왕세제 빈 (Wangsejebin | Wife of The Throne Heirs/The Crown Princess)
Dayang Im terdiam selama hampir satu menit penuh setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan Min Yeonhwa secara tak terduga. Dayang Im tak pernah menyangka pertanyaan seperti itu akan terucap dari sang Putri Mahkota yang beberapa saat lalu ia anggap sebagai wanita manis yang masih cukup polos mengenai situasi istana. Tapi, berkat pertanyaan tersebut, penilaian Dayang Im berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya.
“Dayang Im? Kenapa kau tak menjawab pertanyaanku?”
Dayang Im tersentak dari pemikirannya mendengar Yeonhwa menegurnya. Segera, dayang senior yang masih berusia pertengahan umur dua puluh itu kembali memusatkan perhatiannya pada tuannya. Ketika irisnya tak sengaja bersitatap dengan Putri Mahkota Min, sebuah kilat yang tak biasa yang Dayang Im yakin bahwa sosok wanita istana di depannya cukup pandai menyembunyikan karakter yang sebenarnya.
“Mohon maafkan kelancangan hamba, Sejebin Mama. Hamba tak bermaksud mengabaikan Anda,” ucap Dayang Im sembari membungkukkan tubuhnya ke arah Putri Mahkota Min.
“Gwenchanta,” Yeonhwa membenahi posisi duduk dan menopang wajahnya dengan sebelah tangan di atas meja takhta. Senyum penuh arti mengembang di kedua sudut bibirnya. “Lalu, bagaimana dengan pertanyaanku tadi, Dayang Im? Apa benar semua yang kualami ini adalah permainan harem istana?”
Dayang Im menarik napas panjang, berusaha mengendalikan emosinya yang sedikit berantakan karena kaget melihat beragam ekspresi tak terduga yang diperlihatkan tuannya. Kini, Dayang Im memahami apa maksud Ibu Suri Park yang memintanya mengarahkan serta memberi saran untuk setiap tindakan Putri Mahkota Min ke depannya.
“Sejebin Mama, sebelum hamba menjawab pertanyaan Anda, maukah Anda mendengar sedikit saran hamba mengenai harem istana?”
Yeonhwa menganggukkan dan kembali mencari posisi yang lebih nyaman untuk mendengarkan saran yang diberikan Dayang Im. “Geurae. Silakan Dayang Im, aku sama sekali tak akan keberatan mendengar saranmu. Justru hal seperti itulah yang kubutuhkan agar bisa memahami seperti apa istana tempat tinggalku ini.”
“Mama, istana sejatinya bukan hanya tempat indah dan megah. Jauh lebih dalam, Anda pasti akan melihat pertarungan. Ada dua pertarungan yang biasa terjadi di istana. Pertarungan pertama yaitu pertarungan politik di balai istana antara para lelaki. Pertarungan kedua yaitu pertarungan antar wanita istana. Dari dua pertarungan tersebut yang paling ganas adalah pertarungan antar wanita istana, karena itu semua berarti memperebutkan kekuasaan dan kejayaan di masa depan,” ujar Dayang Im membuka topik pembicaraan.
“Kenapa semua itu terdengar mengerikan, Dayang Im? Apa pertarungan itu memang semengerikan seperti yang terdengar?”
Dayang Im mengangguk pelan. “Ye, Mama. Pertarungan yang hamba sebutkan tadi memang semengerikan yang terdengar. Selama hampir lebih dari lima belas tahun hamba tinggal di istana, tidak jarang pertarungan tersebut menelan korban jiwa. Itu sebabnya, Daebi Mama menunjuk hamba menjadi asisten pribadi Anda, Sejebin Mama. Jika Anda menyadari lebih awal, Anda memang sedang berada dalam permainan harem istana yang mengerikan tersebut.”
“Begitu,ya?”
