임상궁 (Im Sanggung |Lady-in-waiting Im)
Suara gemericik air menggema ke seluruh penjuru ruangan, bersahutan dengan suara binatang malam di hutan yang berada di dekat istana. Perpaduan dua suara yang berbeda itu menimbulkan harmoni ketenangan bagi pasangan yang saat ini berada dalam ruangan tersebut. Keheningan tersebut tidak hanya mengantarkan ketenangan namun juga membuat suasana hati yang baik di tengah rasa lelah yang mendera keduanya secara fisik maupun mental.
Yeonhwa meletakkan kembali poci berisi teh setelah mengisi dua cawan yang tersaji di atas meja. Kepulan asap tipis putih membumbung dari cawan, menguarkan aroma teh yang baru di seduh. Aroma tersebut membuat siapapun tergoda untuk menyesap teh yang menjadi teman terbaik untuk berbincang di malam hari seperti ini.
“Aku menyeduh teh bunga persik, Jeoha. Teh ini dikirim Eomeonim bersama dengan beberapa barang kita yang dibawa dari paviliun musim gugur. Menyesap teh bunga persik konon akan membuat tidur kita jauh lebih berkualitas,” jelas Yeonhwa dengan tangan yang kini mulai sibuk menyumpit dan meletakkan beberapa jenis camilan malam untuk dinikmati Yeol sebagai teman minum teh.
Sementara itu, duduk tepat di samping Yeonhwa, Yeol memperhatikan setiap gerak-gerik Yeonhwa yang sedang melayani dirinya. Hanya dengan memperhatikan kegiatan yang dilakukan Yeonhwa, mampu menerbitkan rasa tenang dan kedamaian di hati Yeol.
Hari kedua Yeol menjalani tugas sebagai Pangeran Pewaris Takhta cukup melelahkan. Ada berbagai kegiatan yang harus Yeol hadiri. Belum lagi Yeol pun harus mempelajari beberapa hal yang selama ini tidak pernah ia pelajari selama mempelajari hal dasar semasa kecil, karena subjek pelajaran tersebut terlarang bagi pangeran non pewaris takhta sepertinya.
“Konon, ada yang mengatakan dengan menyesap teh bunga persik sebelum tidur, mampu membuat kualitas tidur kita menjadi lebih baik juga akan lebih lelap. Karena itu, silakan di cicipi, Jeoha. Aku sengaja memilih teh ini untuk Anda,” imbuh Yeonhwa dengan jemari lentiknya menggeser cawan yang terisi air berwarna bening kekuningan itu lebih dekat pada Yeol.
Yeol tersenyum penuh pada Yeonhwa, yang lalu mengangkat cawan teh dan menghidu perlahan aroma manis yang menguar dari cairan bening kekuningan tersebut. Yeol memusatkan perhatiannya pada Yeonhwa, yang juga balas menatapnya.
“Gomawo, Bingoong*. Terima kasih karena kau sudah begitu perhatian padaku. Aku sangat bersyukur memilikimu sebagai istriku.”
Yeonhwa menundukkan kepala untuk menyembunyikan pipinya yang bersemu merah. Sekalipun ia sudah terbiasa dengan keberadaan Yeol di sisinya, namun jantungnya seakan tidak akan pernah terbiasa mendengar sanjungan yang terucap dari bibir Yeol. Pipi pucat wanita istana itu dengan cepat bersemu.
“Jeoha, kau terlalu berlebihan,” cicit Yeonhwa yang dalam hatinya berharap bahwa cahaya lilin dapat mengaburkan sedikit perhatian Yeol dari wajahnya. “Bagaimana dengan kegiatanmu hari ini, Jeoha? Apa hari ini sangat melelahkan?”
Yeonhwa dengan segera mengalihkan topik pembicaraan mereka. Malam ini mereka akan memasuki hari ketiga bermalam di istana. Dan ini sudah malam ketiga mereka berbincang bersama sembari menikmati teh dan camilan, sebelum nanti Yeol kembali ke ruang tidurnya. Dan sepertinya, kegiatan ini akan menjadi rutinitas mereka sebelum beristirahat. Yeol dan Yeonhwa secara tak sadar, sama-sama berusaha membangun ikatan yang kuat diantara satu sama lain.
Yeol menandaskan isi cawannya sebelum menjawab pertanyaan Yeonhwa. Helaan napas panjang diembuskan pria yang masih mengenakan jubah kerajaan berwarna biru tua. Lalu, secara tak terduga, Yeol menggeser meja saji yang ada di dekat mereka—sedikit menjauh, dan membaringkan dirinya di pangkuan Yeonhwa.
