궁전의 생활 (Gungjeon-ui Saenghwal |The Palace’s Life)
Yi Yeol dan Yeonhwa berdiri saling berdampingan menghadap sebuah pintu gerbang besar yang masih tertutup. Beberapa dayang dan kasim tampak memeriksa pakaian pasangan tersebut, memastikan tidak ada sesuatu yang kurang pada pasangan tersebut. Setelah dipastikan tidak kekurangan apapun, seorang kasim bersiap di posisinya memberi aba-aba kehadiran Yi Yeol dan Yeonhwa di tempat prosesi penobatan.
“Wangseje Jeoha dan Wangsejebin Mama telah hadir!”
Begitu pengumuman kehadiran disebutkan, segera saja gerbang merah yang tadi tertutup di bukakan oleh dua orang pengawal kerajaan di susul dengan suara musik yang menyambut pasangan baru pewaris takhta. Dengan langkah perlahan, keduanya melangkah beriringan memasuki tempat acara penobatan dengan jantung yang berdegup kencang.
Keduanya melangkah di sepanjang kain merah yang dibentangkan, sebagai penunjuk jalan yang harus dilalui oleh Yeol dan Yeonhwa menuju singgasana yang berada tepat di baris kedua dari teras aula istana. Pasangan itu melangkah melewati barisan para menteri yang berada di kanan-kiri dari jalur merah yang disediakan.
Sementara itu, tepat di baris teratas, duduk dengan memasang ekspresi angkuh juga dingin, Raja Yeongak mengikuti jalannya prosesi penobatan adik tirinya dalam diam. Pria yang menggunakan jubah kerajaan berwarna merah pekat itu, duduk sendirian di singgasananya tanpa di temani istrinya—Ratu Kang. Maniknya yang tajam terus mengawasi jalannya prosesi penobatan seraya memperhatikan dengan lekat riak ekspresi juga sikap yang ditunjukkan Yi Yeol selama prosesi ini.
Begitu Yi Yeol dan Yeonhwa tiba di dekat tangga bebatuan menuju singgasana yang telah disediakan, Menteri Han yang kebetulan sudah berganti pakaian dan bersiap menunggu kehadiran pasangan itu, mulai mengambil gulungan yang sedari tadi di simpan di tempat khusus. Tangan menteri paruh baya itu segera membuka gulungan dan membacakan dengan lantang, dekrit penobatan yang diberikan pada Yeol dan Yeonhwa.
Bersamaan dengan Yeol dan Yeonhwa yang sudah berada di depan Menteri Han, musik yang mengalun mengiringi langkah pasangan pewaris itu terhenti. Setelah memastikan musik istana terhenti dan suasana menjadi sunyi dan khidmat, Menteri Han mulai membacakan dengan lantang dekrit tersebut.
“Di bawah perintah dari takhta kerajaan, Hyoyeom Yi Yeol Daegun akan diangkat sebagai Wangseje berdasarkan pada wasiat mendiang Raja Munhyeong. Perintah dari takhta kerajaan pun mengangkat Yeonhwa dari klan Min sebagai Wangsejebin, mendampingi, mengabdi serta melayani di samping Wangseje. Keduanya dinyatakan sebagai pasangan pewaris takhta kerajaan oleh Surga dan bumi, di bawah berkat dari leluhur kerajaan dan Surga. Semua makhluk duani akan terberkati dan kedamaian akan tercipta. Semua pejabat dan rakyat akan mendapat berkat dan keamanan akan berlangsungnya kerajaan dengan dinobatkannya pasangan pewaris takhta.”
Setelah membacakan isi dekrit penobatan, Menteri Han menggulung kembali dekrit tersebut dan meletakkannya kembali pada kotak khusus yang telah disediakan. Di mana nanti kotak khusus tersebut akan diberikan pada Yeol sebagai bukti resmi pengangkatannya sebagai Saudara Penerus Takhta.
