"Sandy!" panggil seorang wanita paruh baya.
Steve yang masih menahan Sandy akhirnya tersadar kalau mereka seperti terhanyut atas apa yang dilihat langsung oleh kedua mata mereka. Mereka pun saling menarik diri.
"Tuan, kau ini punya mata atau tidak? Mengapa kau menabrakku begitu?!" Pekik wanita itu sambil memegang lututnya yang sepertinya sempat terkilir.
"Kau yang kenapa mengepel di tengah tangga?!" sahut Steve tidak terima karena wanita ini yang mengepel di tengah-tengah.
"Aku sedang bekerja, kau sedang apa? Berjalan tanpa melihat-lihat!" decak wanita merasa ada yang salah dengan kakinya.
"Haiz, kau ...!" Steve hampir hendak mengumpat.
"Sandy, ada apa ini? Mengapa semua lantai ini basah?! Astaga, Tuan Muda, apa terjadi sesuatu?" pekik atasan Sandy memastikan keadaan Steve.
"Ini anak buahmu?" tanya Steve menunjuk Sandy.
"Ya, Tuan," jawab wanita paruh baya itu.
"Dia mengepel di tengah jalan begini!" pekik Steve.
"Sandy, cepat minta maaf, dia salah satu anak kembar Tuan Besar Dimitri!" perintah atasannya.
"Seriously?!" Sandy membelalakan matanya.
"Iya!"
Wanita bernama Sandy itu lalu memandang Steve yang sedang membenahi jasnya.
"Sudah, tidak usah minta maaf, lain kali bekerja yang benar!" decak Steve.
"Dia yang menabrak, aku yang minta maaf!" dengus Sandy.
"Bicara apa kau?!"
"Tidak, aku mau mengambil tongkat pel itu," sahut Sandy dan dia mulai berjalan tapi malah terjatuh.
"Sandy!" panggil si wanita itu lagi terkejut sekaligus sedikit khawatir.
"Argh, kakiku sakit, sepertinya terkilir!" keluh Sandy sesaat.
Memang tampak membiru pada bagian mata kakinya. Steve jadi bingung. Sementara dia harus cepat-cepat pergi, tapi memang dirinya yang menabrak karena bermain ponsel.
"Kau ini menyusahkan sekali, baru saja satu bulan bekerja sudah membuat ulah begini!" decak si wanita tua karena tidak enak dengan Steve.
"Tuan ini yang menabrakku, Madam," keluh Sandy lagi agak merengek.
"Tunggulah di sini, aku akan memanggil temanmu!" ujar atasannya hendak pergi.
"Aku saja yang membantunya. Di mana ruangan kalian?" sela Steve yang memang harus membantu wanita ini.
"Tuan Muda, tidak perlu, aku saja yang membantunya," sahut atasan Sandy.
Steve tidak banyak bicara karena waktu pun terus berjalan. Dia pun langsung menggendong Sandy.
"Astaga, Tuan Muda, benar tidak apa-apa?" pekik Sandy tidak menyangka mereka jadi sedekat ini. Aroma tubuh Steve pun merasuk dalam indera penciuman Sandy. Begitu maskulin dan beraroma minta.
"Cepat katakan di mana ruangan kalian!" tanya Steve lagi berusaha tidak terpengaruh dengan wajah kesakitan Sandy yang semakin menggemaskan.
"Di sini, Tuan! Sandy kau benar-benar merepotkan!"
"Argh, pelan-pelan, Tuan, kakiku benar benar sakit," keluh Sandy lagi mengabaikan atasannya.
Steve pun membawa Sandy ke ruangan tempat para office girl berkumpul di lantai itu. Steve mendudukan Sandy di sebuah kursi dan dia langsung berbalik hendak berlalu.
"Tunggu!" seru Sandy menahan Steve untuk melangkah lagi.
"Terimakasih, suatu saat nanti aku akan membalas kebaikanmu," ucap Sandy.
Steve hanya tersenyum miring dan langsung pergi karena dia sangat terburu-buru. Matthew sudah menghubunginya lagi.
"Haiz, sombong sekali dia! Jadi dia anak Tuan Besar, tampan juga," gumam Sandy memijat mijat lututnya.
"Untung saja anak-anak Tuan Besar semua baik, bagaimana kalau mereka langsung memecatmu!" sahut atasan Sandy itu berdecak.
"Memang satunya bagaimana?" selidik Sandy malah penasaran.
"Agak dingin, tapi tetap bersikap biasa saja seperti Tuan Muda tadi," jawab atasannya.
Sandy hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Semoga saja Sandy bisa bertemu lagi atau tidak perlu sama sekali. Urusan dengan pria tampan itu merepotkan dan menganggu pekerjaannya.
Setelah terlihat Sandy baik baik saja, atasannya pun kembali melanjutkan pekerjaan sementara Sandy mengeluarkan sesuatu dari bawah dudukannya.
"Dompet yang mahal dan cukup harum. mari kita lihat apa isinya," ujarnya berhasil mengambil dompet Steve.
"Isi dompet apa ini? kartu tanda pengenal dan platinum card black series! Haiz, memang begini isi dompet orang kaya?!! menyebalkan tidak ada uang tunai! argh!" keluh Sandy yang rasanya percuma menggunakan kartu platinum seri black ini karena tentu saja menggunakan password.
Sandy pun mengembalikan dompet itu lewat atasannya dengan alasan dompet itu terjatuh.