Yeonhwa menegakkan kembali punggung yang tadi sempat duduk sambil bertopang wajah dengan sebelah tangan. Hazelnya terlihat lebih tajam dibandingkan biasanya. Hal ini seakan membuat perubahan berarti bahwa Yeonhwa memang tak bisa berdiam diri menerima segala sesuatu yang mungkin saja dipersiapkan untuk menjebak dirinya.
“Anda harus bersikap waspada dan peka terhadap segala sesuatu yang terjadi di sekitar. Posisi Anda adalah posisi paling rawan dan akan selalu menjadi sorotan. Terlebih, Seje Jeoha dan Anda terpilih berdasarkan dekrit istana. Semua itu akan menjadi penarik berbagai macam bahaya ke arah Anda berdua.”
“Apa mungkin Jungjeon Mama memiliki maksud tertentu dengan menunda tak kunjung menunjuk seorang asisten pribadi untukku?” tanya Yeonhwa berusaha memastikan intuisinya yang mulai terbuka dengan situasi yang terjadi di sekitarnya.
“Tidak menutup kemungkinan hal seperti itu bisa terjadi,Mama. Sebagai pemimpin harem istana, bukan hal yang sulit bagi beliau untuk menemukan dayang yang cocok untuk melayani Anda. Tapi, beliau terus menunda hingga hari ini, tidakkah itu menyiratkan ada sesuatu yang sedang dipersiapkan olehnya?” pancing Dayang Im berusaha membuat kepekaan Yeonhwa terhadap sekitar meningkat. Bagaimanapun, Yeonhwa memang perlu dilatih agar bisa membaca situasi dan kondisi istana dengan cepat.
Keheningan tercipta di ruangan tersebut seiring dengan dugaan yang dijatuhkan Dayang Im atas situasi yang sedang terjadi. Yeonhwa berpikir keras, berusaha mencari alasan apa yang membuat Ratu Kang menunda pemilihan dayang senior untuknya juga tak memberikan informasi mengenai adanya jadwal malam penyatuan bagi Yeonhwa dan Yeol—yang padahal sudah pasti diketahui oleh Ratu Kang beberapa hari sebelumnya.
“Sejebin Mama, apa sebelumnya Anda sudah diperkenalkan secara resmi oleh Jungjeon Mama pada seluruh dayang di istana? Karena berdasarkan pengalaman hamba, setiap kali istri pewaris takhta telah terpilih, maka Ratu yang sedang bertakhta akan memperkenalkannya pada seluruh dayang istana,” sahut Dayang Im yang lagi-lagi menyuarakan kejanggalan yang diterima Yeonhwa sebagai seorang Putri Mahkota.
“Apakah seharusnya ada pengenalan seperti itu, Dayang Im? Aku tak tahu mengenai hal itu. Selama dua hari kemarin, aku hanya menghabiskan waktu di ruanganku setelah menyampaikan salam pada Eomma Mama dan Wang Daebi Mama.”
“Anda adalah Wangsejebin, Mama. Bisa dikatakan Anda adalah Ratu Joseon di masa depan. Sudah seharusnya Anda diperkenalkan. Bagaimana mereka akan menaruh rasa hormat dan kepatuhan jika Anda tidak diperkenalkan, Sejebin Mama?”
“Tidakkah semua itu terdengar jika Jungjeon Mama tak ingin aku dikenal oleh seluruh lapisan yang bekerja di harem istana?” tandas Yeonhwa dengan senyum miring di paras manisnya.
Dayang Im yang menyadari posisi Yeonhwa yang berusaha sedang dilemahkan mulai berpikir keras. Keheningan kembali mewarnai ruang pribadi Yeonhwa pagi itu. Baik Yeonhwa maupun Dayang Im sama-sama memutar otak, mencari tahu maksud dan tujuan di balik tindakan yang dilakukan Ratu Kang terhadap sang Putri Mahkota.
“Sejebin Mama, hamba Dayang Song. Hamba mohon izin untuk menghadap Anda.”
