이너 코트 게임 (Ineo Koteu Geim | Inner Court Games)
Kala mentari belum menampakkan diri sebagai penguasa hari, kesibukan sudah terasa di seluruh penjuru istana. Tak terkecuali di area istana timur. Area yang menjadi tempat tinggal khusus bagi pasangan pewaris takhta kerajaan Joseon pun sudah menunjukkan adanya aktivitas harian yang terjadi.
Setelah mendapatkan perintah resmi untuk melayani sekaligus menjadi kepala dayang di istana timur, Dayang Im segera menunjukkan kemampuannya dalam mengatur dan memeriksa hasil pekerjaan para dayang di istana timur.
Seperti pagi ini, Dayang Im sibuk berkeliling di pekarangan paviliun yang menjadi tempat tinggal Putri Mahkota Min di istana timur. Dengan telaten, Dayang Im memeriksa bahkan tak segan menegur hasil pekerjaan para dayang muda yang dirasa tidak sesuai dengan prosedur kerajaan yang seharusnya.
Ketika Dayang Im sedang asyik membenahi dan memberikan contoh suatu pekerjaan pada seorang dayang muda, Gaeun—pelayan yang sudah melayani Yeonhwa sejak masih tinggal di paviliun musim gugur, mendekati Dayang Im dengan seorang lelaki dan seorang perempuan mengekor tepat di belakangnya.
“Mamanim*....” panggil Gaeun dengan nada sedikit ragu-ragu, bahkan tak berani untuk mendekati dayang tersebut.
Meski sudah memiliki peringkat yang tinggi sebagai dayang istana, usia Dayang Im masih terbilang muda. Namun, usia muda dan sudah berhasil meraih peringkat dayang tertinggi di istana malah membuat para dayang muda semakin gugup dan canggung berhadapan dengannya.
Dayang Im menoleh seiring dengan panggilan Gaeun. Alis Dayang Im terangkat seraya mengarahkan kakinya menuju tempat Gaeun berdiri.
“Ada apa?” ulang Dayang Im dengan sorot mata sedikit menuntut penjelasan setelah ia sudah berhadapan dengan Gaeun.
“Mamanim, ada yang ingin menemui Sejebin Mama. Hamba tidak mengizinkan keduanya menemui Sejebin Mama karena saat ini beliau pasti masih bersiap,” ujar Gaeun dengan sedikit takut-takut pada Dayang Im.
Mendengar penuturan Gaeun membuat dahi Dayang Im mengernyit. Tanpa mengatakan apapun, segera saja Dayang Im menuju beranda tempat di mana kedua orang yang ingin menemui majikannya pasti menunggu. Hingga akhirnya manik Dayang Im mendapati dua sosok yang dimaksud Gaeun tadi.
Seorang pria yang berpakaian selayaknya tabib, ditemani seorang dayang muda yang sudah dapat dipastikan adalah seorang perawat istana, tengah berdiri beberapa langkah dari beranda paviliun. Pria yang kemungkinan tabib itu segera menyatakan maksud kedatangannya begitu Dayang Im menemui mereka.
“Kami dari rumah sakit istana diminta untuk memeriksa kondisi kesehatan Sejebin Mama juga memberikan tonik khusus untuk persiapan. Bisakah kami segera menemui beliau?” tanya tabib tersebut seraya menyerahkan selembar perkamen perintah pada Dayang Im sebagai bukti bahwa ia tak mengada-ngada.
Dayang Im menerima perkamen yang diserahkan sang tabib dan membacanya dengan cepat. Setelah memahami tujuan kedatangan si tabib dan perawat, dayang tersebut mengangguk dan mempersilakan tabib beserta perawat itu menemui Putri Mahkota Min.
“Saya akan memberitahu kedatangan kalian berdua pada Sejebin Mama. Silakan ikut saya,” pungkas Dayang Im sambil memimpin kedua utusan rumah sakit istana untuk menemui Putri Mahkota Min.
