ke samping melihat Ryvero. Sedangkan Troy tidak bergeming dari tempatnya yang masih sibuk memandangi pemandangan di luar sana.
“Berhenti membicarakan hal yang tidak penting,” tegur Steve dingin.
Ryvero mengangkat kedua tangannya sambil berkata, “Baiklah. Aku akan diam.”
Abigail jadi penasaran. Maksud mantan Steve yang terpikat oleh Troy, perempuan yang mana? Sepertinya apa yang Ryvero beberkan belum lengkap.
♥ ♥ ♥
Santorini, Greece
Abigail berdecak kagum memandangi keindahan kota Santorini dengan bangunan serba putih yang menyuguhkan sejuta pesona. Seperti dalam artikel majalah yang dia baca, semua tampak sama mengenai penjabaran keindahan kota tersebut.
Mereka telah tiba di sebuah penginapan. Abigail sibuk membereskan pakaiannya di salah satu kamar kosong yang telah Maxwell sediakan untuknya. Dia tidak dapat berpikir jernih sekarang karena dia berkumpul dengan kelima lelaki tampan yang cukup mendebarkan hatinya.
Selama dirinya sibuk merapikan pakaian, ada suara berisik yang terdengar. Karena penasaran, Abigail mencoba mencari tahu darimana suara tersebut berasal. Ketika kakinya melangkah sudah cukup jauh dari kamarnya, dia melihat Steve sedang mendorong tubuh Troy hingga lelaki itu menampilkan wajah geram. Penasaran dengan apa yang mereka perdebatkan, Abigail bersembunyi di balik pembatas tembok menuju ruang tamu. Dia mengintip sedikit.
“Hentikan, Steve. Jangan begini,” kata Troy dengan rahang yang sudah mengeras, menandakan bahwa dirinya sedang menahan amarah.
“Kau memang pengecut!” Steve kembali mendorong tubuh Troy dengan keras.
Tindakan Steve membuat Troy nyaris terjatuh dan beruntungnya dia menahan dirinya. Karena terlampau kesal, Troy langsung melancarkan pukulan tepat mengenai wajah Steve. Pukulan Troy membuat Steve jatuh tersungkur ke lantai lalu memegangi rahang yang sakit. Ternyata tak cukup sampai di situ, Steve segera berdiri lalu membalas pukulan Troy. Bergantian kini tubuh Troy terhempas menabrak sofa yang berada tepat di belakangnya.
Abigail mengedarkan pandangannya mencari ketiga lelaki yang lain. Mengapa hanya ada dua orang itu yang berdebat? Pukul-pukulan pula!
Semakin Abigail berpikir, adu pukul itu semakin sengit. Bagian tulang pipi Steve mulai membiru sementara bagian bibir Troy mengeluarkan darah. Karena tidak tahu harus berbuat apa, Abigail memberanikan diri melerai seorang diri.
“Mr. Ackles dan Mr. Clark, tolong jangan bertengkar,” ucap Abigail dengan jarak yang cukup jauh. Suaranya tidak dapat terdengar sehingga keduanya masih saja melancarkan pukulan.
Dengan cepat Abigail mencoba menarik tangan Steve yang akan memukul Troy. “Mr. Ackles cukup!” Sayangnya Steve mendorong tubuh Abigail dengan kasar sampai dia jatuh tersungkur.
“Aduh!” ringis Abigail kesakitan. Dahinya terbentur dinding dengan cukup keras. Tenaga Steve sangat kuat sehingga dia terhempas lumayan jauh.
Ketiga orang lainnya yang baru masuk sambil tertawa langsung terkejut. Dengan cepat Ryvero dan Greg menarik Steve serta Troy. Sementara Maxwell menghampiri Abigail yang memegangi dahinya.
“Apa lagi yang kalian debatkan?!” teriak Greg melerai. "Cukup!!" lanjutnya.
Troy melepas tangan Ryvero yang menahan dirinya agar tidak memukul lagi. Dia menunjuk Steve lalu berkata, “Sudah kukatakan, aku tidak bersedia datang ke sini bersama manusia itu! Dia yang memulai semuanya. Abigail terbentur karena dia!”
Steve melihat Abigail yang baru saja berdiri atas bantuan Maxwell. Dia terdiam sebentar memandangi Abigail yang memegangi dahinya. Tanpa permisi, Troy meninggalkan semuanya. Begitu pula dengan Ryvero yang langsung mengejar Troy.
