아무것도 변하지 않을 것이다 (Amugeosdo Byeonhaji Anh-eul Geos-ida | Nothing Will Change)
Yeonhwa menghela napas panjang setelah menyelesaikan segala persiapan untuk prosesi penobatan yang akan dilangsungkan pada akhir minggu ini. Yeonhwa mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan yang tampak penuh oleh berbagai barang serta bergulung-gulung kain.
Tak hanya ruangan yang dipenuhi berbagai barang juga kain, para dayang pun hilir mudik keluar ruangan, membawa dan mengeluarkan beberapa barang yang tak dibutuhkan. Yeonhwa mengalihkan perhatian dari ruang pribadinya yang tampak penuh sesak, sama seperti perasaannya saat ini. Pandangannya jatuh pada taman di samping kamarnya yang seakan menjadi angin segar bagi Yeonhwa.
Yeonhwa melangkahkan tungkainya mendekati jendela kamarnya yang terbuka dan menarik serta mengembuskan napas sepanjang yang ia bisa. Udara segar dengan cepat mengisi rongga dadanya, seakan belitan erat tali tak kasat mata di sekitar dadanya terlepas. Mentari senja menyambut Yeonhwa ketika ia akkhirnya memutuskan untuk menyandarkan tubuhnya pada kusen jendela. Sungguh, hari ini sangat melelahkan bagi Yeonhwa. Setelah dekrit resmi pengangkatan suaminya—Pangeran Agung Hyoyeom sebagai Saudara Pewaris Takhta, terbit, Yeonhwa juga Yi Yeol segera disibukkan dengan berbagai persiapan menjelang acara penobatan.
Hari ini Yeonhwa baru saja menyelesaikan sesi pengukuran baju dan pemilihan kain yang dilakukan oleh bagian jahit istana. Semua kain tersebut kelak akan dibuat menjadi pakaian resmi Yeonhwa setelah tinggal di istana kelak. Setelah menjalani kehidupan sebagai seorang istri pangeran agung, Yeonhwa tak menyangka bila ada persiapan yang jauh lebih rumit dan panjang dibandingkan saat pernikahannya yang lalu.
Kala Yeonhwa tenggelam dalam pemikirannya mengenai kehidupan di istana kelak, ia tak menyadari kehadiran ibunya. Nyonya Lee tak langsung memberikan tanda akan kehadirannya pada putri semata wayangnya. Wanita paruh baya itu menatap sendu putrinya yang berdiri membelakangi dirinya.
Rasa takut merayapi hati Nyonya Lee mengeingat bunga teratai putih di kolam taman rumah mereka yang beberapa minggu lalu berubah menjadi merah secara tiba-tiba. Entah bagaimana, segala sesuatu yang pernah di ucapkan dukun di hari kelahiran Yeonhwa seakan menjadi kenyataan. Sekeras apapun ia dan suaminya berusaha menjauhkan Yeonhwa untuk memasuki istana, nyatanya putri mereka tetap akan berakhir tinggal di istana.
“Agaya....”
Panggilan lembut dari arah belakang, menyentak Yeonhwa dari lamunannya. Wanita muda itu mengenali suara yang memanggilnya. Dan dengan segera, Yeonhwa menoleh seraya memutar tubuhnya menghadap sumber suara. Irisnya kemudian mendapati kehadiran ibunya, yang secara tak terduga sudah berada di kamarnya tanpa ia sadari. Hanya memandang sosok ibunya, segala perasaan yang berkecamuk di hati Yeonhwa, melebur dan membuat kedua manik hazel itu berkaca-kaca.
“Eomeonim!” seru Yeonhwa yang tanpa aba-aba langsung berlari dan memeluk ibunya dengan erat.
“Aigoo, apa kau baik-baik saja, Aga?” tanya Nyonya Lee yang terkejut mendapatkan pelukan erat dari Yeonhwa sebagai sambutan kedatangannya.
Yeonhwa melonggarkan pelukannya dan menatap lekat ibunya. Senyum tipis membingkai roman wanita muda itu. Diikuti sedikit gelengan kepala, Yeonhwa menjawab pertanyaan yang diutarakan ibunya. Bagaimanapun, Yeonhwa sudah mengalami hari-hari berat tanpa jeda setelah malam naas itu.