Setelah selesai pembacaan dekrit, Yeol dan Yeonhwa—di bantu oleh masing-masing pelayan mereka, membungkuk sebanyak tiga kali pada Raja Yeongak, sebagai tanda kesetiaan, penghormatan pada Raja Yeongak selaku raja yang sedang berkuasa. Selesai dengan proses pemberian penghormatan, Yeol dan Yeonhwa secara beriringan naik menuju singgasana yang telah disediakan. Begitu keduanya duduk di takhta tertinggi kedua dalam kerajaan, giliran para menteri dikomandoi oleh Menteri Han, memberikan penghormatan pertama pada pasangan pewaris takhta tersebut.
“Wangseje Jeoha, Wangsejebin Mama, seribu berkat untuk kuasa seribu tahun!” pekik Menteri Han menjadi komando untuk diikuti para menteri, lalu membungkuk pada Yeol dan Yeonhwa.
“Wangseje Jeoha, Wangsejebin Mama, seribu berkat untuk kuasa seribu tahun! Seribu berkat untuk kuasa seribu tahun!”
Dengan serempak para menteri menggaungkan penghormatan di halaman aula istana yang lalu diikuti dengan bungkukkan hormat. Ketika prosesi penobatan itu berlangsung. Tidak ada seorang pun yang menyadari kehadiran seorang wanita istana yang berdiri di ambang gerbang samping kiri menuju halaman istana. Wanita istana itu sudah berada di sana sejak awal prosesi penobatan berlangsung.
Dengan hati yang dipenuhi kesedihan, kedengkian, serta sakit hati, Ratu Kang menyaksikan seluruh proses penobatan Yi Yeol dan Yeonhwa pagi ini. Meski ia tidak diperlukan kehadirannya pada acara utama tersebut, entah kenapa Kang Hyesun tetap ingin menyaksikannya. Tangannya yang sedari tadi bersembunyi di balik dangui—gaun kerajaan dengan berbentuk seperti jaket hanbok, berwarna jingga terus mengepal erat. Sementara itu, manik hazelnya terus tertuju pada sosok feminim yang berdiri di samping Yeol sejak tadi. Hati Hyesun bergemuruh penuh kemarahan bercampur kedengkian karena tempatnya di sisi Yeol telah direbut juga diisi oleh wanita lain.
“Tempat itu seharusnya milikku. Tidakkah ia sadar dengan kemalangan yang menimpanya menandakan bahwa ia sudah merebut tempat seseorang?” desis Hyesun dengan sorot tajam tertuju pada Min Yeonhwa yang kini sedang duduk di takhta mendampingi Yi Yeol.
~THE RED MOON~
Yeonhwa tak bisa langsung beristirahat setelah menyelesaikan proses penobatan yang dilaksanakan di halaman aula istana. Masih mengenakan gaun mewah dan hiasan rambutnya yang berat, ia harus memperkenalkan diri dan menyapa para tetua istana yang sudah menunggu kehadirannya di kediaman Ibu Suri Istana Jo.
Kegiatan tersebut wajib Yeonhwa lakukan karena kini ia akan tinggal dan masuk dalam lingkaran terdalam pada keluarga kerajaan. Sekalipun ia memang sudah memperkenalkan diri pada tetua istana saat pernikahannya terdahulu, namun tetap saja ada protokoler tambahan yang harus Yeonhwa jalankan karena ia kini resmi tinggal di istana.
Sedikit meringis, Yeonhwa berusaha keras menahan beban di kepalanya seraya mengikuti seluruh agenda hari ini. Jika saja boleh, Yeonhwa ingin sekali berganti pakaian dan melepaskan mahkota berat di kepalanya sebelum menemui para tetua istana. Sekali lagi, ada beberapa hal yang tak bisa Yeonhwa kendalikan sekalipun kini ia sudah memiliki posisi yang jauh lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.
Setelah kedatangannya diumumkan oleh dayang yang berjaga di depan pintu masuk, sebuah suara yang memberikan izin terdengar. Tak butuh waktu lama bagi Yeonhwa untuk melangkah memasuki ruangan untuk bertemu para tetua istana yang harus mendapatkan salam darinya setiap hari kelak.