“Steve, apa lagi yang kau permasalahkan dengan Troy? Apa lagi?! Lihat, karena ulahmu Abigail sampai terbentur dinding. Syukur tidak kenapa-kenapa. Sudahlah, lupakan masalahmu dengan Troy. Kau tidak bisa terus-menerus menyalahkannya!” omel Maxwell seraya memegangi kedua sisi lengan Abigail.
Baru Steve akan menjawab, Maxwell sudah membawa Abigail pergi dari sana. Kini hanya tersisa dirinya bersama Greg.
“Steve, sudahlah. Jangan memperumit masalah yang sudah berlalu.” Greg menepuk pundak rekannya. Namun tepukannya langsung ditepis kasar oleh Steve.
Tanpa pamit, Steve langsung meninggalkan Greg. Tidak ada yang bisa Greg lakukan selain membiarkan lelaki itu menenangkan diri. Kalau sudah emosi, Steve bisa lebih kasar dari biasanya.
♥ ♥ ♥
Pada malam yang dingin, Abigail duduk di depan kolam renang. Acara makan malam hanya dihadiri olehnya, Maxwell, dan Greg. Sisanya pergi dan belum kembali sejak pertengkaran itu. Abigail menekuk kedua kakinya lalu menaruh dagunya di atas tumpuan tangan yang memegangi lutut.
Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa Steve dan Troy bertengkar? Apa ada hubungannya dengan pembicaraan Ryvero sewaktu di dalam pesawat? batin Abigail bertanya-tanya. Dia penasaran. Baik Maxwell atau Greg tidak mengatakan apa pun. Selama makan malam, mereka hanya diam.
“Aku minta maaf soal tadi.”
Suara itu mendengung di telinga Abigail bersama sebuah jaket yang menutupi punggungnya. Abigail langsung mendongak dan melihat Steve yang mengenakan sweater berwarna putih hadir di belakangnya. Menit berikutnya Steve duduk di sampingnya. Abigail tidak mengalihkan bola matanya bahkan saat Steve sudah duduk pun, dia masih memperhatikan.
“Aku minta maaf sudah membuat dahimu terbentur,” ucap Steve sekali lagi. Pandangannya tetap melihat kolam renang, belum bersedia melihat Abigail. Ada perasaan bersalah karena telah melukai perempuan itu.
Abigail mengalihkan pandangannya menatap lurus ke depan. Ada perasaan senang ketika Steve berkata demikian.
“Lukamu tidak parah ‘kan?” tanya Steve.
Abigail menjawab gugup. “Tidak, Mr. Ackles”
Steve menoleh ke samping, kebetulan Abigail juga melakukan hal yang serupa. Mereka saling bertukar pandang selama beberapa menit. Tidak lama kemudian pandangan Steve beralih melihat dahi Abigail yang nampaknya tidak menunjukkan luka yang parah. Hanya biru sedikit.
Tiba-tiba tangan Steve terulur, menyentuh dahi Abigail lalu mengusapnya lembut. “Maaf sudah mendorongmu.”
Abigail tertegun. Steve mungkin sosok yang dingin dan menyebalkan namun, entah mengapa kalimatnya terdengar begitu tulus. Ada kesan bersalah yang terisyaratkan dan Abigail dapat merasakannya. Debar jantungnya langsung melonjak drastis.
“Semoga cepat sembuh. Sekali lagi aku minta maaf.”
Abigail dapat menangkap bekas lebam akibat pertengkaran sebelumnya. Pada bagian tulang pipinya nampak bengkak dan membiru. Kedua sudut bibir Steve sudah tertarik namun tidak ada tanda-tanda senyumnya akan mengembang lebih jauh.
Steve menarik tangannya dari kening Abigail lalu mendekatkan dirinya guna menarik jaket miliknya yang menutupi tubuh gadis itu. Dia merapatkan jaketnya supaya Abigail tidak kedinginan.
Abigail berusaha mengatur debar jantungnya yang semakin tidak terkontrol. Apakah dia sedang bermimpi? Steve memakaikan jaket lalu mengusap dahinya!
“Jangan terlalu lama di sini, angin malamnya cukup dingin.” Steve mengingatkan.
“Iya, Mr. Ackles. Terima kasih,” jawab Abigail pelan.
Keduanya kembali bertukar pandang, larut dalam adu tatap yang cukup menghipnotis bola mata masing-masing. Sementara itu, dari lantai atas, ada dua orang yang menyaksikan kejadian tersebut. Mereka tertawa kecil lalu tersenyum penuh arti.
♥ ♥ ♥