조기 경보 (Jogi Gyeongbo | Early Warning )
Udara malam ini terasa lebih dingin dibandingkan biasanya. Langit yang biasanya terang oleh cahaya keperakan dari sang rembulan, kini terlihat pekat. Sang rembulan yang menjadi penguasa malam seakan bersembunyi di balik rerimbun awan kelabu. Sesekali terdengar suara gemuruh yang menjadi pertanda bahwa malam ini akan terjadi hujan badai.
Di aula utama puri bintang, Dukun Yang tampak berdoa dengan khidmat di depan altar doa. Tangannya berada tepat di depan wajahnya sementara kedua matanya tertutup rapat. Bibirnya yang terlihat sedikit kering dan pucat, tengah merapalkan sesuatu seiring dengan bau dupa yang semakin semerbak ke seluruh penjuru ruangan.
Di luar, guruh bertalu-talu semakin keras, seakan memberikan pertanda bahwa badai telah semakin dekat Tak mempedulikan suara gemuruh yang mulai muncul bersama petir yang menghias langit, Dukun Yang tetap berdoa. Entah kenapa, sejak sore tadi, kepala dukun puri bintang itu merasa akan terjadi sesuatu.
Rapalan doa Dukun Yang terhenti kala mendengar gemuruh dan kilat muncul di langit dengan suara yang memekakkan teling, hingga membuat langit malam tampak cerah sesaat. Iris gelap wanita itu bergulir ke belakangnya di susul dengan angin kencang yang membuat pintu ruangan menjeblak terbuka, mengantarkan kekacauan di sekitar ruangan.
Dukun Yang tersentak kala mendapati angin kencang yang mengacaubalaukan ruangan. Sejenak, kegiatan berdoa Dukun Yang harus terhenti karena kencangnya angin yang berembus. Bahkan tubuh kepala dukun itu sedikit terpelanting ke belakang karena angin yang sangat kencang.
“Ugh... astaga apa yang sebenarnya akan terjadi?” gumam Dukun Yang sembari meringis karena terpelanting oleh angin. Perlahan, wanita itu berusaha bangkit namun sekelebat penglihatan mulai muncul di kepalanya.
Tubuh Dukun Yang kembali limbung bersamaan dengan penglihatan yang muncul satu demi satu. Kepalanya berdengung, mengantarkan rasa sakit yang terasa sangat menyakitkan, hingga Dukun Yang jatuh terduduk sembari memegangi kepalanya.
“Para Dewa yang menjaga langit, mohon beri hamba kekuatan untuk mengatasi rasa sakit yang menyengat ini agar dapat menyampaikan pesan yang hamba dapatkan ini.”
Guntur dan kilat kembali menyambar-nyambar di langit malam. Tak lama, hujan badai yang seakan sudah diperkirakan akhirnya tiba. Hujan turun begitu lebat, membuat siapapun pasti menginginkan berada di dalam rumah seraya bergulung dalam selimut.
Sementara itu, Dukun Yang berjuang melawan rasa sakit di kepalanya seraya berusaha memfokuskan diri agar dapat melihat secara jelas penglihatan yang muncul samar-samar dalam kepalanya.
Penglihatan itu memperlihatkan sebuah peristiwa. Dalam penglihatan tersebut, Dukun Yang seakan berada dalam satu peristiwa yang ia yakini akan terjadi dalam waktu dekat. Dukun Yang seakan menjadi penonton dalam kejadian tersebut.
Kejadian itu akan terjadi di istana, sebuah perayaan tengah berlangsung di istana dengan begitu megah dan meriah. Dengan iris gelapnya, Dukun Yang mendapati ada pasangan yang tengah melangkah menuju singgasana yang telah di persiapkan. Namun, tiba-tiba Dukun Yang merasakan ada angin dingin yang berembus dari arah belakang, membuat wanita itu menoleh dan mendapati ada sosok tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
Sosok itu sama seperti Dukun Yang—menjadi seorang penonton dalam perisitwa tersebut. Hanya saja, sosok tersebut tak bisa melihat keberadaan Dukun Yang karena kepala dukun itu berada dalam dimensi yang berbeda sekalipun berada di tempat yang sama. Dukun Yang termenung memperhatikan sosok itu yang seakan menatap sendu ke arah pasangan yang sedang melangkah menuju singgasana.
Namun, bukan hanya sorot sendu yang terpancar dari kedua iris hazel itu. Meski samar, Dukun Yang mendapati ada kebencian dan kemarahan yang tersembunyi dari sosok tersebut.
Belum sempat Dukun Yang mampu mencerna segala kejadian yang sedang terjadi dalam penglihatannya, reka kejadian tersebut memudar dan menarik Dukun Yang dalam peristiwa lainnya. Kini, Dukun Yang berada di salah satu gazebo istana di dekat sebuah paviliun—yang diyakini Dukun Yang sebagai paviliun Gyeonghoeru. Tubuh Dukun Yang tertutup oleh rerimbunnya tanaman yang berada di dekatnya. Meski begitu, sorot pandangnya sama sekali tak terganggu.