Di ruangan, Ibu Suri Istana Jo—selaku anggota keluarga paling senior, duduk tepat di tengah-tengah ruangan. Di samping kiri Ibu Suri Istana Jo, duduk ibu mertua Yeonhwa—Ibu Suri Park, yang kemudian di sebelahIbu Suri Park, terdapat Ratu Kang. Ketiga wanita istana itu seakan sudah bersiap menyambut kehadiran Yeonhwa. Namun, dari ketiganya, hanya Ibu Suri Istana Jo-lah yang menanti kehadiran Yeonhwa dengan senyum lebar. Berbanding terbalik dengan Ibu Suri Park dan Ratu Kang, yang memasang ekspresi datar tanpa riak selagi menyambut Yeonhwa.
Dengan senyum yang tersungging, Yeonhwa mulai membungkuk hormat sebanyak tiga kali—memberikan penghormatan yang layak, sebelum akhirnya duduk dihadapan ketiga wanita istana tersebut.
“Izinkan saya memberikan salam dan memperkenalkan diri pada tetua istana. Saya Hyekyung Wangsejebin dari klan Min, memberikan salam pada Wang Daebi Mama, Daebi Mama, juga Jungjeon Mama. Mohon bimbingan Anda semua,” sapa Yeonhwa dengan nada yang begitu lembut.
“Aigoo, aku tak menyangka jika akan memiliki Yi Yeol memiliki bunga secantik ini di sampingnya. Meski sudah pernah mendapat salam darimu, tetap saja aku termangu dengan kecantikan putri mahkota kita yang baru ini. Tidakkah kalian memiliki pendapat yang sama denganku, Daebi?” tanya Ibu Suri Istana Jo seraya melemparkan pandangan pada Ibu Suri Park yang tak lain adalah ibu mertua langsung dari Min Yeonhwa.
“Ye, Eomma Mama. Apa yang Anda katakan memang benar. Kerajaan ini terutama Seje sangat beruntung memiliki bunga secantik Sejebin sebagai pendampingnya,” sahut Ibu Suri Park dengan senyum tipis mengembang di kedua sudut bibirnya.
Ratu Kang diam-diam merasa sedih mendengar pujian yang dilontarkan Ibu Suri Park—yang notabene adalah ibu kandung dari pria yang ia cintai. Bahkan, wanita istana yang biasanya menatap tajam pada Hyesun pun memberikan pujian yang selama ini tak pernah Hyesun dengar terlontar dari bibir sang Ibu Suri.
Hyesun memilih tak bersuara. Diam-diam, Hyesun menggigit bagian dalam bibirnya, berusaha mengatur rasa kesal yang meledak di dalam dirinya. Tak ketinggalan, jemarinya pun memilin erat kain rok tradisional yang dikenakannya. Sungguh, Hyesun benci setengah mati dengan sosok feminim yang kini secara tak langsung berada dalam tanggung jawab dirinya.
“Aku secara pribadi menyambut kedatanganmu dengan penuh sukacita, Sejebin. Aku tidak berharap sesuatu yang luar biasa darimu. Tugasmu sebagai Wangsejebin adalah mendampingi Seje selama menjabat sebagai pewaris takhta kerajaan. Meski posisi pewaris takhta telah terisi, bukan berarti kau bisa berleha-leha, Sejebin. Kau tetap memiliki kewajiban untuk dapat melahirkan penerus bagi Seje dan keluarga kerajaan. Karena mulai hari ini, kau adalah salah satu pilar yang menyokong keberlangsungan kerajaan ini di masa depan,” pesan Ibu Suri Istana Jo dengan nada suara lembut namun penuh penekanan dalam beberapa hal terkait tugas Yeonhwa sebagai istri dari saudara penerus takhta.
“Saya akan menyimpan pesan Anda di dalam hati, Wang Daebi Mama,” balas Yeonhwa dengan kepala sedikit tertunduk setelah mendengar wejangan yang disampaikan oleh Ibu Suri Istana Jo.
Perhatian Ibu Suri Istana Jo kemudian beralih dari Yeonhwa kepada Ibu Suri Park dan Ratu Kang yang sedari tadi belum bersuara. Sekalipun Ibu Suri Istana Jo adalah tetua paling senior, wanita tua itu yakin bahwa Ibu Suri Park juga Ratu Kang bisa memberikan wejangan yang mampu membantu Yeonhwa menyesuaikan diri dengan kehidupan di istana.
