Abigail menyantap sarapannya pelan-pelan. Suasana hening tanpa pembicaraan. Troy dan Ryvero sudah kembali dan duduk bersama mereka. Begitu pula dengan Steve.
“Aku ingin pergi bersama Max. Bagaimana dengan kalian?” Greg melihat ketiga rekannya saat bertanya lalu pandangannya beralih melihat Abigail. “Kau sendiri ingin ikut bersamaku atau tinggal di sini, Abigail?”
“Aku ikut dengan kalian,” sahut Ryvero.
“Aku juga ikut.” Steve menimpali.
Mendengar jawaban yang lain, rasanya tidak mungkin Abigail menjawab ikut karena tidak enak. “Saya akan menetap di sini saja, Mr. Eckhart.”
“Kalau begitu Troy menetap di sini bersama Abigail? Then—“
Steve langsung memotong kalimat Greg yang belum sempat terselesaikan, “Abigail ikut bersamaku.”
Greg bertanya, mencoba meyakinkan. “Maksudmu Abigail ikut pergi bersama kita?”
“Tidak, aku tidak jadi pergi bersama kalian. Aku akan pergi bersama Abigail.” Steve meralat.
“Memangnya Abigail bersedia pergi denganmu?” sela Maxwell. Tatap matanya melihat Abigail dengan serius. “Kau bersedia ikut bersamanya, Abigail?”
Abigail menganga. Dia ingin menolak, namun mulutnya tidak sanggup mengeluarkan suara.
“Dia bersedia. Jangan terlalu mengkhawatirkannya, aku tidak akan bersikap kasar seperti kemarin,” ucap Steve—seolah tahu maksud pertanyaan Maxwell.
Maxwell diam sebentar. Dia cukup mengkhawatirkan Abigail apalagi dalam kondisi Steve yang masih belum sepenuhnya meredam emosi akibat kejadian kemarin. Takutnya lelaki itu akan lebih galak dan kasar. Ya, mungkin awalnya baik-baik saja namun bisa saja di pertengahan Steve berubah. Dia mengenal betul bagaimana sikap Steve yang meledak-ledak dan mudah tersulut emosi.
“Abigail, kalau Steve mulai kasar, tendang saja bagian vital miliknya. Setelah itu tinggalkan dia sendirian.” Maxwell mengingatkan. Abigail mengangguk cepat.
“Hati-hati dengan Steve. Kalau dia mulai mengajakmu ke tempat sepi, pukul kepalanya. Dia bisa lebih m***m dari bintang porno.” Greg menambahkan sambil tertawa geli.
Kalimat Greg menimbulkan gelak tawa dari semua yang ada di meja makan. Terkecuali Abigail, Troy dan tentu sang pemilik nama—Steve.
“Sialan! Enak saja kau kalau bicara, Greg!” decak Steve tidak senang.
Tak ada lagi kalimat yang keluar dari mulut Greg karena dia sibuk menertawakan Steve. Begitu pula yang lainnya.
♥ ♥ ♥
Abigail mengikuti langkah Steve. Seperti anak ayam yang takut kehilangan induknya—begitulah Abigail sekarang. Sekarang dia sedang menunggu cable car. Sejak kepergiannya dari penginapan, tidak ada perbincangan, hanya diam membisu.
Akhirnya cable car yang mereka tunggu telah tiba. Steve dan Abigail naik ke dalam satu cable car yang sama bersama empat orang wisatawan lainnya. Mereka berdua duduk saling berhadapan tetapi tetap tak membahas apa pun.
Maka dari itu, Abigail memilih melihat pemandangan indah. Selama cable car berjalan, dia memandangi tebing bebatuan yang tinggi, pemandangan penginapan yang indah, ada beberapa wisatawan yang sedang menaiki keledai, serta keindahan biru laut yang menghampar bebas. Dia memilih selfie, takut mengganggu Steve yang juga sedang melihat pemandangan. Sekali tekan, Abigail mendapat potret wajahnya.
Diam-diam Steve memperhatikan Abigail selama memotret dirinya sendiri.
“Berikan ponselmu, biarkan aku membantumu memotret.” Steve menawarkan diri. Abigail tersentak namun menit berikutnya dia memberikan ponselnya pada Steve.
Steve memegang ponselnya dengan baik, memastikan hanya memotret Abigail tanpa mengenai sosok di sebelahnya. Dari kamera tanpa filter apa pun, dia mengakui wajah Abigail memang cantik. Kulit putih bersih, hidung mancung, mata biru, pokoknya semua seperti boneka Barbie versi hidup. Yang menarik perhatian Steve adalah tato pada lengan sebelah kanan berbentuk bulan sabit. Sedikit menarik karena tidak semua orang suka membuat tato pada tubuhnya.
“Sekali lagi? Atau… sudah?” tanya Steve.
“Bolehkah sekali lagi Mr–”
“Steve. Panggil saja Steve,” potong Steve. Dia merasa risih dipanggil Mr. Ackles hampir setiap saat oleh Abigail. Padahal sedang berada di luar perusahaan.
