Sang ayah merasa kalau anaknya agak aneh saat mendengar kabar tentang pencuri yang baru saja marak. Bagaimana tidak, anaknya baru saja menyelesaikan misi lain di Meksikana dan tidak tahu menahu masalah pencuri ini. Namun, biasanya lembaga yang ditempati Steve akan tahu jika hal ini menjadi bulan-bulanan masyarakat Legacy.
"Steve, you okay? Apa kau belum mengetahui kabar itu?" selidik Ezekhiel, Ayah Steve.
"Baru saja, Dad. Tuan Johansson memang menugaskanku untuk mencari identitas pencuri itu," ujar Steve.
"Carilah, Nak. Jasamu sangat berarti. Tuan Fernando langsung terserang jantung dan sedang sekarat di rumah sakit. Nanti sore setelah menemui Tuan Mischa dari Ausy dan menjemput Zefanya, kita harus menjenguknya, Theo," kata Ezekhiel kemudian.
"Ya, Tuan. Baiklah, aku akan membuatkanmu dan Steve minuman dulu," ijin Theo berlalu ke dapur yang bersebelahan dengan ruangan Ezekhiel.
"Jadi, bagaimana pekerjaanmu di Meksikana, Steve?" tanya Ezekhiel kemudian seperti biasa selalu menjadi sosok ayah yang pengertian dan sangat perhatian.
"Cukup sulit, Dad. Kami membekuk mafia mafia kecil yang berkeliaran di pemukiman. Namun, mereka tetap tidak mau memberitahu para dalangnya. Mereka bahkan rela mati demi menutupi rahasia!" cerita Steve agak kesal karena hanya menangkap para anak buah mereka saja.
"Begitulah di sana. Namun, kau baik baik saja bukan?" sahut Ezekhiel.
"Tentu! Kalau tidak aku tidak ada di depanmu," jawab Steve.
Ezekhiel tersenyum lalu menarik napas sebelum menyandarkan dirinya ke kursi putarnya.
"Kau tampak lelah, Dad," tutur Steve.
"Aku bukan lelah, tapi aku memikirkanmu. Memikirkan Sydney yang juga di negeri orang lalu juga memikirkan bagaimana menenangkan ibumu jika mengkhawatirkan kalian. Kami sebagai orangtua ingin yang terbaik untuk anak-anaknya," ujar Ezekhiel menaikan alisnya.
Steve menundukan kepalanya dan menautkan kedua tangannya. Dia tahu dan sangat tahu apa yang menjadi kerinduan orangtuanya. Mereka ingin seperti saudara-saudara mereka. Darren, sepupu Steve meneruskan perusahaan hotel kakek dan ayahnya. Zena dan Pieter menurun bakat bermusik ayah ibunya sehingga pasti akan meneruskan sekolah musik ayahnya. Clint, meski tidak menjadi pengacara, tapi terkadang tetap membantu ayahnya menyelidiki kasus dan juga mendukung. Dan masih banyak yang lain yang intinya mengikuti jejak sang ayah atau ibunya. Hanya dia dan Sydney yang agak berbeda.
Steve menyukai sains dan teknologi sedangkan Sydney malah mahir bermain biola. Namun, kedua orangtuanya tidak pernah melarang mereka. Ezekhiel dan Zefanya menyerahkan semuanya pada keinginan anak-anaknya agar tetap nyaman dan bahagia. Dapat menjalani kehidupan ini dengan damai tanpa tekanan.
"Kau tidak usah berpikir dan memikirkan macam-macam, Steve. Aku tidak apa-apa. Kuharap kau dan Sydney mempunyai penghasilan yang baik sehingga aku dan ibumu nanti tiada, kalian bisa menghidupi diri kalian masing-masing," tambah Ezekhiel tidak mau membuat anaknya bingung memikirkan mereka.
"Heng, kau bicara apa, Dad? Tenang saja, aku akan mencoba mempelajari semua ini perlahan-lahan. Mana mungkin aku membiarkan semua harta dan penghasilanku ini ke tangan orang lain, Dad. Aku juga masih menyukai uang, apalagi uang kedua orangtuaku, haha! Untuk apa juga aku selalu berusaha menyelesaikan misi si Johansson tua itu kalau bukan uang berkoper-koper!" seru Steve ingin membuat ayahnya juga tidak terlalu memikirkannya.
"Haha, Steve Steve, kau selalu mencairkan hatiku. Nanti malam kita makan bersama di rumah?" ajak Ezekhiel kemudian. Hal sederhana seperti ini saja sudah menghapus kerinduan Ezekhiel terhadap anak-anaknya.
"Tentu! Kalau perlu aku juga akan ikut menjenguk Tuan Fernando, setelah itu kita makan di luar saja, Dad. Aku akan mentraktirmu, Mommy, Uncle The dan Aunty Ros. Apa Teresa sudah menamatkan kuliahnya?" sahut Steve juga bertanya mengenai anak Theo dan istrinya Rossie. Rossie sendiri merupakan asisten Zefanya sampai sekarang.