“Aniya. Aku merasa sangat lelah, Eomeonim. Aku bahkan belum menarik napas dengan benar sejak kejadian mengerikan itu. Dan kini, aku sudah kembali menghadapi situasi tak terduga. Suamiku mendapat dekrit kenaikan takhta sebagai penerus.”
Tangan Nyonya Lee terangkat untuk mengusap lembut puncak kepala putrinya. Tanpa perlu Yeonhwa menjelaskan, Nyonya Lee sudah bisa mengetahui segalanya. Hanya dengan melihat punggung Yeonhwa yang terlihat lunglai, wanita bangsawan itu tahu bahwa putrinya sangat lelah secara lahir dan bathin.
“Aku mengerti, Aga. Tanpa perlu kau mengatakannya, Ibu sudah tahu bahwa kau sangat lelah menghadapi semua yang terjadi.”
Secara lembut, Nyonya Lee kemudian menggenggam tangan Yeonhwa dan menuntunnya untuk duduk di salah satu sudut ruangan yang tak dipenuhi oleh barang ataupun gulungan kain. Ibu dan anak itu duduk berhadapan. Tepat ketika mereka akan memulai obrolan, pintu ruang pribadi Yeonhwa kembali bergeser dan seorang pelayan pribadi Yeonhwa masuk ke dalam ruangan.
Pelayan bernama Bonggwa itu terkejut ketika melihat sang Nyonya tengah bersama sang ibu. Gadis pelayan itu awalnya berniat menawarkan bantuan atau apapun yang dibutuhkan oleh Yeonhwa, tapi saat mengetahui Yeonhwa sedang bersama sang Ibu, membuat Bonggwa mengurungkan niat dan memilih untuk undur diri.
“Bonggwa~ya, kebetulan sekali kau kemari. Bisakah kau menyediakan teh dan beberapa kue kecil untuk kami?” ujar Yeonhwa tepat ketika Bonggwa hendak keluar lagi dari ruangannya.
“Ye, Manim. Hamba akan segera menyiapkannya,” balas Bonggwa dengan patuh.
“Setelah menghidangkan teh dan kue, tolong jangan ganggu kami. Beritahukan pada para dayang istana untuk menunggu sekitar setengah jam karena aku ingin beristirahat sebentar.”
Bonggwa mengangguk lalu keluar kembali untuk melaksanakan perintah Yeonhwa. Setelah kembali hanya berdua di ruangan, Nyonya Lee pun memilih membuka topik pembicaraan sekaligus mengutarakan keresahannya atas nasib Yeonhwa kelak.
“Agaya, apa kau masih ingat dengan semua hal yang pernah aku dan ayahmu katakan tentang bunga teratai putih di kolam rumah kita?”
Yeonhwa terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk. Yeonhwa jelas ingat semua hal yang diberitahukan kedua orangtuanya mengenai bunga teratai putih yang di maksud. Tidak hanya itu, Yeonhwa pun tahu kaitan bunga tersebut dengan dirinya yang harus menjauhi segala hal yang berhubungan dengan istana. Namun, sepertinya takdir malah mendekatkan Yeonhwa dengan istana. Di mulai dari dekrit pernikahannya hingga kini dekrit kenaikan takhta suaminya.
“Apa Eomeonim mencemaskan bahwa segala hal yang tengah terjadi saat ini memiliki kaitan dengan peringatan dukun itu mengenaiku?” tandas Yeonhwa dengan mata sedikit menyipit, berusaha membaca segala hal yang terlukis pada raut sang ibu.
“Bunga teratai itu berubah menjadi merah beberapa minggu lalu. Ibu tak sempat menceritakannya saat menjengukmu setelah kejadian naas tersebut. Ibu berpikir keadaanmu jauh lebih penting dibandingkan semua itu. Tapi, dengan segala hal yang terjadi saat ini, Ibu merasa sangat khawatir padamu, Aga,” tangan Nyonya Lee menggenggam erat kedua tangan Yeonhwa. Kedua maniknya menyiratkan kecemasan yang luar biasa.
“Aga, tidak bisakah kau membujuk Daegun Daegam untuk menolak semuanya? Ibu mengkhawatirkanmu. Ibu takut terjadi sesuatu denganmu saat di istana kelak.”
