대관식 날 (Daegwansig Nal |Coronation Day)
Di sebuah ruangan pada salah satu paviliun istana, sosok wanita istana tengah bersiap untuk memulai hari. Wanita itu duduk kaku di singgasananya dengan sebuah cermin kuningan berada tepat di hadapannya. Sementara itu, dua orang dayang muda sibuk merapikan rambut juga menyematkan beberapa hiasan rambut pada sanggulannya.
Tak jauh dari singgasana yang sedang ditempati wanita istana tersebut, seorang dayang senior sibuk mengawasi kinerja dua dayang muda itu seraya membaca ekspresi yang terpeta di paras tuannya. Dayang senior itu jelas tak ingin laporan yang hendak ia sampaikan membuat suasana hati tuannya berantakan di hari yang masih terbilang sangat pagi. Detik di mana dayang senior itu masih menimbang-nimbang tindakannya, sosok wanita istana itu lebih dulu membuka suara.
“Apa kau sudah memastikan persiapan hari ini rampung semua, Dayang Kim?”
Dengan raut datarnya, wanita istana itu tetap menatap lurus pantulan dirinya dalam cermin kuningan. Wanita itu sama sekali tak berniat mengalihkan atensinya dari bayangan dirinya, seakan pertahanannya akan hancur jika mengalihkan perhatiannya bahkan hanya untuk sementara.
Ditanya dengan pertanyaan seperti itu, membuat Dayang Kim sedikit gelagapan. Asisten utama dari wanita istana itu tak bisa menutupi keterkejutannya karena majikannya sendirilah yang membuka topik yang sedari tadi di hindari Dayang Kim. Dengan keraguan yang masih tersisa, Dayang Kim pun berusaha melaporkan situasi acara besar yang digelar istana.
“Ye, Mama. Hamba sudah memastikan segala sesuatunya berjalan sesuai rencana. Tidak ada yang perlu Anda cemaskan, Mama.”
Wanita istana itu terdiam selama beberapa menit setelah mendapatkan laporan dari Dayang kIm. Atensinya tetap tertuju pada pantulan dirinya namun sorot yang terpancar dari kedua manik itu terlihat dingin dan kosong. Sekalipun raga wanita istana itu berada di ruangan mewahnya, tapi entah kenapa pikirannya seakan tengah menjelajah ke tempat lain.
Melihat tidak adanya reaksi dari tuannya, membuat Dayang Kim menatap khawatir terlebih saat mendapati sorot kosong yang diperlihatkan sang tuan. Perlahan, Dayang Kim mendekati singgasana yang di duduki wanita istana tersebut. Dengan penuh kehati-hatian, Dayang Kim kembali membuka suara, memastikan perasaan dari majikannya.
“Mama, apa Anda baik-baik saja? Apa ada sesuatu yang mengganggu Anda mengenai acara hari ini?”
Kang Hyesun tersadar dari lamunannya mendengar Dayang Kim yang kembali mengajukan pertanyaan padanya. Irisnya bergulir menuju Dayang Kim. Romannya masih tanpa riak, dingin dan datar seperti biasanya. Sebelah tangannya lalu terangkat, membuat dua dayang muda yang sedang membantunya bersiap berhenti bekerja dan mundur ke belakang.
“Bagaimana dengan persiapan istana timur yang akan mereka tempati setelah acara penobatan selesai? Apa istana timur sudah dibersihkan dan di isi dengan perabotan yang baru?”
Kang Hyesun lebih memilih menggulirkan pertanyaan lain pada Dayang Kim daripada harus menjawab pertanyaan dari asisten kepercayaannya tersebut. Hyesun tak ingin siapapun bisa melihat betapa kacau dan hancurnya perasaan Hyesun pada hari ini. Setelah hari ini, Hyesun jelas akan menghadapi hari-hari penuh siksaan yang lebih melelahkan daripada sebelumnya.