“Jeoha!”
Yeonhwa benar-benar terkejut dengan sikap Yeol. Meski begitu, Yeonhwa tak menampik rasa hangat yang perlahan menjalari hatinya. Dengan refleks, jemari Yeonhwa terangkat untuk mengusap lembut dahi Yeol. Pada awalnya Yeonhwa merasa ragu dengan tindakannya—karena takut dianggap lancang, tapi melihat Yeol yang malah terlihat nyaman, membuat Yeonhwa meneruskan kegiatannya tersebut.
“Biarkan aku seperti ini sejenak. Hari ini jauh lebih melelahkan dibanding hari pertama. Ada banyak hal yang perlu kupelajari. Cukup berat, hanya saja aku masih bisa melaluinya,” ujar Yeol seraya meraih tangan Yeonhwa yang bebas, menggenggamnya erat dan meletakkannya di atas d**a Yeol. Sesaat, Yeol memejamkan matanya namun di detik ke lima belas, kelopaknya kembali terbuka dan menyorot langsung pada Yeonhwa.
“Kau sendiri bagaimana? Apa kau sudah mendapat tugas yang berat untuk mengurus istana, Bingoong?”
“Animnida,” Yeonhwa menggeleng cepat, setelah mendengar pertanyaan yang diutarakan Yeol. “Aku sama sekali belum mendapat tugas apapun. Aku bahkan belum bertemu lagi Jungjeon Mama setelah salam pertamaku. Itu sebabnya, tadi pagi Eomma Mama memarahiku,” imbuh Yeonhwa seraya terkikik geli.
“Eomma Mama memarahimu?”
Yeol tersentak mendengar cerita Yeonhwa. Pria itu bahkan langsung terduduk kembali dan menatap lekat istrinya. Riak khawatir terlihat jelas di roman maskulin tersebut. Sekalipun Yeol menyadari perubahan sikap yang ditunjukkan ibunya pada Yeonhwa, tetap saja ia merasa cemas mendengar Yeonhwa mendapat omelan dari sang Ibu di hari kedua tinggal di istana.
“Kenapa ia memarahimu, Bingoong? Memang kesalahan apa yang kau lakukan?” cecar Yeol dengan tangan memegang kedua bahu Yeonhwa, memusatkan agar wanita istana itu berfokus pada dirinya.
Melihat Yeol yang begitu mencemaskan dirinya, membuat Yeonhwa tertawa kecil. Sungguh, ia tak menyangka bahwa suaminya akan sebegitu mengkhawatirkan dirinya. Yeonhwa bahkan sampai perlu membekap tawanya dengan tangan, berusaha meredam suara tawanya sendiri.
“Apa kau merasa ada yang lucu di sini, Bingoong?” tandas Yeol dengan nada suara rendahnya. Ekspresi pria itu terlihat kaku, heran dengan sikap yang ditunjukkan istrinya.
“A-animnida, Jeoha. Aku tak bermaksud membuatmu tersinggung atau apapun. Hanya saja, kau terlalu berlebihan menanggapi ceritaku, Jeoha,” jelas Yeonhwa masih dengan sedikit tawa di akhir kalimatnya.
“Eomma Mama hanya menegurku karena aku hanya ditemani Gaeun. Padahal dengan status dan peringkatku saat ini, sudah seharusnya ada dayang senior yang melayaniku. Tapi sampai hari kedua aku tinggal di istana, belum ada seorang pun dayang senior yang datang menemuiku.”
Dahi Yeol mengernyit mendengar penuturan Yeonhwa. sekalipun Yeonhwa menjelaskan semua itu dengan nada riang tanpa beban, hal ini malah menimbulkan tanda tanya besar bagi Yeol. Sesuai dengan peringkat dan status Yeonhwa saat ini, memang sudah seharusnya ada dayang senior yang menjadi asisten pribadinya.
Sama seperti Yeol—karena ia terlahir dan besar di istana, sejak awal ia sudah memiliki asisten pribadi yaitu Kasim Choi. Bahkan setelah kenaikan gelarnya, Kasim Choi pun kembali masuk istana, mengikuti Yeol, lalu mendapatkan kenaikan peringkat menjadi kasim junior utama sesuai dengan kenaikan takhta Yeol.
Jika sampai hari kedua Yeonhwa belum memiliki seorang asisten pribadi, hal ini jelas menimbulkan tanda tanya besar di benak Yeol. Setitik emosi perlahan merayap naik ke permukaan hati Yeol mendengar bagaimana harem istana memperlakukan istrinya. Kini, kemarahan ibunya—Ibu Suri Park, terasa wajar di mata Yeol. Seberapa sulit memilih dayang senior dari begitu banyaknya dayang istana menjadi pelayan pribadi Yeonhwa? Bahkan sampai perlu menghabiskan waktu hingga dua hari?
