가장 큰 전장 (Gajang keun Jeonjang |The Biggest Battlefield)
“Jadi, bagaimana rasanya tinggal di istana, Sejebin? Apa kau menemui kesulitan selama beberapa hari ini?”
Ibu Suri Park menatap lekat Putri Mahkota Min yang duduk di hadapannya pada pagi hari ini. Seperti biasa, pagi ini Putri Mahkota Min datang menemui Ibu Suri Park untuk melaksanakan salam pagi—sebagaimana aturan protokoler istana utama yang harus dijalankan oleh seluruh anggota kerajaan. Tidak hanya sekedar menyampaikan salam pagi, Ibu Suri Park bahkan sengaja menghidangkan teh dan beberapa camilan sebagai bentuk undangan minum teh secara tak langsung pada menantunya tersebut.
“Bukankah ini sudah hari kedua kau tinggal di istana, Sejebin?” tambah Ibu Suri Park seraya mengangkat cawan teh miliknya. Irisnya tak lepas memperhatikan riak ekspresi yang tergambar pada roman menantunya, berusaha mencari tahu perasaan Putri Mahkota Min.
“Berkat bantuan dan perhatian Anda, saya bisa menyesuaikan diri dengan cepat, Eomma Mama,” balas Yeonhwa dengan kepala sedikit tertunduk, memperlihatkan rasa terima kasih karena ibu mertuanya sangat memperhatikan dirinya.
“Aku senang jika kau bisa menyesuaikan diri dengan baik. Apa Jungjeon sudah membawamu berkeliling istana atau memberikan tugas pokok padamu?”
“Jungjeon Mama belum meminta bantuan saya. Kami belum bertemu lagi sejak saya menyampaikan salam pertama setelah penobatan,” aku Yeonhwa yang memang belum bertemu lagi dengan sang Ratu.
Saat Yeonhwa menyampaikan salam pertamanya di hari penobatan, Ratu Kang meminta pamit lebih dulu dengan alasan ada beberapa hal yang harus ia kerjakan. Dan hingga detik ini, Yeonhwa pun belum bertemu lagi dengan wanita istana dengan perangai dingin tersebut. Jangankan memberikan tugas, Yeonhwa entah kenapa memiliki firasat bahwa Ratu Kang seakan enggan berada di satu ruangan yang sama dengannya dalam waktu yang lama.
“Ck, wanita sombong itu,” desis Ibu Suri Park yang terdengar kesal ditandai dengan suara porselen yang beradu cukup kencang kala ia meletakkan kembali cawan teh di atas meja. “Seharusnya ia harus segera memperkenalkanmu pada seluruh pelayan yang bekerja di istana. Sebentar lagi, musim semi akan tiba. Sudah seharusnya ia mempersiapkan banyak hal. Aku tak tahu apa sebenarnya yang dikerjakan anak itu,” imbuh Ibu Suri Park.
Yeonhwa menanggapi keluhan Ibu Suri Park dengan senyum canggung. Sebagai orang baru di istana, Yeonhwa masih buta dengan segala hal yang menjadi tugas dari seorang Ratu ataupun Putri Mahkota. Biasanya, calon putri mahkota akan belajar semua tugas di istana bersamaan dengan persiapan pernikahan dan penobatan.
Tapi semua itu berbeda dengan Yeonhwa. Ia tidak pernah mendapatkan pelatihan khusus seperti itu karena pada awalnya ia hanya akan bergelar sebagai Putri Pendamping, bukan calon Ratu Joseon di masa depan.
“Lalu, aku dengar kau kemari masih ditemani seorang nain. Apa kau belum memiliki seorang asisten resmi yang ditugaskan di istana timur, Sejebin?”
Yeonhwa sedikit gelagapan mendengar Ibu Suri Park kembali mencecar dirinya dengan pertanyaan. Tidak hanya kaget, Yeonhwa pun terkejut karena ibu mertuanya mengetahui bahwa ia datang kemari masih ditemani seorang nain—dayang muda peringkat rendah, yang tak lain adalah Gaeun. Gaeun adalah pelayan yang bertugas melayani Yeonhwa saat masih tinggal di paviliun musim gugur.
Mengingat statusnya sebagai Putri Mahkota, sudah seharusnya Yeonhwa memiliki seorang asisten pribadi dengan pangkat sanggung—dayang senior, yang melayani dan menemaninya kemanapun. Bahkan seorang calon putri mahkota sejak hari pertama dinyatakan lolos seleksi, harem istana dengan segera memilih dan menetapkan seorang dayang senior untuk melayani. Namun, Yeonhwa yang sampai hari keduanya tinggal di istana belum mendapatkan seorang dayang senior di sisinya, jelas membuat Ibu Suri Park mengernyit heran.
“Y-ye, Eomma Mama. Belum ada dayang senior yang ditugaskan untuk bekerja di istana timur,” cicit Yeonhwa dengan nada takut bercampur ragu. Di satu sisi Yeonhwa hanya ingin bersikap jujur dan terbuka apa adanya pada Ibu Suri Park, tapi di sisi lain Yeonhwa tak ingin dianggap mengadukan kelalaian Ratu Kang dalam hal mengurus dan mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan Yeonhwa.