Sebagai Ratu yang sedang bertakhta, Hyesun bertanggung jawab sebagai pemimpin pelaksana acara penobatan Yi Yeol dan Yeonhwa yang dilakukan hari ini. Karena Yi Yeol akan memasuki istana dengan gelar saudara penerus takhta, mau tak mau Hyesun harus memiliki andil dalam kegiatan hari ini. Tidak hanya sampai hari ini, seterusnya Hyesun pasti akan banyak bertemu bahkan berkomunikasi dengan wanita yang selama ini menjadi pusat rasa irinya, yaitu Min Yeonhwa. Wanita yang Hyesun anggap sebagai perebut segala kebahagiaannya.
Setelah hari ini, Hyesun harus menahan diri lebih keras dari biasanya karena Yeonhwa akan berada di bawah tanggungjawabnya sebagai calon Ratu masa depan. Dimana sebagai Ratu yang sedang menjabat adalah tugas Hyesun untuk mengajari, mempersiapkan, juga memastikan agar Yeonhwa bisa melaksanakan tugasnya sebagai calon ratu di masa yang akan datang. Mengingat semua itu, membuat Hyesun merasa jika Langit sedang menguji kesabarannya.
“Ye, Jungjeon Mama. Hamba sudah mendapat laporan bahwa sore kemarin istana timur sudah siap untuk ditempati pasangan Wangseje Jeoha dan Wangsejebin Mama. Mohon Anda tak perlu khawatir.”
“Kapan acara penobatannya dilaksanakan, Dayang Kim?”
“Saat ini Menteri Ritus Istana sedang melaksanakan prosesi penjemputan. Kemungkinan sebelum tengah hari, acara utama penobatan akan dilaksanakan.”
Hyesun termangu beberapa detik, seakan menghitung detik demi detik yang akan ia lalui menuju hari penuh siksaannya. Hingga wanita itu mengangkat kembali wajahnya dan memusatkan perhatian pada Dayang Kim.
“Aku tidak perlu ikut pada acara penobatan itu,bukan?” tanya Hyesun yang lagi-lagi memastikan rangkaian acara prosesi hari ini.
“Ye,Mama. Acara penobatan utama hanya akan dihadiri oleh Jusang Jeonha dan para menteri. Setelah acara penobatan selesai, Wangsejebin Mama akan secara terpisah melaksanakan salam perkenalan pada Anda dan tetua istana yang menunjukkan bahwa ia menjadi anggota baru dalam harem istana.”
~THE RED MOON~
Sementara itu, di tempat terpisah kala menteri baru saja terbit di ufuk timur, serombongan besar dayang, kasim, dan pengawal bergerak keluar dari gerbang utama istana. Mereka terus bergerak beriringan menuju suatu tempat dengan satu orang menteri yang tak lain adalah Menteri Han—Menteri Ritus Kerajaan. Pria paruh baya itu memimpin rombongan dengan menaiki seekor kuda cokelat yang gagah, membuat kehebohan masyarakat yang dilewati oleh rombongan besar itu.
Para pedagang dan bangsawan yang kebetulan melihat rombongan tersebut, sibuk mulai bergosip ria satu sama lain. Sesuai dengan pengumuman yang di sebar istana beberapa hari lalu, bahwa Raja Yeongak memberikan dekrit kenaikan takhta untuk adiknya—Pangeran Agung Hyoyeom, sebagai saudara penerus takhta.
Berbagai spekulasi bermunculan di tengah masyarakat mengenai keputusan tersebut. Meski masyarakat mengetahui bahwa tindakan sang Raja di dasarkan pada pelaksanaan wasiat mendiang raja sebelumnya, tetap saja berbagai dugaan muncul ke permukaan. Masyarakat tidak hanya sibuk menduga namun juga mengaitkan bahwa situasi yang terjadi saat ini persis seperti ramalan terkenal yang mereka ketahui.
Rombongan besar itu bergerak menuju kediaman Pangeran Agung Hyoyeom. Tidak hanya membawa para pelayan serta pengawal dalam jumlah yang cukup besar, dua buah tandu besar pun turut ikut dalam rombongan. Kedua tandu itu akan membawa Yeol dan Yeonhwa ke istana.
Begitu rombongan tiba di depan kediaman Pangeran Agung Hyoyeom, Menteri Han langsung turun dari kudanya dan memasuki gerbang yang telah dibuka selebar mungkin, seolah sudah tahu waktu penjemputan yang tepat. Menteri Han memasuki pekarangan rumah dengan tenang. Ia mengarahkan langkahnya menuju bangunan timur tempat Yeol dan Yeonhwa menunggu kedatangannya.
