Sudah empat kali ia berdansa dengan empat putri, namun ia merasa tidak memiliki kecocokan kepada empat putri tersebut, hingga akhirnya ia pun menepi dan berdiri diam di sana menyaksikan mereka yang berdansa di tengah ruangan tersebut.
“kenapa anda berhenti? Apakah tak ada satu puteri pun yang membuatmu penasaran, Pangeran?” dihelakannya nafas Abraham ketika Rezen berjalan mendekatinya dan bertanya, dianggukannya kepala Abraahm dengan pelan untuk menjawabnya dan ia pun berdehem yang menandakan bahwa yang ia katakan itu adalah benar,
“tapi kurasa aku tidak bisa melihat semuanya di sini, ini terlalu banyak sehingga sulit bagiku untuk menemukan yang pas” ucapnya dengan pelan, kedua matanya menoleh ke kanan dan kiri untuk melihta para gadis yang begitu banyak di sana.
“ya, terlalu banyak