“Uhm... baik, Steve.” Abigail merasa ada getar aneh pada lidahnya ketika memanggil Steve tanpa embel-embel yang lebih formal. “Maksud saya Mr. Ackles.” Abigail buru-buru meralat yang menimbulkan perubahan ekspresi dari Steve.
“Baiklah.” Steve kembali memotret Abigail dan mengabaikan persoalan panggilan Abigail yang cukup mengganggunya.
Setelah selesai, Steve mengembalikan ponsel Abigail. Bertepatan dengan itu, cable car yang mereka naiki berhenti. Mereka berdua turun lalu kembali berjalan. Seperti sebelumnya, hanya ada keheningan tanpa pembicaraan apa pun.
“Kau ingin makan chicken gyros?” tanya Steve tiba-tiba menawarkan.
“Tidak, nanti saya—” Sayangnya bunyi 'kriuk kriuk' dari perut Abigail sudah memberi jawaban lain sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya.
“Kau lapar. Aku dengar gyros di sini enak, jadi jangan menolak. Kalau kau tidak makan, maka Maxwell akan mengomel padaku.”
“Baiklah, Mr. Ackles.”
Steve sudah melangkah lebih dulu kemudian Abigail mengikuti dari belakang seperti sebelumnya. Belum terlalu jauh, Steve mendadak menghentikan langkahnya sehingga Abigail menabrak punggung lelaki itu.
“Maaf Mr. Ackles,” ucap Abigail seraya mundur selangkah.
“Tolong jangan panggil Mr. Ackles lagi. Kita sedang berada di luar perusahaan. Gunakan bahasa yang lebih santai, jangan terlalu formal. Dan, mengapa kau selalu berjalan di belakangku? Kau bukan pengawalku ‘kan? Berjalanlah di sampingku.” Steve menegaskan tiap kalimatnya. Mimik seriusnya turut mengisi keseriusan tersebut.
“Kalau saya berjalan di samping Mr—”
Belum sempat Abigail melanjutkan kalimatnya, Steve sudah lebih dulu mengamit tangannya. Steve menarik Abigail supaya berjalan berdampingan dengannya.
Abigail berharap semua bukan mimpi. Steve menggenggam tangannya sekarang! Dia ingin melompat kegirangan. Tangannya yang dingin langsung berubah hangat berkat tangan besar milik lelaki yang dia cintai.
Steve menoleh pada Abigail. “Kau perempuan yang ceroboh. Aku tidak ingin membuat masalah baru kalau seandainya kau tersasar atau hilang.”
Walaupun alasan Steve menggenggam tangannya supaya tidak hilang, tetapi tetap saja. Dia benar-benar ingin teriak dan mengekspresikan kebahagiaannya sekarang!
Dengan tangan yang tergenggam erat, Abigail mengikuti langkah Steve yang mengajaknya berkeliling. Beberapa kali Abigail merasa menang ketika ada perempuan yang memperhatikan ketampanan Steve karena tangan lelaki itu menggenggam tangannya. Beberapa menit berkeliling menikmati setiap keindahan sekeliling dan tempat-tempat souvenir, akhirnya mereka berhenti.
“Tunggu sebentar, aku akan memesan gyros dulu.” Steve melepas genggamannya kemudian mulai memesan gyros menggunakan bahasa Yunani.
Abigail tidak akan terkejut mendengar Steve dapat menguasai Bahasa Yunani, mengingat dari yang dia dengar Steve menguasai dua puluh bahasa dengan aksennya pula. Sehingga saat Steve mengucapkan Bahasa Yunani, aksennya seperti masyarakat lokal di sana. Sedangkan dirinya hanya menguasai lima bahasa termasuk Inggris. Sisanya: Rusia, Italia, Perancis, dan Belanda.
Beberapa menit menunggu, chicken gyros yang Steve pesan sudah jadi.
Steve mengambil gyros-nya lalu menyodorkan kepada Abigail. “[1]αυτό είναι δικό σου.”
Abigail spontan mengerutkan dahinya bingung, tetapi tangannya tetap mengambil gyros dari Steve. Mengapa menggunakan bahasa yang tidak aku kuasai? Besok-besok aku akan mempelajari Bahasa Greek!
Steve melahap chicken gyros miliknya kemudian disusul oleh Abigail. Mereka berjalan sangat pelan sambil menikmati makanan enak yang sudah terkenal di sana. Tiba-tiba Steve melihat Abigail, menyadari perempuan itu menyisakan bumbu gyros-nya pada bagian atas bibir. Juga, ada sedikit bumbu yang mengotori kaos putih-nya.
Ceroboh seperti biasa. Ternyata Maxwell nenyukai tipe sekretaris semacam ini. Aneh juga seleranya. batin Steve.
“Di bagian atas bibirmu ada bekas bumbunya, Abigail.” Steve memberitahu seraya menunjuk bibirnya sendiri untuk menunjukkan mana yang harus Abigail hapus dengan tisunya.
“Di sini? Terima kasih, Mr. Ackles.” Abigail menghapus bagian atas bibirnya namun pada bagian kanan. Padahal bumbunya ada di sudut bibir bagian kiri.