Tak butuh waktu lama sampai akhirnya Menteri Han berhadapan langsung dengan Yeol. Sementara Yeonhwa menunggu di ruangan lain, menanti aba-aba penjemputan. Menteri Han membungkuk dan mengeluarkan sebuah gulungan, yang kemudian mulai membuka dan membacakan gulungan tersebut dengan lantai.
“Perintah kerajaan! Pada hari ketiga bulan ke sepuluh pada tahun 1x27, Tahun ke kedua pemerintahan Raja Yeongak, sesuai dengan wasiat Mendiang Raja Munhyeong, memutuskan dan menetapkan bahwa Hyoyeom Yi Yeol Daegun, akan diangkat serta dinobatkan sebagai saudara penerus takhta. Berdasarkan dekrit tersebut, pagi ini kerajaan memberi perintah agar Hyoyeom Yi Yeol Daegun Daegam memasuki istana sesegera mungkin untuk melaksanakan acara penobatan.”
Selesai membacakan surat perintah tersebut, Menteri Han kembali menggulung perkamen, lalu menundukkan arah pandangnya. Menteri Han dengan sigap, segera memimpin prosesi penjemputan Pangeran Agung Hyoyeom menuju tempat penobatan.
“Silakan menuju tandu yang telah disediakan, Jeoha,” ujar Menteri Han yang sudah mulai mengubah pemanggilan formalitasnya pada Pangeran Agung Hyoyeom dari Daegam menjadi Jeoha.
Dengan anggukan singkat, Yeol pun mulai melangkah dari ruangan tempatnya menunggu, menuju tandu yang sudah dipersiapkan. Pada hari penobatannya ini, Yeol mengenakan mahkota dengan manik yang menghias di bagian depan yang disebut Myeonryugwan, tubuh tingginya di jubah khusus berwarna biru dongker dengan hiasan sulaman berbagai lambang yang disebut dengan jubah daeryeobok.
Mendapati aba-aba bahwa prosesi penjemputan telah dilaksanakan, dari ruangan yang berbeda Yeonhwa—di bantu dua orang dayang, pun ikut keluar menuju tandu yang telah disediakan. Pada hari penobatannya, Yeonhwa pun mengenakan gaun kerajaan yang lebih indah dan mewah dibandingkan saat pernikahannya terdahulu. Kepalanya kini mengenakan sebuah mahkota besar dengan berbagai ornamen emas yang mewah yang disebut daesu. Tak ketinggalan, gaun yang dikenakannya tak kalah cantik dan mewah yang disebut dengan chijeokui.
Begitu sudah berada di depan tandu, Yeol tak lantas masuk begitu saja. Pria itu menanti hingga Yeonhwa tiba. Begitu Yeonhwa sudah berada di depan tandu, secara tak terduga Yeol berbalik dan membantu istrinya menaiki tandunya. Hal ini membuat hati Yeonhwa menghangat atas perlakuan Yeol padanya. Bibir Yeonhwa yang terpoles pewarna bibir itu menggumamkan terima kasih pada Yeol. Setelah memastikan Yeonhwa aman di tandunya, mereka pun segera berangkat menuju Istana Gyeongbok.
“Minggir dari jalanan! Wangseje Jeoha dan Wangsejebin Mama akan lewat!”
Dua orang pengawal yang mulai bertugas mengosongkan jalanan dari warga yang penasaran dan ingin melihat pasangan pewaris takhta yang akan segera dinobatkan. Masyarakat dengan cepat segera menyingkir, membentuk barisan dan bersimpuh memberi hormat sepanjang jalan Yeol dan Yeonhwa menuju Istana Gyeongbok.
Hari itu, cuacanya begitu cerah dengan langit biru jernih menaungi Joseon. Semesta seakan merestui dan telah merencanakan segala sesuatu yang akan terjadi hari ini. Bahkan udara sejuk berembus, membuat suasana begitu tenang dan damai. Seluruh semesta telah menakdirkan bahwa Yi Yeol berhak atas takhta Joseon di masa depan.
~THE RED MOON~