Yeonhwa tersenyum penuh pengertian mendengar segala keresahan yang melanda ibunya. Ini bukan pertama kalinya ibunya terlihat mencemaskan dirinya. Ibunya pun bersikap seperti ini ketika Yeonhwa mendapatkan dekrit pernikahan kerajaan dengan Pangeran Agung Hyoyeom.
Sekalipun Yeonhwa merasa lelah dengan segala kejadian yang terjadi, ia tidak akan pernah melangkah mundur. Yeonhwa sudah bertekad tidak akan menghentikan Yi Yeol jika memang suaminya menginginkan takhta. Sebaliknya, wanita bangsawan itu akan mendukung penuh segala keputusan yang di ambil Yeol kelak.
“Eomeonim, aku mengerti kekhawatiranmu. Aku berterima kasih karena Eomeonim begitu mempedulikanku. Hanya saja, aku tak akan bisa melakukan permintaan Eomeonim. Daegun daegam juga aku sudah sepakat untuk mengarungi segala hal bersama-sama. Termasuk menerima dekrit kenaikan takhta ini. Daegun berpikir jika satu-satunya cara agar kami bisa hidup tenang adalah dengan memiliki sedikit kekuasaan. Aku pun berpendapat demikian. Jadi, jangan cemaskan kami. Kami akan baik-baik saja,” terang Yeonhwa sembari menepuk lembut kedua punggung tangan Nyonya Lee.
“Tapi, Aga, kau jelas tahu betul istana itu tempat seperti apa, bukan? Jika ada tempat paling berbahaya di Joseon ini, istana adalah tempatnya. Tidakkah kau menyadari semua itu? Bahkan dinding dan tanah istana memiliki mata dan telinga. Kau perlu berhati-hati.”
“Eomeonim, tidak perlu cemas. Aku pastikan akan selalu berhati-hati setelah tinggal di sana. Aku pun yakin, Daegun Daegam tidak akan membiarkanku sendiri. Kami akan saling melindungi satu sama lain. Mohon jangan cemaskan kami, Eomeonim. Selain itu, aku tidak akan berubah. Aku akan tetap menjadi Min Yeonhwa, putri Eomeonim.”
~THE RED MOON~
Yi Yeol duduk di beranda kamarnya sembari memperhatikan langit malam hari ini. Setelah beberapa hari kemarin Joseon setiap malam diguyur hujan badai, malam ini langit tampak cerah. Bulan bertakhta memancarkan sinar perak lembutnya di atas sana. Tidak hanya itu, udara malam ini pun terasa lebih hangat dibandingkan biasanya, membuat siapapun akan merasa betah jika memutuskan berada di luar ruangan.
Helaan napas panjang diembuskan Yeol setelah melalui hari yang cukup melelahkan. Sekalipun ia lahir dan dibesarkan di istana, Yeol tak pernah menyangka akan ada banyak sekali proses yang harus dilalui menuju hari penobatannya. Sama seperti Yeonhwa, hari ini pun ia baru saja menyelesaikan kegiatan mengukur jubah kerajaan barunya yang akan menjadi pakaian sehari-harinya di istana nanti.
Karena terlalu asyik dengan pikirannya, Yeol tak menyadari jika saat ini Yeonhwa tengah melangkah mendekatinya. Istrinya itu membawa sebuah meja saji yang berisi arak beras yang baru saja dihangatkan juga beberapa makanan kecil sebagai pendamping. Senyum merekah di bibir wanita bangsawan tersebut ketika mendapati suaminya sedang berdiam diri di beranda kamar.
“Seobangnim, apa yang sedang Anda lakukan di sini? Bulan tidak akan menghilang tanpa perlu kau perhatikan sebegitu lekatnya,” Yeonhwa tersenyum geli melihat Yeol yang begitu larut dalam lamunannya.
“Astaga, kau hampir membuat jantungku berpindah tempat, Buin!” seru Yeol yang tersentak mendengar godaan Yeonhwa.
Meski kaget, pria itu menatap Yeonhwa dengan pandangan lembut. Tangan Yeol terangkat, memberi tanda agar Yeonhwa mendekat dan duduk di sampingnya.