Ibu Suri Park mengernyit seraya menyipitkan mata mendengar balasan Yeonhwa. Sebagai seseorang yang cukup lama tinggal dan menghabiskan waktunya di istana, apa yang terjadi pada Yeonhwa jelas menjadi sesuatu yang cukup mencurigakan bagi Ibu Suri Park. Intuisinya dengan kuat mengisyaratkan bahwa ada sesuatu yang bisa saja terjadi antara Ratu Kang dengan Putri Mahkota Min.
“Aku akan mengambil alih hal itu. Aku sendiri yang akan memilihkan sanggung yang akan bertugas menjadi asistenmu. Aku akan meminta Dayang Nam mencarikan dayang senior yang cocok untukmu,” pungkas Ibu Suri Park memberikan keputusan karena merasa ada situasi yang aneh.
“Terima kasih atas perhatian Anda, Eomma Mama. Kebaikan Anda sungguh seluas lautan.”
Yeonhwa membungkukkan badannya ke arah Ibu Suri Park, menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam karena ibu mertuanya sangat memperhatikan dirinya. Sungguh, Yeonhwa bersyukur dalam hati karena kini Ibu Suri Park sudah bersikap jauh lebih hangat dibandingkan saat ia pertama kali bertemu. Setidaknya kini Yeonhwa merasa bahwa Ibu Suri Park sudah cukup menyukai dirinya.
“Sejebin, kau tidak boleh berdiam diri jika mengalami ketidakadilan di harem istana. Apa yang Jungjeon lakukan terhadapmu dengan mengabaikan kebutuhanmu akan seorang asisten utama, jelas menyiratkan kesan bahwa ada sesuatu yang terjadi. Tinggal di istana, memang akan lebih diam, tapi diam di sini bukan berarti kau tak melakukan apapun. Kau harus peka dalam menilai situasi dan kondisi yang terjadi disekitarmu. Semua ini semata-mata bukan hanya untukmu, tapi juga untuk melindungi Yeol. Bukankah kau sendiri yang mengatakan padaku ingin mendukung dan melindungi Yeol?”
Yeonhwa termangu mendengar teguran yang diberikan ibu mertuanya. Bibir serta lidahnya terasa kelu sesaat setelah mendengar teguran tersebut. Terlebih, kalimat tanya di akhir teguran tersebut menjadi pengingat keras akan alasan Yeonhwa kini tinggal di istana. Seakan ada bel yang berdentang dengan begitu keras di dalam kepala Yeonhwa setelah meresapi teguran tersebut.
“Mungkin, kau bisa saja menganggap bahwa soal pemilihan dayang senior untuk bertugas dan melayanimu selama tinggal di istana adalah hal yang remeh. Sehingga kau bisa menanggapinya dengan tenang karena sampai hari kedua kau sudah berada di istana, belum ada seorang pun yang datang dan melapor bahwa ia ditugaskan menjadi pelayan pribadimu. Tapi, bagiku yang sudah menghabiskan masa muda berada di tempat ini, semua ini jelas menjadi sesuatu yang sangat ganjil. Tidakkah kau memahami itu, Sejebin?”
“Mohon maafkan saya Eomma Mama. Saya masih perlu banyak belajar tentang segala sesuatu yang terjadi di istana.”
Ibu Suri Park menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Wanita itu sedikit kesal dengan Yeonhwa, namun tak bisa menyalahkan wanita istana muda yang duduk dihadapannya. Bagaimana pun, menantunya itu masih sangat murni dan perlu diarahkan untuk mengetahui medan perang di istana. Jika Yeonhwa terus bersikap seperti ini, Ibu Suri Park yakin bahwa kelak akan terjadi sesuatu yang bisa membahayakan nyawa Yeol di kemudian hari. Sang Ibu Suri jelas harus bertindak lebih keras dalam mendidik menantunya.
“Masih ada banyak hal yang perlu kau pelajari agar bisa tinggal di istana dengan aman. Langkah pertama yang harus kau lakukan adalah bersikaplah peka dengan segala sesuatu yang terjadi di sekitarmu. Termasuk dalam memilih asisten pribadimu. Aku tak ingin membuatmu terkejut, tapi aku merasa sepertinya Jungjeon ingin menempatkan mata-mata terbaiknya sebagai asisten kepercayaanmu.”
Manik Ibu Suri Park menatap dingin ketika melihat ekspresi terkejut yang menghias paras Yeonhwa. Wanita istana itu tak terkejut dengan Yeonhwa yang terlihat sangat kaget dengan fakta yang ia jatuhkan. Karena bagaimanapun, intuisinya menyadari semua itu.
“Jika kau pernah mendengar bahwa istana adalah tempat paling mengerikan di Joseon, pada kenyataannya istana memanglah medan perang tanpa akhir. Karena itu, untuk bisa bertahan di istana, kau perlu mengenali medan perangmu dengan baik,” tukas Ibu Suri Park yang kembali memberikan wejangan pada Yeonhwa.
~THE RED MOON~
“Jungjeon Mama, ini hamba Dayang Kim.”