“Kau belum mendapatkan seorang dayang senior sebagai asistenmu, Bingoong? Bahkan di hari kedua kau sudah tinggal di istana tak ada satupun yang menemuimu?” Yeol kembali mencecar Yeonhwa.
Yeonhwa termangu melihat ada gurat kemarahan di roman Yeol. Melihat hal itu, membuat tawa Yeonhwa benar-benar berhenti. Kepalanya yang masih mengenakan hiasan khas wanita istana, terangguk. Membenarkan fakta yang tadi disebutkan Yeol padanya.
“Ye, Jeoha. Aku belum memiliki satupun dayang senior di sisiku. Apa itu benar-benar masalah besar?” cicit Yeonhwa yang kini merasa bersalah karena ketidaktahuannya sudah membuat Yeol kembali mengkhawatirkan dirinya.
Yeol menghela napas panjang betapa Yeonhwa yang masih begitu santai menanggapi ketidakadilan yang didapatkannya. Manik gelap Yeol bergulir dan kini menyorotkan tatapan yang meneduhkan sekaligus penuh kasih sayang pada istrinya. Senyum kemudian terbit di kedua sudut bibirnya, berusaha menenangkan Yeonhwa yang kini terlihat gelisah setelah menceritakan kejadian hari ini.
“Sebenarnya ini bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan, hanya saja apa yang terjadimu adalah sesuatu yang tidak pantas bahkan terkesan lancang. Wajar jika Eomma Mama marah mengetahui kau belum memiliki pelayan pribadi.”
“Mianhae, Jeoha. Aku tak tahu jika hal seperti itu termasuk dalam ketidakadilan, atau tindakan lancang yang tidak sepantasnya aku dapatkan,” tutur Yeonhwa dengan kepala tertunduk lesu, menyadari ketidaktahuannya yang bisa berakibat fatal karena artinya membiarkan orang lain bisa saja menginjak harga dirinya.
Kini, giliran Yeol yang terkekeh karena sikap Yeonhwa persis seperti anak kecil yang merasa bersalah sehabis dimarahi. Entah kenapa, setiap kali Yeonhwa memperlihatkan sikap lembut dan polosnya seperti sekarang, membuat Yeol gemas setengah mati. Kian hari, Yeol menyadari pesona memikat yang dimiliki wanita yang sudah menjadi miliknya tersebut. Membuat Yeol tak menyadari perasaannya yang semakin bertumbuh pada Min Yeonhwa.
“Gwenchana, aku tidak marah padamu, Bingoong. Hanya saja, kau berhak untuk melakukan protes jika mengalami hal seperti ini di kemudian hari. Kau tidak akan dianggap sebagai putri pembangkang hanya karena melakukan protes seperti itu,” kekeh Yeol dengan jemari kokohnya menjawil penuh sayang hidung Yeonhwa. Membuat Yeonhwa sedikit merengut karena tindakan Yeol padanya.
“Ye, Jeoha. Ke depannya aku akan bersikap lebih peka dengan segala sesuatu yang terjadi di sekitarku ataupun di sekitarmu.”
Yeol mengangguk dan tertawa dengan tanggapan Yeonhwa. Pria itu kemudian merebahkan kembali kepalanya di pangkuan Yeonhwa. Menikmati rasa nyaman yang menjalar dari sosok feminim yang asyik mengusap lembut dahinya.
Mereka pun kembali tenggelam dalam obrolan kegiatan harian mereka. Tak hanya kembali berbincang, mereka pun sesekali bertukar pikiran mengenai hal-hal yang terjadi dalam kegiatan harian mereka. Tindakan itu secara tak langsung benar-benar akan menguatkan satu sama lain, seakan mereka tak hanya berusaha menyatukan hati namun juga pikiran dan cara pandang mereka.
“Jeoha, Mama, mohon maaf mengganggu waktu Anda berdua. Hamba Dayang Im meminta izin untuk menghadap Anda berdua.”
Suara pengumuman dari depan pintu masuk membuat pembicaraan mereka terhenti. Ke empat iris dengan manik yang berbeda warna itu terpusat sepenuhnya pada pintu masuk ruangan yang tertutup tak jauh dari tempat mereka.
“Apa kau sengaja memanggil dayang kemari, Bingoong?” tanya Yeol menatap heran Yeonhwa yang juga balas dengan pandangan yang sama herannya.