“Apa yang kau bawa ini? Kenapa kau belum beristirahat? Bukankah hari ini juga sangat melelahkan untukmu?” cecar Yeol begitu melihat meja saji yang di bawa dan dihidangkan Yeonhwa tepat di dekat Yeol.
“Sepertinya karena terlalu kelelahan, aku tak bisa langsung tidur, Seobangnim. Lagipula, kegiatanku hari ini tidak akan terlalu melelahkan dibandingkanmu,” sahut Yeonhwa seraya menuangkan arak beras ke dalam cawan yang lebih kecil. “Karena itu, aku yakin, sedikit arak beras hangat bisa membantu untuk membuat tubuh merasa lebih baik.”
Yeol terkekeh mendengar ucapan Yeonhwa yang seolah-olah mampu membaca pikirannya. Sekalipun usia pernikahan mereka belum terlalu lama—bahkan harus terpisah dalam waktu yang cukup lama karena keinginan Yi Hyul, tapi Yeonhwa mampu dengan cepat memahami dan mengerti kebiasaan juga pikiran Yeol. Hal ini membuat Yeol lagi-lagi merasa bersyukur mendapatkan istri seperti Yeonhwa yang layaknya sahabat baginya.
“Gomawo, Buin. Karena kau selalu mengerti dan memahamiku. Kau bahkan seperti mampu membaca pikiranku, yang beberapa saat lalu memikirkan arak beras akan terasa istimewa untuk di nikmati sambil memandangi langit malam yang cerah,” tandas Yeol yang kemudian meneguk arak beras yang telah dituangkan dalam sekali tegukan.
Rasa hangat disertai rasa khas arak beras dengan segera mengalir menuruni tenggorok Yeol. Membuat rasa nyaman juga hangat menyebar ke seluruh tubuh. Sungguh, malam seperti ini sangat cocok menikmati suasana malam ditemani arak beras dan penganan kecil lainnya.
Yeonhwa kemudian ikut memandang jauh ke langit malam yang bertaburan bintang. Sekalipun ia yakin dengan keputusan Yeol di masa depan, tetap saja ada secuil rasa cemas yang tersembunyi di sudut hatinya. Bagaimana pun kehidupan mereka di paviliun musim gugur akan berbeda dengan kehidupan mereka di istana nanti.
“Seobangnim, menurutmu akan seberapa besar perubahan yang akan terjadi pada kehidupan kita kelak? Apa di istana nanti kita bisa memandangi langit malam bersama seperti ini? Atau kita akan sibuk dengan urusan masing-masing?” tanya Yeonhwa tanpa menutupi kekhawatiran yang dirasakannya.
Yeol menoleh dan menatap lekat Yeonhwa yang sedang memandangi langit malam dengan sorot sendu. Hati Yeol terasa berat mendengar kekhawatiran Yeonhwa akan perubahan yang bisa saja terjadi, tidak hanya pada kehidupan mereka namun bisa juga pada kebiasaan mereka. Yeol tahu, Yeonhwa pasti tak ingin lagi merasa sendiri. Terlebih istana akan terasa sangat asing bagi wanita itu. Dengan penuh kesadaran, Yeol meraih tangan Yeonhwa dan menggenggamnya lembut.
“Jangan khawatir. Sekalipun kelak kehidupan serta tempat tinggal kita berubah. Bahkan kita pun harus melakukan penyesuaian dengan setiap aturan yang ada, aku berjanji tidak akan ada yang berubah sedikitpun dari kebiasaan kita berdua. Aku tidak akan membiarkanmu kesepian di istana nanti, Buin. Kupastikan tidak ada yang berubah bagi kita.”
Yeonhwa balas menatap Yeol dengan pandangan yang tak kalah lekat. Irisnya mendapati kesungguhan di manik sekelam jelaga tersebut. Ucapan itu jelas disertai dengan kesungguhan dan ketulusan, Yeonhwa bisa merasakan semua itu. Wanita itu kemudian tersenyum hangat dan mengangguk, yakin bahwa Yeol akan menepati janjinya. Jemari lentiknya balas menggenggam erat pada jemari kokoh milik Yeol.
“Aku tidak akan pernah melepaskan tanganmu, Buin,” janji Yeol dengan penuh tekad.
~THE RED MOON~