Perhatian Ratu Kang yang sedang membaca buku di singgasananya, sedikit teralihkan ketika pintu ruangannya bergeser terbuka di susul dengan Dayang Kim yang masuk ke dalam ruangan. Seakan tak ingin terganggu, Ratu Kang pun memutuskan menyudahi kegiatan membacanya dengan menutup buku yang terbuka di atas meja. Irisnya kini menatap sepenuhnya pada Dayang Kim yang sudah duduk tepat di hadapannya.
“Apa terjadi sesuatu, Dayang Kim?” tanya Ratu Kang seraya membenahi posisi duduknya.
“Hamba membawakan surat dari departemen ritual istana dan astronomi. Sepertinya, Daebi Mama meminta departemen astronomi untuk mencarikan malam baik untuk penyatuan Seje Jeoha dan Sejebin Mama,” jelas Dayang Kim seraya menyerahkan sebuah perkamen dengan cap inisial departemen astronomi pada Ratu Kang.
Ratu Kang menerima perkamen itu dengan pandangan nanar. Mendengar penjelasan Dayang Kim mengenai malam baik untuk pasangan baru kerajaan, membuat hatinya bergejolak di penuhi kemarahan. Secara tak sadar, tangannya meremat perkamen yang baru saja diserahkan Dayang Kim padanya.
“Selain itu, hamba juga sudah mendapat kepastian mengenai awal musim semi nanti. Kepastian tanggal untuk musim semi bisa dijadikan acuan dalam penentuan hari ritual panen raya kelak, Mama,” tambah Dayang Kim yang kembali menyerahkan perkamen laporan pada Ratu Kang. Dayang senior itu belum menyadari perubahan raut yang terjadi pada Ratu Kang akibat laporan pertama yang ia sampaikan.
Butuh usaha keras bagi Ratu Kang untuk bisa mengendalikan emosinya setelah membaca malam penyempurnaan Yeol dan Yeonhwa yang akan jatuh di akhir bulan ini. Perasaan Kang Hyesun carut marut. Kepalanya dipenuhi berbagai tindakan yang mungkin bisa ia lakukan untuk mencegah terjadinya malam penyempurnaan tersebut. Karena bagaimana pun, Hyesun tak bisa membayangkan pria yang ia cintai setengah mati akan menghabiskan malam bersama wanita lain, tepat di dekat tempatnya tinggal.
“Apa Sejebin sudah mengetahui bahwa ia akan memiliki malam penyempurnaan pada akhir bulan nanti, Dayang Kim?” tanya Hyesun yang masih menahan emosi dengan menggertakkan giginya akibat ledakan kemarahan, kedengkian, serta kebencian yang melanda.
Untuk sesaat Dayang Kim terdiam mendengar pertanyaan yang diajukan Ratu Kang padanya. Hingga pada detik selanjutnya, Dayang Kim menyadari gejolak emosi yang terpancar dari iris hazel sang Ratu ditambah dengan jemari lenti yang meremat kuat perkamen laporan dari departemen astronomi yang masih berada di tangan Ratu.
Dayang Kim sepertinya mengetahui Ratu Kang sedang menahan gejolak emosi yang memenuhi sang Ratu. Tak ingin memancing kemurkaan sang Ratu, Dayang Kim berusaha keras mencari jawaban aman untuk disampaikan pada Kang Hyesun.
“Mohon maafkan hamba, Jungjeon Mama. Perihal itu hamba belum mengetahuinya. Hanya saja, hamba mendapat salinan laporan ini karena Jungjeon Mama harus mengetahui hal ini sebagai pemimpin harem istana. Mohon ampuni ketidaktahuan hamba, Mama.”
Ratu Kang berdecak kesal seraya memalingkan wajahnya. Jawaban yang diberikan Dayang Kim jelas tak membantunya untuk meredam emosi. Hingga sesuatu yang terlintas di kepalanya, membuat Ratu Kang kembali menumpukan perhatian pada Dayang Kim.
“Aku baru ingat, apa kau sudah mendapat dayang senior yang tepat untuk ditugaskan menjadi asisten pribadi Sejebin?”
“Ye,Mama. Hamba sudah mendapatkan dayang yang tepat untuk melayani Sejebin Mama sesuai kriteria yang Anda inginkan,” balas Dayang Kim cepat.
Ratu Kang mengangguk dan tersenyum tipis. Perasaannya sedikit membaik setelah mendengar jawaban Dayang Kim. Setidaknya ada satu hal yang bisa berjalan baik sesuai rencananya.
“Kalau begitu, besok perintahkan dayang yang kau maksud untuk menemui wanita istana timur itu. Jika kita terlalu lama menunda, bisa jadi akan menimbulkan kecurigaan bagi Daebi Mama. Terlebih, sepertinya gadis licik itu akan menjadi menantu kesayangan dari Daebi Mama,” tukas Ratu Kang sembari berpikir keras menentukan langkah selanjutnya agar bisa menggagalkan malam penyempurnaan Yeol dan Yeonhwa.
“Hamba akan segera melaksanakan perintah Anda, Jungjeon Mama. Mohon Anda tak perlu khawatir.”
~THE RED MOON~