Berjarak beberapa meter dari tempat Dukun Yang berdiri, terdapat dua sosok yang sangat di kenali Dukun Yang. Dua sosok berlawanan jenis itu seakan tengah berdebat mengenai sesuatu yang tak bisa Dukun Yang dengar. Hanya saja, tatapan sosok feminim yang Dukun Yang lihat, memancarkan sorot penuh kekecewaan dan kesedihan. Sosok feminim itu adalah individu yang sama, yang di lihat Dukun Yang di peristiwa sebelumnya.
Dukun Yang mencoba memahami situasi dan kondisi pada peristiwa baru ini. tak hanya itu, Dukun Yang pun berusaha mengaitkan perisitwa kedua ini dengan peristiwa sebelumnya. Hingga, suara derak ranting yang terdengar di belakang, membuat Dukun Yang menoleh. Detik selanjutnya Dukun Yang terperanjat menyadari ada sosok lain di belakangnya.
Dukun Yang menoleh dan mendapati individu yang baru saja muncul adalah sosok yang ia kenali sebagai pasangan dari pria yang saat ini tengah berbicara dengan wanita istana lain. Kala iris Dukun Yang menatap lekat wanita yang berdiri di belakangnya tersebut, Dukun Yang mengenali ada sesuatu dalam diri wanita tersebut.
Detik di mana Dukun Yang mengenali lebih jelas sosok wanita itu, Dukun Yang kembali terbawa pada pusaran dimensi waktu tak kasat mata. Kepalanya lagi-lagi dipenuhi rasa sakit yang teramat sangat. Dukun Yang meringis dengan penglihatan yang datang secara tak terduga.
Pusaran dimensi waktu itu membawa kembali Dukun Yang pada realita. Wanita itu jatuh bersimpuh seraya memegangi kepalanya yang terasa sangat berat. Saat itu pula, segala penglihatan yang sempat muncul terhenti bersamaan dengan angin kencang yang berembus memporak-porandakan ruangan.
“Mamanim!”
Seorang dukun muda masuk ke dalam aula utama puri bintang dengan rasa khawatir. Maniknya terbelalak mendapati aula utama tampak berantakan. Tak hanya itu, dukun muda itu semakin kaget saat melihat Dukun Yang, yang jatuh bersimpuh di lantai. Dukun muda itu bergegas mendekati Dukun Yang dan membantunya.
“Mamanim, apa yang sebenarnya terjadi? Aku sempat mendengar sedikit keributan. Apa Anda baik-baik saja?” tanya dukun muda itu seraya membiarkan Dukun Yang agar bersandar ke dinding.
“Aku baik-baik saja, Soona,” balas Dukun Yang dengan suara sedikit terbata karena mulai merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
Dukun muda yang dipanggil Soona itu terdiam sembari menatap lekat Dukun Yang. Gadis itu merasa akan ada suatu kejadian besar yang akan terjadi. Sebuah kejadian yang bisa saja mengubah Joseon di masa depan. Sebagai salah seorang murid Dukun Yang dengan kemampuan paling cemerlang, Soona tahu Dukun Yang baru saja mendapatkan penglihatan.
“Mamanim, tidakkah ini bisa saja pertanda bahwa ramalan teratai putih itu benar adanya? Entah kenapa aku merasa bahwa ramalan itu bukan sekedar ramalan tapi gambaran masa depan yang akan dihadapi kerajaan ini. Apa benar tebakanku ini, Mamanim?” tanya Soona dengan nada suara yang tak bisa menutupi rasa penasarannya.
Dukun Yang tersenyum lemah. Ia tahu, sebagai seorang dukun, Soona pasti bisa merasakan segala sesuatunya. Gadis itu pun bahkan selalu muncul setiap kali Dukun Yang mendapati penglihatan yang sangat menguras tenaganya. Karena tak bisa menyembunyikan fakta, Dukun Yang memilih mengatakan kebenaran atas dugaan yang diucapkan Soona padanya.
“Kau memang terlahir menjadi penerusku di kemudian hari, Soona~ya. Bersiaplah, mungkin di masamu nanti akan menjadi lebih berat dibandingkan masaku,” ucap Dukun Yang dengan senyum hangat pada muridnya. “Sepertinya kau harus ikut denganku untuk memberikan peringatan pada seseorang. Atau lebih tepatnya, mari kita temui titisan teratai putih yang sebenarnya.”
~THE RED MOON~
Suasana pasar pagi ini terlihat lebih riuh dibandingkan biasanya. Seorang petugas kerajaan baru saja memasang selebaran pengumuman yang terdapat di papan pengumuman kerajaan. Melihat adanya pengumuman yang baru dipasang, segera saja beberapa bangsawan juga pedagang langsung mengerubunhi papan pengumuman tersebut. Mereka berusaha membaca dekrit ataupun pengumuman yang baru saja di pasang.