“Daebi, Jungjeon, jika ada sesuatu yang ingin kalian sampaikan pada Sejebin, katakan saja. Aku tidak akan menahan kalian,” ujar Ibu Suri Istana Jo mempersilakan dua wanita istana lain membuka suara.
“Aku hanya ingin menambahkan sedikit pesan pada Sejebin, jika Eomma Mama tidak keberatan,” sahut Ibu Suri Park sembari menoleh ke arah Ibu Suri Istana Jo, meminta persetujuan untuk memberikan pendapat.
“Silakan. Aku tak akan menahanmu berbicara, Daebi.”
Ibu Suri Park tersenyum dan mengangguk atas izin yang diberikan Ibu Suri Istana Jo. Kini atensi wanita itu tertuju sepenuhnya pada Yeonhwa. Manik wanita itu memberikan tatapan lekat penuh arti.
“Aku hanya bermaksud menambahkan karena semua hal yang perlu kau perhatikan sudah disebutkan oleh Wang Daebi Mama. Sebagai ibu dari Seje, aku hanya berharap kau mampu mendampingi Seje sebaik mungkin. Kelak di masa depan, tugasnya akan semakin berat, karena itu kau harus mampu menjadi tempat bersandar yang nyaman. Aku hanya mengharapkan hal itu darimu sebagai seorang ibu.”
Yeonhwa terdiam beberapa detik mendengar nasehat yang disampaikan Ibu Suri Park. Yeonhwa jelas mengerti maksud nasehat tersebut, secara tersirat Ibu Suri Park mengharapkan Yeonhwa agar bisa mendukung segala hal yang akan dilakukan Yeol kelak. Dengan tekad bulat, sesuai yang pernah Yeonhwa sampaikan pada Ibu Suri Park sebelumnya, wanita itu menyanggupi kewajibannya tersebut.
“Saya akan mengingatnya dalam hati. Terima kasih atas nasehatnya, Daebi Mama.”
“Jungjeon? Apa kau tak ingin memberikan nasehat untuk Sejebin?”
Pertanyaan dari Ibu Suri Istana Jo menyadarkan Hyesun dari pikirannya. Wanita istana yang belum mengatakan apapun sedari tadi itu, mengangkat wajahnya dan mendapati seluruh perhatian tertuju padanya. Tampaknya, Hyesun sudah terlalu lama tenggelam dalam pikirannya sendiri.
“Apa kau tak ingin mengatakan apapun untuk Sejebin, Jungjeon?” ulang Ibu Suri Istana Jo dengan mata menatap penuh selidik dengan sikap tak biasa yang ditunjukkan Hyesun pada pertemuan ini.
“Ah, tentu saja saya memiliki nasehat untuk Sejebin, Halma Mama,” sahut Hyesun cepat sembari menampilkan seulas senyum di sudut bibir. Irisnya bergulir dan kini menatap lurus Yeonhwa yang sedang menanti nasehat darinya.
“Sebelumnya, izinkan aku mengucapkan selamat datang padamu, Sejebin. Sebagai orang yang akan bertanggung jawab langsung dengan segala tugas di harem istana, aku berharap kau bisa belajar dengan cepat dan mengetahui posisimu seperti apa di dalam harem istana ini,” tandas Hyesun dengan nada suara terdengar begitu dingin di akhir kalimatnya. Wanita itu seolah menyiratkan kesan bahwa kehidupan istana Yeonhwa jelas tidak akan mudah.
Yeonhwa bukannya tak menyadari nada dingin serta peringatan tersirat yang diberikan Ratu Kang padanya. Kakak iparnya itu seakan ingin memberi tanda bahwa kehidupan Yeonhwa di istana tidak akan semudah yang dibayangkan. Meski begitu, Yeonhwa sudah meneguhkan diri untuk bisa mendampingi Yeol. Hingga, Yeonhwa pun mengangguk dan memperlihatkan senyum terbaik serta sorot mata yang memperlihatkan tekad kuatnya.
“Anda tidak perlu cemas, Jungjeon Mama. Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk membantu Anda dalam melakukan tugas di harem istana.”
~THE RED MOON~