~THE RED MOON~
Yeonhwa baru saja selesai memilih bongjam—tusuk konde emas berbentuk phoenix, yang akan dikenakananya pagi ini pada dayang yang sedang membantunya bersiap ketika ia mendengar suara Dayang Im di depan pintu ruangannya. Yeonhwa mengangkat wajah dan menumpukkan perhatiannya pada pintu masuk setelah memberi izin Dayang Im untuk menemuinya.
Pintu masuk bergeser dan Dayang Im dengan cepat memasuki ruangan. Ekspresi dayang senior tersebut terlihat begitu tenang, sebelum akhirnya memberi salam dan duduk tepat dihadapan Yeonhwa.
“Mama, Daebi Mama mengirim seorang tabib dan perawat untuk memeriksa kondisi kesehatan hari ini. Saat ini mereka sudah datangn dan menunggu tepat di luar ruangan.”
“Pemeriksaan kesehatan? Untuk apa aku melakukan itu, Dayang Im? Kondisiku baik-baik saja,” tukas Yeonhwa cepat karena merasa heran dengan tindakan yang diluar dugaan tersebut.
Dayang Im mengulum tawa mendengar balasan Yeonhwa yang cukup polos untuk ukuran sebagai seorang wanita istana. Tepat seperti yang sudah dipesankan Ibu Suri Park padanya di hari ia diminta melayani Yeonhwa. Jika Yeonhwa tetap bersikap seperti ini, Dayang Im bisa memastikan jika Yeonhwa tak akan bisa bertahan lama di istana. Sembari menahan tawa, Dayang Im berusaha menjelaskan secara singkat kepentingan pemeriksaan tersebut pada Yeonhwa.
“Tidak perlu khawatir, Mama. Pemeriksaan kesehatan ini untuk kebaikan Anda. Selain itu, Anda juga sudah mendapatkan tanggal resmi jadi pemeriksaan ini adalah salah satu bagian dari proses malam penyempurnaan,” ujar Dayang Im dengan senyum tipis di sudut bibirnya.
“Hee? M-malam penyempurnaan katamu?!”
~THE RED MOON~
“Coba jelaskan padaku, Dayang Im....”
Yeonhwa membuka pembicaraan setelah ia menyelesaikan pemeriksaan bahkan meminum secawan besar tonik herbal yang rasanya sangat pahit. Iris wanita itu menyorot dayang istana yang mulai hari ini melayaninya secara penuh. Sedikit garis halus tampak menghias dahi Yeonhwa seiring rasa penasaran yang membalut hati akan tindakan Dayang Im.
“Kau bilang aku mendapat malam penyempurnaan? Kenapa aku tidak pernah mendengar kabar itu sebelumnya? Kapan semua itu diputuskan? Aku bahkan bukan pasangan pengantin baru,” tuntut Yeonhwa pada Dayang Im yang sudah duduk tepat dihadapannya.
Mendengar rentetan pertanyaan yang dilontarkan Yeonhwa padanya, membuat Dayang Im mengernyit, menimbulkan guratan dalam muncul di dahi dayang tersebut. Ia sudah mendapat kabar itu bahkan sejak ia mendapat tugas dari Ibu Suri Park. Kini, pelaku utama yang akan terlibat dalam agenda kenegaraan harem istana malah tidak mengetahui informasi tersebut? Bagi Dayang Im ini benar-benar lelucon yang sangat hebat.
“Mama, apa Anda sungguh tak mendengar kabar bahwa Anda mendapat jadwal malam penyempurnaan? Hamba tak sedang bercanda, departemen astronomi pun sudah memberikan tanggal resminya. Semua ini adalah permintaan Daebi Mama.”
“Kapan tepatnya jadwal tersebut disampaikan, Dayang Im? Aku sungguh belum mendengar apapun.”
“Jadwal tersebut sudah diberikan bahkan di sore pertama Anda tinggal di istana, Mama. Hamba pikir Anda sudah mengetahui semua ini. Karena jadwal ini adalah agenda kenegeraan harem istana, sudah seharusnya Jungjeon Mama me....”