Ketika para bangsawan dan para pedagang keliling meributkan pengumuman yang baru saja dipasang, seorang wanita bangsawan ditemani pelayannya, melintasi melewati kerumunan tersebut. Kedua wanita itu terlihat tak mempedulikan kehebohan yang terjadi di dekat mereka dan malah melangkah semakin menjauhi kerumunan tersebut.
“...bukankah itu berarti putra kedua mendiang raja akan menjadi pewaris takhta?”
“Aigoo, kenapa aku merasa kejadian ini seperti yang disebutkan pada ramalan teratai putih itu,ya?”
“Dekrit ini berarti menyatakan Ratu yang sekarang menjabat dinyatakan mandul?”
“Tidak ada pernyataan yang menyatakan Ratu mandul. Penobatan ini berdasarkan pada wasiat mendiang Raja yang menginginkan putra keduanya berada di takhta.”
Si pelayan yang bertugas menemani sang Nyonya pergi ke pasar, beberapa kali menoleh ke arah keriuhan yang berada di depan papan pengumuman. Selentingan percakapan yang tak sengaja ia dengar, membuat gadis pelayan itu merasa sangat penasaran akan apa sebenarnya yang tertulis pada pengumuman baru tersebut. Sayangnya, sang Nyonya yang ia temani terlihat tak peduli dengan pengumuman itu.
“Mamanim, apa Anda tidak ingin berhenti sejenak untuk mengetahui pengumuman terbaru yang dipasang pihak kerajaan hari ini?” tanya si pelayan, seakan memberi tanda agar Nyonya nya bisa menangkap maksud dari pertanyaannya.
Wanita bangsawan itu sedikit menolehkan wajahnya ke belakang. Senyum tipis menghias romannya diiringi gelengan kepala sebagai jawaban atas rasa penasaran yang diutarakan pelayannya.
“Kita tidak punya banyak waktu, Gulmi~ya. Aku harus membeli segulung sutra, agar suamiku bisa mengenakannya di waktu yang tepat. Jika kita tidak bergegas membelinya, maka aku tidak punya banyak waktu untuk menjahit jubah dalam suamiku,” tukas si Nyonya seraya mempercepat langkah menuju tukang kain langganannya.
Dahi si pelayan mengernyit mendengar penjelasan Nyonyanya. Sebagai wanita bangsawan, sang Nyonya bisa saja menyuruh pelayan untuk melakukan tugas tersebut. Atau, si Nyonya bisa saja menyuruh tukang jahit langganannya agar dapat membuatkan jubah dalam untuk suaminya. Perkara uang, Nyonya tersebut bisa membayarnya dengan mudah. Lalu, kenapa Nyonya-nya mau bersusah payah hanya untuk membuat sebuah jubah dalam?”
“Mamanim, kenapa Anda mau bersusah payah hanya untuk membuat sebuah jubah dalam untuk Daegam Manim? Anda bisa saja memerintahkan pelayan atau penjah—“
“Aniyo,” potong sang Nyonya tegas. “Harus aku sendiri yang menjahitkan jubah dalam suamiku. Jubah itu akan dikenakan di hari khusus.”
Si pelayan hanya bungkam setelah Nyonya nya menolak dengan tegas saran yang diutarakannya. Gadis pelayan itu akhirnya kembali diam dan mengekor dengan patuh kemana pun sang Nyonya melangkah.
Hingga ketika mereka berbelok di sebuah tikungan, langkah sang Nyonya terhenti ketika ada dua orang wanita yang seakan menghalangi jalannya. Dahi sang Nyonya mengernyit melihat kedua wanita yang tak dikenalnya itu secara tak terduga membungkuk hormat kepadanya. Sungguh, Nyonya itu tak mengenali salah seorang diantara keduanya.
“Mohon maaf mengganggu waktu Anda, Mamanim. Hamba adalah Dukun Yang, kepala dukun dari puri bintang.”
“Kepala dukun puri bintang?” ulang sang Nyonya yang merasa heran karena seorang kepala dukun yang bertugas melayani keluarga kerajaan utama, menemuinya seperti sekarang. “Ada apa kau menemuiku?”
Dukun Yang tersenyum tipis mendengar nada penuh kecurigaan yang dilontarkan sang Nyonya padanya. Wanita itu bisa memahami kebingungan serta kecurigaan dari sang Nyonya.
“Sebentar lagi, akan ada banyak kejadian yang mengubah hidup Anda, Mamanim. Hamba yakin, Anda pasti sudah memahami setiap konsekuensi dari keputusan yang akan Anda ambil. Hamba hanya berpesan, tetaplah teguh pada hati Anda dan jangan tergoda dengan kekuasaan lebih di kemudian hari ataupun jangan menyimpan prangsangka buruk yang bisa mendatangkan kemalangan.”
~THE RED MOON~