Suara permohonan izin yang terdengar dari pintu masuk ruangan membuat Yeonhwa mengernyit dengan sebelah alisnya terangkat. Atensi penuh tanda tanya dilayangkan Yeonhwa pada Dayang Im, menuntut penjelasan dari asisten pribadi atas kehadiran seseorang yang terasa asing baginya.
“Apa kau mengundang seseorang kemari,Dayang Im?”
“Hamba tak mengundang siapapun kemari, Sejebin Mama.”
Yeonhwa terdiam beberapa detik setelah mendengar jawaban Dayang Im. Hingga sebuah dugaan melintas di kepalanya.
“Apa mungkin ia adalah asisten senior yang dikirim Jungjeon Mama kepadaku? Bagaimana menurutmu, Dayang Im?”
“Ada baiknya Anda perlu memastikan semua itu. Hamba pun memiliki dugaan seperti itu.”
“Baiklah, persilakan dayang itu masuk dan menghadap padaku,” titah Yeonhwa yang di jawab dengan anggukan cepat dari Dayang Im.
~THE RED MOON~
“Hamba adalah Dayang Song. Mulai hari ini hamba ditugaskan untuk melayani Anda di istana timur. Hamba akan berusaha melayani Anda sebaik mungkin, Wangsejebin Mama.”
Seorang dayang paruh baya memberi salam hormat kepada Yeonhwa sebelum akhirnya duduk di hadapan Yeonhwa. Dayang Song terlihat tenang dan tak memperlihatkan ekspresi apapun di romannya. Wanita itu bahkan tak sedikitpun menaruh tatapan curiga ataupun penasaran dengan kehadiran Dayang Im yang mempersilakannya masuk dan mengantarnya menemui Putri Mahkota Min.
Sementara itu, duduk di singgasananya Yeonhwa belum memberikan sepatah katapun untuk mengomentari salam sapaan yang diberikan Dayang Song padanya. Wanita istana itu tampak terpaku layaknya boneka dengan ekspresi dan sorot mata yang datar. Terjadi keheningan yang cukup lama setelah Dayang Song memperkenalkan diri dan mengatakan maksud kedatangannya.
“Kenapa kau baru datang kemari dan memperkenalkan diri sebagai asistenku? Apa aturan istana sebegini lambatnya? Sampai aku harus menunggu sampai hari ketiga untuk mendapatkan asistenku?” tandas Yeonhwa dengan senyum yang tersungging namun nada bicara serta pilihan kata yang dipilihnya menyiratkan rasa kesal yang teramat.
Dayang Song mengangkat wajahnya dan terperangah sesaat setelah mendapatkan tatapan tajam yang diperlihatkan sang Putri Mahkota. Wanita paruh baya itu tak menyangka akan mendapat sambutan seperti itu dari Min Yeonhwa.
Tak ingin membuat kemarahan Yeonhwa semakin membumbung tinggi layaknya kepulan asap, segera ia bersimpuh tepat di hadapan Yeonhwa—dengan Dayang Im duduk di samping kirinya dan ikut menghadap singgasana Putri Mahtako Min.
“Mohon maafkan kelalaian hamba, Sejebin Mama. Hamba benar-benar tak tahu jika Anda harus menunggu hingga hari ketiga untuk mendapatkan asisten pribadi di sisi Anda. Mohon ampuni kesalahan hamba.”
Terdengar getar ketakutan Dayang Song pada ucapannya di akhir. Wanita paruh baya itu benar-benar tak tahu menahu dengan penantian Yeonhwa yang dibiarkan menunggu hanya agar mendapatkan asisten. Sebagai dayang senior yang sudah lama mengabdi, Dayang Song mengendus keganjilan yang sepertinya sengaja dilakukan oleh Ratu Kang terhadap Putri Mahkota Min.
“Apa mungkin aku hanyalah putri mahkota yang terpilih berdasarkan dekrit wasiat, sehingga diperlakukan semena-mena seperti ini oleh aturan istana?”