...
Steve tiba pukul 4 sore dan hampir saja atasannya hendak pergi. Kalau misi ini tidak dikatakan langsung oleh atasannya, biasanya Steve tidak akan mendapat bonus karena hukuman dari atasannya untuk Steve yang terlalu santai dan meremehkan.
"Kau pasti bertemu wanita!" tuduh Johanson.
"Iya, Nyonya Dimitri, kau berani dengannya?" jawab Steve asal.
"Ayahmu saja tidak berani, mana mungkin aku berani!" dengus Johanson kesal sekali dengan anak Ezekhiel ini.
"Sudah cepat, apa yang harus kulakukan?!" tanya Steve.
"Temukan The Lost Cat dan kau akan mendapat bonus berlibur ke France selama satu Minggu!" kata Johanson.
"Kurang! Satu bulan!" Steve menawar seperti di pasar tradisional.
"Ok, tapi kau harus menemukannya satu Minggu ini, deal? Penjelasan lainnya Matthew dan Belva yang akan memberitahu. Aku harus mendapatkan misi dengan kolega swasta kita di Japanis
"Bonusnya apa?" tanya Steve karena pasti Johanson akan melimpahkan padanya.
"Satu unit kondominium bawah laut rancangan Clint Jovanca, kau tahu kan?" ujar Johanson seraya memancing Steve.
"Kita bekerjasama dengannya?" selidik Steve.
"Klien-nya membutuhkan kita, kau bisa bertanya pada saudaramu itu. Sampai jumpa!" sahut Johanson yang harus mendapatkan misi ini karena kasus ini mendatangkan 3 secret agent terkemuka di setiap negara.
"Ok!" Steve mengangguk-anggukan kepalanya dan dia menghampiri anak buahnya yang lebih tepatnya anggota tim-nya.
"Steve, kenapa kau terlambat sih?" tanya Matthew mendengus.
"Apa pertanyaanmu itu penting?! Sebaiknya cepat beri tahu Steve petunjuk terakhir pencuri itu!" sahut Velma.
"Ah iya, Steve, jadi ..."
"Terakhir dia mencuri di kediaman rumah keluarga Tuan Fernando 'kan?" Steve sudah berkata-kata lebih dulu.
"Eh, kau tahu?"
"Tuan Fernando kolega ayahku. Begini saja, besok kita langsung saja ke rumah Tuan Fernando. Untuk sekarang aku akan menyelidikinya sendiri. Aku akan menjenguk Tuan Fernando di rumah sakit. Aku akan mencoba bertanya beberapa hal untuk mendapatkan petunjuk," kata Steve kemudian.
"Selalu saja dibuat mudah oleh kehadiranmu, Steve," puji Velma makin mengagumi Steve.
Steve hanya mengangguk. Gadis ini memang selalu memujinya sementara Matthew terlihat mendengus dan agak cemburu. Untung saja Steve belum pernah memiliki perasaan pada seorang wanita.
...
Steve tidak mendapatkan banyak info dari Tuan Fernando karena pria tua itu begitu terkejut. Polisi benar-benar tidak dapat mengidentifikasi. Tuan Fernando hanya berkata seharusnya pencuri-pencuri itu terekam CCTV yang ia gunakan di setiap sudut rumahnya. Bukan hanya CCTV yang diketahui, Tuan Fernando juga menaruh CCTV mikro yang hampir tak terlihat keberadaannya di area-area rawan pencuri dapat masuk.
Steve yang merasa sudah mendapatkan sedikit petunjuk bersama tim-nya langsung mendatangi kediaman Keluarga Tuan Fernando yang disambut dengan terbuka. Matthew segera memeriksa rekaman CCTV dan memang ada sebuah rekaman yang menunjukan para pencuri itu, tapi semua berpakaian serba hitam. Steve yang ikut memperhatikan mendapatkan sedikit petunjuk lagi. Terekam kalau salah satu seorang pencuri yang tubuhnya kecil terjatuh dan satu pencuri lainnya membantu sehingga dia menoleh ke belakang.
"Stop! Berhenti di bagian itu, Matthew!" pinta Steve.
"Di mana?" tanya Matthew sudah mengulang rekaman itu.
"Kembali, kembali! Saat pencuri bertubuh kecil terjatuh dan temannya membantu. Dari sepasang mata saja aku bisa mulai mengidentifikasinya!" Steve berseru.
"Beberapa detik sebelum mereka menghilang dari rekaman, Mat!" tambah Velma mengerti yang dimaksud Steve.
Matthew pun mengulang lagi rekaman tersebut dan saat berjalan lagi, dia memperlambatnya. Steve memberi kode dan tertangkaplah gambar sepasang mata pencuri yang membantu temannya itu.
Steve memicingkan matanya. Dia seperti pernah melihat sepasang mata ini. Steve lalu meminta Matthew untuk diperbesar lagi.
"Sepertinya ini adalah sepasang mata seorang wanita!" tutur Steve mencoba mengingat mata siapa kah ini?
"Wanita? Kau tidak salah, Steve? Dia benar benar wanita?" selidik Matthew.
Steve mengangguk. Sekelebat dia mengingat sepasang mata yang berhadapan dengannya saat kemarin ia menabrak office girl di tempat kerja ayahnya. Hitam keabu-abuan.
"Apa mungkin dia? Dompetku juga hilang sesaat dan dia yang menemukannya," gumam Steve masih menerka nerka.
...
TBC,