"Baru saja, tapi dia baru kembali bulan depan, katanya masih banyak data yang harus ia lengkapi untuk graduate," jawab Ezekhiel.
"Hebat! Aku sudah yakin kalau anak Uncle The dan Aunty Ros pintar seperti Mommy dan Daddy-nya!" seru Steve merasa bangga dengan teman-teman sepermainannya.
"Kau dan Sydney juga pintar seperti ..."
"Kalian tentu saja!" ujar Steve memotong pujian sang ayah yang hendak mendarat untuknya.
Steve dan Ezekhiel tertawa. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak tertawa lepas seperti ini. Steve selalu serius dan tidak pernah lalai dalam menjalankan tugas sementara Ezekhiel tidak pernah mau menganggu pekerjaan yang anaknya itu nikmati.
Tak lama Theo datang membawa minuman Steve. Mereka kembali bercakap-cakap. Steve sudah mengatakan pada Theo kalau dirinya juga akan mengunjungi Fernando sekaligus ingin menyelidiki tragedi yang menimpanya itu. Ezekhiel dan Theo juga tentu menyinggung ketertarikan Steve pada perusahaan apartemen ini dan Steve akan berusaha melihat waktu dan dia juga akan berusaha mempelajari sedikit demi sedikit.
Mereka terus bercakap-cakap sampai Steve lupa kalau masih harus ke tempat kerjanya. Matthew, asistennya sudah menghubunginya dan menyuruh cepat-cepat datang karena atasan mereka harus pergi ke luar negri.
"Hubungi aku jika kalian mau berangkat ke rumah sakit, Dad, Uncle The!" pinta Steve sebelum pergi.
"Ya, tenang saja, Steve. Kau bekerja saja dulu. Hati hati di jalan," sahut ayahnya.
"Thank you, Dad. Sampai jumpa!" ucap Steve.
Steve pun melenggang keluar dari ruangan ayahnya. Saat dia hendak menunggu lift terbuka, seorang office boy memberitahu kalau lift sedang dalam masa perbaikan.
Steve harus turun dulu menggunakan tangga dan menggunakan lift karyawan. Steve akhirnya menuruni tangga dan merasa sepertinya akan lama juga jika dia menunggu lift mengingat itu lift karyawan. Hitung-hitung olahraga, Steve memutuskan untuk menuruni tangga beberapa lantai dan baru menaiki lift sampai ke basement.
Saat di lantai 8, Steve mendapat panggilan lagi dari Matthew. Steve pun mempercepat menuruni tangga. Dia juga sambil berbicara dengan Matthew.
"Mat, kau ini berisik sekali seperti wanita! Apa tidak bisa menunggu sebentar? Aku masih di kantor ayahku!" decak Steve mengangkat panggilan.
"Steve, Tuan Johansson hendak pergi. Dia terus memarahiku!" sahut Matthew di seberang sana.
"Itu urusanmu! Lagipula aku tidak peduli apa yang ia lakukan!" balas Steve yang memang merasa anak buahnya ini manja sekali.
"Dan kehilangan hadiah yang kau inginkan? Aku ini curiga, kau itu orang kaya atau atau pura pura kaya sih?" kata Matthew lagi mengingatkan Steve akan imbalan yang akan ia dapatkan.
"Aku tidak mau menggunakan uang ayah dan ibuku! Suruh si tua itu menunggu sebentar, kau tahu keahlianku membawa si hitam meronaku bukan?!" sahut Steve masih saja membuat kiasan untuk mobil hitamnya.
"Merona kau bilang! Sudah cepatlah! Seharusnya Johansson lebih percaya padaku bukan denganmu! Too late!!!" decak Matthew lagi.
"Berisik!" Sahut Steve mendengus dan kesal sendiri dengan Matthew yang jelas jelas adalah bawahannya.
Steve malah terus fokus pada ponselnya sambil menuruni anak tangga. Alhasil Steve tidak melihat seorang office girl sedang mengepel lantai. Steve menabrak wanita itu dan wanita itu hendak terjatuh tapi insting Steve lebih tanggap dia langsung menarik tangan wanita itu untuk masuk ke dalam pelukannya agar wanita itu tidak terjatuh.
Mereka saling bertatapan. Topi yang wanita itu kenakan terjatuh sehingga terpampang lah wajahnya. Steve cukup terkesima, pasalnya wajah wanita ini sangat bersih, rambutnya coklat berkilau dan matanya berbinar binar sempurna berwarna hitam agak keabu-abuan. Belum lagi hidungnya yang runcing dan kecil serta bibirnya agak merona menyerupai sisi rahang pipinya. Steve sempat berpikir apa wanita ini benar-benar seorang office girl?
Sementara si wanita juga terpesona dengan parah Steve yang tegas dengan mata lurus tajam dan pasti. Jantung mereka berdegup tak beraturan sampai terasa karena mereka begitu dekat. Kesadaran mereka hampir hilang jika atasan wanita itu tidak memanggil.
...
TBC,