“Animnida, Jeoha. Aku tak memanggil seorang pun kemari.”
“Lebih baik kita persilakan saja ia masuk. Mungkin saja ia membawa pesan penting,” putus Yeol yang disetujui Yeonhwa dengan anggukan singkat.
“Silakan masuk,” titah Yeol sembari membenahi posisi duduk mereka yang sebelumnya terlihat begitu intim dan sedikit tak pantas jika sampai di lihat seorang dayang ataupun pelayan istana manapun.
~THE RED MOON~
Seorang dayang berusia pertengahan dua puluh masuk ke ruangan begitu dipersilakan masuk oleh Yeol dan Yeonhwa. Mengenakan dangui polos—gaun khusus yang biasa dikenakan wanita yang tinggal di istana— yang warnanya senada dengan jubah yang dipakai kasim istana, dayang itu dengan segera memberikan penghormatan pada Yeol dan Yeonhwa. Pasangan kerajaan itu sudah duduk bersisian dengan tubuh tegap dan menatap penuh selidik pada dayang istana tersebut.
“Izinkan hamba memperkenalkan diri, hamba Dayang Istana Im. Mohon maaf karena menemui Jeoha dan Mama di waktu beristirahat. Namun, hamba di utus Daebi Mama untuk melayani Sejebin Mama sebagai kepala dayang istana timur,” tutur Dayang Im setelah selesai memberikan salam penghormatan.
Yeonhwa terbelalak setelah mengetahui bahwa dayang senior—namun terlihat masih cukup muda—di depannya itu akan menjadi pelayan pribadinya. Dengan cepat, kepalanya mengingat pertemuannya pagi ini dengan Ibu Suri Park. Segera, Yeonhwa mengingat jika Ibu Suri Park memang akan memilih dan mengirim seorang dayang senior ke kediamannya hari ini juga.
“Jadi, kau akan bertugas menjadi dayang pribadiku mulai saat ini, Dayang Im?” tanya Yeonhwa berusaha memastikan bahwa ia tak salah mengartikan maksud kedatangan Dayang Im.
Dayang Im tersenyum tipis dan menganggukkan kepala. Dayang senior itu tetap menurunkan tatapannya dan memilih memandangi lantai kayu yang ada di depannya. “Ye, Sejebin Mama. Mulai hari ini, hamba akan menjadi pelayan pribadi Anda. Mohon bimbingan Anda ke depannya, Sejebin Mama.”
Dayang Im kembali membungkukkan badannya ke arah Yeonhwa, seakan meminta izin agar Yeonhwa mau menerima dirinya sebagai asisten pribadi.
“Sungguh melegakan mendengarnya,” sahut Yeol yang kemudian menolehkan wajahnya menatap Yeonhwa. “Akhirnya kau tak perlu menunggu lebih lama lagi untuk mendapatkan asisten pribadi, Bingoong. Aku bisa merasa lega karena kini Bingoong tak akan lagi sendirian.”
“Jeoha, aku tak pernah sendirian. Gaeun selalu bersamaku. Anda tak perlu mencemaskanku secara berlebihan.”
“Sekalipun kau memiliki Gaeun di sisimu, sudah sepantasnya kau memiliki dayang senior yang mendampingimu, Bingoong,” tandas Yeol.
Atensi Yeol kini kembali tertuju pada Dayang Im. Meski terlihat tenang, iris gelap Yeol dengan cepat berusaha menilai sosok kepala dayang yang akan menemani istrinya. Dalam hati, Yeol sangat bersyukur karena ibunya—Ibu Suri Park, langsung bertindak cepat dengan mengirim dayang senior untuk Yeonhwa.
“Mohon bantuanmu, Dayang Im. Tolong layani Bingoong sebaik mungkin. Bingoong masih awam dengan segala hal yang ada di istana, karena itu tolong bantu dan layani ia dengan sangat baik,” ujar Yeol dengan sedikit penekanan akan perintahnya tersebut.
Dayang Im kembali merendahkan tubuhnya di hadapan Yeol dan Yeonhwa. kepalanya mengangguk, memahami perintah yang diberikan sang Putra Mahkota padanya.
“Hamba akan mengingat perintah Anda dalam hati hamba. Mohon Anda tak perlu khawatir, Jeoha.”
~THE RED MOON~
*Bingoong: Permaisuri Istana—sebutan atau panggilan lain bagi Putri Mahkota di dalam istana. Biasanya panggilan ini terdengar lebih akrab dan istimewa jika Putra Mahkota menggunakan gelar ini sebagai panggilan pada istrinya.