Yeonhwa mengerucutkan bibir seraya menopang wajahnya dengan sebelah tangan di atas meja. Nada bicara serta ekspresi yang ditunjukkan Yeonhwa saat ini terlihat seperti anak kecil yang merajuk. Tapi jika menilik lebih dekat, sorot mata yang dipancarkan kedua hazel wanita istana itu sangatlah dingin dan mampu membuat siapapun pasti akan merasa takut menghadapinya.
“M-mama! Hamba tidak akan pernah berani bersikap selancang itu pada Anda. Sekalipun Anda terpilih karena dekrit mendiang Raja, tapi status serta posisi Anda tetaplah seorang Wangsejebin—istri dari seorang pewaris takhta yang sah. Hamba mohon ampun karena baru menemui Anda hari ini. Hamba tak tahu menahu jika Anda sudah menunggu cukup lama.”
Yeonhwa terkekeh mendengar penjelasan serta permohonan ampun yang diucapkan Dayang Song. Sejatinya, Yeonhwa tahu jika dayang senior di hadapannya itu tidak tahu-menahu ketidakadilan yang dialaminya.
Meski begitu, intuisi Yeonhwa mengatakan jika ia perlu bertindak tegas dengan memperlihatkan sedikit taringnya. Bukankah tidak ada yang bisa menjamin setelah kejadian ini, bisa saja para dayang di istana merendahkan dirinya akibat perbuatan semena-mena Ratu Kang padanya?
“Kembalilah, Dayang Song. Aku tak ingin dilayani olehmu,” tegas Yeonhwa dengan nada yang kini terdengar sangat dingin. Membuat siapapun yang mendengar ucapan Yeonhwa pasti akan merinding karena begitu dinginnya perintah yang diberikan wanita istana tersebut.
Dayang Song lagi-lagi dibuat terperangah akan perintah tak terduga Yeonhwa. Iris dayang senior itu menyiratkan permohonan agar Yeonhwa tak memberikan perintah tersebut. Kepala Dayang Song dengan cepat tak bisa membayangkan kemarahan Ratu Kang kelak saat ia kembali menyampaikan perintah Putri Mahkota Min yang menolak dirinya.
“S-sejebin Mama, mohon ampuni hamba. Hamba telah menyinggung Anda. Mohon ampuni hamba, Mama. Hamba tak bisa kembali dan menyampaikan pada Jungjeon Mama jika Anda sudah menolak dilayani oleh hamba. Hamb—“
“Itu sama sekali bukan urusanku, Dayang Song,” potong Yeonhwa dengan ekspresi datar. “Aku tak bisa menerima kelancangan yang diperbuat harem istana karena begitu lambat dalam bertindak.”
“S-sejebin Mama....”
Dayang Song kehilangan kata-kata mendengar tanggapan Yeonhwa. Dayang paruh baya itu tak bisa lagi membendung ketakutannya yang kelak harus menghadapi Ratu Kang yang dapat dipastikan murka padanya. Setetes likuid bening, meluruh dari sudut mata Dayang Song.
“Kembalilah, Dayang Song. Dan tolong sampaikan pada Jungjeon Mama. Aku sangat berterima kasih atas sambutan yang diberikan beliau. Tidakkah ia tahu bahwa Daebi Mama sudah mendengar perlakuan semena-menanya? Katakan padanya, aku sudah mendapatkan asisten pribadi yang ditunjuk langsung oleh Daebi Mama. Selain itu, sampaikan juga aku menunggu undangan darinya untuk menghadiri pesta pengenalanku pada seluruh dayang istana.”
Yeonhwa mengakhiri perintahnya dengan senyum yang menghias paras manisnya. Senyuman itu cukup lebar hingga mampu membuat kedua manik hazelnya tenggelam. Meski begitu, aura dingin menguar dari sosok manis itu membuat siapapun akan merasa bergidik.
Ya, Putri Mahkota Min telah menunjukkan taring pertamanya di istana.
~THE RED MOON~