Steve menyerah melihat Abigail. Rasanya Abigail tidak bisa membedakan mana sudut, atas, kanan ataupun kiri. Karena gemas sendiri, dia menjangkau bibir Abigail, menghapus sisa bumbu yang dia maksud dengan ibu jarinya. “Di sini, ceroboh.”
Abigail terpaku. Cara ibu jari Steve menghapus bekas bumbunya sangat lembut. Selain itu panggilan Steve padanya terdengar menyebalkan namun anehnya dia menyukainya. Manis—kata yang mewakili hari ini.
“Terima kasih, Mr. Ackles—”Abigail menyadari perubahan ekspresi tidak senang dari Steve. Dia buru-buru meralat. “Maksudku Steve.”
“Iya tidak masalah. Kau ingin membeli souvenir untuk temanmu?”
Abigail menganggukkan kepalanya. Detik berikutnya Steve berjalan meninggalkannya. Sedangkan Abigail masih sibuk meremas bungkus gyros sambil mengedarkan pandangan mencari tempat sampah.
Steve yang menyadari Abigail masih berada di belakang sana langsung kembali dan mengamit tangannya. “Kau mencari tempat sampah? Ada di depan sana. Aku heran mengapa Maxwell menjadikanmu sekretaris. Sudah ceroboh, lamban pula!” ujar Steve dengan tangan yang sudah menarik Abigail pergi dari sana.
Anehnya ketika Steve mengatakan kalimat itu, Abigail tidak merasa sedih atau sakit hati. Dia justru menarik senyum karena senang. Mungkin efek kelewat senang!
♥ ♥ ♥
Berhubung Steve lelah, akhirnya mereka memilih pulang. Setelah membeli beberapa cendera mata tentunya. Tidak banyak yang dilakukan mengingat Steve mudah bosan jika jalan-jalan keluar negeri—persis seperti sang ayah. Sesaat memasuki ruang tamu, ada Troy sedang duduk di atas sofa berwarna biru sambil membaca buku. Troy menoleh saat menyadari kepulangan keduanya.
“Kau sudah pulang, Steve?” Suara yang terdengar membuat Steve dan Abigail menoleh bersamaan menuju si pemilik suara.
Sang pemilik suara bersandar pada tembok sambil tersenyum lebar. “Aku pikir kau pulang nanti malam,” ucap perempuan berambut panjang sepunggung yang memiliki paras cantik
Abigail mengenal siapa sosok perempuan yang tengah menampilkan senyum menawan. Dia—Clara Anastasia Brown. Supermodel papan atas yang namanya melejit berkat menjadi model lingerie dan sering tampil dalam pagelaran acara LoveMe Fashion Show yang menyuguhkan model-model papan atas bertubuh seksi untuk menampilkan lingerie bermerek LoveMe—brand yang namanya mulai naik daun dalam beberapa tahun belakangan.
“Kau tidak bilang akan datang ke sini. Mengapa—”
“Daddy!”
Steve terpaksa menggantung kalimatnya setelah menyadari sosok gadis cilik berumur empat tahun berlari menghampirinya. Dia segera menggendong gadis kecil tersebut lalu mencium seluruh wajahnya.
“My little pony! Siapa yang menguncir rambutmu seperti itu, Stella? Aneh sekali,” tanya Steve seraya mencolek hidungnya sambil tersenyum lebar.
Gadis kecil itu menunjuk Clara sambil menjawab, “Mommy!”
“Mommy yang terburuk. Lebih baik Daddy yang menguncir rambutmu.” Steve melihat Clara lalu menjulurkan lidah seakan-akan meledek perempuan yang sedang berdiri itu.
Tiba-tiba d**a Abigail sesak. Setelah seharian bersenang-senang, dia mendapat kejutan yang menyakitkan. Abigail tahu Clara si supermodel dengan bayaran termahal itu memiliki putri, tetapi media tidak pernah mengetahui siapa ayahnya karena Clara cukup tertutup perihal kehidupan pribadinya. Dia juga tahu Clara dan Steve sangat akrab, bahkan sering berpergian berdua. Lalu gadis cilik itu memanggil Steve dengan sebutan Daddy? Itu tandanya putrinya Clara adalah anaknya?
Beberapa rumor sempat mengatakan bahwa Steve memiliki rahasia, dan ternyata rahasianya adalah apa yang dia lihat sekarang? Gadis bernama Stella, putri dari seorang supermodel ternama Clara Anastasia Brown ternyata putrinya Steve Lyan Ackles?
Seperti sudah terbang tinggi menuju langit ketujuh, lalu tiba-tiba dihempaskan jauh-jauh ke dasar bumi. Ya, Abigail merasa begitu. Entah mengapa dia merasa sedih.
Mendapat kenyataan pahit yang cukup mengejutkan, genggaman tangannya pada plastik yang berisi souvenir melonggar. Beruntung saja tenaganya masih sanggup untuk menggenggam meskipun lututnya sudah lemas. Hatinya... ah, tidak perlu dipertanyakan bagaimana hatinya sekarang. Karena semua begitu mengejutkan.
♥ ♥ ♥
[1] Ini adalah milikmu (Bahasa Yunani)