Ucapan Dayang Im terhenti ketika menyadari sesuatu yang janggal tepat setelah bibirnya mengucapkan nama seorang wanita istana yang paling berkuasa di harem istana. Butuh satu menit bagi Dayang Im untuk merangkai segala kejanggalan yang terjadi pada Putri Mahkota Min. Ibu Suri Park yang harus turun tangan memilih dayang pribadi sang Putri Mahkota bahkan kini ketidaktahuan Putri Mahkota Min atas agenda pribadi kenegaraannya.
“Dayang Im? Apa ada sesuatu yang mengganggu?”
Iris hazel Yeonhwa menatap heran sekaligus aneh dengan sikap yang diperlihatkan asisten pribadinya tersebut. Bukan hanya sikap Dayang Im yang terasa aneh, dayang senior itu pun seolah tenggelam dalam pikirannya hingga tak melanjutkan penjelasannya pada Yeonhwa. Hal ini semakin menimbulkan keheranan Yeonhwa pada Dayang Im.
“Dayang Im? Apa kau tak mau menjawab pertanyaanku?”
“Ah, jweoseonghamnida Sejebin Mama. Hamba tak bermaksud mengabaikan Anda. Hanya saja, hamba menyadari keanehan yang terjadi pada Anda belakangan ini.”
“Keanehan apa yang kau maksud? Ho, apa mungkin kau berpikir bahwa aku sedang dipermainkan oleh seseorang?” duga Yeonhwa dengan pandangan menyipit penuh selidik.
Dayang Im tak langsung menjawab atas dugaan Yeonhwa. Butuh beberapa detik bagi Dayang Im untuk merangkai penjelasan yang tepat. Karena sejatinya, ia tak ingin ucapannya kelak bisa menimbulkan kesalahpahaman antara Yeonhwa dan sosok wanita istana tersebut. Meski begitu, Dayang Im tak menampik fakta bahwa memang benar Yeonhwa saat ini mungkin saja sedang dipermainkan.
“Sebelumnya, mohon maafkan kelancangan ucapan hamba ini, hanya saja hamba harus membenarkan jika sepertinya Anda memang sedang dipermainkan oleh situasi,” tutur Dayang Im hati-hati.
Ekspresi Yeonhwa yang semula terlihat cerah dalam sekejap berubah sedikit gelap, iris hazelnya yang sedari tadi memancarkan binar cahaya, kini terlihat berbeda dari sebelumnya. Seperti ada sosok lain yang mengisi jiwa dari wanita istana yang sedang duduk di singgasana tersebut.
“Hal apa yang membuatmu bisa berkata demikian, Dayang Im?”
“Sebagai dayang yang sudah tinggal di istana sejak masih kecil. Hamba sudah sangat mengenal segala permainan yang terjadi di harem istana ini, Sejebin Mama. Sekalipun hamba tak memiliki bukti kuat ataupun alasan spesifik, hamba yakin ada ingin mempermainkan Anda.”
Secara tak terduga Yeonhwa terkekehe mendengar penuturan Dayang Im tersebut. Wanita istana itu kemudian memusatkan kembali perhatiannya pada Dayang Im.
“Kupikir hanya aku saja yang beberapa hari ini merasa demikian. Eomma Mama bahkan memarahiku karena aku tak bersikap peka karena aku tak kunjung mendapatkan pelayan pribadi. Sejak beliau memarahiku, aku berusaha membaca situasi dan kini setelah mendengar berita yang kau sampaikan, tampaknya intuisiku sudah cukup tajam membaca situasi.”
Terdapat keheningan sesaat setelah Yeonhwa selesai menanggapi ucapan Dayang Im. Suara embusan angin pagi bahkan menyapa gendang teling seiring keheningan yang menyelimuti ruangan tersebut. Hingga, Yeonhwa menanyakan sesuatu yang sangat mengejutkan bahkan membuat Dayang Im hanya mampu terperangah, tak mampu menjawab.
“Dayang Im, apakah ini yang dimaksud dengan permainan harem istana? Apa ini adalah tingkatan pertama dari permainan tersebut?”
~THE RED MOON~